• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah



 
lapak pak Aa

Tahu dong tentang Bandung Berkebun? Yaitu gerakan memanfaatkan tanah terlantar untuk urban farming atau kegiatan berkebun di perkotaan. Ide yang dilontarkan pak Ridwan Kamil ini mendapat sambutan hangat dari kawan-kawannya yang segera mewujudkan pada tahun 2010 di Kota Jakarta.

Bandung sebagai kota kedua setelah Jakarta, mewujudkan kegiatan berkebun rame-rame ini pada tahun 2011. Lokasi yang dipilih terletak di jalan Sukamulya Indah, tidak jauh dari rumah tinggal pak Aa yang akhirnya didaulat untuk menjaga lahan Bandung Berkebun tersebut. Tujuannya  agar lahan pertanian ada yang nyiram dong. Kan petani urbannya hanya datang seminggu sekali. Kebetulan pak Aa jebolan SMK Pertanian yang bekerja sebagai pegawai honorer dinas kebersihan Kota Bandung. Sehingga ketika gaung berkebun mereda, pak Aapun meneruskan tugasnya seperti sedia kala.

Selain semua kegiatan diatas, bapak Aa membuka lapak pengepul dengan menyewa tanah. Di atas tanah tersebut pak Aa membuat bangunan temporer , tempatnya menerima sampah anorganik dari tukang sampah , ibu rumah tangga yang langsung menjual sampah anorganiknya serta bekerja sama dengan bank sampah Motekar.

Persaingan bisnis sampah yang ketat membuat pak Aa harus rela melepaskan lahan  yang disewa karena ada penyewa lain yang sanggup membayar lebih mahal dibanding pak Aa. Sehingga pak Aa harus sukarela memindahkan bisnisnya ke area Bandung Berkebun. Dan jadilah lapak pak Aa dipenuhi  pot-pot tanaman hias disana-sini. Unik bukan?

Sayang, seperti kisah David dan Goliath, pak Aa bak David yang tidak memiliki ketapel untuk bersaing dengan Goliath. Usaha persampahannya tidak selancar dan sesukses Goliath yang memilki modal, berani membeli sampah anorganik warga dengan harga tinggi serta membekali bisnisnya dengan mobil pengangkut sampah anorganik yang bisa menjemput bola mengambil sampah di kawasan lain.

Ada 2 stategi agar pengepul bisa lancar jaya mengumpulkan sampah anorganik dengan waktu singkat. Karena time is money benar benar berlaku disini. Semakin cepat mengumpulkan barang rongsok/sampah anorganik maka perputaran modal akan semakin cepat sehingga profit yang diterima lebih besar. Yaitu: 


  • Memberi modal pada beberapa tukang rongsok yang akan mencari sampah anorganik dan disetorkan ke lapaknya. Tukang rongsok ini umumnya tidur di bedeng-bedeng yang disediakan pengepul, mendapat pinjaman gerobak roda untuk mengangkut sampah anorganik serta sejumlah uang untuk membeli sampah anorganik dari rumah tangga.

  • Memiliki mobil untuk mengangkut barang yang bertugas mendatangi pengepul kecil, membeli sampah anorganik dari mereka untuk kemudian dijual lagi ke Bandar besar yang membeli dan memproses sampah anorganik tertentu, misalnya Bandar sampah kertas tentunya berbeda dengan Bandar sampah plastik. 

Pak Aa merupakan kelompok pengepul kecil yang hanya berhasil mengumpulkan sampah seminggu sekali, berbeda dengan pengepul besar yang sanggup bertransaksi dengan Bandar besar setiap hari.

Lapak-lapak pengepul kecil seperti milik pak Aa akan tumbuh mengembang jika di kawasan tersebut berdiri bank sampah. Sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Adalah salah jika suatu bank sampah berkegiatan seperti pengepul , misalnya  memproses sampah bekas air mineral. Karena itu domain pengepul bukan bank sampah. Bank sampah memiliki tugas yang lebih mulia yaitu terlibat dalam rekayasa social membantu warga memisah sampahnya.  

Ingin berkunjung ke lapak pak Aa? Silakan mengunjungi bekas lahan Bandung Berkebun yang kini ditanami sayuran oleh warga. Pak Aa menghuni lahan di sebelahnya. Yaitu di jalan Sukamulya Indah 6-5 Bandung.



Wrote by Maria G Soemitro


 
lapak pak Herry

Manisnya  bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-segan menggelontorkan modal yang antara lain diperlukan untuk
1.    Membeli kendaraan pengangkut sampah anorganik  dari lapak-lapak kecil ke Bandar
2.    Membayar honor pekerja pemisah sampah anorganik
3.    Menyewa bedeng tempat tinggal dan membeli gerobak dorong untuk tukang rongsok sebagai ujung tombak pengumpul sampah anorganik dari rumah ke rumah.

Mereka umumnya berasal dari luar Kota Bandung. Aneh bukan? Ya, sumber daya manusia yang berkecimpung di persampahan umumnya bukan berasal dari Bandung. Mereka bekerja sebagai:
1.    Tukang sampah kota. Tau kan? Itu lho bapak atau ibu yang rajin menyapu jalan jalan protokol,  taman. Mereka umumnya dibayar perusahaan outsourcing atau langsung dibawah dinas kebersihan. 
2.    Tukang rongsok. Mereka datang dari luar kota Bandung dan tidur di bedeng-bedeng yang disiapkan pengepul. Mendapat pinjaman gerobak terkadang mendapat pinjaman modal untuk membeli sampah anorganik juga.
3.    Karyawan pengepul. Mayoritas mereka berasal dari luar Kota Bandung, mungkin karena upah yang ditawarkan terlalu murah sehingga warga kota Bandung enggan berkecimpung menjalani ke-3 profesi ini. Mereka biasanya mengambil tugas sebagai tukang sampah di wilayah kediamannya, atau bahkan manjadi pengepul seperti pak Herry dan pak Aa yang menjadi pengepul di wilayah Kendal Gede.

Keberadaan pak Herry yang memiiliki kendaraan pengangkut sangat membantu pengepul kecil seperti tehTita. Karena tanpa mengeluarkan biaya transportasi, sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan, dibeli oleh pak Herry (pengepul besar). Dan berlakulah hubungan  simbiose mutualisme.

Ditemui di lapaknya di jalan Sukamulya Indah , pak Herry tampak bersenda gurau dengan karyawannya yang sedang memilah sampah. Nyaris tak berjarak, mungkin karena menyadari bahwa jika mereka tak bekerja dengan rajin maka penghasilan yang diterima pak Herry tidak cukup untuk membayar upah karyawan.

Sebagai newbie, bagaimana kiat pak Herry menguasai medan persampahan yang awalnya asing? Rupanya pak Herry memiliki tangan kanan yang paham seluk beluk dunia bisnis persampahan sehingga mereka bisa bergandeng tangan menekuni bidang ini. Para pelakon persampahan dengan mudahnya menilai harga sampah anorganik hanya dengan melihat dan memegang suatu sampah misalnya plastik, suatu jenis sampah anorganik yang paling banyak ragamnya.

Seperti diketahui jenis plastik dibedakan sesuai dengan bahan pembentuknya yang membantu plastik bersifat lentur atau justru sebaliknya rigid dank eras. Jenis plastik bisa diketahui dari logo yang nampak  sebagai berikut :



Lumayan ribet bukan? Lebih jelasnya saya copas dari blog alamendah berikuT; 

PETE atau PET (polyethylene terephthalate); Kemasan plastik ini diberi label atau kode angka “1” dalam segitiga. Kode ini biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih, transparan, tembus pandang seperti botol air minuman kemasan, minyak goreng, selai peanutbutter, kecap, dan sambal.
Kemasan dengan kode ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan dipakai untuk menyimpan air hangat apalagi panas. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang.
HDPE (high density polyethylene); Plastik dengan label angka “2” dalam segitiga. Kode ini biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain.
HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.
Kemasan berlabel HDPE direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian karena proses pelepasan senyawa antimoni trioksida akan terus meningkat seiring waktu.
V atau PVC (polyvinyl chloride); Kemasan plastik berlabel angka “3” dalam segitiga. Plastik berbahan PVC (polyvinyl chloride)
merupakan plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol.
Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC (polyvinyl chloride)
berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan
LDPE (low density polyethylene); Plastik jenis ini mempunyai kode angka “4” dalam segitiga. Kemasan plalstik berbahan LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek.
Barang-barang dengan kode ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang ini bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
PP (polypropylene); Kemasan ini berlabel angka “5” dalam segitiga. Kemasan berbahan PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama sebagai tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum (termasuk botol minum untuk bayi).
Karakteristik kemasn plastik dari bahan polypropylene adalah transparan yang tidak jernih atau berawan tapi tembus cahaya, serta tahan terhadap bahan kimia, panas dan minyak.
PS (polystyrene); Kemasan ini berlabel angka 06 dalam segitiga dan biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll.
Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
Other; Kemasan ini berlabel angka 7 dalam segitiga. Kemasan plastik ini biasanya terbuat dari SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), PC (polycarbonate), dan Nylon. Dapat ditemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan.

SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. PC (Polycarbonate) dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng k kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.

 SAN dan ABS dapat digunakan untuk tempat makanan. PC Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman
Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas.



Wrote by Maria G Soemitro


 
Ibu Popon dan barang dagangannya


Wow hari gini beli sepatu seharga  sepatu Rp 10.000 dapat 3 pasang? Yang bener aja …… ??
 Beneran ada lho, di lapak Ibu Popon kita bisa membayar Rp 10.000 untuk 3 pasang sepatu bekas.  Kemudian ada baju seragam SD seharga Rp 2.500 padahal jika baru baju seragam SD itu harganya belasan ribu hingga puluhan ribu setiap bajunya. Sungguh sangat membantu mereka yang membutuhkan, terlebih baju seragam merupakan baju yang mudah nampak kumuh bin kumel. Maklum dipakai seharian, apalagi jika seorang anak hanya memiliki 2 pasang seragam, wah bakal pakai, cuci , kering, pakai, cuci deh. 

Tentu saja baju dan sepatu bekas yang dijual Ibu Popon tidak sekinclong barang jualan di toko BABE. Tempatnyapun  berbeda jauh. Terletak dibawah pohon rindang yang tidak tersentuh satpol PP , keberadaan  lapak Ibu Popon nampak menyolok di sepanjang jalan Cihapit. 

Berbeda dengan lapak baju perempuan yang terkesan seadanya. Lapak baju bekas pria terkesan lebih aman dan tertata. Mungkin karena keberadaan lapak baju bekas pria sudah berusia puluhan tahun. Sesudah itu barulah bermunculan lapak baju perempuan. Bahkan lapak Ibu Popon dulu begitu sederhana, hanya berupa gelaran tikar tempat Ibu Popon meletakkan baju bekasnya sehingga calon pembeli mudah memilih dan membeli. Kini, baju-baju bekas Ibu popon sudah mempunyai rumah berupa rak kaca berkunci. Bandingkan dengan lapak baju pria yang memiliki lemari kayu atau lemari besi berkunci sehingga aman ketika pemilik lapak pulang ke rumah di sore hari.

Berapa harga baju bekas  pria?  Baju dan sepatu bekas pria khususnya celana jeans, jacket dan sepatu kualitasnya nampak lebih bermutu dibanding baju perempuan.  Ternyata memang berbeda jauh,  harga celana jeans di kisaran Rp 50.000, harga jacket Rp 300.000 dan sepatu Rp 50.000 – Rp 300.000. Mungkin karena pedagang di lapak laki-laki membeli barang per satuan , sedangkan ibu Popon membeli dalam karung sehingga harus dipilah-pilah lagi. Persamaannya, mereka membeli baju bekas dari warga masyarakat Indonesia juga, bukan barang bekas impor yang dikirim ke Indonesia dalam container.
lapak pakaian bekas pria


 Seperti diketahui hingga kini tidak ada kejelasan dari pihak berwenang yang bertugas menjawab ketakutan warga yaitu adakah kuman penyakit dari luar Indonesia yang menempel pada baju bekas impor? Dan yang terpenting hingga kapan Indonesia akan mengizinkan SAMPAH dalam bentuk baju bekas, tas bekas hingga baju dalam bekas diimpor ke Indonesia?

Walau angkanya tidak signifikan, beredarnya produk bekas dalam negeri ke unit usaha barang bekas dalam negeri ini sangat membantu pertumbuhan ekonomi. Seseorang yang membutuhkan uang bisa menjual baju bekasnya ke lapak pak Hanhan atau Ibu Popon di jalan Cihapit. Kemudian mereka yang membutuhkan membeli barang bekas tersebut dengan memberikan sedikit laba pada penjual. “Cepat engganya baju terjual tergantung model dan kondisi baju,” kata Ibu Popon, “bukan karena mau Lebaran atau apa”.  Iya juga ya, pembeli yang datang pastilah karena  membeli sesuai kebutuhannya, bukan sekedar konsumerisme

BABE dan lapak baju bekas di pinggir jalan Cihapit memang berbeda jauh dalam penampilan. Tapi manfaat yang mereka berikan sama yaitu:
1.     Memperpanjang usia produk.
2.    Uang beredar di barang bekas bukan barang baru.
3.    Konsumen selektif membeli produk, tidak asal membeli karena tergiur model. Dengan memperhitungkan kualitas,  maka usia  produk tahan lebih lama dan juga bisa dijual kembali.

Ingin berkunjung ke lapak baju bekas Cihapit? Silakan, keberadaan mereka tidak jauh dari Pasar Cihapit, menuju jalan Cibeunying Selatan. Buka dari jam 06.30 sampai dengan jam 15.30, hari Minggu/libur, mereka tetap buka. 

Ibu Popon siap-siap pulang

Wrote by Maria G Soemitro


 
lapak kaset bekas Cihapit


Kemajuan teknologi umumnya membawa  dampak. Dulu siaran televisi berwarna hitam putih, fisiknya bongsor berbentuk  mirip lemari yang dibuka tutup ketika akan memencet tombol on. Tapi kini produsen berlomba-lomba membuat televisi setipis mungkin, menampilkan siaran berwarna persis seperti aslinya dan hanya diperlukan remote control untuk menggonta ganti siaran  televisi. Kebayang deh jika kini remote control belum diketemukan sehingga kita masih  menggunakan cara lama, bakal kepor  tangan mengubah tombol  karena  jumlah stasiun televisi mencapai ratusan…  ^-^

Demikian juga media penyimpan data lagu. Sebelum tahun 1970, nenek kakek kita harus memiliki piringan hitam jika ingin mendengarkan lagu selain dari radio. Bentuknya yang segede gaban dan mahal membuat hanya segelintir orang yang memiliki piringan hitam. Persis seperti televisi yang diawal kemunculannya hanya dimiliki mereka yang berduit. 

piringan hitam (sumber : cnnindonesia.com)


Peran piringan hitam digantikan oleh cassette atau kaset pada tahun 1970-an. Apa yang dimaksud kaset saya kutip dari Wikipedia berikut:
Kaset terdiri dari kumparan-kumparan kecil. Kumparan-kumparan dan bagian-bagian lainnya ini terbungkus dalam bungkus plastik berbentuk kotak kecil berbentuk persegi panjang. Di dalamnya terdapat sepasang roda putaran untuk pita magnet. Pita ini akan berputar dan menggulung ketika kaset dimainkan atau merekam. Ketika pita bergerak ke salah satu arah dan yang lainnya bergerak ke arah yang lain. Hal ini membuat kaset dapat dimainkan atau merekam di kedua sisinya. Contohnya, side A dan side B.

kaset (dok. techgeekdiary.com)


Berbeda dengan piringan hitam yang hanya dimiliki sekelompok golongan masyarakat tertentu, kaset dan tape (pemutar kaset) merambah ke setiap lapisan masyarakat. Mungkin karena harganya yang relatif lebih murah, sehingga dentuman musik yang berasal dari tape, dapat dengan mudah kita dengar hingga pelosok kota. 

Tapi seiring kemajuan teknologi yang mendamba kemudahan dan kepraktisan, kasetpun akhirnya harus mengalah pada CD (compact disc) pada sekitar tahun 1990. Keberadaan CD yang tipis dan anti pita tergulung ruwet mungkin merupakan jawaban atas ketidaknyamanan penggunaan kaset . Maklumlah jika pita kaset mulai bermasalah maka  alunan musiknya akan bergoyang-goyang aneh, jelas kalah jauh dibanding CD yang memiliki kualitas suara lebih jernih dan pemilihan lagu dapat dilakukan dengan cepat.  

Walau demikian kaset tetap diminati. Seperti yang banyak diketemukan di lapak-lapak barang bekas, atau kali ini di lapak bapak Andri penjual kaset dan CD bekas, Nampak beberapa calon pembeli sedang memilih kaset bekas. Umumnya mereka memburu kaset dengan genre musik tertentu, seperti seorang calon pembeli yang sedang memilih album musik evergreen dengan mimik serius.

Dibalik kemajuan teknologi selalu ada harga yang harus dibayar.  CD harganya mahal dan tidak bisa digunakan ulang seperti kaset yang pitanya dapat ‘ditimpa’ untuk rekaman lain. Sehingga peluang menjadi SAMPAH lebih besar dibanding dibanding kaset yang baru akan dibuang jika rusak.  Mirip seperti kasus televisi yang teknologi jadulnya bisa dioprek-oprek  hingga dapat menampilkan gambar kembali walaupun tentu saja dengan warna ‘seadanya’ … ^-^

Akhirnya keputusan akhir berpulang kembali ke pada pembeli, apakah memilih menggunakan teknologi lama, teknologi terbaru, atau malah tidak membeli sama  sekali jika ternyata tidak benar-benar membutuhkannya.  

Jika ingin jalan-jalan ke lapak barang bekas kaset dan buku, silakan datang ke lapak mereka di jalan Cihapit. Terletak diantara pasar Cihapit dan suatu bank terkenal, lapak-lapak disini nyaman dikunjungi karena pepohonannya yang rindang. Coba deh merasakan hangout yang lain dari biasanya  …  ^-^ 

asyik memilih kaset bekas




Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Kawasan Bebas Sampah, Langkah Awal Menuju Zero Waste Cities
    source:abnamro.com Dalam 20 tahun terakhir, gerakan No Waste yang kemudian berubah menjadi Zero Waste, bergaung secara masif di A...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates