• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah



Forum whatsapp grup (WAG) “Bandung Juara Bebas Sampah” (BJBS)  sedang gundah gulana.  Untuk menyelesaikan sampah Sungai Citarum, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil berketetapan membangun 50 titik insinerator atau alat membakar sampah. (sumber) Dukungan penuh sudah didapat dari pemerintah pusat.

Bak Makan Buah Simalakama
Sebagai forum yang selalu mendukung pembangunan berkelanjutan, BJBS bukannya ngga paham. Apa yang sedang dialami kang Emil, panggilan Ridwan Kamil, bak makan buah simalakama. Agar sampah tidak mengalir ke lautan, Sungai  Citarum harus dikeruk.  Sekarang setiap harinya,  ekskavator mengangkat sampah dan sedimen sebanyak   100 kg-150 kg. Jumlah sampah akan bertambah jika pemerintah pusat sudah mengirimkan ekskavator bantuan.

Apa yang harus dilakukan dengan sampah hasil pengerukan?

Sungguh suatu dilema yang membuat kepala puyeng. Solusi termudah memang dibakar. Karena itulah Kang Emil mengajukan 50 titik pembakaran sampah.

 Sayangnya, aktivitas membakar sampah  berarti melanggar Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Bunyi pasal 29 ayat 1 butir g : "Setiap orang dilarang membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah".

Pastinya ada yang mendasari regulasi tersebut. Greeneration  Indonesia  yang digawangi  para alumni Teknik Lingkungan ITB menyatakan setidaknya ada 7  bahaya membakar sampah, yaitu:
  1. Gas buang dari proses pembakaran berpotensi mencemarkan lingkungan karena kandungan bahan beracun seperti substansi dioksin
  2. Gas buang merupakan pembawa sebagian besar CO2 penyebab pemanasan global
  3. Abu yang tersisa dari pembakaran mencapai 20% dari sampah yang dibakar ini termasuk juga kategori limbah B3, penggunaan insinerator tidak menjadi alternatif untuk landfill, namun justru dibutuhkan landfill khusus untuk limbah B3.
  4. Unsur merkuri akan trelepas ke udara dalam bentuk uap yang terbawa pada gas buang.
  5. Berpotensi sebagai pencemar lingkungan apabila tidak dilengkapi degan pengolahan gas buang. Pembakaran sampah yang mengandung bahan atau limbah kimia akan melepaskan kandungan kadmium, timbal atau bahan-bahan yang berpotensi sebagai pencemar lingkungan.
  6. Diperlukan peralatan pengolah gas buang yang basah setelah proses pembakaran karena gas yang basah ini akan dapat merusak atau sebagia gas destruktif apabila lepas ke udara, oleh karena itu dihitung sebagai tambahan biaya dalam pemakaian incenerator
  7. Berpotensi pencemar emisi partikulat karena kandungan abu yang besar.
Ah, kita tinggalkan sejenak Kang Emil yang sedang berpening ria. Karena  apapun risikonya, kecenderungan membakar sampah selalu dilakukan. Terlebih di luar daerah, kawasan yang tidak tersentuh pembuangan sampah terorganisir. Timbunan sampah nampak di sepanjang jalan, di lahan kosong dan di saluran air.

Padahal jika dirancang dengan benar, alih-alih menjadi masalah, sampah organik  berpotensi sebagai bahan baku penghasil energi terbarukan.

Sedangkan sampah anorganik bisa diproses menjadi material sejenis. Plastik  diolah menjadi biji plastik. Kertas menjadi lembaran kertas lagi. Demikian pula dengan material  hasil tambang.

Energi Terbarukan
Adalah bakteri metanogen yang berjasa melepaskan biogas untuk memasak. Ketika sampah organik dimasukkan ke biodigester maka bakteri metanogen dengan senang hati akan melakukan fermentasi atau proses metanisasi.

Proses fermentasi terjadi tanpa oksigen (anaerob). Biogas yang dihasilkan  terdiri dari beberapa macam gas, yaitu  metana (55-75%), karbon dioksida (25-45%), nitrogen (0-0.3%), hydrogen (1-5%), hidrogen sulfida (0-3%), dan oksigen (0.1-0.5%). Persentase terbesar, metan merupakan  gas ini mudah terbakar dan dapat disamakan kualitasnya dengan gas alam setelah dilakukan pemurnian terhadap gas metan.

Banyak keuntungan diperoleh jika rumah tangga di Indonesia mengolah sampahnya menjadi gas metan: 
  • Mengurangi ketergantungan.  LPG yang digunakan sebagian besar rumah tangga di Indonesia, tidak saja merupakan energi fosil yang cadangannya semakin tipis, juga merupakan  beban pemerintah.  Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah Indonesia  mengimpor 60 % dari total kebutuhan,  25.000 metrik ton per hari (sumber)
  • Secara periodik, pemerintah terpaksa menaikkan harga LPG. Pastinya memberatkan masyarakat miskin, terlebih masyarakat pedalaman, mereka harus membayar 2 x lipat. Sementara energi terbarukan yang berasal dari sampah dapat diperoleh gratis. Selama manusia menghasilkan sampah,  bakteri metanogen dengan setia akan memproduksi biogas.
  • Solusi sampah organik.  60 - 70 % sampah yang dihasilkan penduduk Indonesia merupakan sampah organik.  Penggunaannya sebagai energi terbarukan akan menyelesaikan sebagian masalah sampah di Indonesia.
  • Solusi pemanasan global. Tanpa dikoordinir menjadi biogas untuk memasak, maka gas metan akan menjadi bagian gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Penggunaan biogas sebagai bahan bakar, sudah dimulai di Kota Bandung sejak tahun 2016. Dipopulerkan oleh Arifin Panigoro yang menghibahkan 100 biodigester sampah,  Kini, hanya beberapa yang masih beroperasi. Penyebabnya sederhana, pengguna masih belum terbiasa memisah sampah, sehingga sering ditemukan sampah anorganik dalam tabung biodigester.

Energi Muda dan Pembangunan Keberlanjutan
Dengan slogan Energi Muda,  Koaksi  Indonesia bergerak untuk percepatan energi terbarukan di Indeonesia.  Koaksi  Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang memiliki agenda pembangunan berkelanjutan di seluruh Nusantara.

Ketika masalah dipetakan, ada sampah yang tak kunjung habis dibahas namun belum juga memperoleh  titik temu. Ada  banyak inovasi energi  terbarukan, diantaranya menjadikan sampah sebagai bahan baku biogas.  Maka terlihat ada banyak ruang kosong.

Masyarakat belum teredukasi perihal sampah. Gagap memperlakukan sampah modern yang baru muncul seabad silam, sementara berjuta tahun sebelumnya , bumi aman dan tentram. Tidak mengenal keresek, botol bekas air mineral, terlebih styrofoam.

Kaum muda kerap menjadi ikon pembaruan.  Ketika sampah dan energi  menjadi fokus mereka, berbondong-bondong anak muda lain meniru. Menganggap sebagai trend bergengsi.

“Gue ngga nyampah lho”

“Sampah gue jadi nyala api. Bikin emak happy masak di dapur”.

Teknologi digital bisa banget membuat terobosan. Perekrutan relawan untuk kampanye memisah sampah hingga pelosok tanah air. Serta aplikasi yang menghubungkan tempat penyedia biodigester, mereka yang membutuhkan serta tim yang mengedukasi pengguna biodigester.


Sehingga sungai – sungai di Indonesia tidak akan mengalami  nasib sama seperti Sungai Citarum. Tetap jernih dan menjadi sumber penghidupan. Sementara masyarakat tidak lagi mengeluh dengan kelangkaan LPG atau kenaikan harga LPG. Di dapurnya bertengger dengan anteng, kompor gas metan yang mendapat aliran biogas dari biodigester berisi sampah rumah tangga.


·    
Wrote by Maria G Soemitro
biodigester di perumahan GCA Bandung (dok Maria G Soemitro)

Biodigester sampah? Betul, merupakan instalasi tempat bakteri metanogen bersemayam yang dengan senang hati  akan mengolah sampah organik  menjadi  biogas. Bisa dibayangkan berapa banyak masalah perkotaan dapat  terselesaikan dengan adanya biodigester sampah? Sampah berserakan hilang, kota bersih dan resik. Diganti biogas untuk memasak makanan di dapur serta slurry untuk pupuk berkebun.

