• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah



 
kerajinan limbah kopi

Pemirsa televisi yang setia pasti sudah akrab dengan kerajinan kemasan plastik atau limbah sachet bekas kopi atau lebih sering disebut kerajinan limbah kopi. Di Kota Bandung, perintis kerajinan limbah kopi adalah almarhum Ibu Iyom, seorang perempuan paruh baya yang bersama 2 orang temannya mendapat kesempatan belajar membuat kerajinan tersebut dari Pusdakota Surabaya, yaitu Ibu Jajang dan Ibu Eti. Mereka tinggal di  kawasan Taman Sari dan bongkarannya.

Ada yang rancu dengan pemahaman kerajinan limbah kopi. Banyak yang menganggap bahwa hasil kerajinan limbah kopi sangat menguntungkan secara financial. Karena itu banyak yang mendramatisir  kisah ini, baik media cetak maupun media elektronik. Beberapa tahun silam hasil kerajinan ini dengan mudah kita temui di gerai-gerai supermarket ternama, merupakan hasil kerjasama beberapa  LSM , produsen penghasil limbah sachet dan supermarket tersebut. Hasilnya? Sayang sekali sangat  menyedihkan, karena:

  • Stigma bahwa kerajinan ini berbahan baku sampah, benda yang harus dijauhi, dibuang atau minimal disingkirkan jauh-jauh. Lha ini kok digunakan sebagai bahan baku tas, males dong.  Limbah kopi memang sampah tapi sejak awal sachet kemasan (mayoritas kopi) diperlakukan berbeda dengan sampah umumnya yaitu langsung dipisah dari kopi dan dimasukkan kardus/kantong plastik/keresek.
  • Hasil kerajinan sampah haruslah murah. Sementara pengerjaan kerajinan limbah sachet memakan waktu.  Perajin harus membersihkan (mencuci dan mengeringkannya) dari  sisa kopi/ minuman lainnya. Juga harus membeli bahan baku tambahan seperti bahan pelapis dan retsleting. Bahkan pada beberapa kasus, perajin harus membeli/memberi sejumlah uang pada mereka yang mau berbaik hati menyetorkan limbah kopi pada perajin.
  • Rangkaian panjang proses produksi limbah kopi membuat harganya menjadi mahal, kalah bersaing dengan produk  non limbah yang lebih murah yang lebih  fashionable dan tidak membuat pemakainya ‘jatuh merk”.

  • Pada beberapa kasus kerajinan limbah mudah robek, karena bahan baku limbah kopi didesain/diproduksi  untuk mewadahi kopi bukan untuk bahan baku tas/dompet/tempat tisu dan beragam kerajinan limbah kopi lainnya.

Menyikapi lika liku perjuangan Ibu Iyom dan Ibu Jajang yang kesulitan memasarkan produknya,  sekitar tahun 2011, saya pernah berguru pada ibu dosen seni rupa ITB yang cantik, Nedina Sari. Hasil diskusi dengan mahasiswa/i  ibu Nedina, disimpulkan bahwa hasil karya haruslah dalam bentuk multi fungsi sehingga bisa memicu lebih banyak kreativitas. Selain itu  pelaku kerajinan harus berproduksi karena cinta pada kegiatan tersebut, bukan sekedar mengejar keuntungan semata. Mirip seniman patung yang berkreasi dengan sepenuh hati. Dia fokus menghasilkan karya terbaik, tidak peduli hasil karyanya tidak dibeli. Sesuai pepatah : “duit mah nuturkeun”, atau kurang lebih rezeki akan datang jika kita tekun, focus dan ikhlas berkerja.

Terbiasa bekerja dengan kreativitas akan membuat perajin menghasilkan karya tidak ‘asal jadi”, juga tidak terpaku pada bahan baku yang biasa digunakan. Seniman patung kayu akan fleksibel berkarya dengan bahan lain seperti batu , tanah.  Demikian juga perajin limbah kopi, dia bisa berkarya dengan menggunakan bahan baku selain limbah kopi, karena suatu saat bahan limbah yang tidak terbarukan ini pasti habis dari muka bumi.

Untuk menuju kompetensi itu, para perajin limbah kopi haruslah mendapat latihan yang diinisiasi badan pengelola lingkungan hidup (BPLH) dan produsen penghasil limbah kopi. Karena produsen limbah sachet kemasan  harus bertanggung jawab terhadap sampah  produksinya. Sesuai ayat 15 UU 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, produsen bertanggung jawab terhadap sampah produksenya yang tidak bisa diurai di alam. Alam tidak bisa mengurai limbah sachet yang berlapis alumunium , solusinya hanya dibakar yang tentu saja menimbulkan bencana lingkungan lain. Kerajinan limbah kopipun hanya memperpanjang usia limbah, tidak melenyapkannya.

 Salah satu pelaku kerajinan limbah kopi yang melabuhkan asa terlalu tinggi adalah ibu Yati, seorang istri buruh bangunan. Menyadari suaminya kerap menganggur sementara asap dapur harus mengebul, maka Ibu Yati mempelajari kerajinan limbah kopi secara otodidak. Setelah mahir merangkai limbah kopi menjadi beragam kerajinan, ibu Yati mempelajari seni merajut kantong plastik (keresek) menjadi beragam karya: dompet, tas, gantungan kunci, tempat tisu dan lain lain. Sayang, nasibnya sama dengan ribuan pelaku kerajinan limbah kopi lainnya. Hasil karyanya mangkrak, sepi pembeli, akhirnya iapun hanya memfokuskan diri sebagai pelatih.
sebagian hasil karya anak didik Ibu Yati
 
limbah kopi sebagai bahan baku


Pertimbangan focus sebagai pelatih juga disebabkan rumahnya yang sempit, hanya seluas 3 x 4 meter, harus dihuni keluarga dengan 5 anak. Sehingga bahan produksi limbah kopi harus mengalah, demikian juga bahan bakunya. Bahkan akhir-akhir ini Ibu Yati memilih menjadi pelatih dan hanya membuat kerajinan limbah kopi berdasarkan pesanan. 

Ditemui beberapa waktu lalu di rumahnya di kawasan Sekemirung 42 C, RT 03 RW 10, ibu Yati menemui saya dengan secangkir teh hangat karena selain ngirit, penyajian minuman dalam cangkir tidak menghasilkan sampah dan mmm…….. lebih sopan ya? Betul ngga?

Ibu Yati didepan rumahnya





Wrote by Maria G Soemitro



 
Teh Tita

Dalam kisah persampahan,  ternyata 1 (satu) ditambah 1 (satu) tidak selalu sama dengan 2 (dua). Contohnya lika liku kerja pemulung. Nampaknya pekerjaan mudah hanya memulung  dan merekapun mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan nafkah sehari-hari. 

Tapi ternyata tidak sesederhana itu, pemulung sulit sekali menjual hasil temuan mereka.
Temuan?  Iya temuan, kan mereka mengais tumpukan sampah dan menemukan sampah anorganik yang bisa dijual. Tidak heran banyak pengepul yang menolak hasil kerja mereka karena sampah anorganik yang mereka setorkan berlumur lumpur atau bercampur sampah organik yang membusuk. Yang pasti menjijikkan dan baunya menyengat deh. Bayangin aja mereka memulung dari selokan, tempat-tempat sampah yang dikerumuni lalat, dan berbagai tempat yang tak terbayangkan lainnya.

Padahal pemulung dan tukang sampah merupakan ujung tombak pengurang sampah yang hendak dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Jika tidak ada yang menampung hasil kerja mereka, wuaduh akan seberapa banyak jumlah sampah yang harus diangkut setiap waktunya?


Hingga akhirnya, hari Sabtu 2 Juni 2015, saya bertemu lapak pengepul yang mau menerima barang temuan pemulung. Pengepul yang baik hati tersebut tinggal dan memiliki lapak  di daerah Sekemirung. Namanya Tita. Seorang perempuan jelita yang dengan  telaten membersihkan sampah anorganik yang dibelinya. Dipisahkan hingga bersih dari tutup botol, lembaran merk dan kotoran yang melekat, sehingga lokasi kerjanya kotor dan becek.

kondisi lapak teh Tita



Dari sini bisa terlihat bedanya kegiatan ‘memisah ‘ sampah dan ‘memilah ‘ sampah. Jika kita memisah sampah sejak membuang sampah maka hasil kumpulan sampah anorganikpun bersih, tidak tercampur sampah organik yang umumnya busuk/basi dengan mudahnya. 

Beda halnya dengan proses memilah, terjadi ketika kita tidak memisah sampah sejak awal. Sehingga sampah organik dan sampah anorganik tercampur dalam keranjang sampah. Sampah yang telah tercampur inilah yang biasanya dipilah dan ‘diselamatkan’tukang sampah yang bertugas mengambil sampah dari rumah ke rumah. Karena tukang sampah mengambil sampah dari rumah tangga yang relatif bersih, juga selisih waktunya tidak lama maka kumpulan sampah yang disetorkan tidak terlalu kotor dan bau. Tidak demikian dengan pemulung yang harus mengais sampah anorganik di jalan yang dilalui, di selokan dan di tempat sampah terbuka, sehingga bisa dipastikan hasil memulungnya sangat menjijikkan dan bau.

Saran yang terbaik menuju perubahan gaya hidup tentunya memisah sampah sejak awal sampah terbentuk, karena banyak keuntungannya:

  • Tempat sampah tidak mudah bau

  • Langkah awal membentuk bank sampah

  • Memanusiawikan pemulung dan tukang sampah. Bukankah mereka akan bergembira ria jika memulung sampah yang bersih, tidak tercampur sampah organik?

Pengepul sendiri sebetulnya sama dengan unit usaha lainnya yaitu mengejar keuntungan agar uangnya bisa berputar. Teh Tita contohnya, dia tahu bahwa tidak bisa mengandalkan setoran sampah dari rumah tangga disekitarnya. Diapun paham, dirinya tidak memiliki modal besar untuk  menampung dan menyediakan tempat tinggal bagi tukang rongsok yaitu orang yang mau mendatangi rumah ke rumah untuk mengumpulkan sampah anorganik/rongsokan.  Jalan keluarnya ya menerima setoran sampah tanpa pandang bulu apakah berasal dari tukang rongsok atau ibu rumahtangga yang notabene bersih atau dari pemulung yang hasil temuannya kotor serta bau.

Setelah sampah yang dibersihkan dan dikumpulkan telah cukup banyak, teh Tita akan meminta bantuan/menyewa mobil pick-up untuk membantunya mengirim dan menjual sampah anorganik tersebut ke Bandar Sampah. Tentunya dia mencari Bandar Besar yang berani membeli tinggi, karena itulah pasar sampah organik bersaing sangat ketat. Siapa yang mampu berstrategi maka akan bertahan dan menuai profit lumayan.

Lapak teh Tita dapat ditemui di kawasan Sekemirung B62, masuk dari jalan Cigadung Raya Timur di sebelah masjid Al Muqarohmah, bisa ditanyakan letak lapak teh Tita yang cukup terkenal. Buka sejak pagi hingga sekitar pukul 17.00, bersiaplah bertemu pemilik lapak yang jelita , murah senyum dan tidak pelit berbagi informasi.

lapak teh Tita tampak depan
teh Tita

Wrote by Maria G Soemitro
ternyata bukan pencitraan -dok.merdeka.com



  "Pak, rumahnya pak Walikota Ridwan Kamil kan didekat sini”.
“Iya, kalo pulang, selalu melambaikan tangan ke saya”, jawab pak Ahmad
“Oh, ya?”
“Iya, dia biasanya malam hari pulang ke rumah. Naik sepeda, dibuntuti pengawal,   pengawalnya naik sepeda motor”

Oo .., penjelasan yang cukup mengagetkan saya. Saya pikir pak Ridwan Kamil atau akrab disapa pak Emil tinggal di pendopo, rumah dinas Walikota Bandung. Ternyata kadang-kadang pak Emil pulang ke ‘sarang’nya yang nyaman di jalan Cigadung.  

Saya juga kaget mengetahui  pak Emil pulang ke rumah botolnya naik sepeda. Karena wow, jalan yang harus dilalui cukup menanjak lho. Lumayan berat menurut saya sih. Apalagi di malam hari tatkala stamina sudah terkuras habis. Hebat juga ya Bapak Walikota Bandung kita?
Walaupun demikian tak urung saya penasaran: “Apakah pak Emil melihat banyaknya sampah disepanjang jalan yang dilaluinya? Sampah-sampah tersebut memenuhi saluran air dan menyebabkan banjir cileuncang. 

Semoga beliau melihat tapi belum bisa menyelesaikan masalah tersebut. Maklum, urusan sampah memang kompleks, menyangkut perilaku/lifestyle yang tidak segera diluruskan selama bertahun-tahun. Belum lagi alokasi anggaran yang tidak sederhana serta banyaknya dinas yang terkait saling berhubungan bak benang kusut sulit terurai. Sampah di gorong-gorong jelas bukan urusan PD Kebersihan demikian juga sampah yang menggunung di depan rumah tak berpenghuni.

team kebersihan kecamatan cibeunying kaler dan kelurahan sukaluyu membersihkan gorong-gorong

Karena itu patut diapresiasi adanya beberapa gerakan gotong royong bebersih Bandung. Gerakan yang membantu arah perubahan agar warga peduli sampah, misalnya kegiatan jumsih (jumat bersih), GPS (gerakan pungut sampah), pembentukan team kebersihan yang dibiayai kecamatan dan kelurahan, serta tentunya pembuatan peta persampahan kota Bandung yang bisa dilihat di web bebassampahID.
Peta persampahan Kota Bandung disusun dengan tujuan memudahkan warga berperan serta dalam pemisahan sampah. Apabila sampah dipisah sejak dari sumbernya, maka PD Kebersihan tidak akan pusing mengangkut sampah dan pemerintah Kota Bandung tidak kebingungan mencari lokasi tempat sampah pembuangan sampah akhir. (TPA). Menurut perhitungan teknis, tahun 2011 TPA Sarimukti harus ditutup karena sudah melebihi kapasitas. Jika sekarang masih berjalan maka ibarat bom waktu, setiap saat TPA sarimukti tidak bisa digunakan lagi.

 Nah siapakah pak Ahmad? Beliau pemilik unit usaha reparasi di jalan Cikondang Bandung. Salah satu titik yang bisa dilihat keberadaannya di web bebassampahID.  Berlokasi  dijalur yang dilalui pak Emil jika pulang ke rumahnya di Cigadung.

Diarinta Service, unit usaha reparasi peralatan listrik

Cukup mudah ditemui. Berpatokan Taman Makam Pahlawan kemudian menyusuri jalan Cikutra Barat, setelah supermarket Borma berbelok ke Jl Cikondang yang panjangnya sekitar 200 meter. Mudah bukan? Di area ini menurut pak Ahmad, bukan dia saja yang menerima reparasi beragam peralatan elektronik. Cukup banyak dan semuanya ramai, pertanda warga masyarakat dari berbagai kalangan, sangat membutuhkan jasa pak Ahmad dan kawan kawan. 
Pak Ahmad sendiri menekuni usaha reparasi peralatan listrik sejak tahu 2004. Diawali menjemput bola, mendatangi mereka yang membutuhkan jasanya.  Hingga kini dia kewalahan memenuhi tenggat waktu. Beberapa order reparasi nampak masih terbungkus rapat belum sempat dibuka.
Usaha yang seharusnya mendapat  dukungan penuh pemerintah, khususnya sosialisasi sampah. Karena peralatan elektronik tidak didesain untuk dibuang di sembarang tempat. Ada kemungkinan limbah B3 yang turut terbuang.
Sementara itu pak Ahmad nampaknya tidak memusingkan persoalan limbah B3. Dia sudah cukup senang pak walikota Bandung, Ridwan Kamil yang tinggal tidak jauh dari tempat kerjanya, sering menyapanya bahkan melambaikan tangan. Bahagia itu memang sederhana ^-^

Diarinta Service
Wrote by Maria G Soemitro



 
Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro)

Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya bertemu wakil pemilik lapak yang  ramah dan informatif. Tidak hanya menjelaskan barang rongsokan apa saja yang diterima, tetapi juga proses produksi dan jejaringnya.

Sebetulnya saya kerap melalui daerah ini, tapi tidak mengetahui bahwa bangunan  di jalan Cigadung Raya Tengah nomor 17 Bandung ini tidak hanya merupakan toko bahan bangunan tapi juga pengepul barang bekas/sampah anorganik yang sudah cukup lama. 

Teman detektif bebassampahID , Suci yang menemukan dan memasukkan ke web. Padahal pemilik lapak ini termasuk Bandar Besar, dia memiliki 3 lapak dan kendaraan pribadi (truk) untuk mengangkut sendiri barang rongsoknya. Bahkan dia memiliki pabrik pengolah menjadi biji plastik di kawasan PINDAD, jalan Kiara Condong Bandung.

Secara sederhana sampah anorganik bisa dipilah dalam 3 kelompok besar, yaitu:


  • Kertas, beraneka ragam

  • Besi , dengan jenis termurah hingga termahal.

  • Plastik, terdiri dari kurang lebih 20 jenis plastic. Hanya para praktisi lapangan yang bisa membedakannya karena plastik ini harus dipisah. Tidak bisa disatukan tatkala diproses karena berdampak menurunnya kualitas atau bahkan tidak bisa diproses.
bijii plastik hasil daur ulang (dok. Pan Era Group)



Hasil daur ulang plastik akan menghasilkan biji plastik bermutu rendah dibandingkan produk awalnya, misalnya bekas kemasan minuman (foodgrade, dan tentu saja berbahan baku biji plastik impor), jika diolah hanya akan menjadi bahan baku karung goni/karung plastik. Sampah karung goni bisa diolah lagi menjadi plastik yang jauh lebih rendah kualitasnya atau bahkan tidak diolah sama sekali jika biayanya terlampau tinggi.

Tidak demikian hal nya dengan kertas dan besi, hasil olah kedua jenis sampah anorganik ini tidak akan menurunkan kualitasnya. Contohnya, sampah kertas (kardus) akan diproses menjadi kardus kembali dan dijual tanpa mengurangi nilai jualnya.   

Tentu saja setiap produk berbeda pabrik pengolahnya, sehingga setiap harinya truk milik pak Yadi Heryadi, aktif beroperasi mengumpulkan barang rongsokan dan mengirimnya hingga ke luar kota.

pemilahan sampah (dok. Maria G. Soemitro)


Di area jalan Cigadung ini, tampak beberapa pegawai sedang berkerja, karena tidak hanya berfungsi menerima penjualan sampah anorganik tapi juga proses pra produksi. Sampah air minum  dalam kemasan (AMDK) dipisahkan dari tutupnya yang tidak bisa didaur ulang. 

Tutup AMDK berakhir sebagai sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir, sedangkan hasil pemisahannya (dalam bentuk cup yang bersih) dikirim ke pabrik pengolahan sampah plastik menjadi biji plastik.

Beberapa kegiatan juga dilakukan, misalnya mengeluarkan tembaga dari kabel. Tembaga berharga mahal, kurang lebih Rp 60.000/kg. cukup menggiurkan, bukan?

Jenis usaha rongsokan memang menjanjikan,  padat karya dan hanya dengan modal awal relatif kecil maka setiap pelaku bisa dipastikan akan mendapat profit yang cukup menjanjikan. Mereka umumnya merekrut  tukang rongsok untuk “jemput bola”membeli sampah anorganik/barang rongsokan yang sudah dipilah/belum dipilah dari rumah ke rumah. Para tukang rongsok ini umumnya menghuni bedeng di rumah yang disewa/dibangun para pengepul besar. Sehingga terjadi hubungan kerja yang saling menguntungkan atau simbiose mutualisme.

Tukang rongsok berbeda dengan pemulung. Stratanya lebih tinggi karena dia mengantongi uang cukup besar sebagai modal membeli barang rongsokan di rumah-rumah yang didatanginya. Sedangkan pemulung mengais sampah di tempat-tempat sampah untuk mencari sampah anorganik yang bisa dijual.

Menarik bukan jika memperhatikan bagaimana manusia bisa dibagi stratanya hanya karena pekerjaan. Oleh sebab itu sungguh tepat adanya GPS (Gerakan Pungut Sampah) di Kota Bandung agar warga tidak merasa jijik dan semakin peduli pada sampah. Siapa lagi yang akan peduli dan memelihara lingkungan jika bukan kita, manusia penghuni bumi yang mendambakan lingkungan asri dan nyaman dihuni?  ^_^


mau setor, ups jatuh (dok. Maria G. Soemitro)


Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates