Seorang Green Consumer kah Anda ?

Pernah makan gorengan seperti pisang goreng, tahu dan tempe goreng? Enak dan murah. Karena itu hampir di setiap pertemuan sering disajikan cemilan gorengan. Tapi tahukah bahwa pada waktu menggoreng si pedagang sering memasukkan plastik pembungkus minyak goreng ?
 berita disini

Umumnya pedagang beralasan bahwa gorengan akan lebih renyah dan tidak mudah lembek apabila minyak goreng yang digunakan  diberi campuran kantong plastik.
Jika Anda yakin bahwa si pedagang nggak “aneh-aneh”, bagaimana cara Anda membeli dan membawanya pulang? Karena mayoritas pedagang  hanya menyediakan kantung plastik hitam dan kantung kertas untuk mengemas si gorengan yang lezat tersebut.
Alasan pedagang menggunakan kantung plastik hitam ternyata demi memenuhi permintaan konsumen. Konsumen tidak ingin membawa kantung plastik yang “kelihatan isinya” ! Konsumen tidak menyadari ataupun mengetahui bahwa mayoritas bahan baku plastik hitam berasal dari Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA), sehingga sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan bercampur dengan sampah beracun (B3) dan sampah sisa makanan yang kotor, basi dan pastinya bau.
Kantung kertas juga berpotensi meracuni tubuh karena umumnya dibuat dari kertas bekas. Halaman dimana berisi tulisan berada di dalam sedangkan bagian luar putih bersih. Pembuat kantung kertas, pedagang gorengan dan konsumen tidak menyadari bahwa tinta tulisan akan mencemari makanan dengan racunnya seperti nampak gambar.
13101288662060868895
gorengan dalam kantung kertas dan kresek hitam
Menyikapi maraknya produk dan kemasan produk yang membahayakan kesehatan sebenarnya konsumen bisa menangkalnya hanya dengan mengonsumsi produk hijau. Apa yang disebut produk hijau ?
1. Memanfaatkan sumber daya lebih sedikit untuk memproduksinya.
Sebagai contoh makanan yang menggunakan produk dalam negeri seperti kue lapis dan bikaambon lebih sedikit menggunakan sumberdaya dibanding roti empuk nan lezat yang menggunakan bahan baku impor karena jejak karbon si rotipun lebih tinggi. Antar makanan dalam negeri juga bisa dipilih yang lebih sedikit menggunakan sumber daya misalnya ubi rebus dibanding pisang goreng. Contoh lainnya adalah penggunaan lampu LED. Sebuah lampu LED yang memberi penerangan 150 watt hanya mengonsumsi sumberdaya sebesar 30 watt.
2. Lebih ramah lingkungan ketika dikonsumsi atau digunakan. Contohnya cemilan gorengan diatas. Untuk menghindari bahaya mengancam kesehatan kita tersebut, apa salahnya kita membawa wadah gorengan sendiri dari rumah/kantor? Karena selain menyelamatkan tubuh dari kontaminasi bahan berbahaya, kita juga mencegah penambahan sampah. Bukankah umumnya penggunaan kantung kertas dan kantung kresek tersebut hanya sekali pakai? Maklumlah berminyak, malas mencucinya.
3. Dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Perhatikan kemasan produk dibawah. Kemasan sabun A tidak akan diterima pemulung dibandingkan kemasan sabun B. Karena kemasan sabun A menggunakan lapisan plastik tebal dengan tujuan agar si kemasan tidak mudak sobek. Tetapi di lain pihak kemasan menjadi sulit didaur ulang.
13101301041308871132
Pilihan kemasan produk
Contoh lainnya kemasan botol vs kemasan plastik berisi saus spaghetti di bawah ini. Kemasan botol bekas jelas  bisa digunakan untuk keperluan lain. Atau berikan saja ke pemulung apabila stok melimpah. Pemulung pasti akan menerima walau menggerundel harganya murah. Tetapi kemasan plastik bekas spaghetti jelas ditolak pemulung.

mana yang dipilih? dalam kemasan plastik atau gelas/kaca ?
 


4. Dapat dengan mudah dan aman dideposisi apabila telah tidak dapat digunakan. Contohnya adalah kaleng susu kental manis vs susu kental manis dalam plastik. Kaleng bekas susu kental manis akan diterima dengan manis oleh pemulung karena mudah didaurulang. Dijual sendiripun bisa apabila kuantitasnya banyak. Tetapi kemasan plastik bekas susu kental manis enggan diambil pemulung perkotaan. Kecuali nanti di TPA, diambil pemulung TPAsebagai bahan baku kantung plastik hitam.
1310132079821944086
kemasan kaleng SKM dan kemasan plastik SKM
Sering menggunakan menggunakan panci berlapisan anti lengket? Lapisan anti lengket adalah plastik yang mengendap didalam tubuh apabila mengelupas dan berpotensi mengakibatkan kanker (Dody Andi Winarto,M.Eng ; Sentra Teknologi Polimer – BPPT)
Anehnya hingga kini tidak ada satupun pihak berwenang yang memberi penjelasan untuk melindungi konsumen. Sehingga suatu produsen alat memasak berlapis anti lengket berpromosi bahwa apabila anti lengket produknya terkelupas maka akan keluar bersama tinja, sehingga aman digunakan. Denganalasan tersebut, si produsen mendongkrak harga produknya lebih tinggi dari produk anti lengket lainnya.
Di Negara dengan kondisi seolah rimba belantara ini, konsumen memang harus cerdas karena seolah hidup tanpa perlindungan. Keinginan konsumen untuk mendapatkan hasil serba cepat, praktis dan mudah dijawab oleh produsen dengan berbagai macam inovasi.
Selanjutnya? Tentu terserah Anda, apakah akan mengonsumsi semua hasil inovasi produsen dengan segala resikonya atau memproteksi diri dengan hanya mengonsumsi produk hijau dan menjadi konsumen hijau (green consumer).
Karena remote control dibawah kendali Anda. Setuju?

Maria G. Soemitro

Share:

1 komentar

  1. terima kasih utk postingnya bu, sangat bermanfaat ^_^
    Saya jg sedang berusaha memanfaat kan brg" bekas (http://kawakibcraft.blogspot.com/search/label/Recycle)

    BalasHapus