Detektif #BebasSampahId Siap Beraksi

Detektif , makna harfiahnya adalah polisi rahasia atau reserse. Jika digabung dengan kata Bebas Sampah menjadi polisi rahasia yang menyelidiki sampah. Wuaduh serem banget, kok sampah harus diselidiki. Apalagi diinterogasi, wah nggak mungkinlah. (^_^)



Kisahnya bermula dari warisan masalah sampah untuk pak Emil, atau Ridwan Kamil yang terpilih sebagai walikota Bandung 2013-2018. Jika pak Ahok, Gubernur DKI Jakarta mengaku senang mendapat kajian bagus-bagus dari professor-profesor terkemuka, maka pak Emil juga mendapat dukungan dari teman-temannya alumni ITB yang membentuk Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS).

BJBS tidak hanya terdiri dari alumni ITB, tetapi juga para pegiat lingkungan dan pengelola sampah di lapangan. Sehingga data yang dihimpun cukup banyak, valid dan dapat menyarikan pendapat bahwa masalah utama sampah adalah kebiasaan/lifestyle.

Penduduk kota besar pastinya sering melihat sampah berserakan diluar tempat sampah. Atau akhir-akhir ini, atau atas instruksi pak Emil semua kendaraan roda 4 (termasuk angkot) akan dirazia. Mereka diwajibkan membawa tempat sampah yang jika enggan sang supir akan terkena sanksi membayar Rp 250.000. Peraturan tersebut telah ditetapkan sejak tahun 2005 lho, dan baru dilaksanakan kemudian. Tapi tetep aja, supir angkot buang sampah ke jalan raya, miris bukan?

Karena itu perlu kampanye berkesinambungan agar warga menyadari bahwa pemerintah tidak bisa terus menerus meladeni sikap manja warganya. Tidak sekedar patuh membuang sampah pada tempatnya tapi mereka juga harus mau memisah sampah. Jika tidak ya kemungkinan besar Bandung Lautan Sampah akan terulang lagi. Penyebabnya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sarimukti memiliki daya tampung terbatas. Sementara warga Bandung membuang 1.600 ton sampah setiap harinya. Serem ya? Jika ditumpuk begitu saja akan mencapai 55 x tinggi candi Borobudur pertahunnya lho.


Pindah TPA? Tidak semudah itu, karena membuang sampah sesungguhnya hanya memindah masalah. Di rumah kita sampah sudah terangkut, dipindahkan ke TPS (tempat pembuangan sampah sementara) , pindah lagi ke TPA. TPA Sarimukti penuh, mungkin pindah ke Legok Nangka, Legok Nangka penuh pindah ke ….. ?? Entahlah, karena kemampuan bumi mengurai sampah tidak secepat waktu kita membuang sampah.

dok. #BebasSampahID
 

Solusi terbaik adalah memisah sampah dari rumah. Bukankah di rumah, sampah belum berubah bentuk menjadi kotor, bau dan menjijikkan? Coba deh sampah basah (sisa sayuran, sisa hasil memasak) dimasukkan ke lubang biopori atau komposter, sisanya sampah kering bisa ditumpuk dalam tong berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum akhirnya dijual atau diberikan ke pemulung.

Untuk mendorong perubahan kebiasaan (lifestyle) ini dibutuhkan website tempat warga masyarakat bertanya, melaporkan, memberi data atau sekedar berkeluh kesah tentang sampah. Beruntung salah seorang kontributor BJBS, Anilawati Nurwakhidin dibawah bendera Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) mendapat bantuan Ford Foundation (yang mendukung situs Wikipedia) untuk mewujudkan piranti lunak berbentuk website, aplikasi mobile serta SMS gateway bertajuk tentang Peta Persampahan, yang akan mengoptimalkan kontribusi masyarakat dalam sistem persampahan kota Bandung, mendorong akuntabilitas pelayanan pemerintah, sekaligus mendorong sistem persampahan menjadi berbasis masyarakat.


Wow bahasa dewa ya? Selengkapnya silakan lihat disini, sedangkan website yang dirancang bangun adalah ini. Poin utamanya sih diharapkan warga ketika hangout tidak hanya membicarakan kuliner dan fashion tapi juga gaya hidup ramah lingkungan yang tertuju pada zero waste lifestyle.


Apatis? Ngga lah, dulu anak muda dikatakan ngga keren jika ngga merokok. Tapi sekarang, pandangan tersebut tidak berlaku. Bahkan mereka yang berhenti merokok sering dipuji hebat. Demikian pula budaya mengantri, sekarang sudah umum dilakukan. Mereka yang nyerobot bakal terkena pelototan warga lain yang sudah antri duluan.

Lifestyle bisa berubah, website sudah disiapkan. Maka ketika warga sudah tergerak untuk melaporkan, harus ada yang memverifikasi. Para detektif #BebasSampahId lah yang bertugas untuk mendatangi titik-titik yang dilaporkan warga. Baik itu Bank Sampah yang menyediakan layanan bagi mereka yang berpatisipasi menabung sampah anorganik, juga lapak/pengepul , kegiatan pengomposan serta unit usaha yang berhubungan dengan pengelolaan sampah.


Untuk itu pada tanggal 31 Januari hingga 1 Februari 2015, para detektif sampah mendapat briefing mengenai zero waste lifestyle, kondisi persampahan Kota Bandung dan latihan mengeksekusi laporan warga. Beruntung teknologi komunikasi kian canggih sehingga detektif #BebasSampahId bisa melaporkan secara presisi ditambah hasil wawancara yang dituliskan dalam blog.

Keberadaan 20 detektif #BebasSampahId akan dilaunching pada tanggal 21 Februari 2015, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional. Cieee kok dilaunching segala? Iyalah agar warga Bandung tahu bahwa mereka bisa berpatisipasi dalam mengelola sampah. Tidak sekedar mengeluh dan menyalahkan pemerintah. Karena sesungguhnya sampahpun memiliki potensi, sampah adalah materi berharga, tergantung sudut pandang/penilaian orang per orang.

Jadi? Yuk mulai mengelola sampah masing masing dan jadikan gaya hidup ramah lingkungan sebagai lifestyle yang keren. Hasilnya akan dirasakan untuk diri sendiri kok. Coba deh ^^

20 detektif #BebasSampahID



notes berisi kolom yang harus diisi




bekal  detektif #BebasSampahId : misting dan tumbler agar tidak nyampah


sumber gambar : disini

Share:

0 komentar