Baca juga: Mengapa Ridwan Kamil Melarang Penggunaan Styrofoam?

Terlebih bagi Kota Bandung,  kota yang pernah mendapat julukan Bandung Lautan Sampah dan mendapat predikat Kota Terkotor pada tahun 2006. Sungguh tepat sasaran ketika pada  tahun  2015, suatu perusahaan energi menyalurkan corporate social responsibility (CSR)-nya, yaitu  100 buah biodigester yang diharapkan dapat mengolah sampah Kota Bandung menjadi energi.

Paling tidak ada 4 manfaat yang bakal diperoleh:

1.   Reduksi sampah
Sebanyak 1.600 ton sampah diproduksi penduduk Kota Bandung.  PD Kebersihan hanya mampu mengangkut 1.200 ton ke TPA, sisanya berceceran  di jalan, lahan kosong dan aliran air. Tidak saja menyebabkan banjir tapi juga  mencemari air. udara dan tanah. Andaikan program biodigester sukses dilaksanakan maka masalah sampah akan tertangani.
Pengguna biodigester wajib memisah sampah sehingga masalah sampah selesai sejak di hulu. Sampah organik masuk biodiogester, sampah anorganik bisa dijual ke pengepul/bank sampah.

2.   Target  energi  baru terbarukan (EBT)
Hingga akhir tahun 2016, capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) baru mencapai 7,7 %, sementara menurut target pada tahun 2025 harus mencapai 23 %. Dengan adanya geliat warga masyarakat dan pihak swasta dalam mengimplementasikan EBT maka akan terjadi percepatan dalam kurun waktu  8 tahun ini. (sumber)

3.   Target  penurunan emisi GRK
Pada KTT Perubahan Iklim 2015, Presiden Jokowi  menegaskan komitmen Indonesia, yaitu  mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 % pada tahun 2030 sebagai upaya mengatasi perubahan iklim. Kontribusi Indonesia tersebut diharapkan dapat  mendorong terciptanya kesepakatan mengikat demi membatasi pemanasan global di bawah 2 derajat celcius.
Dengan dikelolanya limbah organik menjadi biogas, maka program biodigester turut berpartisipasi dalam mewujudkan tekad pemerintah tersebut.

4.   Penghematan
Paling tidak ada 2 penghematan yang diperoleh pemerintah yaitu subsidi elpiji  dan biaya kelola sampah.  Setiap tahunnya Kota Bandung menganggarkan Rp 137 milyar untuk operasional  (sumber).  Alokasi tertinggi untuk biaya pengangkutan sampah dari  tempat pembuangan sampah sementara (TPS)  ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA).
Sedangkan untuk subsidi energi, karena  Pertamina harus memberikan subsidi Rp 5.750, sementara jatah Kota Bandung sebanyak  90.000 tabung gas 3 kg/hari. Maka subsidi yang dihemat bisa mencapai  Rp 1,5 milyar per hari atau Rp 46,5 miyar per bulan. Jumlah yang lumayan banyak bukan?



Sebetulnya masih banyak manfaat lain biodigester, diantaranya bagi warga sendiri yaitu penghematan anggaran gas rumah tangga. Juga ada hasil sampingan biodigester berupa slurry yang  bisa digunakan sebagai  pupuk pada aktivitas urban farming/berkebun di area perkotaan.

Sayangnya program 100 biodigester bisa dianggap 'gagal'. Pada akhir tahun 2015, saya mengikuti survei biodigester, dan menemukan  hanya beberapa orang yang dengan senang hati  mau meneruskan. Sisanya menolak. Di beberapa lokasi, instalasi biodigester  tidak berfungsi dan dipreteli. Bahkan seorang Ketua RW di suatu kawasan padat penduduk,  bersikeras meminta agar instalasi dibawa pergi. Bak meminta dibersihkannya lokasi dari gundukan sampah.

Banyak yang menjadi penyebab, tapi 2 hal penting ini rupanya dilupakan oleh pihak yang bertanggung jawab membagikan biodigester pada warga masyarakat.

  1. Biodigester berbeda dengan kompor elpiji. Pemakai biodigester  harus memahami bahwa terdapat bakteri metanogen di dalam instalasi yang harus diperlakukan sebagai mahluk hidup. Artinya jika 'binatang peliharaan' ini tidak diperlakukan dengan benar, tidak diberi  makan dan minum cukup, maka mereka akan sakit, sekarat dan mati.Beda halnya dengan kompor gas elpiji yang  tidak akan bereaksi walau diabaikan selama  berbulan-bulan.
  2. Minimnya kesadaran memisah sampah. Apa jadinya jika pembalut perempuan dan popok bayi masuk biodigester? Tentunya akan menghambat proses terjadinya biogas. Bakteri metanogen yang seharusnya hanya mendapat asupan sampah organik akan terganggu aktivitasnya. Inilah yang terjadi pada beberapa biodigester.  Akibat  pengguna tidak disiplin dalam memisah sampah maka beberapa instalasi mengalami masalah seperti  air slurry yang tiba-tiba membanjir atau bahkan tidak munculnya gas metan yang bisa dikonversi menjadi nyala api kompor.
dimulai dari pemisahan sampah hingga asap biru dari kompor (dok. Maria G Soemitro)


Jelaslah kesalahan terulang. Para pemangku kebijakan hanya memperhatikan soal teknis, abai pada pendekatan psikologi sosial yang jauh lebih penting. Umumnya pendekatan sosial kurang menarik, karena membutuhkan kesabaran dan waktu bertahun-tahun, tidak dapat dipatok selesai dalam satu periode.

Baca juga : Adipura dan Lika Liku Meraihnya




Agar kesalahan tidak terulang, program serupa harus memperhatikan beberpa faktor berikut:

  • Komunitas

Bersosialisasi dan beradaptasi dalam kelompok merupakan kebiasaan masyarakat Indonesia. Atas dasar itu pula muncul grup-grup reuni, komunitas pecinta lingkungan, komunitas pecinta batik serta banyak komunitas lain.

Daripada menyebar biodigester ke seluruh penjuru Kota Bandung,  alangkah baiknya pembagian diarahkan pada satu komunitas dan kelompok-kelompok lain disekitarnya. Sehingga memudahkan jika ada pengguna yang memgalami masalah. Antar anggota komunitas akan memberikan dorongan untuk menggunakan biodigester dengan maksimal.
Salah satunya temuan Ibu Nana yang memisah sampah secara simpel dan praktis. Sampah organik baru dimasukkan ke biodigester ketika sudah berair tapi belum mengelurkan bau menyengat. Perlakuan yang konsisten dan rutin akan membuat bakteri metanogen  nyaman memproduksi  biogas secara teratur.

  • Buku petunjuk

Setiap peralatan hasil pabrikasi umumnya mendapat buku petunjuk pemakaian.  Demikian pula seharusnya dengan biodigester sampah. Seharusnya ada manual book, termasuk didalamnya larangan  dan yang wajib dilakukan.
Mungkin penyebabnya karena instalasi biodigester baru diujicobakan di Kota Bandung, sehingga data yang dikumpulkan  belum cukup.

  • Hotline

Sewaktu biodigester disebar di Kota Bandung,  ada  yayasan yang bertugas mendampingi dan bertanggung jawab terhadap penyebaran biodigester. Namun entah mengapa laporan kerusakan biodigester  tak kunjung digubris.
Seharusnya disiapkan hotline khusus sebagai pelayanan program biodigester. Petugas akan menjawab masalah-masalah di lapangan setelah berkoordinasi dengan para pakar dan petugas lapangan.

salah satu biodigester yang mangkrak (dok. Maria G Soemitro)

Walau penyebabnya  berbeda, Dalam program konversi minyak tanah ke gas elpiji pada tahun 2009, kebijakan kenaikan harga minyak tanah dan pembatasan distribusinya berhasil memaksa pengguna beralih ke elpiji.  

Demikian juga ketika terjadi kelangkaan elpiji. Warga masyarakat bersedia mencari gas 3 kg ke seluruh penjuru kota agar dapurnya tetap ngebul. Sehingga sebetulnya muncul momentum pengenalan dan sosialisasi biodigester.
Jika tidak terkendala distribusi, pastinya warga masyarakat dengan senang hati menggunakan biodigester. Walau harus 'terpaksa'  memisah sampah demi mendapatkan nyala api yang dibutuhkan.

Akhirnya keberhasilan program energi baru terbarukan (EBT) sangat bergantung pada tekad kuat penyelenggara negara. Apakah peduli pada potensi penghematan subsidi elpiji yang demikian besar, serta solusi sampah menjadi energi.  Atau sebaliknya menina bobokan dengan elpiji yang murah harganya walaupun harus berhutang.




Wrote by Maria G Soemitro
tabung berisi sampah (kiri), kompor gas metan (kanan)


“Hanya orang bodoh yang ngga mau pakai biogas”, kata ibu Nano. “Apa sulitnya coba? Hanya misahin sampah dapur, besoknya masukin ke tabung biogas, udah hanya itu. Gas untuk memasak tersedia setiap hari.  Saya masih pakai gas elpiji, tapi biogas ini menolong sekali, bikin hemat”.

Saya mengangguk menyetujui kata-kata ibu Nano. Alih-alih menjadi masalah, sampah organik di perumahan Griya Cempaka Arum ini adalah sumberdaya, penghasil gas metan yang digunakan untuk memasak makanan. “Saya dulunya juga bingung. Malah  takut bau, karena itu  biogas disimpan di belakang rumah. Eh ngga taunya gampang kok dan ngga bau sama sekali”, kata ibu Nano melanjutkan dengan penuh semangat.
Semua nampak mudah. Ada 2 tempat sampah yang disediakan ibu Nano di dapurnya yang menyatu  dengan ruang makan. Satu tempat sampah disiapkan untuk dirinya dan anggota keluarga yang membuang sampah organik hari ini,  seperti sampah dapur dan sisa makanan. Sedang tempat sampah lainnya berisi hasil penampungan sampah organik  kemarin, isinya agak berair namun belum berbau menyengat.

pemisahan sampah 

Sampah organik kemarin inilah yang dibawanya sambil mengajak saya melihat peralatan biodigester di pekarangan belakang. Disana ada 2 drum, besar dan kecil. Dengan berjinjit, ibu Nano memasukkan sampahnya ke dalam drum besar. Hasil pemrosesan akan masuk drum kecil yang terletak di samping  drum besar. Ada kran terpasang di drum kecil yang mengalirkan cairan berwarna keruh. “Ini pupuk cair”, kata ibu Nano, “Katanya bisa dijual kalo hasil produksi berlebihan, saya sih masukin lagi ke drum besar. Supaya ngga repot cari air, simpel kan?”

Saya kembali mengangguk. Seharusnya bersamaan dengan sampah organik, dimasukkan juga sejumlah cairan untuk membantu pemrosesan sampah organik. Tapi ibu Nana mengambil jalan pintas dengan memasukkan kembali cairan hasil proses biodigester, sehingga praktis. Manajemen waktu harus diterapkan seorang ibu rumah tangga agar bisa menyelesaikan aktivitas dengan cepat, mudah dan menyenangkan.

Selain drum, nampak pipa menuju dapur ibu Nana. Pipa tersebut berakhir pada semacam papan indikator  hasil proses biodigester. Mirip thermometer berukuran besar, bedanya ada dua pipa bening yang menampilkan cairan penanda adanya bahan baku siap pakai. “ Hampir ngga pernah kosong. Paling kalo kelihatan tinggal sedikit saya pindah masak pake elpiji”, jelas ibu Nana sambil mendemontrasikan penggunaan kompor biodigester. Harus menggunakan korek api. Selain itu tidak ada yang berbeda. Api yang dihasilkan berwarna kebiruan, mirip kompor dengan tabung elpiji.

Tidak hanya ibu Nana, di perumahan Griya Cempaka Arum Kota Bandung ada sekitar 6 orang pengguna biodigester, hibah dari pengusaha Arifin Panigoro untuk Kota Bandung pada tahun 2015 silam. Pemilik Medco Grup tersebut berjanji akan menambah jumlahnya  jika program100  biodigester pertama  berjalan dengan sukses.Sayang, harapannya tidak berjalan mulus. Tidak seperti pengguna biodigester di Griya Cempaka Arum, pengoperasian di lokasi lain tidak berjalan sesuai rencana.




Ahmad Saparudin yang tinggal di jalan Manglayang  begitu antusias ketika mendengar ada pembagian biodigester secara cuma-cuma. Tidak hanya tergiur hasil biodigester berupa gas metan untuk memasak, keberadaan biodigester juga merupakan solusi sampah yang selama ini membuat keluarganya pusing tujuh keliling. Di kawasan tempat tinggalnya tidak ada petugas kebersihan yang mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah. Penyebabnya mungkin karena terletak berbatasan dengan kabupaten Bandung dan kondisi tanah yang curam dan terjal.

 Warga umumnya membawa sampah ke jalan besar hingga bertemu TPS (tempat pembuangan sampah) atau dibuang ke lahan kosong untuk dibakar. Karena itu tawaran biodigester dipandang Ahmad sebagai solusi agar kelak bisa digunakan kerabat serta tetangga jika dia berhasil dengan sukses.

Sayang,  biodigester yang dioperasikan Ahmad sering mengalami masalah , diantaranya air yang membludak keluar dari kran. Sangat merepotkan.  Sehari-hari Ahmad dibantu ibunya, ibu Titi dalam mengoperasikan biodigester. Tidak seperti ibu Nano, bersamaan dengan memasukkan sampah organik, ibu Titi juga memasukkan air yang baru diambilnya dari sumur. Sehingga produksi air sisa proses biodigester menjadi berlimpah ruah, bahkan sesudah dimasukkan ke sejumlah jerigen, air tetap tak tertampung. Tak heran para tetangga berujar sinis: “Barabe geuning biodigester teh? Hoream ah” yang terjemahannya kurang lebih adalah: “Ternyata repot ya biodigester? Malas ah”.

Bermacam cara telah dipraktekkan ibu Titi, diantaranya mengurangi frekwensi asupan sampah organik. Awalnya tiap hari kini hanya dua hari sekali. Hasilnya tentu juga berkurang. Hanya sekitar sejam penggunaan setiap harinya. Sangat jauh dibanding kompor di rumah ibu Nano yang tidak hanya digunakan untuk menjerang air tapi juga untuk mengolah sejumlah masakan.

 Penggunaan biodigester memang tidak bisa disamakan dengan kompor elpiji yang cukup menggerakkan jemari akan mengeluarkan api, siap untuk digunakan. Bahan baku elpiji merupakan hasil pabrikasi sedangkan kompor biodigester harus menunggu olahan sampah organik yang sangat tergantung pada ragam dan jumlah sampah yang tentu saja berkaitan dengan cara pandang serta gaya hidup penggunanya.

Ketika penggunaan biodigester skala rumah tangga sulit, bisa dibayangkan biodigester lainnya yang disimpan di balai RW seperti terjadi di Bumi Panyileukan kelurahan Cipadung Kidul Kota Bandung. Disini, petugas keamananlah yang menjalankan operasional sehari-hari. Sampah organik didapat dari  warga sekitar dan hasilnya digunakan untuk memasak mi instan dan menjerang air di malam hari.

Nampak lancar, sayangnya warga menolak kemungkinan penggunaan biodigester di rumah masing-masing dengan alasan pekarangannya sempit. Jawaban yang mengada-ada karena Bumi Panyileukan merupakan pemukiman tertata, setiap rumah memiliki pekarangan. Sempit tapi cukup untuk menyimpan biodigester. Stigma negatif bahwa sampah itu kotor, bau dan bisa menimbulkan penyakit, masih melekat kuat.

Tapi bahkan kasus Bumi Panyileukan lebih baik dibanding tempat lain seperti di  RW 07 Citarip Barat Kelurahan Kopo. Disini bapak Ayi, ketua RW 07 merasa terpaksa menerima biodigester karena mendapat instruksi dari lurah setempat. Uji coba biodigester yang ditempatkan di dalam ruangan balai RW akhirnya terhenti dengan alasan tidak ada biaya bagi pengelola biodigester. Ya, alih-alih bermanfaat  bagi masyarakat, biodigester berubah menjadi beban bagi ketua RW.

Dan yang paling menyedihkan adalah biodigester yang ditolak keberadaannya oleh warga perumahan di Jatihandap Kecamatan Mandalajati Kota Bandung. Penyebabnya sepele tapi fatal akibatnya.  Enceng dan Wawan sebagai petugas kebersihan enggan memisah sampah sehingga alih-alih menghasilkan gas metan, biodigester berubah menjadi tempat sampah raksasa.

Menghadapi ketersediaan bahan baku energi yang semakin menipis, PLN sebagai pemasok energi listrik sudah harus berhadapan dengan sumber daya baru dan terbarukan yang mahal seperti energi surya dan panas bumi, nampaknya Pertamina juga harus mulai mempertimbangkan mengambil alih pengadaan biodigester sebagai solusi energi yang berkelanjutan. Berikut alasannya:

Jika membandingkan jumlah kalkulasi harga kompor dan pembelian isi gas LPG dengan harga biodigester sebesar Rp 10 juta per buah maka akan ditemukan harga yang berimbang bahkan lebih murah karena ketersediaan sampah organik melimpah ruah sedangkan harga gas LPG semakin bertambah mahal, ketersediaannya di bumipun  terbatas jumlahnya.

Jaringan yang dimiliki Pertamina memungkinkan untuk menyosialisasikan secara meluas dan cepat. Terbukti konversi minyak tanah ke gas LPG bisa berlangsung sukses. Pengguna biodigester ternyata harus mendapat sosialisasi terus menerus, tidak bisa mengandalkan cara pendekatan per proyek seperti sekarang.

Pertamina bisa lebih fokus dan leluasa dalam menyediakan LPG bagi rakyat miskin dan industri karena golongan menengah keatas mempunyai alternatif lain selain gas LPG.

Last but not least, penggunaan sampah organik sebagai energi berarti mengurangi salah satu masalah besar yaitu produksi sampah yang semakin banyak seiring pertambahan jumlah penduduk. Sekitar 60 % sampah yang dihasilkan penduduk Indonesia adalah sampah organik, dengan adanya biodigester, masalah tersebut terselesaikan. Bahkan pengguna biodigester mendapat manfaat tambahan yaitu cairan pupuk yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah
Wrote by Maria G Soemitro


“Yang ini menunjukkan bahwa gas dari BSO terisi sedangkan yang itu menunjukkan gas yang berasal dari wc atau kotoran manusia”, kata pak Andre sambil menunjukkan dua lajur pipa putih yang menempel di tembok di atas kompor dan menampakkan isinya yang berwarna biru sedang bergerak-gerak naik turun. Pipa berisi gas tersebut mengingatkan saya pada tensimeter ketika sedang menuju keseimbangan.
“Apa artinya BSO sih pak?”
“Biodigester Sampah OrganiK”

“Ooooo”, bak koor serempak kami menjawab. Hari itu saya dan 4 ibu-ibu anggota komunitas Kendal Gede Kreatif mengunjungi bengkel pak Andre, seorang praktisi biodigester. Mungkin istilah bengkel terlalu kecil karena di tanah 4 Ha di jalan Sukawangi Kampung Nyingkir, pak Andre membangun 3 area usaha yang nampak berbeda tapi saling terkait. Di bagian kanan tampak deretan kamar mandi dan kakus (WC) tempat kotoran manusia ditampung dan dialirkan gasnya ke dapur yang saya lihat tadi. Hanya di area tengahlah bengkel sesungguhnya juga kantor dan ruang-ruang pertemuan yang asri. Sedangkan di area kanan terdapat deretan bangunan beratap ijuk yang menurut pak Andre direncanakan untuk pabrik tahu. Tentunya gas limbah tahu dapat digunakan sebagai bahan baku memasak. Menakjubkan, percobaan berbagai energi terbarukan yang keren di kawasan Bandung Utara.

Sebelumnya, saya hanya mendengar bahwa kotoran manusia bisa menjadi gas untuk memasak, juga sampah organik seperti kotoran ternak, sayuran bekas memasak atau sisa makanan dan beragam sampah organik lainnya: daun, rumput dan lain-lain. Tetapi baru kali itulah saya berkesempatan melihat sendiri prosesnya dan hasil akhirnya yaitu api biru tak ubahnya gas elpiji yang kita gunakan sehari –hari.
Prosesnya gampang-gampang susah. Gampang karena sebetulnya itu proses alami. Susah karena kita terbiasa gaya hidup instan, terbiasa menikmati hasil pembelian barang tanpa peduli prosesnya. Asalkan punya uang ya tinggal beli dan langsung nikmati hasilnya.
Proses penggunaan biodigester tidak sesederhana itu. sampah organik yang dimasukkan ke dalam instalasi harus diendapkan kurang lebih sebulan-2 bulan lamanya. Waduh, serentak kami ber-5 protes. Walau jika dipikir iya juga sih, proses mengompos sampah organik kan membutuhkan waktu selama itu juga? Masa sekarang ingin memasukkan sampah dan besok sudah menjadi gas siap pakai? Emangnya sulap?

Namun demikian jika tangki biodigester ini telah siap, maka setiap hari akan menghasilkan gas methan, bahan baku memasak. Asalkan rajin mengisi nya dengan sampah organik. Justru di awal masa penggunaan, kita belajar memisah sampah agar tidak ada plastik masuk tabung biodigester. Karena setelah terbiasa memisah sampah, rasanya kok gimana gitu jika harus menyampur sampah lagi. Akhirnya yang terpenting kebiasaan harus berubah ya?
Berapa jumlah sampah yang diperlukan perharinya? Tidak ada patokan, natural aja seperti kebiasaan sehari-hari, jangan maksa-maksain, tapi juga jangan malas. Lebih baik sedikit tapi sering (setiap hari) daripada langsung banyak misalnya seminggu sekali karena tidak hanya hasilnya tidak sempurna tapi juga menimbulkan bau yang membuat orang malas mengoperasikan bioigester lagi.


Pak Andre menerangkan bahwa sebetulnya kandungan air dalam sampah organik kita sangat tinggi, mencapai 90 %, ditambah air yang diguyurkan kedalam tangki sesudah memasukkan sampah dapur maka proses yang terjadi  dalam biodigester menjadi lancar hingga hasil akhir wes ewes bablas sesuai peruntukannya.
Saya membayangkan didalam biodigester itu ada mikroba yang membutuhkan makanan dan mengeluarkan gas serta cairan setelahnya, gas itulah yang ditangkap kemudian masuk pipa khusus untuk dialirkan ke dapur sedangkan cairan yang dinamakan slurry akan keluar ke dalam wadah khusus. Slurry ini menjadi pupuk organik yang kaya gizi bagi tanaman. Tak heran sayuran di sekitar lokasi nampak subur, ada terong, seledri, bawang putih, bit dan masih banyak lagi.



 Di dekat ruang pertemuan tampak vertiminaponik yaitu pembudidayaan ikan sekaligus tanaman sayuran. Terlihat instalasi dimana satu wadah berisi lele, sisa pangan lele dan kotoran lainnya dialirkan menuju talang-talang hidroponik untuk memberi nutrisi sayuran. Sehingga sayuran tidak membutuhkan pupuk AB mix seperti umumnya hidroponik. Menyenangkan bukan rangkaian eksperimen yang dilakukan pak Andre ini.

Pada tahun 2015, Kota Bandung mendapat hibah 100 biodigester dari pengusaha Arifin Panigoro, tahun berikutnya sekitar 1000 biodigester konon akan dibagikan ke masyarakat. Andaikan berhasil , 50 % sampah Kota Bandung bakal teratasi karena sekitar itulah jumlah sampah organik. Tentunya dengan syarat penggunanya paham bahwa pengoperasian biodigester tidak sama dengan elpiji. Manfaat utamanya bukan gas tapi rumah yang bersih dari sampah dan eratnya silaturahmi karena anggota masyarakat bertemu dan saling berbagi. Adanya gas sebagai bahan baku memasak hanyalah bonus terlebih gas yang dihasilkan hanya cukup untuk memasak selama 1-2 jam. Tergantung kapasitas biodigester. *Maria G Soemitro*



Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...
  • Cahyana Service, Eh .............
      Cahyana Service (dok. Maria G. Soemitro) Pertanyaan pertama yang saya ajukan ketika mewawancarai pemilik Cahyana Service adal...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates