• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah



Forum whatsapp grup (WAG) “Bandung Juara Bebas Sampah” (BJBS)  sedang gundah gulana.  Untuk menyelesaikan sampah Sungai Citarum, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil berketetapan membangun 50 titik insinerator atau alat membakar sampah. (sumber) Dukungan penuh sudah didapat dari pemerintah pusat.

Bak Makan Buah Simalakama
Sebagai forum yang selalu mendukung pembangunan berkelanjutan, BJBS bukannya ngga paham. Apa yang sedang dialami kang Emil, panggilan Ridwan Kamil, bak makan buah simalakama. Agar sampah tidak mengalir ke lautan, Sungai  Citarum harus dikeruk.  Sekarang setiap harinya,  ekskavator mengangkat sampah dan sedimen sebanyak   100 kg-150 kg. Jumlah sampah akan bertambah jika pemerintah pusat sudah mengirimkan ekskavator bantuan.

Apa yang harus dilakukan dengan sampah hasil pengerukan?

Sungguh suatu dilema yang membuat kepala puyeng. Solusi termudah memang dibakar. Karena itulah Kang Emil mengajukan 50 titik pembakaran sampah.

 Sayangnya, aktivitas membakar sampah  berarti melanggar Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Bunyi pasal 29 ayat 1 butir g : "Setiap orang dilarang membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah".

Pastinya ada yang mendasari regulasi tersebut. Greeneration  Indonesia  yang digawangi  para alumni Teknik Lingkungan ITB menyatakan setidaknya ada 7  bahaya membakar sampah, yaitu:
  1. Gas buang dari proses pembakaran berpotensi mencemarkan lingkungan karena kandungan bahan beracun seperti substansi dioksin
  2. Gas buang merupakan pembawa sebagian besar CO2 penyebab pemanasan global
  3. Abu yang tersisa dari pembakaran mencapai 20% dari sampah yang dibakar ini termasuk juga kategori limbah B3, penggunaan insinerator tidak menjadi alternatif untuk landfill, namun justru dibutuhkan landfill khusus untuk limbah B3.
  4. Unsur merkuri akan trelepas ke udara dalam bentuk uap yang terbawa pada gas buang.
  5. Berpotensi sebagai pencemar lingkungan apabila tidak dilengkapi degan pengolahan gas buang. Pembakaran sampah yang mengandung bahan atau limbah kimia akan melepaskan kandungan kadmium, timbal atau bahan-bahan yang berpotensi sebagai pencemar lingkungan.
  6. Diperlukan peralatan pengolah gas buang yang basah setelah proses pembakaran karena gas yang basah ini akan dapat merusak atau sebagia gas destruktif apabila lepas ke udara, oleh karena itu dihitung sebagai tambahan biaya dalam pemakaian incenerator
  7. Berpotensi pencemar emisi partikulat karena kandungan abu yang besar.
Ah, kita tinggalkan sejenak Kang Emil yang sedang berpening ria. Karena  apapun risikonya, kecenderungan membakar sampah selalu dilakukan. Terlebih di luar daerah, kawasan yang tidak tersentuh pembuangan sampah terorganisir. Timbunan sampah nampak di sepanjang jalan, di lahan kosong dan di saluran air.

Padahal jika dirancang dengan benar, alih-alih menjadi masalah, sampah organik  berpotensi sebagai bahan baku penghasil energi terbarukan.

Sedangkan sampah anorganik bisa diproses menjadi material sejenis. Plastik  diolah menjadi biji plastik. Kertas menjadi lembaran kertas lagi. Demikian pula dengan material  hasil tambang.

Energi Terbarukan
Adalah bakteri metanogen yang berjasa melepaskan biogas untuk memasak. Ketika sampah organik dimasukkan ke biodigester maka bakteri metanogen dengan senang hati akan melakukan fermentasi atau proses metanisasi.

Proses fermentasi terjadi tanpa oksigen (anaerob). Biogas yang dihasilkan  terdiri dari beberapa macam gas, yaitu  metana (55-75%), karbon dioksida (25-45%), nitrogen (0-0.3%), hydrogen (1-5%), hidrogen sulfida (0-3%), dan oksigen (0.1-0.5%). Persentase terbesar, metan merupakan  gas ini mudah terbakar dan dapat disamakan kualitasnya dengan gas alam setelah dilakukan pemurnian terhadap gas metan.

Banyak keuntungan diperoleh jika rumah tangga di Indonesia mengolah sampahnya menjadi gas metan: 
  • Mengurangi ketergantungan.  LPG yang digunakan sebagian besar rumah tangga di Indonesia, tidak saja merupakan energi fosil yang cadangannya semakin tipis, juga merupakan  beban pemerintah.  Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah Indonesia  mengimpor 60 % dari total kebutuhan,  25.000 metrik ton per hari (sumber)
  • Secara periodik, pemerintah terpaksa menaikkan harga LPG. Pastinya memberatkan masyarakat miskin, terlebih masyarakat pedalaman, mereka harus membayar 2 x lipat. Sementara energi terbarukan yang berasal dari sampah dapat diperoleh gratis. Selama manusia menghasilkan sampah,  bakteri metanogen dengan setia akan memproduksi biogas.
  • Solusi sampah organik.  60 - 70 % sampah yang dihasilkan penduduk Indonesia merupakan sampah organik.  Penggunaannya sebagai energi terbarukan akan menyelesaikan sebagian masalah sampah di Indonesia.
  • Solusi pemanasan global. Tanpa dikoordinir menjadi biogas untuk memasak, maka gas metan akan menjadi bagian gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Penggunaan biogas sebagai bahan bakar, sudah dimulai di Kota Bandung sejak tahun 2016. Dipopulerkan oleh Arifin Panigoro yang menghibahkan 100 biodigester sampah,  Kini, hanya beberapa yang masih beroperasi. Penyebabnya sederhana, pengguna masih belum terbiasa memisah sampah, sehingga sering ditemukan sampah anorganik dalam tabung biodigester.

Energi Muda dan Pembangunan Keberlanjutan
Dengan slogan Energi Muda,  Koaksi  Indonesia bergerak untuk percepatan energi terbarukan di Indeonesia.  Koaksi  Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang memiliki agenda pembangunan berkelanjutan di seluruh Nusantara.

Ketika masalah dipetakan, ada sampah yang tak kunjung habis dibahas namun belum juga memperoleh  titik temu. Ada  banyak inovasi energi  terbarukan, diantaranya menjadikan sampah sebagai bahan baku biogas.  Maka terlihat ada banyak ruang kosong.

Masyarakat belum teredukasi perihal sampah. Gagap memperlakukan sampah modern yang baru muncul seabad silam, sementara berjuta tahun sebelumnya , bumi aman dan tentram. Tidak mengenal keresek, botol bekas air mineral, terlebih styrofoam.

Kaum muda kerap menjadi ikon pembaruan.  Ketika sampah dan energi  menjadi fokus mereka, berbondong-bondong anak muda lain meniru. Menganggap sebagai trend bergengsi.

“Gue ngga nyampah lho”

“Sampah gue jadi nyala api. Bikin emak happy masak di dapur”.

Teknologi digital bisa banget membuat terobosan. Perekrutan relawan untuk kampanye memisah sampah hingga pelosok tanah air. Serta aplikasi yang menghubungkan tempat penyedia biodigester, mereka yang membutuhkan serta tim yang mengedukasi pengguna biodigester.


Sehingga sungai – sungai di Indonesia tidak akan mengalami  nasib sama seperti Sungai Citarum. Tetap jernih dan menjadi sumber penghidupan. Sementara masyarakat tidak lagi mengeluh dengan kelangkaan LPG atau kenaikan harga LPG. Di dapurnya bertengger dengan anteng, kompor gas metan yang mendapat aliran biogas dari biodigester berisi sampah rumah tangga.


·    
Wrote by Maria G Soemitro

sumber: ang7m.deviantart.com

Detak waktu berlalu dengan cepat menuju tanggal 21 Februari 2016, Hari Peduli Sampah Nasional. Saat 801 komunitas di 155 kota/kabupaten yang tersebar  di 34 provinsi Indonesia, secara serempak mengadakan rangkaian acara peringatan longsornya sampah yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia.

Puncak peringatan adalah mulai diberlakukannya peraturan kantong plastik berbayar. Pembeli di ritel moden tidak lagi menerima kantong plastik gratis, tapi harus membayar. Jika enggan, ada alternatif  lain yang bisa dipilih yaitu menggunakan kardus bekas  yang disediakan gratis atau membeli tas pakai ulang.

Tujuannya agar warga masyarakat bijak menggunakan kantong plastik. Karena  walaupun  memiliki konsekuensi lingkungan yang teramat mahal,  kantong plastik diberikan secara gratis.  Rata-rata pemakaiannya hanya 25 menit, padahal sampah kantong plastik baru terurai di alam setelah ratusan tahun. Sehingga tidak aneh, sampah kantong plastik nampak dimana-mana, di setiap penjuru kota dan menghiasi sungai  bak bunga sampah. Akhir kisah bisa diduga, setiap musim penghujan tiba maka saluran air akan memuntahkan sampah yang telah menyumbat alirannya.

Gelisah melihat situasi ini, pada tahun 2010 Mohamad Bijaksana Juneronaso atau yang akrab dipanggil Sano bersama teman-temannya merancang  suatu gerakan perubahan  dibawah kibaran bendera Greeneration Indonesia (GI) . GI mengambil nama Greeneration,  nama  Himpunan Teknologi Lingkungan ITB, tempat Sano merampungkan kuliahnya pada tahun 2006.

Mereka mencanangkan Diet Kantong Plastik dengan mempertimbangkan fakta bahwa  sebetulnya setiap individu bisa ikut aktif berpartisipasi mengatasi sampah. Caranya mudah,  hanya dengan mengurangi penggunaan kantong plastik.  Toh untuk mewadahi barang, ada banyak solusi alternatif.

Kebiasaan penggunaan kantong plastiksebetulnya  baru berlangsung sekitar 50 tahun, namun akibatnya begitu dahsyat, dunia nampak tenggelam dalam lautan sampah plastik.  Apa yang dilakukan Sano sangat sesuai dengan hukum Herman Daly III mengenai pembangunan berkelanjutan:

“Melepaskan limbah ke alam tidak lebih cepat dari kemampuan memurnikan diri yang dimiliki alam”

Gagasan Sano  menghendaki warga masyarakat keluar dari zona nyamannya,  sehingga tidak heran banyak pihak skeptis dan meragukan keberhasilan gerakan sosial tersebut. Namun sebagai akademisi, Sano menjawab dengan menyusun langkah-langkah yang mendukung kampanyenya:

Data. Merupakan hal penting dan utama yang harus dikerjakan dalam mendukung gerakan perubahan. Tidak bisa sembarangan mengatakan bahwa gunungan sampah ada dimana-mana tanpa menyebutkan datanya  secara rinci dan akurat.

Konsisten. Dimulai sejak tahun 2010, Sano menggalang simpatisan dan sukarelawan untuk mengkampanyekan gerakan perubahan di ruang-ruang publik dan aktif mengisi setiap kesempatan yang memungkinkan. Sehingga  diet kantong plastik merupakan bagian kehidupannya sehari-hari.

Segmentasi. Dengan cerdik Sano membidik kelompok anak muda untuk bergabung membuat gerakan perubahan. Anak muda umumnya sering gelisah dalam pencarian diri dan tertarik melakukan kegiatan-kegiatan baru. Daripada  tak tentu arah, Sano mengajak mereka untuk mengambil porsi dalam gerakan perubahan Indonesia yaitu mengurangi  (diet) penggunaan kantong plastik dan menggantinya dengan tas pakai ulang berbagai bentuk hingga terkesan trendy. Diharapkan aksi yang mereka lakukan akan menular ke orang tua dan kerabat sehingga perubahan akan lebih menyeluruh karena masalah sampah adalah masalah bersama.

Jargon. Jargon yang mudah diingat dan dicerna merupakan salah satu senjata kesuksesan gerakan mereka.  Diet Kantong Plastik, Pay4Plastik, Waste4Change dan kini Bebassampah2020 merupakan sebagian slogan mereka yang berhasil menarik minat publik.

Kolaborasi. “Kolaborasi adalah keniscayaan” merupakan salah satu prinsip Sano, sehingga tidak heran,  dengan berbenderakan  Greeneration Indonesia, Sano berkolaborasi dengan Change.org, Ciliwung Institute, Earth Hour Indonesia, LeafPlus, Plastik Detox, Si Dalang ID, The Body Shop Indonesia dan sejumlah individu membentuk Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP). Kampanye bijak penggunaan kantong plastikpun menjadi lintas usia, lintas latar belakang dan lintas wilayah.

Regulasi. Dengan kewenangannya, pemerintah bisa memberlakukan peraturan yang bersinergi dengan gerakan sosial diet kantong plastik. Karena itu Sano aktif melakukan pendekatan dengan pemerintah agar kampanye mereka efektif dan efisien.

Merupakan kado terindah bagi Sano, ketika akhirnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menjawab petisi kantong plastik berbayar. Siti Nurbaya setuju dan sepakat menetapkan tanggal 21 sebagai momen diberlakukannya kantong plastik berbayar.  Di hadapan petinggi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sano menjelaskan dengan runtut dan bersemangat mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Karena sudah saatnya mengubah paradigma manajemen sampah sehingga tidak menerapkan cara “kumpul, angkut dan  buang” sampah lagi.

Hanya itu?  Tidak. Ada banyak program pengelolaan sampah dari sumbernya yang dikerjakan Sano dan GI.  Seperti  Masuk RT (MAnajemen Sampah Untuk Kawasan Rumah Tangga) yaitu pendampingan masyarakat agar mereka memahami pengelolaan sampah dan penggunaan teknologi yang tepat. Juga ada program KEBUNKU (KErtas Bekasku HijaUkan BaNdungKU), yaitu program untuk menciptakan siklus mengembalikan pohon yang telah dimanfaatkan (jadi kertas)  menjadi pohon kembali.  Tetapi yang paling jarang mengemuka walaupun manfaatnya sangat besar yaitu peranannya dalam kewirausahaan sosial.

Ketika mengkampanyekan diet kantong plastik,  Sano dan kawan – kawan memberikan solusi yaitu tas pakai ulang yang awet dipakai hingga  ribuan kali. Tas berbahan  polyester dan bersertifikat ramah lingkungan tersebut dapat dilipat sebesar amplop sehingga memudahkan pemakainya.

Era modernitas  menuntut efisiensi  waktu, sehingga memaksa warga masyarakat menggunakan kantong plastik yang praktis. Tentunya kebutuhan tersebut harus diberi solusi yang tepat dan tidak memaksa mereka menggunakan tas pakai ulang seperti yang biasa dipakai ibu-ibu jadul (jaman dulu) yang terkesan merepotkan karena bentuknya yang besar.


thejakartapost.com

Tas pakai ulang juga harus dapat digunakan ribuan kali, karena jika tidak hati-hati konsumen akan tergelincir memakai kantong plastik versi lain yaitu tas pakai ulang yang mudah rusak sehingga terpaksa dibuang dan mengakibatkan masalah sampah seperti halnya kantong plastik.

Sano dan teamnya merancang, memproduksi dan memasarkan tas pakai ulang dengan memberdayakan industri rumahan agar karya mereka layak ekspor.  Tas pakai ulang inilah yang ditawarkan pada kaum muda agar mereka merasa trendy menggunakannya,  substitusi kantong plastik untuk menyelesaikan masalah sampah secara berkelanjutan.

Apa yang dilakukan Sano memberikan solusi untuk beragam  masalah. Sebagian masalah sampah terselesaikan dengan beralihnya warga menggunakan tas pakai ulang yang tahan lama dan praktis. Solusi inipun berdampak pada terbukanya lapangan kerja baru dengan upah menjanjikan karena produk mereka layak ekspor.

Dibalik semua kesuksesannya, Sano tetaplah sosok rendah hati, murah senyum dan sabar. Berbaur dengan rekan-rekan dan karyawannya, agak sulit mencari Direktur Greeneration Indonesia yang kesehariannya menggunakan t-shirt sederhana dan sandal jepit ini. Menjadi nomor satu bukanlah hal yang terpenting baginya, karena  suatu pembuktian telah ditorehkan Sano bahwa siapapun bisa membuat perubahan, asalkan komit dan konsisten menjalankannya. Kesuksesan hanya menunggu waktu yang tepat untuk terwujud.

Sebagai penggagas dan pelaku gerakan sosial, Sano seolah menjawab panggilan Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia:

“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”

Wrote by Maria G Soemitro
biodigester di perumahan GCA Bandung (dok Maria G Soemitro)

Biodigester sampah? Betul, merupakan instalasi tempat bakteri metanogen bersemayam yang dengan senang hati  akan mengolah sampah organik  menjadi  biogas. Bisa dibayangkan berapa banyak masalah perkotaan dapat  terselesaikan dengan adanya biodigester sampah? Sampah berserakan hilang, kota bersih dan resik. Diganti biogas untuk memasak makanan di dapur serta slurry untuk pupuk berkebun.

Baca juga: Mengapa Ridwan Kamil Melarang Penggunaan Styrofoam?

Terlebih bagi Kota Bandung,  kota yang pernah mendapat julukan Bandung Lautan Sampah dan mendapat predikat Kota Terkotor pada tahun 2006. Sungguh tepat sasaran ketika pada  tahun  2015, suatu perusahaan energi menyalurkan corporate social responsibility (CSR)-nya, yaitu  100 buah biodigester yang diharapkan dapat mengolah sampah Kota Bandung menjadi energi.

Paling tidak ada 4 manfaat yang bakal diperoleh:

1.   Reduksi sampah
Sebanyak 1.600 ton sampah diproduksi penduduk Kota Bandung.  PD Kebersihan hanya mampu mengangkut 1.200 ton ke TPA, sisanya berceceran  di jalan, lahan kosong dan aliran air. Tidak saja menyebabkan banjir tapi juga  mencemari air. udara dan tanah. Andaikan program biodigester sukses dilaksanakan maka masalah sampah akan tertangani.
Pengguna biodigester wajib memisah sampah sehingga masalah sampah selesai sejak di hulu. Sampah organik masuk biodiogester, sampah anorganik bisa dijual ke pengepul/bank sampah.

2.   Target  energi  baru terbarukan (EBT)
Hingga akhir tahun 2016, capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) baru mencapai 7,7 %, sementara menurut target pada tahun 2025 harus mencapai 23 %. Dengan adanya geliat warga masyarakat dan pihak swasta dalam mengimplementasikan EBT maka akan terjadi percepatan dalam kurun waktu  8 tahun ini. (sumber)

3.   Target  penurunan emisi GRK
Pada KTT Perubahan Iklim 2015, Presiden Jokowi  menegaskan komitmen Indonesia, yaitu  mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 % pada tahun 2030 sebagai upaya mengatasi perubahan iklim. Kontribusi Indonesia tersebut diharapkan dapat  mendorong terciptanya kesepakatan mengikat demi membatasi pemanasan global di bawah 2 derajat celcius.
Dengan dikelolanya limbah organik menjadi biogas, maka program biodigester turut berpartisipasi dalam mewujudkan tekad pemerintah tersebut.

4.   Penghematan
Paling tidak ada 2 penghematan yang diperoleh pemerintah yaitu subsidi elpiji  dan biaya kelola sampah.  Setiap tahunnya Kota Bandung menganggarkan Rp 137 milyar untuk operasional  (sumber).  Alokasi tertinggi untuk biaya pengangkutan sampah dari  tempat pembuangan sampah sementara (TPS)  ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA).
Sedangkan untuk subsidi energi, karena  Pertamina harus memberikan subsidi Rp 5.750, sementara jatah Kota Bandung sebanyak  90.000 tabung gas 3 kg/hari. Maka subsidi yang dihemat bisa mencapai  Rp 1,5 milyar per hari atau Rp 46,5 miyar per bulan. Jumlah yang lumayan banyak bukan?



Sebetulnya masih banyak manfaat lain biodigester, diantaranya bagi warga sendiri yaitu penghematan anggaran gas rumah tangga. Juga ada hasil sampingan biodigester berupa slurry yang  bisa digunakan sebagai  pupuk pada aktivitas urban farming/berkebun di area perkotaan.

Sayangnya program 100 biodigester bisa dianggap 'gagal'. Pada akhir tahun 2015, saya mengikuti survei biodigester, dan menemukan  hanya beberapa orang yang dengan senang hati  mau meneruskan. Sisanya menolak. Di beberapa lokasi, instalasi biodigester  tidak berfungsi dan dipreteli. Bahkan seorang Ketua RW di suatu kawasan padat penduduk,  bersikeras meminta agar instalasi dibawa pergi. Bak meminta dibersihkannya lokasi dari gundukan sampah.

Banyak yang menjadi penyebab, tapi 2 hal penting ini rupanya dilupakan oleh pihak yang bertanggung jawab membagikan biodigester pada warga masyarakat.

  1. Biodigester berbeda dengan kompor elpiji. Pemakai biodigester  harus memahami bahwa terdapat bakteri metanogen di dalam instalasi yang harus diperlakukan sebagai mahluk hidup. Artinya jika 'binatang peliharaan' ini tidak diperlakukan dengan benar, tidak diberi  makan dan minum cukup, maka mereka akan sakit, sekarat dan mati.Beda halnya dengan kompor gas elpiji yang  tidak akan bereaksi walau diabaikan selama  berbulan-bulan.
  2. Minimnya kesadaran memisah sampah. Apa jadinya jika pembalut perempuan dan popok bayi masuk biodigester? Tentunya akan menghambat proses terjadinya biogas. Bakteri metanogen yang seharusnya hanya mendapat asupan sampah organik akan terganggu aktivitasnya. Inilah yang terjadi pada beberapa biodigester.  Akibat  pengguna tidak disiplin dalam memisah sampah maka beberapa instalasi mengalami masalah seperti  air slurry yang tiba-tiba membanjir atau bahkan tidak munculnya gas metan yang bisa dikonversi menjadi nyala api kompor.
dimulai dari pemisahan sampah hingga asap biru dari kompor (dok. Maria G Soemitro)


Jelaslah kesalahan terulang. Para pemangku kebijakan hanya memperhatikan soal teknis, abai pada pendekatan psikologi sosial yang jauh lebih penting. Umumnya pendekatan sosial kurang menarik, karena membutuhkan kesabaran dan waktu bertahun-tahun, tidak dapat dipatok selesai dalam satu periode.

Baca juga : Adipura dan Lika Liku Meraihnya




Agar kesalahan tidak terulang, program serupa harus memperhatikan beberpa faktor berikut:

  • Komunitas

Bersosialisasi dan beradaptasi dalam kelompok merupakan kebiasaan masyarakat Indonesia. Atas dasar itu pula muncul grup-grup reuni, komunitas pecinta lingkungan, komunitas pecinta batik serta banyak komunitas lain.

Daripada menyebar biodigester ke seluruh penjuru Kota Bandung,  alangkah baiknya pembagian diarahkan pada satu komunitas dan kelompok-kelompok lain disekitarnya. Sehingga memudahkan jika ada pengguna yang memgalami masalah. Antar anggota komunitas akan memberikan dorongan untuk menggunakan biodigester dengan maksimal.
Salah satunya temuan Ibu Nana yang memisah sampah secara simpel dan praktis. Sampah organik baru dimasukkan ke biodigester ketika sudah berair tapi belum mengelurkan bau menyengat. Perlakuan yang konsisten dan rutin akan membuat bakteri metanogen  nyaman memproduksi  biogas secara teratur.

  • Buku petunjuk

Setiap peralatan hasil pabrikasi umumnya mendapat buku petunjuk pemakaian.  Demikian pula seharusnya dengan biodigester sampah. Seharusnya ada manual book, termasuk didalamnya larangan  dan yang wajib dilakukan.
Mungkin penyebabnya karena instalasi biodigester baru diujicobakan di Kota Bandung, sehingga data yang dikumpulkan  belum cukup.

  • Hotline

Sewaktu biodigester disebar di Kota Bandung,  ada  yayasan yang bertugas mendampingi dan bertanggung jawab terhadap penyebaran biodigester. Namun entah mengapa laporan kerusakan biodigester  tak kunjung digubris.
Seharusnya disiapkan hotline khusus sebagai pelayanan program biodigester. Petugas akan menjawab masalah-masalah di lapangan setelah berkoordinasi dengan para pakar dan petugas lapangan.

salah satu biodigester yang mangkrak (dok. Maria G Soemitro)

Walau penyebabnya  berbeda, Dalam program konversi minyak tanah ke gas elpiji pada tahun 2009, kebijakan kenaikan harga minyak tanah dan pembatasan distribusinya berhasil memaksa pengguna beralih ke elpiji.  

Demikian juga ketika terjadi kelangkaan elpiji. Warga masyarakat bersedia mencari gas 3 kg ke seluruh penjuru kota agar dapurnya tetap ngebul. Sehingga sebetulnya muncul momentum pengenalan dan sosialisasi biodigester.
Jika tidak terkendala distribusi, pastinya warga masyarakat dengan senang hati menggunakan biodigester. Walau harus 'terpaksa'  memisah sampah demi mendapatkan nyala api yang dibutuhkan.

Akhirnya keberhasilan program energi baru terbarukan (EBT) sangat bergantung pada tekad kuat penyelenggara negara. Apakah peduli pada potensi penghematan subsidi elpiji yang demikian besar, serta solusi sampah menjadi energi.  Atau sebaliknya menina bobokan dengan elpiji yang murah harganya walaupun harus berhutang.




Wrote by Maria G Soemitro


“Tuh lihat, ngga ada asap rokok kan? Padahal kita lagi nobar PERSIB lho?”

 Caption dan foto nan keren tersebut dikirim oleh Hani Soemarno dari Cikapundung River Spot. Suatu ruang publik yang dulu bernama Cikapundung Timur dan disulap dalam rangka menyambut Konferensi Asia Afrika pada bulan April 2015 silam. Foto menunjukkan penyelenggaraan nonton bareng (nobar) Persib yang tertib tanpa sampah. Padahal biasanya acara acara keriuhan nobar identik dengan sampah cemilan, plastik minuman serta ceceran sekam dan puntung rokok.

Bagaimana dan siapa yang berhasil membuat acara nobar menjadi area zero waste? Adalah Bdg Cleanaction, sekelompok relawan anak muda pembaharu Kota Bandung yang percaya bahwa perubahan bisa terjadi jika digaungkan terus menerus baik offline maupun online. Dan perubahan mendesak yang perlu dilakukan adalah perubahan cara pandang dan kebiasaan terhadap sampah.

Sampah menjadi masalah karena adanya kesalahan paradigma dalam masyarakat. Masyarakat beranggapan bahwa sampah harus dijauhi dan dibuang jauh-jauh. Mau kemana, terserah. Sebagai penghasil sampah, mereka tak peduli. Hingga suatu kali kelak masalah sampah bak bom yang mencapai titik kulminasi. Duarrrrr………rusaklah lingkungan, nyawa masyarakat terancam. Persis seperti kasus Leuwigajah yang memakan 143 korban jiwa. Kala itu penyesalan sia-sia belaka. Nyawa tak mungkin kembali, kerusakan lingkungan sulit diperbaiki.

Bdg Cleanaction mengenalkan pengurangan sampah dengan cara happy dan di tempat-tempat vital. Seperti ketika nonton bareng (nobar) persib di Cikapundung River Spot, Bdg Cleanction menyediakan kawasannya sekaligus cemilan dan tentu saja dengan syarat. Ini dia syaratnya:


nobar bersyarat tidak merokok dan buang sampah pada tempatnya

Karena mengajukan syarat, anggota Bdg Cleanaction pun konsekuen menyiapkan dan memelihara lokasi nobar agar selalu kinclong, berikut penampakannya.


bersih-bersih area nobar
 Selain menetapkan wilayah zerowaste (zona bebas sampah) dalam setiap even yang diselenggarakannya , ratusan relawan Bdg Cleanaction juga aktif dalam Gerakan pungut sampah ( GPS). GPS masif dilakukan pada acara-acara yang ramai didatangi publik seperti nobar di Cikapundung River Spot, di kawasan Car Free Day dan ruang publik lainnya. Mereka mengajak anggota masyarakat lain untuk mau bersama-sama memungut sampah. Nah, jika sampah orang lainpun dipungut diharapkan yang bersangkutan tidak nyampah sembarangan bukan?



Gerakan Pungut Sampah (GPS)
Tujuannya sederhana agar warga masyarakat peduli sampah. Menjaga habitatnya. Lingkungan hidupnya. Bagaimana sampah akan tertangani jika semua orang cuek, tidak peduli dan hanya main tunjuk pada pemerintah kota sebagai instansi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah.
Kampanye lainnya adalah #1000tumbler yang dilakukan secara secara massif di ruang-ruang publik. Symbol #1000 tumbler dimaksudkan agar warga masyarakat khususnya kaum muda merasa kece jika menggunakan tumbler, tidak takut dianggap jadul bahkan dianggap trendy lifestyle.  


#1000tumbler
Kampanye #1000tumbler sebetulnya bertujuan agar warga mau mengurangi konsumsi air minuman dalam kemasan (AMDK). Tapi sungguh tidak mudah menghentikan kebiasaan praktis ini walau terbukti pengelolaan sampah kemasan sangat sulit dan meninggalkan jejak ekologis yang panjang. Karena itu digunakanlah kampanye #1000 tumbler agar warga masyarakat khususnya anak muda menggunakan tumbler dan otomatis tidak mengonsumsi AMDK. Cara keren mengubah lifestyle bukan?

Dalam setiap kampanyenya, Bdg Cleanaction melakukan dengan cara menyenangkan, mudah dan murah yaitu melalui kegiatan di ruang-ruang publik dan dunia maya. Siapapun bisa diretweet asalkan menunjukkan foto sedang melakukan GPS dan atau #1000tumbler.

Perlahan tapi pasti, sedang terjadi perubahan di Kota Bandung. Di mulai dari komunitas-komunitas yang peduli Kota Bandung. Khusus masalah sampah mereka bergabung dalam Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS), bertemu sebulan sekali di ruang-ruang publik yang memungkinkan seperti di ruang Bandung Creative City Forum (BCCF) ini. Mudah diakses dan gratis asal mendaftar ke pengelola untuk mencari jadwal yang kosong.


Bandung Juara Bebas Sampah di BCCF, Jalan Purnawarman 70 Bandung
 Selain Bdg Cleanaction dengan gerakannya, beberapa kelompok lainnya yaitu IATL ITB, Greeneration Indonesia dan YPBB membuat peta persampahan Kota Bandung, yang bernama BebasSampahID. Peta tersebut ditujukan bagi warga masyarakat yang mulai tergerak memisah sampah agar bisa mengakses titik –titik lokasi dimana sampah bisa disalurkan. Juga membantu warga yang ingin mencari informasi bagaimana cara berpartisipasi mengelola sampah. membahas peta Bebas Sampah ID di Eco Camp

Selain gerakan pembaharuan diatas, sebetulnya telah banyak gerakan-gerakan yang dilakukan warga masyarakat Kota Bandung. Diantara gerakan positif itu ada yang bertumbangan seperti forum hijau Bandung (FHB) yang diadakan sebulan sekali di ruang-ruang publik Kota Bandung untuk berbagi dan mencari solusi beragam masalah Kota Bandung. Kemudian ada Ngobras (Ngobrol Bareng Santai) yang memperbincangkan beragam masalah mulai darii krisis air, krisis pangan hingga perubahan iklim yang merupakan keniscayaan.


Dari sekian banyak kegiatan yang menggunakan ruang publik, beberapa masih teguh melaksanakan aktivitasnya, seperti Komunitas Cikapundung Bersih. Menggunakan daerah aliran sungai (DAS) untuk berkegiatan, mereka berhasil membangun tempat salat dan urban farming dengan swadaya. Mereka sadar perubahan lingkungan harus diusahakan, jika pemerintah kota mau memberi maka harus disesuaikan dengan kebutuhan karena merekalah yang paling memahami habitatnya, kebutuhannya.



Komunitas Cikapundung Bersih di DAS Cikapundung
Menarik disimak bahwa gerakan perubahan lifestyle sebetulnya terpicu dari ketidak nyamanan warga kota terhadap habitatnya. Pada ruang tumbuh dan tempatnya berkarya. Mereka resah melihat kesemrawutan PKL, jalan-jalan macet dan banjir cileuncang (banjir akibat membludaknya air kotor dari saluran air) tatkala hujan tiba. Dan dari sekian banyak masalah, yang bisa mereka kerjakan adalah bersama-sama membuat perubahan lifestyle.Sehingga sungguh tepat apa yang ditulis Ridwan Kamil, Walikota Bandung masa bakti 2013 – 2015 yaitu:

“Kekuatan Bandung terbesar ada pada aset kualitas manusianya. Inilah kekuatan Bandung di masa depan. Inilah tiket bersaing global. Jangan sampai ribuan orang-orang kreatif dan pintar ini selalu pergi ke Jakarta atau Singapura setelah mereka lulus sekolah di Bandung, Mereka harus diakomodasi untuk berbisnis dan berkarir di Bandung. Mereka harus distimulasi untuk mencintai kota Bandung”

Penggalan tulisan Ridwan Kamil pada tanggal 8 Sepetember 2011 tersebut menggambarkan bagaimana warga masyarakat Kota Bandung membutuhkan lingkungan kondusif untuk berkarya dan membuat perubahan. Dan perubahan apapun demi kemajuan Kota Bandung harus diapresiasi serta didukung dalam semangat kolaborasi . Demi menuju kota yang lestari. Karena dalam suatu kota terdapat ekosistem yang saling membutuhkan, tidak ada yang mampu hidup sendiri.    


Sumber foto: - dokumen pribadi - Bdg Cleanaction  


Wrote by Maria G Soemitro



Jangankan penghargaan Adipura yang pernah diraih pada 1987, 1989, 1992, 1993, 1996 dan 1997. Kota Bandung malah pernah dinobatkan sebagai Kota Terkotor di tahun 2005.

Bagaimana rasanya tinggal di kota yang dijuluki Kota Terkotor? Duh, pingin tutup muka rasanya. Malu! Anugerah yang ngga banget jika tidak mau dikatakan menyakitkan. Penyebabnya bisa dituduh bahwa sampah gagal kirim ke Leuwigajah yang kala itu mengalami tragedy longsor dan mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia.

Tapi sebetulnya sih salah warga Bandung juga. Seperti yang saya tulis disini, sampah yang hancur dalam waktu seminggu jangan dicampur sampah berumur ratusan tahun. Jadi deh keluar gas metan yang mencari-cari celah dibalik gundukan sampah yang kian lama kian meninggi. Hingga akhirnya duarrrrrr……, gunung sampah buatan manusiapun longsor, mengakibatkan bencana kemanusiaan.

Bencana yang dibuat manusia sendiri, seperti banjir dan tanah longsor. Karena itu sebesar apapun usaha Kota Bandung untuk kembali meraih Adipura, berakhir gagal lagi dan gagal lagi. Banyak faktor penyebab, salahsatunya adalah minimnya partisipasi warga. Warga tidak pernah dilibatkan. Hingga akhirnya Ridwan Kamil terpilih sebagai Walikota Bandung Adipuramasa jabatan 2013 – 2018. Banyak yang menaruh harapan Kota Bandung akan kembali menjadi Kota Kembang di masa kepemimpinannya.

Ya, apa sih yang kurang dari pak Emil, nama panggilan Ridwan Kamil. Sosok ini tidak hanya diganjar banyak penghargaan tapi rajin blusukan sebelum memutuskan naik panggung kontestasi pilkada Kota Bandung. Berbekal Blackberry, mengenakan jacket hijau tentara, duduk lesehan, dia mendengarkan masalah sampah yang dipaparkan Ketua Forum Hijau Bandung, Mohamad Bijaksana Junerosano (kala itu) dan menuliskannya di twitter. Khas pak Emil banget. Sehingga bisa diprediksi bahwa sosok tersebut paham masalah jauh sebelum terpilih sebagai Walikota Bandung. Kemudian merancang tujuan peningkatan indeks kebahagiaan warga. Jadi tujuan lain (meningkatnya kesehatan, pendidikan, perekonomian, lingkungan hidup) hanyalah raihan antara untuk menuju target utama yaitu meningkatnya indeks kebahagiaan.

 Jelas untuk meraih keberhasilan pak Emil ngga bisa sendirian, dia butuh pendukung. Baik komunitas yang sudah ada maupun kolaborasi yang baru muncul sehubungan dengan keberpihakan terhadap arah kemajuan yang ingin diraih. 



Bandung Juara Bebas Sampah di BCCF, di Jalan Purnawarman 70 Bandung
Salah satunya adalah Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS), suatu kolaborasi lintas lembaga. serta individu-individu yang peduli Kota Bandung. Mereka mengumpulkan data, berdiskusi, mencari solusi-solusi. Hasil diskusi BJBS silakan dibawa ke kesatuan kerjanya (PD Kebersihan, BPLH) atau malah anggota BJBS meminta data dari instansi yang bersangkutan. Komunikasi intens terjalin melalui grup WhatsApp (WA) dan setiap bulan bertemu di tempat yang dijanjikan. Padahal, duh dulu sulit banget mencari data, kita harus melalui beberapa meja, menerangkan panjang lebar sebelum akhirnya memperoleh informasi yang dibutuhkan. Sekarang cukup buka percakapan di WA , ^_^

Walaupun kolaborasi ini berhasil mengumpulkan sejumlah dana yang berasal dari kocek pribadi anggota serta ada 2 administrasi yang mengelola data, tidak ada buah karya yang langsung dihasilkan BJBS. Karena anggotanya sepakat membuat aksi dan mencari dana mandiri untuk membiayainya. Contohnya pembuatan peta persampahan Kota Bandung, BebasSampahID, bukan hasil karya BJBS walau dikerjakan anggota BJBS. Termasuk diantaranya GPS (Gerakan Pungut sampah), #1000tumbler dan acara nol sampah ( zero waste event) sewaktu nonton bareng Persib yang dikomandoi BDGcleanaction.



#1000tumbler pengganti air minum kemasan
Dari sini kita bisa melihat polanya bahwa BJBS mengedukasi warga agar perilakunya berubah. Karena akar masalah sampah terbesar adalah perilaku warga, sebesar apapun usaha pemerintah daerah, jika warganya ngga punya kesadaran ya mirip menebar garam ke lautan, ngga ada hasilnya. Tentu saja kampanye perubahan perilaku ini harus seiya sekata dengan gerak pemerintah kota, sehingga tak heran pak Emil mengarahkan setiap satuan kerjanya untuk melakukan gerakan pungut sampah (GPS), agar peduli akan kebersihan daerah kerjanya, lokasi tempat tinggalnya dan tidak geuleuh (jijik) pada sampahnya sendiri. Dengan harapan akan menular pada yang selama ini ngga peduli. 

Gerakan Pungut Sampah


Tidak itu saja, pemerintah kota juga aktif mengeksekusi peraturan daerah Kota Bandung K3 (Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan) tahun 2005, ya perda tahun 2005 baru ditegakkan pada tahun 2014 salah satunya menyatakan setiap kendaraan roda 4 wajib membawa tong sampah. Nampaknya sepele, hanya tong sampah, tapi justru tanpa tong sampah maka edukasi menjadi sulit dilakukan. Contohnya ada anak yang mau buang sampah melalui jendela angkutan umum, dengan adanya tong sampah, kita bisa bilang: eits jangan buang ke jalan nak, buang kesini ya nak, sambil menunjuk tong sampah dalam angkot.



setiap kendaraan roda 4 harus menyiapkan tong sampah, termasuk angkot
Kampanye perubahan perilaku (green lifestyle) sudah dilakukan, kemudian gimana dong dengan sampah-sampah yang bertaburan di jalan-jalan dan gorong-gorong? Gerakan GPS kan ngga mungkin bisa melakukan semuanya. Membersihkan jalan dan gorong-gorong? Alamak, habis dong waktu untuk kebersihan kota. Untuk itu pak Ridwan Kamil membentuk pasukan kebersihan yang bertulisan punggung “ Bantu Kami Membuat Bandung Bersih” . Profesi ini pernah ditolak pengemis/gelandangan yang ogah diberi honor Rp 1, 3 juta per bulan, mereka menuntut Rp 5 juta. Hmmm ……  :)



 penyapu jalan di Kota Bandung
Selain armada pembersih jalan yang berasal dari SKPD terkait, setiap kecamatan dan kelurahan memiliki pasukan juga, mereka membersihkan sampah di tanah-tanah kosong/terlantar , gorong-gorong dan jalan-jalan yang menjadi lokasi kesayangan warga untuk buang sampah. Para pekerja kelurahan (10 orang) dan kecamatan (10 orang) umumnya berasal dari pengangkut sampah RT, sehingga mereka memiliki dobel penghasilan, yaitu dari warga dan kelurahan/kecamatan. Setiap RW juga memiliki sator (sepeda motor yang dimodifikasi untuk mengangkut barang) agar memudahkan pak RW membersihkan areanya. Komplit kan? 



pasukan kebersihan di setiap kelurahan dan kecamatan
Ada beberapa kriteria penilaian fasilitas kota yang dibenahi yaitu jalan, taman kota, hutan kota, pertokoan, perkantoran, sekolah, terminal, stasiun, rumah sakit dan pasar. Nah penilaian pasar sering banget membuat Kota Bandung jatuh tanpa harapan. Ya iyalah, pasarnya seperti ini, dari jauhpun udah dicoret deh:




pasar Cihaurgeulis yang menjijikkan (before)
Ridwan Kamil merangkul pedagang pasar dengan manisnya agar mereka merasa memiliki. Diterapkan peraturan agar tidak boleh berjualan di trotoar, diberi tanaman bambu di sepanjang batas parkir. Perubahan positif pedagang pasar disambut pihak kelurahan dengan menghibahkan conblock bekas kantor kelurahan, sehingga eng ing eng ….., jadi seperti ini. Lumayanlah ……^_^



pasar Cihaurgeulis setelah bebenah (after)
Pasar Cihaurgeulis diatas hanya dipermak penampilannya, belum direvitalisasi, mungkin menunggu anggaran turun. Bisa dipahami betapa gembiranya Ridwan Kamil beserta satuan tugasnya ketika menerima anugerah Adipura.

Penghargaan pengelolaan dan pemeliharaan lingkungan hidup harus diperjuangkan bersama warga kota, tidak sekedar prestise. Jika tidak, akan menjadi bumerang. Kota kumuh nan kotor kok mendapat penghargaan? Tidak demikian halnya dengan Kota Bandung yang bergerak ke arah perubahan menjadi lebih indah dan resik. Di beberapa area memang masih terlihat sampah, tapi setahu saya kota-kota peraih Adipura lainnya masih belum terbebas sepenuhnya dari sampah. Bahkan warga kotanya tidak semilitan Kota Bandung dalam mengkampanyekan perubahan green lifestyle.

Bener ngga? ^_^
Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...
  • Cahyana Service, Eh .............
      Cahyana Service (dok. Maria G. Soemitro) Pertanyaan pertama yang saya ajukan ketika mewawancarai pemilik Cahyana Service adal...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates