• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah

source:abnamro.com

Dalam 20 tahun terakhir, gerakan No Waste yang kemudian berubah menjadi Zero Waste, bergaung secara masif di AS, Eropa, Asia, dan seluruh dunia. Untuk kawasan Australia, Dr. Daniel Knapp dari Urban Ore, Berkeley, CA melakukan tur sejak tahun 1995.  Serangkaian pembicaraan dilakukan dengan pemerintah, bisnis dan warga kota besar tentang  cara memaksimalkan penggunaan bahan, meminimalkan pemborosan sumber daya dengan menggunakan kembali , daur ulang, dan komposting.

Apa yang dibicarakannya merupakan titik awal ide circular economy, sistem ekonomi yang meniadakan waste/sampah karena hasil proses suatu produk harus bersinergi dengan proses berikutnya.


Sekarang, Zero Waste menjadi  standar untuk organisasi lokal, nasional dan internasional. Termasuk banyak asosiasi Zero Waste  lokal di seluruh AS.  Aliansi Anti Insinerasi Global di AS, Eropa dan Asia serta Greenpeace AS dan Internasional semuanya berkumpul di bawah bendera Zero Waste.

Keberpihakan  konsep Zero Waste cocok dengan kegiatan dinamis di kota-kota besar seperti Los Angeles dan Austin serta yurisdiksi yang lebih kecil seperti Gainesville / Alachua County, FL. Di kota-kota tersebut kekuatan warga  mengalahkan keinginan pemerintah untuk membangun insinerator sampah.

Bagaimana dengan Indonesia?

Melalui KemenLHK, Indonesia mencanangkan  “Indonesia Bergerak Bebas Sampah 2020”, agar tidak lagi menjadi pembuang sampah kedua  di lautan. Sesuai penelitian  Jenna Jambeck yang telah dipublikasikan pada Jurnal Science (www.sciencemag.org) pada 12 Februari 2015.
Namun tidak ada perubahan signifikan. Truk sampah masih berbondong-bondong ke TPA, masyarakat masih membuang sampah sembarangan dan sungai dipenuhi limbah padat berlapis-lapis.

 “Masalahnya bukan rentang waktu,” ujar  Direktur YPBB Bandung, David Sutasurya, ”melainkan tidak adanya perubahan cara pengelolaan sampah. Selama masih menerapkan  ‘kumpul, angkut, buang’, target puluhan tahunpun akan percuma”.

Di sore berangin, usai hujan, saya mengobrol dengan David di kantornya yang asri, Jalan Rereng Barong nomor 30 Bandung.  YPBB Bandung merupakan organisasi non pemerintah yang sejak tahun 1993 aktif berkampanye  dalam mewujudkan  zero waste lifestyle atau gaya hidup nol sampah.
David Sutasurya juga merupakan salah satu Dewan Direktur Bebassampah.Id yang sukses menyelenggarakan “International Zero Waste Cities Conference” pada 5- 7 Maret 2018 di Kota Bandung.

Jadi, harus bagaimana?

source: least.waste

“Apa sih pengertian sampah?” tanya David.
“Hmm.... sisa-sisa aktivitas manusia,” jawab saya. Ragu.
“ Betul, sampah merupakan  konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari aktivitas manusia,” lanjut David. “Sejak dulu kita terbiasa membuangnya ke alam”.

Alam mampu  mengelola sampah secara berkelanjutan.  Terbukti selama jutaan tahun  tidak ada sampah menumpuk. Bila tidak, pastinya  bumi sudah dipenuhi tumpukan daun kering serta kotoran hewan dan manusia.

Masalah sampah baru muncul setelah bahan tambang dan bahan sintetis ditemukan serta diproduksi  secara massal.   Plastik, misalnya, baru sekitar 150 tahun silam,  sejak pertama ditemukan tahun 1862 oleh Alexander Parkes.

Berbagai jenis serangga dan cacing dapat menguraikan sampah organik menjadi bahan-bahan yang berguna bagi tumbuhan. Tapi tidak ada bakteri atau cacing atau jamur yang dapat memanfaatkan plastik sebagai bahan makanannya.

Logam dan plastik lama-lama akan hancur. Tetapi tidak terurai di alam. Faktor   fisik seperti suhu, sinar matahari, kelembaban dan tekanan udara hanya membuat sampah logam serta  plastik menjadi lebih rapuh.

Yang terjadi kemudian lebih menakutkan,  logam berkarat karena proses reaksi dengan oksigen di udara menjadi oksida logam. Bahan ini menjadi racun yang mengganggu   kesehatan makhluk hidup.
Sedangkan plastik menjadi rapuh.  Namun alam tidak mampu memurnikannya. Hanya membuat plastik hancur menjadi potongan-potongan kecil yang disebut nurdles/ mikroplastik. Potongan kecil ini tersebar di tanah dan di laut dan sering termakan oleh hewan-hewan. Mikroplastik akan menumpuk dalam tubuh mahluk hidup kemudian  masuk ke dalam siklus makanan. Mengganggu proses metabolisme tubuh.

“Bagaimana dengan kantong plastik ramah lingkungan yang konon bisa hancur dalam waktu 2-3 bulan?” tanya saya sambil membayangkan timbunan mikroplastik dalam tubuh saya,  tubuh orang –orang yang melintas di depan kantor. Dan, ah juga di tubuh anak balita yang menggemaskan. Sungguh mengerikan!

“Salah kaprah itu.  Mereka menyebut kantong plastik  ramah lingkungan hanya  karena ditambah zat aditif agar mudah hancur menjadi mikroplastik. Seharusnya yang dimaksud kantong  ramah lingkungan adalah tas kain yang bisa digunakan berulang kali”.

source: gaia

Jadi, apa  solusinya?
We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them (einstein)

Harus ada perubahan. Karena kita tidak mungkin menggunakan  cara sama dengan sebelum bahan tambang serta bahan sintetis digunakan secara global dan masif.
Tidak bisa lagi menerapkan sistem sentralisasi pengelolaan sampah seperti sekarang. Yaitu, mengumpulkan sampah, mengangkutnya untuk dibuang ke TPA. Banyak kerugian yang muncul akibat sentralisasi.
·         Sampah berceceran dan berterbangan. Sampah dalam proses pengangkutan juga meresahkan warga masyarakat yang melintas. Seorang teman yang tinggal di Bekasi berkisah,  setiap pagi harus  berpapasan dengan truk sampah yang melintas. Bau busuk  tercium hingga  ratusan  meter. Air lindinya berceceran. Menjijikkan.
·         Biayanya lebih mahal dibanding sentralisasi. Tidak hanya meliputi biaya angkut, juga tipping fee. Bahkan DKI Jakarta harus menyiapkan dana hibah kemitraan berjumlah triliunan ropiah.
·         Tidak berkelanjutan. Bumi hanya satu. Jumlah manusia bertambah banyak.  Lahan kosong semakin mengecil.  Di masa depan tidak ada lagi lahan untuk menimbun sampah seperti sekarang.

Bagaimana dengan alternatif “waste to energy” atau membangun pembangkit listrik tenaga sampah?

Kerugian yang dialami akan  sama dengan cara “kumpul, angkut, buang” seperti yang kini berlangsung. Bahkan lebih buruk. Biaya per ton  pengolahan “waste to energy”  sangat mahal. Yaitu Rp 811.902.000/ton, biaya  proses “kumpul, angkut , buang” sampah Rp 776.235.000/ton, sedangkan biaya sampah cara desentralisasi hanya Rp 329.205.000/ton.
Parahnya  lagi, menurut Dwi Sawung dari Dewan Nasional Walhi, biaya produksi sampah menjadi listrik mencapai Rp 18 sen/kwh. Sementara PLN hanya sanggup membayar Rp 6,8 sen/kwh. Nah lho?

Jadi, pilihan yang terbaik adalah desentralisasi pengolahan sampah?

Ya, desentralisasi sampah berarti mengelola sampah dari rumah. Sampah dipisah dan diolah, hanya yang mengandung residu dibuang ke tempat penampungan sampah. Jauh lebih murah dan tidak menimbulkan bau yang meresahkan masyarakat.

Bagaimana bisa dilakukan jika belum ada contoh?

Banyak contoh di Indonesia.   YPBB sudah memulai dengan membuat kawasan percontohan bebas sampah di RW 09 Kelurahan Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler Kota Bandung. Kemudian, ada 2 program di Kota Bandung.

·         Kawasan Bebas Sampah (KBS) yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Setiap KBS akan didampingi selama sekitar 6  bulan. Targetnya seluruh kelurahan di Kota Bandung akan menjadi kawasan bebas sampah.

·         Zero Waste Cities. Merupakan program bersama YPBB Bandung dengan Mother Earth Foundation, dengan sasaran kawasan Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi.   Berlangsung multi years, karena goalnya tidak hanya partisipasi masyarakat, juga perubahan tingkah laku/budaya.

Bagaimana pelaksanaannya? Rumitkah?

Tidak rumit. Yang pertama kali  dilakukan tentunya riset, kemudian pembentukan dewan pengelola sampah kelurahan, pengembangan desain sistem pengelolaan sampah, sampai pengawasan dan penegakan hukum.
1.       Riset
Salah satu riset yang dilakukan adalah mendata jumlah sampah yang dihasilkan suatu kawasan. Ini penting untuk mengetahui keberhasilan program. Contohnya, setiap hari sampah yang dihasilkan warga Babakan Sari mencapai 24 ton dan  diangkut lima truk. Jika periode awal berhasil mengurangi sampah hingga   16 ton sampah, berarti hanya memerlukan  tiga truk atau penghematan sebesar  Rp 30-60 juta.
2.      Teknis 
          Setiap warga wajib memilah sampahnya menjadi empat jenis. ‎Yaitu sampah sisa makanan, sampah kebun, popok atau pembalut, dan sampah campuran.

Di TPS, empat jenis sampah itu akan dipilah lagi menjadi delapan hingga sembilan jenis. Sampah yang tidak bisa didaur ulang ‎atau dijadikan kompos, dibawa ke TPA.
1.       Dewan Pengelola Sampah
Dewan Pengelola Sampah sangat menentukan keberhasilan program. Seorang Ketua Rukun Warga (RW) bisa menggunakan otoritasnya. Jika ada warga yang tidak memisah sampah, maka akan terkena sanksi sampahnya tidak diangkut.
Ketua RW Kota Bandung  juga memiliki kewenangan membuat pos pengelolaan  sampah dari anggaran PIPPK sebesar Rp 100 juta, yang naik menjadi Rp 200 juta/tahun sejak  tahun 2018. Sedangkan Ketua RW Kabupaten Bandung bisa menganggarkan dari dana desa.
Selain itu, ada  atau tidaknya lahan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) sangat bergantung ketua RW dalam memainkan perannya.
2.      Pengembangan desain sistem pengelolaan sampah
Setiap daerah memiliki ciri khas dan kecenderungannya masing-masing. Di Kota Bandung, KBS  Sukaluyu berbeda KBS Babakan Sari. Perbedaan akan makin menyolok di kawasan Kabupaten Bandung.

Di Soreang Kabupaten bandung, misalnya, sampah organik dimasukkan ke dalam lubang sampah komunal. Mudah dilakukan karena umumnya warga  memiliki tanah pekarangan yang luas. Juga masih banyak tanah kosong.

Berbeda dengan kawasan perkotaan. Harus cerdik memanfaatkan lahan dan teknologi. Seperti  KBS Sukaluyu yang  membagi pengolahan  sampah organik dalam 2 jenis, yaitu:
·         Biodigester. Ada 5 biodigester atau instalasi pengolah sampah menjadi gas metan untuk memasak. Secara periodik, pengangkut sampah di KBS Sukaluyu memasukkan sampah organik yang lunak seperti kulit pisang, nasi sisa sayuran ke dalam tong biodigester berkapasitas 10 – 15 kg.  Api yang dihasilkan bisa untuk memasak selama tiga jam nonstop.
·         Komposter. 13 titik komposter digunakan untuk mengompos sampah organik yang keras   seperti bonggol jagung atau dedaunan kering. 


        Apakah ada masalah di lapangan?

“Hambatan pasti ada,” jawab Tiwi, salah seorang staff YPBB yang bertugas memberi penyuluhan pada warga di KBS. “Misalnya terkadang lupa memisah sampah”.
“Agak kesel jika ada yang ngeyel sambil nanya, mana undang-undang memisah sampah?” lanjut Tiwi.
David tertawa.
“Iya, kelemahannya disitu. Tidak ada regulasi yang mengharuskan   warga  memisah sampah. Isi peraturan hanya menyasar pihak swasta dan pemerintah. Karena itu sedang kita perbaiki dari perda ke perda,” kata David.

Seberapa optimis David akan program desentralisasi sampah?

Sangat optimis. Dalam “International Zero Waste Cities Conference” kemarin kan kita mendengar bahwa negara-negara maju seperti Jepang, Perancis dan USA telah menerapkan desentralisasi sampah. Untuk negara berkembang, ada India dan Filipina.

Jumlah sumber daya alam yang semakin berkurang juga memaksa negara meninggalkan sistem perekonomian yang lama. Dari ekonomi  liner, berubah menjadi ekonomi  reuse/recycle dan berakhir ekonomi sirkuler.

Saya berkisah, dalam field trip Danone Blogger Academy tanggal 13 September kemarin mengunjungi  Rukun Santosa, suatu  unit usaha yang mengolah sampah plastik sebagai pengisi lembaran tas, dompet serta berbagai produk lainnya.



“Itu termasuk recycling economy,” jawab David. “Nanti, jika semua kemasan bisa diproses hingga tak ada lagi yang dibuang ke alam, barulah kita masuk fase ekonomi sirkuler. Karena itu sudah saatnya stop penemuan useless,  mulai mencari inovasi agar tidak ada lagi sampah yang dibuang”.
“Dan Indonesia bebas sampah, tidak hanya slogan?”
“Iya, dunia bebas sampah juga akan terwujud. Bersih sampah merupakan dampak lanjutan dari cara pengelolaan sampah yang benar”.

Saya mengangguk.

Tetes hujan kembali merinai.








Wrote by Maria G Soemitro

sumber: ang7m.deviantart.com

Detak waktu berlalu dengan cepat menuju tanggal 21 Februari 2016, Hari Peduli Sampah Nasional. Saat 801 komunitas di 155 kota/kabupaten yang tersebar  di 34 provinsi Indonesia, secara serempak mengadakan rangkaian acara peringatan longsornya sampah yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia.

Puncak peringatan adalah mulai diberlakukannya peraturan kantong plastik berbayar. Pembeli di ritel moden tidak lagi menerima kantong plastik gratis, tapi harus membayar. Jika enggan, ada alternatif  lain yang bisa dipilih yaitu menggunakan kardus bekas  yang disediakan gratis atau membeli tas pakai ulang.

Tujuannya agar warga masyarakat bijak menggunakan kantong plastik. Karena  walaupun  memiliki konsekuensi lingkungan yang teramat mahal,  kantong plastik diberikan secara gratis.  Rata-rata pemakaiannya hanya 25 menit, padahal sampah kantong plastik baru terurai di alam setelah ratusan tahun. Sehingga tidak aneh, sampah kantong plastik nampak dimana-mana, di setiap penjuru kota dan menghiasi sungai  bak bunga sampah. Akhir kisah bisa diduga, setiap musim penghujan tiba maka saluran air akan memuntahkan sampah yang telah menyumbat alirannya.

Gelisah melihat situasi ini, pada tahun 2010 Mohamad Bijaksana Juneronaso atau yang akrab dipanggil Sano bersama teman-temannya merancang  suatu gerakan perubahan  dibawah kibaran bendera Greeneration Indonesia (GI) . GI mengambil nama Greeneration,  nama  Himpunan Teknologi Lingkungan ITB, tempat Sano merampungkan kuliahnya pada tahun 2006.

Mereka mencanangkan Diet Kantong Plastik dengan mempertimbangkan fakta bahwa  sebetulnya setiap individu bisa ikut aktif berpartisipasi mengatasi sampah. Caranya mudah,  hanya dengan mengurangi penggunaan kantong plastik.  Toh untuk mewadahi barang, ada banyak solusi alternatif.

Kebiasaan penggunaan kantong plastiksebetulnya  baru berlangsung sekitar 50 tahun, namun akibatnya begitu dahsyat, dunia nampak tenggelam dalam lautan sampah plastik.  Apa yang dilakukan Sano sangat sesuai dengan hukum Herman Daly III mengenai pembangunan berkelanjutan:

“Melepaskan limbah ke alam tidak lebih cepat dari kemampuan memurnikan diri yang dimiliki alam”

Gagasan Sano  menghendaki warga masyarakat keluar dari zona nyamannya,  sehingga tidak heran banyak pihak skeptis dan meragukan keberhasilan gerakan sosial tersebut. Namun sebagai akademisi, Sano menjawab dengan menyusun langkah-langkah yang mendukung kampanyenya:

Data. Merupakan hal penting dan utama yang harus dikerjakan dalam mendukung gerakan perubahan. Tidak bisa sembarangan mengatakan bahwa gunungan sampah ada dimana-mana tanpa menyebutkan datanya  secara rinci dan akurat.

Konsisten. Dimulai sejak tahun 2010, Sano menggalang simpatisan dan sukarelawan untuk mengkampanyekan gerakan perubahan di ruang-ruang publik dan aktif mengisi setiap kesempatan yang memungkinkan. Sehingga  diet kantong plastik merupakan bagian kehidupannya sehari-hari.

Segmentasi. Dengan cerdik Sano membidik kelompok anak muda untuk bergabung membuat gerakan perubahan. Anak muda umumnya sering gelisah dalam pencarian diri dan tertarik melakukan kegiatan-kegiatan baru. Daripada  tak tentu arah, Sano mengajak mereka untuk mengambil porsi dalam gerakan perubahan Indonesia yaitu mengurangi  (diet) penggunaan kantong plastik dan menggantinya dengan tas pakai ulang berbagai bentuk hingga terkesan trendy. Diharapkan aksi yang mereka lakukan akan menular ke orang tua dan kerabat sehingga perubahan akan lebih menyeluruh karena masalah sampah adalah masalah bersama.

Jargon. Jargon yang mudah diingat dan dicerna merupakan salah satu senjata kesuksesan gerakan mereka.  Diet Kantong Plastik, Pay4Plastik, Waste4Change dan kini Bebassampah2020 merupakan sebagian slogan mereka yang berhasil menarik minat publik.

Kolaborasi. “Kolaborasi adalah keniscayaan” merupakan salah satu prinsip Sano, sehingga tidak heran,  dengan berbenderakan  Greeneration Indonesia, Sano berkolaborasi dengan Change.org, Ciliwung Institute, Earth Hour Indonesia, LeafPlus, Plastik Detox, Si Dalang ID, The Body Shop Indonesia dan sejumlah individu membentuk Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP). Kampanye bijak penggunaan kantong plastikpun menjadi lintas usia, lintas latar belakang dan lintas wilayah.

Regulasi. Dengan kewenangannya, pemerintah bisa memberlakukan peraturan yang bersinergi dengan gerakan sosial diet kantong plastik. Karena itu Sano aktif melakukan pendekatan dengan pemerintah agar kampanye mereka efektif dan efisien.

Merupakan kado terindah bagi Sano, ketika akhirnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menjawab petisi kantong plastik berbayar. Siti Nurbaya setuju dan sepakat menetapkan tanggal 21 sebagai momen diberlakukannya kantong plastik berbayar.  Di hadapan petinggi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sano menjelaskan dengan runtut dan bersemangat mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Karena sudah saatnya mengubah paradigma manajemen sampah sehingga tidak menerapkan cara “kumpul, angkut dan  buang” sampah lagi.

Hanya itu?  Tidak. Ada banyak program pengelolaan sampah dari sumbernya yang dikerjakan Sano dan GI.  Seperti  Masuk RT (MAnajemen Sampah Untuk Kawasan Rumah Tangga) yaitu pendampingan masyarakat agar mereka memahami pengelolaan sampah dan penggunaan teknologi yang tepat. Juga ada program KEBUNKU (KErtas Bekasku HijaUkan BaNdungKU), yaitu program untuk menciptakan siklus mengembalikan pohon yang telah dimanfaatkan (jadi kertas)  menjadi pohon kembali.  Tetapi yang paling jarang mengemuka walaupun manfaatnya sangat besar yaitu peranannya dalam kewirausahaan sosial.

Ketika mengkampanyekan diet kantong plastik,  Sano dan kawan – kawan memberikan solusi yaitu tas pakai ulang yang awet dipakai hingga  ribuan kali. Tas berbahan  polyester dan bersertifikat ramah lingkungan tersebut dapat dilipat sebesar amplop sehingga memudahkan pemakainya.

Era modernitas  menuntut efisiensi  waktu, sehingga memaksa warga masyarakat menggunakan kantong plastik yang praktis. Tentunya kebutuhan tersebut harus diberi solusi yang tepat dan tidak memaksa mereka menggunakan tas pakai ulang seperti yang biasa dipakai ibu-ibu jadul (jaman dulu) yang terkesan merepotkan karena bentuknya yang besar.


thejakartapost.com

Tas pakai ulang juga harus dapat digunakan ribuan kali, karena jika tidak hati-hati konsumen akan tergelincir memakai kantong plastik versi lain yaitu tas pakai ulang yang mudah rusak sehingga terpaksa dibuang dan mengakibatkan masalah sampah seperti halnya kantong plastik.

Sano dan teamnya merancang, memproduksi dan memasarkan tas pakai ulang dengan memberdayakan industri rumahan agar karya mereka layak ekspor.  Tas pakai ulang inilah yang ditawarkan pada kaum muda agar mereka merasa trendy menggunakannya,  substitusi kantong plastik untuk menyelesaikan masalah sampah secara berkelanjutan.

Apa yang dilakukan Sano memberikan solusi untuk beragam  masalah. Sebagian masalah sampah terselesaikan dengan beralihnya warga menggunakan tas pakai ulang yang tahan lama dan praktis. Solusi inipun berdampak pada terbukanya lapangan kerja baru dengan upah menjanjikan karena produk mereka layak ekspor.

Dibalik semua kesuksesannya, Sano tetaplah sosok rendah hati, murah senyum dan sabar. Berbaur dengan rekan-rekan dan karyawannya, agak sulit mencari Direktur Greeneration Indonesia yang kesehariannya menggunakan t-shirt sederhana dan sandal jepit ini. Menjadi nomor satu bukanlah hal yang terpenting baginya, karena  suatu pembuktian telah ditorehkan Sano bahwa siapapun bisa membuat perubahan, asalkan komit dan konsisten menjalankannya. Kesuksesan hanya menunggu waktu yang tepat untuk terwujud.

Sebagai penggagas dan pelaku gerakan sosial, Sano seolah menjawab panggilan Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia:

“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”

Wrote by Maria G Soemitro

 
sumber : shutterstock
Ibarat jantung planet bumi, itulah lautan. Berfungsi bak jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh, lautan mengatur iklim,  menyediakan makanan bagi jutaan orang yang tinggal di bumi, memproduksi oksigen, menyediakan obat-obatan dan menjadi bagian dari ekosistem di lautan.
Sayangnya manusia mendapatkan manfaat dari lautan, namun manusia juga yang membuat lautan menjadi sakit. Seperti yang diungkapkan Direktur Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI,  Jose Tavares, setiap tahun sedikitnya 12,7 juta metrik ton sampah plastik yang diproduksi di daratan dibuang ke laut di seluruh dunia. Mengakibatkan terganggunya ekosistem, burung dan biota laut lainnya mati, produksi oksigen terganggu.
Secara spesifik,  Ellen Mac Arthur Foundation melaporkan bahwa setiap tahunnya hanya 5 % sampah plastik yang didaur ulang secara efektif, sisanya sebanyak 40 persen berakhir di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dan 30 % menemukan jalan ke lautan. (sumber)

Jika tak segera ditangani, maka diprediksi pada tahun 2050, jumlah sampah plastik akan melampaui jumlah ikan. Dan kita tidak bisa menunggu saat itu, saat kondisi lautan terlampau parah untuk dipulihkan.

Jadi, harus bagaimana?

Bersama semangat “Lautku Bebas Sampah”, yaitu dimulai dari diri sendiri,  dari yang termudah dan memulainya sejak saat ini.  Yaitu:

toples digunakan ulang (Maria G Soemitro)

Mengurangi sampah (reduce)

Proses reuse membutuhkan kecerdikan dan kreatifitas. Alih-alih membeli aneka bumbu, selai, sambal  dalam kemasan plastik, pilihlah produk dalam botol kaca. Sesudah isinya habis, botol bisa dicuci bersih untuk wadah bumbu lainnya atau peralatan hobi seperti benang jarum dan kebutuhan pertukangan seperti paku, baut, mur serta lainnya.

Bekas lotion perempuan juga bisa digunakan ulang untuk wadah kancing, manik-manik, atau asesories.

Mendaur-ulang sampah (recycle)

recycle bekas permen (pinterest.com)

Mendaur-ulang sampah merupakan proses paling rumit dibanding reduce dan reuse, karena itu sebaiknya merupakan upaya terakhir jika sampah tidak bisa lagi dihindarkan.

sumber: pinterest.c om


Ada beberapa tips membuat kreasi limbah plastik, kertas dan keresek/kantong plastik. Seperti dibawah ini. Namun jika tidak yakin sampah yang dihasilkan dapat didaur-ulang, lebih bijaksana menghindarinya.

Demikian juga sampah plastik yang bisa diolah untuk biji plastik, keresek untuk jalan aspal. Pastikan sampah tersebut akan tersalurkan ke tempat produksi. Jika tidak bisa, hindari saja.

Mungkin timbul sanggahan " Ah, aku kan ngga pernah buang sampah ke lautan. Ngga usah ikut pusing karena setiap bulan udah bayar uang sampah".

Sayangnya penyelesaian masalah sampah tidak sesederhana itu. Tidak setiap kota mampu membuang sampahnya ke TPA dengan tuntas. Kota Bandung misalnya, setiap hari memproduksi 1.600 ton sampah, namun baru mampu mengangkut 1.200 ton sampah. Penyebabnya apalagi jika bukan anggaran sampah.

Biaya pengelolaan sampah memang mahal, jika tanpa bantuan anggaran pemerintah, maka setiap kepala keluarga (KK) harus membayar Rp 300.000/bulan meliputi biaya transportasi, biaya kompensasi daerah yang dilewati truk sampah dan biaya pengelolaan sampah. Sanggup?

Banyak petugas retribusi sampah yang mengeluh sulit sekali menarik iuran, padahal hanya sekitar Rp 25.000/KK/bulan.

((Beda halnya jika untuk membeli rokok atau pulsa, ya?))

Ditambah petugas sampah tingkat RT yang sering mengambil jalan pintas dengan membuang sampah yang diangkutnya ke dalam aliran sungai, lengkaplah sudah masalah sampah Kota Bandung..

Tak heran, Kota Bandung kerap dilanda banjir jika hujan deras.

Dan banjirpun akan membawa sampah ke sungai yang berakhir di lautan.

Karena itu hukum harus ditegakkan. Indonesia memiliki Undang-undang nomor 18 tahun 2008 mengenai pengelolaan sampah, dan PP nomor 81 Tahun 2012 sebagai peraturan pelaksana. Salah satunya mengenai EPR atau extended producer responsibility, yaitu kewajiban produsen/perusahaan penghasil produk kemasan untuk mendaur-ulang atau menarik kembali kemasannya.

Salah satu negara yang berhasil adalah Korea Selatan. Sebelum EPR dijalankan hanya bisa mengolah 27 persen sampahnya, meningkat menjadi 81 persen setelah kewajiban EPR diterapkan. (sumber).

Dengan tagline # LautkuBebas Sampah, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau negara-negara ASEAN untuk sama-sama terlibat mengatasi masalah sampah di lautan.

Karena dampak buruk serbuan sampah, adalah kemiskinan. Besarnya tak kurang dari USD 1,2 miliar.  "Itu untuk kerugian yang ada di bidang perikanan, perkapalan, pariwisata dan bisnis asuransi," ujar Luhut.

Untuk menyelesaikan masalah sampah di lautan, ada beberapa skenario diantaranya adalah Rencana Aksi Nasional (RAN), rencana aksi mengurangi kebocoran berbasis lahan, kebocoran berbasis laut, mengurangi produksi dan penggunaan plastik. Kemudian, meningkatkan mekanisme pendanaan, reformasi kebijakan dan yang terpenting penegakan hukum. (sumber)

Di pihak lain, tanpa mengenal lelah, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti selalu berpesan pada warga dan nelayan untuk menjaga ekosistem laut.

"Saya berpesan kepada nelayan dan seluruh masyarakat agar tidak lagi membuang sampah plastik di laut. Sampah plastik itu butuh waktu yang lama untuk terurai. Bisa juga mengganggu pertumbuhan karang. Kalau karang tidak ada itu sudah dapat dipastikan tidak ada ikan. Nah kalau ikannya tidak ada nelayan mau tangkap apa. Jadi jangan ada lagi yang buang sampah plastik di laut," ungkap Susi. (sumber).

oknum buang sampah ke laut (sumber: liputan6.com)


Selain sampah domestik, Indonesia juga memiliki pekerjaan rumah untuk sampah industry. Walaupun undang-undang 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup telah lama digulirkan namun masih banyak industri yang membuang limbahnya ke sungai tanpa takut terkena sanksi yaitu dicabutnya izin pendirian perusahaan.

Akhirnya, kembali pada keyakinan: Bersama, Lautku Bebas Sampah,  pemerintah dengan ketegasannya melaksanakan dan menegakkan aturan yang ada. Industri mematuhi regulasi dan kita sebagai warganegara menjalankan aktivitas 3 R : Reduce, Reuse, Recycle.

Karena sakitnya lautan akan menyebabkan planet bumi sakit pula. Dan kita, sebagai penghuni planet bumi ingin hidup sehat. Enggan sakit, terlebih hidup sekarat akibat tercemar mikroplastik.

Ih, siapa juga yang mau ya?



Wrote by Maria G Soemitro

Tas ramah lingkungan terbuat dari campuran singkong (dok. Maria G Soemitro)

Yang dimaksud kantong plastik ramah lingkungan disini terbuat dari singkong, ubi kayu yang biasa kita olah menjadi combro, singkong Thailand dan cemilan lain. Sebuah acara talk show yang digawangi Deddy Corbuzier menayangkannya pada akhir Maret 2017, disusul Metro TV dalam acara siang hari tanggal 4 April 2017. Di kedua acara tersebut, sang penemu kantong plastik ramah lingkungan menampilkan kemampuan kantong plastik meluruh tercampur air kemudian dengan mudah bisa diminum. Mirip pertunjukkan sulap.

Baca juga: Mengapa Ridwan Kamil melarang penggunaan styrofoam?

Topik kantong plastik ramah lingkungan bukanlah sesuatu yang baru, biasanya mengemuka ketika ada suatu gerakan massif menolak kantong plastik. Tahun ini muncul karena ada laporan Jambeck et al, yang menuduh Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Juga regulasi pemerintah yang lamban untuk mengurangi pemakaian kantong plastik setelah secara serentak dilarang penggunaannya di ritel modern per Februari 2016.

Tahun 2010, ritel modern dipenuhi kantong plastik ramah lingkungan ecoplas yang terbuat dari campuran tepung singkong dan oxium, kantong plastik dengan tambahan zat aditif yang berfungsi mempercepat penguraian plastik dengan bantuan oksidasi,thermal dan fotodegradasi. Kantong plastik yang diklaim ramah lingkungan tersebut digelontorkan untuk menjawab kampanye Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) yang diinisiasi Greeneration Indonesia (GI).

Ah, mari kita bahas tentang si kantong plastik yang terbuat dari singkong saja dulu. Tulisan berikutnya barulah membahas lainnya. Kebetulan, pada tahun 2011 saya berkesempatan mengunjungi pabrik yang memproduksi kantong plastik terbuat dari singkong. Kepala produksi berkisah bahwa Paris Hilton menggunakan plastik yang sama tapi berukuran kecil untuk memungut dan membuang kotoran hewan peliharaannya. Tentu saja ketika dibuang diharapkan tidak mencemari bumi, walau persentase campuran tepung singkong sangat sedikit.

biji plastik yang telah dicampur ekstrak singkong (Maria G Soemitro)

Pada kesempatan itu juga ditayangkan video lokasi penanaman singkong ditanam di suatu daerah Jawa Barat. Singkong dipanen dan dikirim ke pabrik untuk proses pembuatan kantong plastik ramah lingkungan. Seorang teman rombongan berbisik:”Ini peluang bagus agar rakyat kita tidak usah ke luar negeri dan menjadi buruh mingan disana. Cukup di Indonesia, tanam singkong!”. Wah, benarkah demikian? Ditambah iming-iming penggunaan singkong yang lebih banyak seperti di awal kisah, maka nampaknya petani Indonesia bakal sejahtera, tidak perlu tanam tanaman holtikultura seperti cabai yang rentan hama.

Sayangnya, jangankan bermimpi tanam singkong untuk kantong plastik. Kini, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dalam bentuk tepung tapioca, Indonesia harus mengimpor singkong dari Vietnam. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mengimpor singkong pada tahun 2016 sebanyak 12.530 ton atau US$ 2,2 juta, (sumber)

Nah, apa yang terjadi jika Indonesia juga membutuhkan singkong untuk kantong plastik? Mungkin kran impor akan tak tertahankan mengingat betapa borosnya penggunaan kantong plastik. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan singkong sebagai kantong plastik tidaklah sesederhana membalikkan tangan. Lebih lanjut bahkan akan menimbulkan ancaman pada:

Ketahanan pangan

Pilih pangan atau kantong plastik? Tentu saja pangan bukan? Pangan merupakan kebutuhan primer yang tidak dapat ditawar, jumlahnya harus mencukupi dan singkong merupakan salah satu bahan makanan pokok bagi suku tertentu, contohnya suku Cireundeu. Juga merupakan bahan makanan subtitusi beras. Ketika suatu kelompok masyarakat kehabisan beras maka mereka akan mencari singkong sebagai pengganti.

Maka situasi menjadi tidak lucu dan sangat aneh jika di suatu lokasi singkong ditanam untuk memenuhi kebutuhan kantong plastik, sementara di belahan bumi lain atau bahkan di provinsi lain di Indonesia, anggota masyarakatnya kelaparan, nyaris busung lapar.

Energi terbarukan

Seperti diketahui, energi fosil yang berasal dari minyak bumi hanya akan bertahan hingga 70 tahun, padahal jumlah kendaraan bermotor berlipat ganda dalam 30 tahun kedepan. (sumber). Untuk mengantisipasinya Indonesia yang kaya akan energi terbarukan harus memanfaatkan semaksimal mungkin. Salah satu bahan baku energi terbarukan yang mudah dan murah proses produksinya adalah singkong. Keseluruhan hasil panen singkong bisa digunakan, mulai dari kulit hingga ampas/limbah tepung tapioka.

Singkong juga unggul, jika dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol yang hanya mencapai 70 persen pada bahan bakar yang ada sekarang, maka bioetanol (kandungan alkohol dari singkong) bisa mencapai 96 persen. (sumber). Manfaat penggunaan bioetanol lainnya adalah pengurangan subsidi secara signifikan dan mampu mengurangi polusi udara karena bioetanol bersifat ramah lingkungan.

Perilaku bijak lingkungan

Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) terbentuk setelah muncul pemahaman bahwa untuk mengurangi sampah dibutuhkan perubahan perilaku. Anggota masyarakat harus bijak menggunakan kantong plastik dengan menggunakannya berulang kali. Jangan sekali pakai agar minyak bumi sebagai bahan baku kantong plastik, tidak terbuang percuma.

Dengan adanya kantong plastik ramah lingkungan, anggota masyarakat dimanjakan dan dibuat terlena dengan anggapan : “ah, tidak apa-apa membuang sembarangan kantong plastik ramah lingkungan, toh akan hancur dengan sendirinya”. Mereka tidak mempedulikan apakah isi kantong plastik yang dibuang adalah sampah organik atau sampah anorganik yang berarti tetap akan menimbulkan masalah sampah. Mereka juga tidak peduli bahwa untuk memproduksi kantong plastik yang diklaim ramah lingkungan membutuhkan sumber daya alam lainnya.

Jadi masihkah kita ikut terseret sesat pikir kantong plastik ramah lingkungan hanya karena bisa berfoya-foya menggunakan kantong plastik sekali pakai?



Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Cahyana Service, Eh .............
      Cahyana Service (dok. Maria G. Soemitro) Pertanyaan pertama yang saya ajukan ketika mewawancarai pemilik Cahyana Service adal...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • Kawasan Bebas Sampah, Langkah Awal Menuju Zero Waste Cities
    source:abnamro.com Dalam 20 tahun terakhir, gerakan No Waste yang kemudian berubah menjadi Zero Waste, bergaung secara masif di A...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates