• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah

limbah biomassa (kiri; dok.Maria G) kompor biomassa (kanan; dok.BCCF)


Pak Dadang sedang asyik membakar sampah di trotoar depan rumahnya. Sampah tersebut berasal dari aktivitasnya memangkas pohon. Sekitar 2,5 liter minyak tanah digunakan untuk membakar sampah. Bapak berumur 50 tahun tersebut melupakan fakta bahwa sampah yang dibakarnya adalah bahan bakar juga. Atau dengan kata lain bahan bakar fosil dihabiskan untuk membakar bahan bakar terbarukan (biomassa).
Apa yang dilakukan pak Dadang nampaknya sepele dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Akibat Dinas Kebersihan enggan mengangkut sampah pekarangan maka pak Dadang membakar limbah tersebut. Ironis, karena walau minyak tanah dan bensin mudah dibeli tetapi cadangan energy fosil kita semakin menipis sementara sumber energy terbarukan belum digarap maksimal. 

Salah satu penyebabnya adalah kebijakan energy yang masih tersentralisasi padahal sebagai negara kepulauan, Indonesia seharusnya menerapkan kebijakan desentralisasi, sesuai sumber energy yang berbeda-beda yang merupakan kekayaan alam setiap wilayah. Akibatnya rasio elektrifikasi Indonesia baru mencapai 66 %. Padahal sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan banyak energy untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kenyamanan hidup dan kesejahteraan penduduknya.

Salah satu sumber energy yang masih terabaikan adalah limbah biomassa. Menurut data ESDM, sekitar 50 ribu megawatt dimiliki Indonesia sebagai potensi energy terbarukan yang berasal limbah biomassa. Dari jumlah itu, 18 ribu megawatt didapat dari sektor pertanian meliputi jerami, tandan kosong kelapa sawit, sekam padi dan lain-lain. Sisanya berasal dari sektor kehutanan.

Sekam padi adalah contoh limbah biomassa yang sebelumnya hanya dibuang atau dihargai sangat murah karena dianggap hanya sisa hasil panen. Karena itu sangatlah tepat ketika ITB, IPB, LIPI dan Indonesia Power melirik potensi ini. Salah satunya di Haurgeulis Indramayu, lumbung padi yang berkelimpahan sekam padi. 

LIPI melakukan penelitian dan membuat modifikasi pada generator sehingga bisa beroperasi dengan sekam padi dan solar. Sebelum masuk ke ruang bakar, sekam padi diolah melalui proses gasifikasi hingga menghasilkan syngas. Bahan bakar syngas menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah, sementara kinerja generator tidak menurun dan menghemat biaya operasional.

Setelah menggunakan sekam, generator hanya menghabiskan 0,06 liter solar untuk menghasilkan 1 kWh listrik, padahal sebelumnya 0,3 liter solar/1 kWh listrik. Sehingga terjadi penghematan minyak solar sebanyak 80 %.
Sebagai sumber energy, 6,5 kg sekam setara dengan 1 liter solar. Setiap tahun terdapat 13 juta ton sekam yang selama ini kurang dimanfaatkan atau senilai Rp 11 triliun per tahun. Jumlah yang cukup wow, bukan?

1383494051308868709
skema gasifikasi biomassa dok.
http://web.ipb.ac.id
Selain sekam, limbah biomassa yang diabaikan lainnya adalah ranting pohon. Ranting pohon sangat mudah ditemukan di wilayah perkotaan dan pedesaan. Dr Supriyantono dari Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis (SEAMEO BIOTROP) Bogor berhasil meneliti dan menguji kompor biomassa berbahan bakar ranting kayu, dedaunan kering, potongan bambu dan limbah kering lainnya. Hasilnya cukup menakjubkan, hanya berbekal 1 kg sampah kering, kompor biomassa bisa digunakan untuk memasak selama 2 jam atau setara satu liter minyak tanah pada kompor biasa.
 
Pelajar SMKN 2 Bandung juga membuat kompor berbahan bakar limbah biomassa. Perbedaan kompor biomassa dengan kompor minyak tanah adalah adanya tabung besi sebagai tempat penampung bahan bakar. Dibawah tabung terdapat baling-baling statis yang berfungsi mendorong panas dari bawah ke atas. Kompor juga memiliki 2 akselerator yang terpasang diantara tabung besi. Akselerator berfungsi mempercepat proses putaran udara di dalam ruangan sehingga pembakaranpun optimal.

Kompor biomassa menghasilkan energy panas yang tinggi karena teknik pembakaran secara pirolisis atau pembakaran minim oksigen. Dengan teknik ini biomassa yang terbakar akan menghasilkan asap. Asap tersebut diubah menjadi gas oleh panas dari tabung besi yang mencapai suhu 300-600 derajat Celcius. Selama proses pirolisis kompor memiliki 3 sumber energy panas yaitu api hasil pembakaran limbah biomassa, gas dari pembakaran asap dan arang sisa pembakaran limbah biomassa.

Untuk menyalakan kompor biomassa, potongan ranting dan sampah kering lainnya ditumpuk dan disulut dengan bantuan kertas atau sedikit minyak tanah/etanol. Setelah menyala, intensitas panas dapat disesuaikan dengan mengatur pasokan udara ke dalam tabung besi melalui baling-baling. Mematikannyapun cukup mudah, hanya dengan mengurangi bahan bakar sedikit demi sedikit dari tabung penampung.

Tidak dipungkiri bahwa penduduk Indonesia telah lama menggunakan limbah biomassa. Diperkirakan setengah penduduk Indonesia kayu bakar sebagai sumber energy dengan tingkat konsumsi 1,2 meter kubik per orang per tahun. Bahkan lebih dari 14 % penduduk dunia atau sekitar 2 milyar orang menggunakan energy biomassa sebagai energy primernya. Penyebabnya adalah kesulitan mengakses serta semakin mahalnya bahan bakar fosil.

Melalui pengujian beberapa contoh diatas, penduduk tidak harus menggunakan kayu bakar untuk memenuhi memenuhi kebutuhan. Karena limbah biomassa yang berserakan disekitar rumahpun ternyata dapat menjadi sumber energy. Dapat dipilih beragam metode pengolahan biomassa, mulai dari anaerobic digestion, pirolisis, gasifikasi dan pembakaran biasa (insinerator). Termasuk limbah cairnya yang dapat diolah dengan memanfaatkan mikroba tertentu menjadi biohidrogen. Sehingga limbah biomassa selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy alternatif, juga mengatasi permasalahan lingkungan.

Sifatnya yang terbarukan dan ketersediaan yang melimpah ruah membuat biomassa (dan limbahnya) merupakan magnet negara lain untuk menggali lebih lanjut pemanfaatannya. Salah satunya Korea Selatan yang membangun pabrik pengolahan arang kayu di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Jika Indonesia tidak hati-hati dan bergerak cepat maka bisa jadi hanya berujung gigit jari. Menjadi penonton yang menjual sumber bahan baku dengan harga murah dan mengimpor produk jadi berharga mahal dari negara lain. Seperti banyak kasus pada kekayaan alam Indonesia lainnya. Relakah kita? 

 **Maria G. Soemitro**

Sumber data:

LIPI Bandung
SEAMEO BIOTROP Bogor 
 Majalah Trubus, Juni 2010
SMKN2 Bandung - BCCF
Wrote by Maria G Soemitro
Pada Sabtu, 8 Mei 2010, KM ITB mengadakan event 2 tahunan yaitu Pameran Seni Budaya ITB 2010 dimeriahkan pagelaran seni tari, nyanyi, music mahasiswa/i ITB, pelajar sekolah , Saung Angklung Udjo, pameran Seni Budaya, pameran Kuliner dan pameran Industri Kreatif.


Nah, di Pameran Industri Kreatif lah kami mendapat kesempatan menggelar stand. Sungguh kesempatan yang langka dan berharga, diantara stand baju, tas, assesories, kain batik, kerajinan bali, kerajinan flora kami menggelar barang recycle ( daur ulang) plastic dan kain.

Langka, karena pameran ini diadakan hanya tiap dua tahun sekali. Hingga kami ingin menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Berharga, karena apabila kami hanya membuat kerajinan dan menjualnya pada pameran seni budaya ini berarti kami membuang kesempatan untuk memperkenalkan recycle bekas kemasan.

Seperti kita ketahui, sudah banyak masyarakat yang peduli kelestarian lingkungan hidup sehingga mereka bersedia memisah-misah sampahnya.

Masalahnya, sesudah dipisah apalagi yang bisa mereka perbuat mengingat tukang sampah sering menyampur kembali 2 jenis sampah tersebut (sampah organik dan sampah anorganik).

Kami mencoba memberi solusi , yaitu membuat kerajinan dari bekas kemasan mie instant dengan harapan pengunjung yang bersedia mencoba membuat kerajinan mau mempraktekan sendiri di rumah atau bahkan menularkan ilmu tersebut ke tetangga atau teman komunitasnya.

Bagi pengunjung yang enggan berjibaku membuat kerajinanpun kami memberi solusi yaitu membentuk suatu komunitas, mengumpulkan bekas kemasannya dan mengundang pelatih untuk membuat kerajinan.

Hasilnya akan kami tampung untuk digelar di setiap pameran yang kami ikuti atau yang sedang diusahakan adalah meminta pertanggung jawaban produsen produk yang bersangkutan.

Menurut UU no 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah dan UU no 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup, suatu perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan produknya harus mempertanggung jawabkan bekas kemasannya.

Pemisahan sampah merupakan tanggung jawab individu (rumahtangga), instansi, dan badan usaha sedangkan pemerintah mengelola hasil pemisahan sampah tersebut.

Sebagai warganegara Indonesia tidak hanya harus taat pajak tetapi juga taat memisah sampah. Pembayaran pajak berkontribusi pada keberlangsungan penyelenggaraan negara sedangkan pemisahan sampah apabila dikelola baik oleh pemerintah akan berdampak langsung pada lingkungan hidup warganegara.

Karena itu gerakan memisah sampah dan mengelola sampah harusnya mendapat dukungan pemerintah. Apalagi sudah ada payung hukumnya, jadi mengapa nampaknya hal tersebut disepelekan.

Mungkin slogan “buy more” lebih menarik bagi pemerintah dibanding slogan “do more” karena dengan slogan “buy more” diharapkan warga akan belanja habis-habisan, roda perekonomian akan melaju kencang dan pajak yang disetor akan melambung. Pemerintah lupa bahwa warga yang mampu persentasenya kecil,sedangkan wong cilik yang menempati persentase terbanyak akan makin terpinggirkan karena untuk mencukupi kebutuhan primerpun mereka tidak mampu.

Makna apa yang ingin kami berikan pada pameran kali ini ? Jawabannya : Keseimbangan !

Diantara produk-produk konsumsi yang kreatif, produk-produk asli daerah yang tak kalah kreatifnya, kami ingin mengingatkan bahwa disetiap barang konsumsi pasti akan menghasilkan sampah. Sampah yang merupakan tanggung jawab setiap individu dan salah satu solusinya kami tunjukkan di stand kami.

Sambutan untuk pengunjung pameran Seni   Budaya ITB 2010
Wrote by Maria G Soemitro
Detektif , makna harfiahnya adalah polisi rahasia atau reserse. Jika digabung dengan kata Bebas Sampah menjadi polisi rahasia yang menyelidiki sampah. Wuaduh serem banget, kok sampah harus diselidiki. Apalagi diinterogasi, wah nggak mungkinlah. (^_^)



Kisahnya bermula dari warisan masalah sampah untuk pak Emil, atau Ridwan Kamil yang terpilih sebagai walikota Bandung 2013-2018. Jika pak Ahok, Gubernur DKI Jakarta mengaku senang mendapat kajian bagus-bagus dari professor-profesor terkemuka, maka pak Emil juga mendapat dukungan dari teman-temannya alumni ITB yang membentuk Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS).

BJBS tidak hanya terdiri dari alumni ITB, tetapi juga para pegiat lingkungan dan pengelola sampah di lapangan. Sehingga data yang dihimpun cukup banyak, valid dan dapat menyarikan pendapat bahwa masalah utama sampah adalah kebiasaan/lifestyle.

Penduduk kota besar pastinya sering melihat sampah berserakan diluar tempat sampah. Atau akhir-akhir ini, atau atas instruksi pak Emil semua kendaraan roda 4 (termasuk angkot) akan dirazia. Mereka diwajibkan membawa tempat sampah yang jika enggan sang supir akan terkena sanksi membayar Rp 250.000. Peraturan tersebut telah ditetapkan sejak tahun 2005 lho, dan baru dilaksanakan kemudian. Tapi tetep aja, supir angkot buang sampah ke jalan raya, miris bukan?

Karena itu perlu kampanye berkesinambungan agar warga menyadari bahwa pemerintah tidak bisa terus menerus meladeni sikap manja warganya. Tidak sekedar patuh membuang sampah pada tempatnya tapi mereka juga harus mau memisah sampah. Jika tidak ya kemungkinan besar Bandung Lautan Sampah akan terulang lagi. Penyebabnya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sarimukti memiliki daya tampung terbatas. Sementara warga Bandung membuang 1.600 ton sampah setiap harinya. Serem ya? Jika ditumpuk begitu saja akan mencapai 55 x tinggi candi Borobudur pertahunnya lho.


Pindah TPA? Tidak semudah itu, karena membuang sampah sesungguhnya hanya memindah masalah. Di rumah kita sampah sudah terangkut, dipindahkan ke TPS (tempat pembuangan sampah sementara) , pindah lagi ke TPA. TPA Sarimukti penuh, mungkin pindah ke Legok Nangka, Legok Nangka penuh pindah ke ….. ?? Entahlah, karena kemampuan bumi mengurai sampah tidak secepat waktu kita membuang sampah.

dok. #BebasSampahID
 

Solusi terbaik adalah memisah sampah dari rumah. Bukankah di rumah, sampah belum berubah bentuk menjadi kotor, bau dan menjijikkan? Coba deh sampah basah (sisa sayuran, sisa hasil memasak) dimasukkan ke lubang biopori atau komposter, sisanya sampah kering bisa ditumpuk dalam tong berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum akhirnya dijual atau diberikan ke pemulung.

Untuk mendorong perubahan kebiasaan (lifestyle) ini dibutuhkan website tempat warga masyarakat bertanya, melaporkan, memberi data atau sekedar berkeluh kesah tentang sampah. Beruntung salah seorang kontributor BJBS, Anilawati Nurwakhidin dibawah bendera Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) mendapat bantuan Ford Foundation (yang mendukung situs Wikipedia) untuk mewujudkan piranti lunak berbentuk website, aplikasi mobile serta SMS gateway bertajuk tentang Peta Persampahan, yang akan mengoptimalkan kontribusi masyarakat dalam sistem persampahan kota Bandung, mendorong akuntabilitas pelayanan pemerintah, sekaligus mendorong sistem persampahan menjadi berbasis masyarakat.


Wow bahasa dewa ya? Selengkapnya silakan lihat disini, sedangkan website yang dirancang bangun adalah ini. Poin utamanya sih diharapkan warga ketika hangout tidak hanya membicarakan kuliner dan fashion tapi juga gaya hidup ramah lingkungan yang tertuju pada zero waste lifestyle.


Apatis? Ngga lah, dulu anak muda dikatakan ngga keren jika ngga merokok. Tapi sekarang, pandangan tersebut tidak berlaku. Bahkan mereka yang berhenti merokok sering dipuji hebat. Demikian pula budaya mengantri, sekarang sudah umum dilakukan. Mereka yang nyerobot bakal terkena pelototan warga lain yang sudah antri duluan.

Lifestyle bisa berubah, website sudah disiapkan. Maka ketika warga sudah tergerak untuk melaporkan, harus ada yang memverifikasi. Para detektif #BebasSampahId lah yang bertugas untuk mendatangi titik-titik yang dilaporkan warga. Baik itu Bank Sampah yang menyediakan layanan bagi mereka yang berpatisipasi menabung sampah anorganik, juga lapak/pengepul , kegiatan pengomposan serta unit usaha yang berhubungan dengan pengelolaan sampah.


Untuk itu pada tanggal 31 Januari hingga 1 Februari 2015, para detektif sampah mendapat briefing mengenai zero waste lifestyle, kondisi persampahan Kota Bandung dan latihan mengeksekusi laporan warga. Beruntung teknologi komunikasi kian canggih sehingga detektif #BebasSampahId bisa melaporkan secara presisi ditambah hasil wawancara yang dituliskan dalam blog.

Keberadaan 20 detektif #BebasSampahId akan dilaunching pada tanggal 21 Februari 2015, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional. Cieee kok dilaunching segala? Iyalah agar warga Bandung tahu bahwa mereka bisa berpatisipasi dalam mengelola sampah. Tidak sekedar mengeluh dan menyalahkan pemerintah. Karena sesungguhnya sampahpun memiliki potensi, sampah adalah materi berharga, tergantung sudut pandang/penilaian orang per orang.

Jadi? Yuk mulai mengelola sampah masing masing dan jadikan gaya hidup ramah lingkungan sebagai lifestyle yang keren. Hasilnya akan dirasakan untuk diri sendiri kok. Coba deh ^^

20 detektif #BebasSampahID



notes berisi kolom yang harus diisi




bekal  detektif #BebasSampahId : misting dan tumbler agar tidak nyampah


sumber gambar : disini
Wrote by Maria G Soemitro
 
Proses Pengolahan Sampah di Super Depo Sutorejo, Surabaya. Foto : Petrus Riski


Persoalan sampah masih menjadi masalah serius yang dihadapi masyarakat, terutama di perkotaan seperti Surabaya, Jawa Timur. Selain program kebersihan yang dimiliki Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Pemerintah Kota Surabaya mengajak peran serta aktif masyarakat untuk mewujudkan Surabaya yang bersih dan bebas sampah.

Salah satu upaya menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah, adalah melalui pengelolaan sampah rumah tangga oleh masyarakat secara mandiri. Masyarakat diajak untuk memperhatikan lingkungannya, dengan memilih dan memilah sampah yang masih dapat di daur ulang atau di manfaatkan menjadi barang bernilai.

Seperti yang terlihat di salah satu kampung di Surabaya, yakni Jambangan. Warga di kampung Jambangan sejak sepuluh tahun terakhir melakukan pemilahan sampah, mulai dari sampah organik, non-organik, hingga memisahkan sampah yang masih bsia dimanfaatkan seperti sampah botol, gelas, kemasan plastik, kertas dan kardus.

“Sejak dari tempat sampah rumah tangga, kami sudah memilah dan menempatkannya di tempat sampah khusus. Bagi yang bisa dimanfaatkan kami sendiri dan jual ke bank sampah di sini. Yang organik kami masukkan ke tempat sampah takakura, jadi nanti bisa jadi pupuk,” ujar Mariati salah seorang warga Jambangan.

Selain dapat menghasilkan uang, sampah plastik, kertas dan karton masih dapat didaur ulang oleh industri yang membutuhkan. Bila warga kreatif, beberapa jenis sampah dari kemasan produk dapat dibuat sebagai barang kerajinan.

“Disini warga juga ada yang memanfaatkan kemasan plastik produk untuk membuat tas, bungan hiasan, hingga baju dari bahan daur ulang,” lanjut Mariati.

Dari upaya 3R (reduce, reuse, recycle) yang dilakukan warga, setiap harinya volume sampah yang dibuang ke truk pengangkut sampah jauh lebih berkurang dari sebelumnya.

Pemkot Surabaya juga melakukan berbagai upaya untuk menekan keberadaan sampah yang terus meningkat, seiring pertumbuhan jumlah penduduk maupun pendatang. Berbagai lomba kebersihan maupun gerakan kebersihan terus dilakukan, untuk mengajak masyarakat aktif memerangi masalah sampah di lingkungannya. Hasilnya Kota Surabaya mampu meraih predikat kota Adipura Kencana pada 2014 ini.


Menurut Wisnu Wibowo dari Dinas Kebersihan Kota Surabaya, cara pandang yang keliru, seringkali menjadikan sampah sebagai persoalan yang sulit untuk dikendalikan. Padahal pengelolaan secara benar akan menjadikan sampah sebagai sesuatu yang bermanfaat.

“Sampah selama ini menjadi masalah. Nah kita ajak masyarakat mulai mengelola sampah, sehingga harapannya nanti sampah ini bukan menjadi masalah lagi tapi bisa menjadi sahabat, dan bisa menjadi nilai yang lebih dari masyarakat itu,” kata Wisnu.

Gerakan mengurangi sampah menurut Wisnu Wibowo, tidak hanya dilakukan oleh warga yang tinggal di kawasan tengah kota, melainkan juga di seluruh penjuru kota termasuk yang tinggal di kawasan bantaran sungai. Wisnu Wibowo menuturkan, mengubah perilaku masyarakat yang masih banyak membuang sampah ke sungai, merupakan salah satu upaya untuk mengurangi volume sampah.

“Tujuannya juga supaya masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai itu perilakunya berubah, tidak lagi membuang sampah ke sungai. Karena sampai sekarang kan masih ada masyarakat yang membuang sampah ke sungai,” kata Wisnu.

Sementara itu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan kesadaran serta komitmen masyarakat untuk ikut menjaga serta melestarikan lingkungan, diyakini dapat membantu masyarakat yang lain untuk ikut memelihara kebersihan lingkungan secara luas.

“Mereka itu akan terus menjaga, kalau mereka merasa bahwa ini sebuah kebutuhan. Kalau mereka sudah komitmen terhadap ini, maka mereka tidak akan lengah, karena ini adalah kebutuhan mereka. Mereka merasa nyaman kalau lingkungannya bersih, mereka merasa nyaman kalau lingkungannya indah, itu sudah suatu kebutuhan untuk mereka,” katanya.

Walikota perempuan pertama di Surabaya ini mengutarakan, melalui pengelolaan sampah oleh masyarakat mulai dari rumah tangga dan lingkungan sekitar, persoalan sampah akan dapat diatasi secara bijak. Risma mengaku dengan metode 3R, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) berkurang 8 -10 persen setiap tahunnya dalam lima tahun terakhir.

“Ya karena sampah itu dikelola oleh masyarakat sendiri, makanya setiap tahun yang masuk ke TPA itu turun. Meski pun sebetulnya itu tidak logis secara teori, karena penduduk Surabaya kan semakin banyak, pendatangnya juga semakin banyak. Sebetulnya secara teori itu akan naik volume sampahnya, tapi kenapa bisa turun karena masyarakat kelola sampah itu,” katanya.

Meski mengakui, bahwa status Surabaya sebagai kota metropolitan sekaligus kota perdagangan dan jasa, menjadikan Surabaya tidak dapat terbebas sepenuhnya dari sampah. Selain sampah yang dihasilkan oleh penduduk kota, para pendatang atau turis yang singgah di Surabaya, juga menjadi potensi penghasil sampah.
“Kita kan kota jasa, jadi semakin banyak yang datang, dia juga bawa sampah. Ya gak bisa dibatasi karena kita kota yang hidup. Gak papa mereka datang, asal warga itu sadar, maka sampah tetap bisa ditekan,” imbuh Risma.

Sampah dari para pendatang dikelola dengan manajemen pengelolaan sampah, serta teknologi pengolahan sampah yang dimiliki. Salah satunya di Depo Sampah Sutorejo, hasil kerjasama dengan pihak pemerintah Jepang, dimana sampah yang masuk ke Depo Sampah akan dipilih dan dipilah sesuai peruntukannya. Selanjutnya sampah yang tersisa dan tidak dapat dimanfaatkan, seminimal mungkin baru dibuang ke TPA.

“Alhamdulillah sampah kita relatif bisa tertangani, dibandingkan dengan daerah lain, terutama yang metropolitan, sebut saja Jakarta, Makasar dan Bandung,” ucap Risma.

Produksi sampah di Surabaya sendiri diperkirakan mencapai 1.800 ton per hari. Namun sampah tersebut tidak semuanya dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah, melainkan sebagian telah diolah oleh warga sehingga mampu dikurangi hingga 400 ton per hari.

Selain adanya rumah kompos, turunnya jumlah sampah disebabkan makin sadarnya warga kota Pahlawan  terhadap lingkungan. Target bebas sampah yang dimaksud pemerintah lanjut Risma, merupakan kondisi dimana sampah terkelola dengan baik, dan tidak ada lagi sampah yang tercecer atau berserakan tidak terkelola.

Pemberlakuan Perda Pengolahan Sampah pada 2015 mendatang, mengharuskan setiap usaha seperti restoran dan hotel tidak akan dapat secara langsung membuang sampah ke TPA. Sampah yang dihasilkan harus diolah terlebih dahulu, hingga menyisakan sampah yang sudah tidak dapat diolah untuk dibuang ke TPA Benowo.

Tidak hanya itu, sampah harus dibuang sendiri ke TPA dengan menggunakan kendaraan pengangkut sampah sendiri, bukan dengan menggunakan truk sampah milik Pemerintah Kota Surabaya. Hal itu dilakukan untuk menekan volume sampah yang terus meningkat.

“Semua kembali pada perilaku, dan harapan kami perilaku masyarakat maupun pendatang dapat ikut menjaga kebersihan lingkungan di Surabaya,” harap Wisnu Wibowo.

sumber:

 http://www.mongabay.co.id/2014/10/21/mengurangi-volume-sampah-sejak-dari-rumah-tangga/
Wrote by Maria G Soemitro



Jakarta (Greeners) – Jangan sekali-kali berani membuang sampah ke sungai di Jakarta, karena bakal ditangkap dan diadili. Ya, karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bakal menegakkan Perda No. 3 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah.

“Warga yang kedapetan membuang sampah di sungai, awal-awalnya akan kita kasih sosialisasi, lalu peringatan dulu. Tetapi kalau masih juga membuang sampah di kali, ya kita harus tegakkan perda,” kata Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo yang lebih akrab dipanggil Jokowi, usai acara Apel Kesiapan Karya Bhakti TNI AD Pembersihan Ciliwung di bawah jembatan Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (14/8).

Penegakan aturan tersebut diseriusi oleh Pemprov DKI dengan membentuk Patroli Sampah Sungai bekerjasama dengan TNI AD yang bekerja memantau kondisi sungai setiap hari mulai Rabu kemarin.
Jokowi mengatakan, Patroli Sampah Sungai baru memantau dan dan menyusuri Sungai Ciliwung yang kondisinya paling parah dibandingkan sungai lain yang melintas di Jakarta. “Nanti dimulai dari Sungai Ciliwung dulu lah, yang parah kondisinya kan disana. Setelah itu baru patroli menyusuri setiap sungai,” kata orang nomor satu di DKI Jakarta itu.

Penegakan hukum dilakukan demi merubah perilaku warga Jakarta sehingga kondisi sungai bakal bersih dari sampah. “Memang awalnya diberi peringatan dulu, tetapi penegakan perda harus ditegakkan mulai sekarang,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Unu Nurdin menjelaskan Perda No. 3/2013 mengatur sanksi bagi perusahaan dan warga yang membuang sampah sembarangan atau tidak mengelola sampahnya dengan baik.

Bila warga dan perusahaan tidak melakukan kewajiban yang diatur dalam perda tersebut, maka mereka akan dikenakan sanksi. Dari sanksi administratif hingga sanksi denda minimal Rp 500.000 hingga Rp 50 juta.
Pada Pasal 126, diatur setiap orang dilarang membuang sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di luar jam 06.00 sampai 21.00. Dilarang membuang sampah ke sungai/kali/kanal, waduk, situ dan saluran air limbah, jalan, taman, dan tempat umum.

“Dilarang membuang sampah ke TPST atau TPA tanpa izin, membakar sampah yang mencemari lingkungan, membuang sampah dari kendaraan, menggunakan badan jalan sebagai TPS, mengelola sampah yang menyebabkan pencematan atau perusakan lingkungan,” jelasnya. (G06)

 http://www.greeners.co/news/buang-sampah-di-sungai-jakarta-bakal-ditangkap/
Wrote by Maria G Soemitro
Pemulung melintas di jl. Taman Pramuka Bandung (dok. Maria Hardayanto)



Air banjir membawa sampah,  selokan penuh berisi sampah,  setiap sudut kota menumpuk sampah. Masalah sampah yang rumit membuat Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama (Ahok) mewacanakan menggaji 2.000 pemilung sebesar dua juta rupiah.

Ini usulan “ajaib” karena antara membayangkan dan mengimplemantasikan jelas dua hal berbeda. Pak Ahok membayangkan pemulung akan mengangkut sampah dan memilah sampah agar pemulung mendapat tambahan pendapatan dari hasil pemilahan sampah. Sayangnya hal tersebut hanya bisa dilakukan di tingkat RT tapi tidak di daerah sebesar DKI Jakarta yang memproduksi sampah 6.000 ton setiap harinya.

Analoginya, seorang pemilik beberapa pohon mangga akan sanggup memanen dan menyortir mangganya  sendiri sebelum dijual kepasar. Tapi pemilik ribuan pohon mangga? O dia perlu beberapa pekerja dengan pembagian tugas yang jelas: memanen, menyortir, mengepak dan mengirim. Semua harus dikerjakan pada suatu waktu agar kualitas buah tetap terjaga hingga di tangan konsumen.

Demikian pula pengerukan sampah, jika pemulung diharuskan mengeruk dan memilah sekaligus? …………… olala bisa marah-marah warga DKI Jakarta karena sampah menumpuk dimana-mana. Memilah sampah membutuhkan waktu lama lho, pak. Dilain pihak kecepatan produksi sampah oleh warga harus seimbang dengan gesitnya bagian pengerukan dan pengangkutan.

Solusinya? Pemberian target pada perusahaan yang bertanggung jawab mengangkut sampah. Apabila tidak mampu mencapai target, harus disiapkan perusahaan swasta lain yang lebih kompeten dan kompetitor tersebut sangat banyak.  Tentunya pak Ahok harus menjamin tidak adanya uang sogokan untuk menjadi rekanan Dinas Kebersihan. Karena uang pelicin menyebabkan biaya operasional menjadi bengkak.

Perusahaan swasta rekanan Dinas Kebersihan tersebut hanya mengeruk sampah. Sedangkan pemilahan dimulai dari hulu, bukan dihilir. Kerjasama dengan perusahaan swasta lainnya adalah yang terbaik. Merekalah yang kelak merekrut para pemulung karena tidak memerlukan pelatihan khusus lagi. Hanya dengan melihat selintas tumpukan sampah anorganik seorang pemulung akan dengan cepat memilah, mana yang bisa dijual untuk direcycle mana yang tidak.

Perusahaan swasta ini kelak bergerak diperumahan-perumahan yang telah mendapat sosialisasi pemisahan sampah. Mereka membagikan tempat sampah khusus ( berwarna tertentu) sesuai kategori sampah. Setiap tiga hari sekali diambil petugas, apabila pemilik rumah lalai maka silakan membuangnya di tempat pembuangan sampah sementara (TPS)  yang telah ditunjuk. Karena itulah sebaiknya penerapan dilakukan langkah demi langkah dan mulai di kawasan menengah keatas yang rapi penataan ruangnya. Sehingga warga yang jorok akan mendapat cibiran dari tetangga.

Bagaimanapun itulah kelebihan warga masyarakat Indonesia yaitu masih takut dicemooh tetangga. Segelintir warga yang acuh tak acuh hanyalah kasuistik.  Salah satu indikator adalah antrian di rumah makan cepat saji atau kasir supermarket. Silakan slonong boy mirip orang primitif, pasti akan banyak dahi mengernyit dan ejekan sambil menutup mulut dibelakang jemari yang dilebarkan, sehingga terdengar jelas ………:D

Penulis mendapat banyak masukan data dan kiriman foto. Salah satunya contoh kiriman rekan @Sondaryani Vagher dari Den Haag Belanda yang memotret khusus. Selain diangkut sampah basahnya setiap 3 hari, Inge (nama panggilan Sondaryani) harus memasukkan sendiri sampah anorganik berdasarkan jenis sampah ke dalam kontainer yang telah ditentukan dan berjarak kurang lebih 20 meter (berjalan kaki 2-5 menit) dari rumahnya.
1356471265284473741
kontainer sampah (dok. Sondaryani Vagher)
Kontainer-kontainer sampah tersebut parkir pada waktu-waktu tertentu selama dua minggu sebelum akhirnya diangkut truk ke markas perusahaan. Mereka jugalah yang mendistribusikan sampah anorganik ke tempat recycle sesuai  jenisnya. Pekerjaan tersebut cukup tepat dikerjakan mantan pemulung. Karena selain digaji, mereka tidak lagi mengaduk-aduk sampah yang kotor dan penuh belatung dari tempat sampah. Tentu saja dengan adanya perusahaan yang bertanggung jawab mekanisme menjadi jelas.  Baik prosedur kepegawaian, honor/gaji hingga job description-nya.

Sebetulnya tanpa diketahui “penguasa kota”, banyak warga yang melihat celah bernilai ini. Mereka menggunakan mobil-mobil tua untuk mengangkut sampah dari pemilik rumah yang tidak mempermasalahkan uang pembayaran sampah. Biasanya biaya perbulan sekitar Rp 100.000 (bisa lebih) sedangkan tukang sampah biasa hanya Rp 2.000 – Rp 15.000.
13564698971290440846
pengusaha dibidang sampah Bandung(dok. Maria Hardayanto)
Mobil sampah ini mengangkut semua sampah dan memilahnya ke dalam keranjang-keranjang bekas buah yang bisa didapat gratis di pasar. Sampahnya tentu saja dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terpadu, sedangkan hasil pemilahan bisa dijual untuk menambah pendapatan.

Penyelesaian masalah sampah sebenarnya mudah dilakukan apabila pemerintah mau bertindak tegas sejak dari hulu, bekerja bersama masyarakat dengan menyosialisasikan apa yang harus dilakukan mereka. Seperti contoh Inge yang membuang semua sampah basahnya pada tempat sampah khusus, dia hanya mendapat tempah sampah basah (hijau) satu buah karena anggota keluarganya 4 orang. Ada prosedur untuk meminta lebih sehingga mau tidak mau harus  memilah-milah sampah dalam kantong plastik khusus agar memudahkan ketika waktunya harus memasukkan ke dalam container.
13564718911080216558
tempat sampah khusus yg penyediaanya dibatasi petugas kebersihan (dok. Sondaryani Vagher)
Tentu saja perlu dilakukan pula sosialisasi pengomposan dalam bentuk komposter besar yang mampu menampung dedaunan pekarangan dan sampah dapur atau mengompos dalam kotak takakura. Semua pilihan diberikan pada warga, termasuk pembayaran biaya sampah yang lebih besar apabila membuang sampah mebel, barang elektronik dan sampah berukuran besar lainnya. Sekaligus sanksi harus membuang sampah sendiri ke TPS yang letaknya cukup jauh apabila tidak mengeluarkan kotak sampah pada waktunya.

Dengan anggaran sampah sebesar 90 milyar pertahun seharusnya DKI Jakarta bisa melakukan banyak hal dengan terencana dan mengeksekusinya tanpa menimbulkan banyak friksi. Karena warga masyarakat bisa dan mau diedukasi agar bertanggungjawab pada sampahnya. Khususnya melihat fenomena pak Jokowi -Ahok yang masih diatas angin. ……………#semoga tetap begitu.

Sudah lewat waktunya warga masyarakat berperilaku  ibarat raja yang membuang beraneka sampah didepan rumahnya dan tukang sampah dengan merunduk-runduk bagai warga kasta terendah mengumpulkan dan mengangkut sampah mereka. Gaya feodalisme di jaman digital dengan sub konten sampah.

**Maria Hardayanto**

Special thanks to Sondaryani Vagher  dan Ismail Husain yang sudah bersusah payah memotret dan memberi informasi.
1356472363595038387
3 kontainer sampah (dok. Sondaryani Vagher)
1356472440775303222
sampah khusus kaca dan poselein, kristal, lampu (dok. Sondaryani Vagher)
13564725521000464979
kontainer kedua : sampah kertas (dok. Sondaryani Vagher)
13564726401773099105
kontainer ketiga: beragam sampah plastik (dok Sondaryani Vagher
)
Wrote by Maria G Soemitro

Ibu Iriana dan recycle abg dari kertas semen (dok. Sumarti Saelan)

Usai di-publish kompasianer @Sumarti Saelan pada tanggal 19 Desember 2012 pukul 18.40, tercatat  pada 22 Desember 2012 sudah 2.641 orang yang membaca tulisan berjudul : “Ibu Jokowi dan Tas Sak Semennya”

Apa yang menarik dari tulisan berjumlah 255 kata tersebut? Ada banyak kemungkinan. Pertama karena menyangkut nama istri Gubernur DKI Jakarta yang baru dilantik dan setiap gerak langkah/ucapannya membius pembaca. Tak heran wartawan mainstream selalu setia menyajikan berita tentang Jokowi, walaupun ucapannya belum final.

Kemudian diferensiasi dari para ibu pejabat yang biasa menenteng tas branded berharga puluhan juta rupiah, ibu Iriana memilih tas sandang berbahan baku bekas sak semen. Tas tersebut dipercantik dengan syal yang sewarna baju batiknya dan tampak  pede mengikuti Seminar dan Lokakarya Peran Ibu di Era Digital yang diprakarsai ID Kita Kompasiana.

recycle bag dari bekas kemasan kopi (dok. Maria G Soemitro)


Ini sesuatu yang luar biasa. Umumnya ibu pejabat membeli atau bahkan memborong produk daur ulang di pameran yang diresmikannya kemudian seolah melupakan. Belum pernah sekalipun penulis melihat mereka menggunakan tas yang dibelinya, walau hanya sekali. Entah kemana tas dan produk recycle lainnya tersebut. Tentu saja itu hak mereka. Tetapi alangkah baiknya sebagai istri pemimpin, mereka tidak sekedar membeli.

recycle bag dari bekas minyak goreng (dok. Maria G Soemitro)


Dalam tulisannya, mbak Icoel menuturkan bahwa ibu Iriana diberi oleh ibu Veronica Basuki, istri wakil gubernur DKI Jakarta. Dan hebatnya tas tersebut ditenteng dalam pertemuan ibu-ibu pejabat nasional. Banyak manfaat yang didapat apabila seorang istri tokoh bersedia memakai tas daur ulang:
  • Produk daur ulang masih dianggap produk murahan, produk sampah yang tidak layak dijual dengan harga pantas. Calon konsumen tidak peduli bahwa produk daur ulang membutuhkan bahan pembantu mahal agar layak dijual. Pengerjaannyapun jauh lebih sulit daripada tas berbahan baku dalam bentuk lembaran. Sebagai contoh lebih sulit membuat baju bayi dari bekas daster sang ibu dibandingkan membuat baju bayi berbahan baku kain yang baru dibeli. Perlu kreativitas agar baju bayi tersebut tampak indah, perlu bahan pembantu seperti kain flannel, renda atau kancing berwarna-warni.

  • Konsumen lebih memilih tas branded imitasi daripada tas daur ulang karena lebih keren. Mungkin pengaruh infotainment dan sinetron dimana pemainnya berakting sambil membawa tas branded sehingga para pengagumnya ikut membeli walau bukan produk asli. Kondisi demikian dapat digunakan istri tokoh/tokoh perempuan yang memiliki banyak pendukung untuk berkampanye dengan tas daur ulang sehingga menjadi trend fashion baru. Pemakainyapun merasa keren karena tas yang disandangnya mirip tas istri gubernur/ tas tokoh perempuan tersebut.
  • Memicu para pengrajin untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk daur ulang agar produknya benar-benar layak pakai. Karena apabila diperhatikan tas ibu Iriana tidak sekedar tas sak semen. Bahan bakunya sudah dilaminasi, pegangan tas kuat sehingga tidak mudah jebol ketika sedang digunakan. Walau harus diakui, istri seorang gubernur tentunya tidak usah membawa bermacam-macam keperluan seperti ibu rumah tangga lainnya.

  • Sebagaimana diketahui, bahan baku tas daur ulang tidak diperuntukkan untuk tas yang berisi banyak barang. Terkecuali sak semen, umumnya bahan daur ulang berasal dari bekas kemasan plastik makanan. Seperti kemasan mie instan, cemilan, detergent dan lain-lain yang umumnya  berlapis alumunium agar isi produk tetap kering tapi berimbas sulitnya bekas kemasan tersebut didaur ulang. Selain sulit juga mahal sekali. Suatu perusahaan kopi terkenal pernah mengumpulkan bekas sachet produknya dan menyimpan sementara dalam gudangnya. Sayang, tidak melanjutkan lagi karena mengalami banyak kendala.
Tentu saja langkah seperti yang dicontohkan ibu Iriana cukup hingga regulasi diterapkan. Karena telah ada regulasi yang mengatur sampah anorganik dan ditetapkan tahun 2008. Regulasi yang menghabiskan anggaran milyaran untuk membuat  undang-undang, peraturan pemerintah dan peraturan daerah (tingkat I dan tingkat II).

Langkah berikutnya adalah pelaksanaan di lapangan. Contoh produsen kopi diatas menunjukan bahwa pihak swasta/ produsen bersedia bertanggungjawab terhadap bekas kemasan produknya. Yang diperlukan kemudian adalah kemauan baik pemerintah untuk menggandeng pihak swasta lainnya sebagai pengumpul bekas kemasan tersebut dan mencari solusi recycle. Karena proses recycle bisa dilakukan usaha mikro kecil menengah (UMKM), bukankah dengan demikian berarti pak Jokowi menciptakan lapangan kerja baru bagi warganya?

**Maria G. Soemitro**



Dineke Stam pede dengan tas recyclenya (dok. Maria G.Soemitro)
Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates