• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah


13004597161780400072
Ilustrasi/Admin (shutterstock)
Mengapa Australia sebagai produsen Uranium terbesar di dunia, tidak merencanakan membangun PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) ? Mengapa Amerika Serikat sudah 39 tahun tidak lagi membangun PLTN baru?  Prototype  Generasi IV PLTN malah ditawarkan ke  negara-negara Asia dengan promosi  bebas dari kemungkinan melelehnya teras atau bebas kecelakaan nuklir!

Penyebab utamanya karena PLTN menyisakan limbah nuklir dengan tingkat radioaktifitas yang tinggi dalam bentuk Bahan Bakar Nuklir Bekas (BBNB). Limbah nuklir ini sangat berbahaya, bahkan pada saat diambil dari teras reaktor karena sudah tidak ekonomis lagi.  Tingkat bahayanya 1000 kali lebih berbahaya daripada tambang uranium dan baru dapat dinyatakan tidak berbahaya sesudah 10.000 tahun kemudian.

Hingga saat ini masalah BBNB berbahaya belum bisa diatasi dengan baik oleh para ilmuwan dan insinyur nuklir. BBNB berbahaya karena berisi produk fisi yang jumlahnya sekitar 400 radioaktif. Diantara produk fisi tersebut terdapat sekitar 13 radioisotop  yang memiliki umur panjang bahkan sampai jutaan tahun. Selain itu didalamnya terdapat terdapat Pu-239 yang berbahaya yang bisa digunakan sebagai bahan baku senjata nuklir.
storage pool (Jepang)
storage pool (Jepang)
Teknologi closed-cycle memungkinkan BBNB didaurulang dengan cara diambil U-235  dan Pu-239 nya kemudian diproses dan diolah menjadi bahan bakar baru. Sayangnya teknologi ini tidak dapat diterapkan di Indonesia karena Indonesia telah menandatangani Non-Proliferation Treaty (NPT), suatu traktat internasional yang melarang negara-negara penandatanganan memproses Pu-239nya karena dikuatirkan akan digunakan untuk tujuan persenjataan. Negara-negara NPT hanya diperbolehkan menggunakan aplikasi nuklir untuk tujuan perdamaian dan kesejahteraan bangsa serta negara saja.

Teknologi pengelolaan BBNB yang diperbolehkan  NPT adalah Once-through cycleatau open-cycle dengan dua pendekatan :

  • BBNB yang diambil dari teras reaktor karena sudah tidak ekonomis lagi ( setiap 2 tahun sekali), langsung dimasukkan ke storage pool kemudian dipindah ke interim storage (istilah lainnya : Monitored  Retrievable Storage/MRS) yang lebih aman dan mudah diawasi. PLTN jenis baru dapat beroperasi untuk jangka waktu 40 - 60 tahun, jadi dapat dibayangkan storage pool akan penuh terisi BBNB dalam jangka waktu 20 tahun pertama.
  • BBNB disimpan di daerah lokasi penyimpanan lestari (Ultimate Repository) dimana BBNB disimpan untuk selamanya di lapisan tanah dalam dan selamanya tidak akan diambil lagi. Yucca Mountain site di Nevada, Amerika Serikat adalah contoh lokasi yang direncanakan untuk menyimpan BBNB paling tidak selama 10.000 tahun tanpa merusak lingkungan karena kebocoran radiasi. Sayangnya sampai sekarang lokasi tersebut belum mendapat persetujuan Pemerintah Amerika Serikat sebagai kuburan nuklir, karena kekuatiran bocor dan mengkontaminasi lingkungan. Bisa dibayangkan dari 400 PLTN lebih di dunia, BBNBnya sekarang menumpuk dimana-mana karena belum tahu harus diapakan.

waste map (Yucca Mountain)
waste map (Yucca Mountain)
Teknologi  pengamanan untuk menyimpan BBNB di penyimpanan lestari ada dua , yaitu engineered barrier dan natural barrier.

Engineered barrier terdiri dari matrix  BBNB itu sendiri, kelongsongnya dan kontainer limbah nuklir atau BBNB-nya.
Kontainer limbah nuklir yang  berisi BBNB dimasukkan kedalam 400 m - 600 m di bawah tanah. Kontainer harus sanggup bertahan menjaga dan mengungkung BBNB yang terdiri dari isotop-isotop  radioaktif sehingga tidak bocor , minimal selama 10.000 tahun. Kalaupun terjadi kebocoran, natural barrier yang berisi pasir, kerikil, batuan dan semen akan sangat memperlambat radiasi yang bocor ke lingkungan manusia, hewan dan tumbuhan.

Mengingat sifat BBNB yang sangat radioaktif, maka pembuatan kontainer limbah nuklir harus special dan tidak sembarangan dibuat. Faktor manusia sebagai pengelolanyapun diusahakan sesedikit mungkin.  Kontainer yang paling popular adalah Multi-purpose container (MPC) yang dipakai untuk menyimpan BBNB semenjak di storage pool hingga dikirim ke penyimpanan sementara atau penyimpanan lestari.

Hanya diperlukan 1 MPC sehingga pekerjanya tidak terkena paparan radiasi BBNB.
13004558211634832057
castor nuclear waste containers
Teknologi lain yang dapat menghabisi BBNB dengan cepat sehingga aman 100 % bagi lingkungan adalah transmutasi inti (nuclear transmutation).
Teknologi ini sudah berhasil digunakan di laboratorium namun karena biaya yang sangat tinggi sehingga tidak ekonomis dan masih jauh untuk diaplikasikan di skala industry.

Teknologi PLTN memang terus dikembangkan dan hingga generasi IV bisa dikatakan sangat aman dan tidak perlu ada kekhawatiran  dalam implementasinya sebagai penyedia listrik yang handal, aman dan ekonomis.

Sebaliknya teknologi limbah nuklir harus dikembangkan karena aplikasinya belum memuaskan dan bisa menimbulkan bahaya bagi lingkungan hidup.

60 tahun yang lalu, Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa mereka bisa dengan mudah mengatasi limbah nuklir terutama BBNB-nya. Namun nyatanya hingga saat ini, tahun 2011 AS masih dipusingkan dengan limbah nuklirnya yang menumpuk di storage pool, di interim storage atau MRS-nya.

Yudiutomo Imardjoko, ahli Nuklir dari UGM mempunyai saran untuk PLTN yang rencananya akan dibangun di Indonesia yaitu Program PLTN Berkelanjutan. Yaitu 10 PLTN pertama berdaya minimal 1000 MW (e) berjenis light water reactor atau heavy water reactor.

Selanjutnya diikuti dengan implementasi PLTN tipe Breeder reactor tanpa melalui pemrosesan ulang, tapi cukup reuse saja. Dengan pendekatan ini maka Indonesia tidak akan melanggar NPT, dilain pihak limbah nuklir yang dihasilkan breeder reactorsangat kecil radiasinya , lebih kecil dari radiasi alam (background radiation) sehingga aman dibuang ke lingkungan.

Pertanyaannya : Apakah saran diatas tidak akan melanggar ketentuan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN)? Karena salah satu ketentuan BAPETEN adalah PLTN harus menggunakan teknologi teruji (proven technology). Teknologi teruji di definisikan dengan adanya PLTN yang dijadikan referensi dan telah beroperasi selama  minimal 3 tahun. Bila PLTN yang direncanakan belum ada contohnya di dunia ini maka BAPETEN berhak menolaknya.

Pertanyaan akhir : Apakah iming-iming PLTN bisa menghasilkan energy listrik dalam jumlah besar dan stabil serta tidak banyak menghasilkan gas rumah kaca seimbangdengan limbah beracun yang harus ditanggung bumi dan menjadi warisan anak cucu hingga 10.000 tahun kemudian ?

Sumber :
Ir. Yudiutomo Imardjoko M.Sc. Ph.D (pengajar FT-UGM)
Majalah Energi edisi Februari 2011
tulisan terkait :
  • Hadapi Krisis Energi, Indonesia Siapkan Bauran Energi 2025

  • Reaktor Nuklir Jepang Sebagai Acuan Bauran Energi Indonesia

  • Mengapa Indonesia Memilih Nuklir ?
sumber gambar : disini,  disini,  dan disini
Wrote by Maria G Soemitro



1339276039303860529
kawat dipenuhi lalat dari sampah pasar 


Gambar di atas adalah foto kawat penghubung antar kios di belakang pasar Cihaurgeulis Kota Bandung. Dipenuhi lalat, menunjukkan betapa kumuh dan joroknya pasar yang berjarak sekitar 1 km dari Gedung Sate, Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa-Barat. Tidak hanya lalat beterbangan, belatung mengintai dari tumpukan sampah pasar dan serakan sampah memenuhi bagian belakang pasar hingga trotoar.


13392762011512696536
sampah di trotoar pasar


Kota Bandung rupanya tidak jera. Sesudah mengalami Bandung Lautan Sampah di tahun 2005 hingga dianugerahi “penghargaan” kota terkotor, tidak ada kemajuan yang signifikan. Penyebabnya adalah karena tidak ada perubahan system pengelolaan sampah. Sistem kumpul, angkut dan buang seperti yang dilakukan selama ini jelas menyulitkan PD Kebersihan. Kesulitan sumber daya manusia, kurangnya kendaraan pengangkut sampah, uang retribusi sampah yang “berceceran” dan tidak memenuhi target hingga banyaknya warga kota yang enggan membayar retribusi.

Sayangnya semua permasalahan yang sulit terurai bagai benang kusut tidak membuat semua pihak terkait saling introspeksi. Bahkan arahnya makin salah ketika walikota Bandung bertekad meraih Adipura dengan membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sebagai satu-satunya solusi. Warga tentu saja menolak karena tidak ada garansi bahwa pembangunan akan bebas dari korupsi. 

PLTSa tidak pernah disosialisasikan dengan benar, tidak pernah diyakinkan dengan gamblang  bahwa racun dioksin dan furan sebagai hasil pembakaran sampah PLTSa tidak akan meracuni penduduk kota Bandung yang mendiami cekungan danau purba. Belum lagi masalah limbah B3nya  belum pernah dibahas dengan jelas akan diapakan. Tidak ada maket, tidak ada transparansi. Jadi jangan salahkan warga yang marah.
Pembangunan PLTSa sebetulnya hanya teknis pengolahan sampah. Semua cara pengolahan sampah adalah baik apabila dikerjakan dengan benar dan disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan geografis kota tersebut.

Sangatlah keliru apabila berpikir bahwa uang akan menyelesaikan segalanya. Mengapa uang proyek yang digelontorkan dari APBD tidak digunakan untuk sosialisasi berupa pelatihan-pelatihan pengelolaan sampah dan penyediaan sarana? Pengelolaan sampah harus dimulai di tingkat hulu, awal sampah berasal. Pembenahan sistem juga diperlukan agar lifestyle penduduk berubah. Sarana  disediakan sehingga tidak ada sampah seenaknya dibuang seperti ini:

13392781571547642378
sampah kemasan di jalan Dago 

Atau ada yang membuang bekas kotak rokok:
13392769171322277332
sampah di jalan Dago 


Pemulung yang kebetulan lewat jalan Dago Kota Bandung mungkin akan memungut sampah jenis ini:
13392769891807005297
sampah kemasan di jalan Dago 


Tapi yang jelas, sampah berlapis alumunium akan terlewat begitu saja:
13392770761999355319
sampah kemasan di jalan Dago (dok. Maria Hardayanto)


atau sampah seperti ini :
13392771781339831823
sampah kemasan di jalan Dago 


Hingga berakhir di saluran air:
1339277382289864437
sampah di saluran air 


Atau dibakar secara perseorangan:
1339277454660154814
membangkar sampah


Ada juga yang membuat seremoni “aneh”, karena topi organis yang manis berubah menjadi topi sampah sesudah dipasang bekas kemasan plastik. Umurnyapun dipastikan hanya selama seremoni berlangsung. Sesudah itu? Ya nyampahlah …….


13392775761851397865
sampah sebagai penghias caping warga, tanya: kenapa? 


Kota Bandung sebetulnya sudah mengeluarkan peraturan daerah nomor 09 tahun 2011 tentang pengelolaan sampah. Sayangnya penitik beratan tugas masih berada dipundak PD Kebersihan. Aneh memang, mengingat seharusnya ada pemerataan tugas dan kewajiban antara pemerintah , perumahan, kantor dan pihak swasta (produsen). Tanpa pembagian tugas dan sanksi yang jelas serta pelaksanaan sungguh-sungguh maka kota yang bersih dan mendukung kualitas hidup warganya , hanya sekedar angan. Penghargaan Adipura hanya mimpi belaka.

Bandung Lautan Sampah jilid 2 ditahun 2013 adalah keniscayaan. Apabila sebagai bangsa, kita tidak pernah mau belajar dari kesalahan. Raihan Adipura hanyalah target demi sekedar menaikkan gengsi semata. Seberapapun banyaknya uang digelontorkan untuk “membeli” Adipura tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan sampah. Sesederhana itu kok sebetulnya …….. ^_^

**Maria G. Soemitro**
Wrote by Maria G Soemitro

Sandi Bayu Prawira
doc : Sandi Bayu Perwira
Ketika baju seseorang kotor, apakah dia harus mengeluarkan uang untuk menjadikan baju bersih kembali atau justru menerima uang ?

Lazimnya sih dia harus mengeluarkan uang , entah untuk membeli sabun colek, deterjen, pewangi atau untuk membayar jasa cuci kiloan bahkan binatu/laundry.
 
Analogi baju kotor ini bisa menjadi pembanding ketika seseorang harus membersihkan rumahnya dari kotoran dan sampah, dia mengeluarkan biaya entah untuk membeli sapu, tempat sampah, kain pel, dan cairan pembersih lantai .

Anehnya paradigma ini ingin diubah dengan dikampanyekannya Bank Sampah. Seolah-olah proses membersihkan sampah (membuang), bisa digantikan dengan menabung di bank Sampah.
Mungkin tujuan Bank sampah adalah mengiming-imingi warga agar mau memilah sampah sehingga lingkungannya bersih. Tetapi menetapkan tujuan hendaknya jangan bersifat pragmatis tapi keadaan yang ideal untuk jangka panjang. Selain itu pertimbangkan juga efisiensi dan efektifitasnya. 


Sebelum perdebatan baik buruknya Bank Sampah, ada baiknya kita ketahui apa sih Bank Sampah ?
Penggagasnya adalah Bapak Bambang Suwerda, beliau mendirikan Bank Sampah Gemah Ripah di dusun Badegan, Kelurahan Bantul, Kecamatan Bantul DIY.
Secara temporer warga menyetorkan berbagai macam sampah yang dicatat sukarelawan-sukarelawan dalam sebuah buku Tabungan Bank Sampah. Setelah terkumpul beberapa lama, dananya baru bisa dicairkan dengan alasan apabila langsung diuangkan, jumlahnya terlalu kecil.

Sekilas ide ini brilian, sehingga banyak daerah ingin mereplikasikannya. Bahkan beberapa program lingkungan hidup di beberapa kota besar sudah melaksanakan dengan cara memberi materi tentang Bank Sampah dalam pelatihan pengelolaan sampah.

Mereka menafikan bahwa :
· Setiap daerah mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sebagai contoh program serupa jelas tidak dapat diterapkan di perumahan yang mayoritas penduduknya kaum urban yang sibuk. Bahkan para pembantu rumah tanggapun sibuk sehingga suasana guyub yang melahirkan sukarelawan-sukarelawan jelas jauh dari impian. Menurut mereka, repot amat dan gak perlu banget catat mencatat seperti itu, panggil aja tukang rongsokan yang lewat setiap jam didepan rumah, yang siap memberi layanan memilah , mengikat, menimbang dan berakhir dengan pembayaran cepat dan ……..selesai !!

· Perlu digaris bawahi perumahan urban semacam diatas lebih banyak memproduksi sampah anorganik daripada sampah organik. 

· Pelaksanaan program Bank Sampah didaerah pak Bambang Suwerdapun belum berjalan mulus, penyetornya kebanyakan anak-anak yang datang sesudah pengeras suara mengumumkan tentang acara pelaksanaan penyetoran sampah hari itu. Hal tersebut dimungkinkan karena warga masih enggan memisah sampah , bisa dibayangkan apabila pak Bambang Suwerda pindah dari desa Badegan, program Bank Sampah mungkin akan terhenti. 

· Program Bank Sampah bertolak belakang dengan pemahaman lingkungan hidup yang berkelanjutan dimana idealnya adalah zero waste atau tidak ada sampah yang dibuang dari setiap rumah tangga karena mereka wajib mengelolanya. Dan jalan menuju kesana adalah minimalisir sampah.

· Coba kita runut apa saja sih isi sampah dan sejauh mana kita bisa mengelolanya. Paling banyak pastinya adalah sampah sisa makanan dan sampah dapur, dengan mudah kita bisa mengkomposnya atau memasukkannya ke lubang biopori. Sampah kaleng, plastik, botol dan kertas bisa langsung diberikan ke pemulung atau dijual ke tukang rongsokan. Khusus kantung plastik sebaiknya dihindari karena pemulungpun ogah menerima. Cara terbaik adalah selalu membawa tas reuseable untuk belanja. Jadi dengan sedikit niat untuk memperbaiki lingkungan sebetulnya kita bisa meminimalisir sampah tanpa perlu mendirikan Bank Sampah.

· Tenaga dan waktu para sukarelawan yang mengumpulkan, menimbang dan mencatat sampah sebetulnya kontraproduktif karena banyak tenaga pemulung dan tukang rongsokan yang bisa mengerjakannya. Jadi mengapa harus rebutan lahan dengan mereka ?

Dari beberapa uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa Bank Sampah mungkin sukses di desa Badegan, tetapi tidak dapat dengan mudah diaplikasikan di daerah lain mengingat kompleksnya masalah di setiap daerah.
Untuk tujuan jangka panjang, ide pembentukan Bank Sampah jelas bertentangan dengan paham lingkungan hidup yang berkelanjutan. Setiap sisa produk yang dikonsumsi harus mudah direcycle sehingga produksi sampah rumah tangga bisa diminimalisir. Dan hal tersebut tidak mungkin terlaksana apabila kita tidak memulainya dari sekarang ! 


Ada satu kisah yang menyesakkan dada ketika saya mengikuti rombongan bapak Camat dan jajarannya inspeksi ke suatu RW (Rukun Warga) karena RW tersebut termasuk peserta lomba program Lingkungan Hidup.
Dengan menggebu-gebu pak RW dan tim PKK bercerita tentang kesuksesan daerah mereka mengelola Bank Sampah. Menurut laporan mereka hasil pemilahan dan penjualan sampah bulan lalu mencapai angka dua juta rupiah lebih, sungguh angka yang fantastis.

Karena penasaran saya bertanya :
“ Apa saja yang dipilah dan dijual bu ? Karena setahu saya orang masih sulit sulit memilah sampah, apalagi menjualnya”
“ Oh, warga disini sudah sadar untuk memilah sampah , bu.”
“ Sampah plastik ada yang membeli ? Bagaimana sampah dapur dan sisa makanan ?”
“ Oh sampah plastik terjual semua sedangkan sampah organik ditampung oleh pasar.”
“ Sekedar ditampung atau dibeli ?”
“ Dibeli bu”

Hmm, sayapun manggut-manggut heran. Karena apabila warga di daerah ini sudah mampu memilah dan mendirikan Bank Sampah yang sukses, jelas ini suatu prestasi besar.

Untunglah bukan kebiasaan saya untuk selalu mengikuti rombongan pejabat. Di suatu pengkolan tidak jauh dari tempat pak Camat berbincang-bincang dengan bawahannya, saya melihat tukang sampah lengkap dengan gerobag sampahnya.

Loh ! isi gerobag sampahnya kok sama saja dengan daerah lain yang belum memilah sampahnya.
“ Waktunya ambil sampah, mang ?”
“ Iya neng, seminggu dua kali.”
“ Kok sampah dari rumah bercampur begini mang, belum dipilah-pilah ?”
” Ya belum atuh neng, mang ajah yang misah-misahin, ada kaleng, bekas air mineral,kardus.”
“ Oh, hasilnya dijual ama emang ?”
“ Iya, kadang dapat Rp. 20.000, kadang Cuma Rp. 10.000,00, lumayanlah.”
“ Sampah dapurnya juga dijual, mang ?”
“ Ah si eneng, ya ngga atuh, siapa yang mau ? Sampah dapur ama sampah plastik begini gak ada yang mau beli neng, jadi dibuang aja ama emang.”
 
(Sampah plastik yang dimaksud tukang sampah adalah plastik bekas kemasan yang penuh dengan tulisan dan warna)

Ah, bapak RW………..ah, ibu PKK, hari gini masih ABS !!!

(bersambung)
Wrote by Maria G Soemitro



Mahasiswa di Rensselaer Polytechnic Institute, Eben Bayer, salah satu pendiri dari Desain perusahaan Ecovative yang juga penduduk Vermont menyadari bahwa perlit, sejenis kaca vulkanik yang sering digunakan sebagai komponen isolasi, juga digunakan dalam jamur tumbuh. 

Dia berpikir untuk membuat isolasi dari jamur menggunakan perlit dan  bereksperimen untuk membuktikan kebenarannya setelah lulus tahun 2007. 

Sekarang, perusahaan yang didirikannya dengan teman sekelas Gavin McIntyre - Desain Ecovative - mencoba memberikan alternatif pada pasar tidak hanya bahan isolasi organik, tetapi juga pengganti styrofoam, non-biodegradable, karbon-intens bahan yang banyak digunakan dalam pengepakan dan pengiriman. 

Keduanya baik yang dihasilkan melalui microbinding, dimana limbah pertanian lokal - termasuk soba, nasi dan lambung biji kapas dan bahan lainnya yang tinggi dalam lignin, polimer organik kompleks yang ditemukan dalam banyak tanaman - dicampur dengan sel dari jenis tertentu jamur.

 Dalam waktu sekitar seminggu, Bayer mengatakan, jamur mencerna lignin, menghasilkan matriks biologis yang kuat. Campuran dituangkan ke dalam cetakan dan kemudian dehidrasi, menciptakan produk jadi.

"Jadi pada dasarnya, kita menggunakan energi  limbah untuk menghasikan produk baru," kata Bayer.Jeff Stone, editor-in-chief dari Mycologia, sebuah jurnal yang ditujukan untuk semua hal jamur, mengatakan, "Jamur membutuhkan sumber karbon dan energi. Mereka mengkonsumsi  selulosa dari dinding tanaman, dan sekam padi sebagian besar adalah selulosa. 

"Karena Ecovative menggunakan bahan baku lokal dan tumbuh produknya dalam gelap pada suhu kamar, perusahaan mengatakan mereka menggunakan lebih sedikit energi dan lebih murah biaya produksinya dibanding  styrofoam. 

Hanya sejauh ini produksi masal belum dilakukan, perusahaan baru memasang dinding demonstrasi  menggunakan Greensulate, bahan insulasi. Dalam press releasenya , perusahaan memperkenalkan "Acorn," bahan kemasan, sebagai custom-made bagi produsen kemasan Timur Laut  pada tahun 2009.

sumber :  http://green.blogs.nytimes.com/2009/04/13/using-fungi-to-replace-styrofoam/
Wrote by Maria G Soemitro



Air minum apakah yang sekarang selalu disediakan di acara resepsi (resepsi apapun), arisan bahkan menjamu tamu ? Jawabnya pasti : air mineral dalam kemasan! Tidak hanya resepsi di gedongan, pesta pernikahan dengan organ tunggal di gang senggolpun selalu menyediakan air mineral dalam kemasan berbentuk gelas.

Seorang teman aktivis lingkungan yang ingin mengadakan pesta resepsi “semi zero waste” dengan menyediakan air minum dalam gelas beling terpaksa harus mengurungkan niatnya karena pihak catering menetapkan harga air minum dalam gelas beling 2 x lebih besar dibanding air dalam kemasan.

Benarkah air kemasan lebih murah ? Sebuah artikel berjudul Air Minum Dalam Kemasan, Beli Air atau Sampah membantu kita berhitung sebagai berikut :

Air mineral dalam gallon yang berisi 19 liter biasanya seharga Rp 9.000 – Rp 11.000. Apabila kita tetapkan berdasarkan harga termahal maka harga air mineral per ml adalah : Rp 11.000 : 19.000 ml = Rp 0.58/ml

Berapa  harga air mineral dalam gelas atau botol dipasaran ? Umumnya air mineral dalam gelas plastik @ 240 ml @ Rp 500 sedangkan air mineral dalam botol @ 600 ml @ Rp 2.000.
Padahal seharusnya air dalam gelas plastik hanya seharga : 240 ml @ Rp 0.58 = Rp 139,20 sedangkan air mineral dalam botol 600 ml @ Rp 0,58 = Rp 348.

Berarti sampah gelas air mineral yang kita beli adalah Rp 500 – Rp 139,20 = Rp 360,20 sedangkan sampah botol yang kita beli Rp 2.000 – Rp 348 = Rp 1.652. Apabila dalam sehari minimal kita membeli dan minum 2 botol air mineral, maka dalam setahun kita mengeluarkan uang 365 x 2 x Rp 1.652 = Rp 1.205.960

Tentu saja kita bisa berkilah, “Ah, Aku bisa bayar!”

Harga yang kita bayar untuk sampah plastik memang sangat murah tetapi biaya lingkungannya sangatlah mahal. 
Bahan baku plastik memerlukan proses jutaan tahun sebelum ditambang dan dipolimerisasi menjadi biji plastik. Padahal cadangan minyak bumi yang merupakan bahan baku plastik hanya tersisa belasan tahun. Hingga harga keekonomian sampah plastik yang kita beli satu dekade lagi pasti meningkat puluhan kali lipat.

Seharusnya mulai ada terobosan bahan substitusi plastik tetapi karena kiblat kita Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa santai-santai saja, kitapun ikutan nyantai.Gimana nanti sajalah !

Masalah selain ancaman harga plastik yang membumbung tinggi adalah : sampah. Sampah botol dan gelas kemasan air mineral tidak semuanya bisa di daur ulang. Diperkirakan hanya 10 % yang mampu dikumpulkan untuk didaurulang. Karena system yang memungkinkan sampah terpilih dan terkumpul sesuai jenisnya belum berlaku di Indonesia. Sehingga sampah kemasan air mineral berserakan di jalan raya (okelah, bisa terjangkau pemulung ), di sungai yang berakhir ke laut (mengakibatkan banyak biota laut mati karena memakannya). Bahkan ada teman yang paranoid sesudah melihat tontonan televisi tentang pemalsuan makanan dan minuman dalam kemasan menjadi rajin menggunting semua bekas kemasan. Yaaa….. pemulungpun ogah memulung serpihan bekas kemasan !
beakhir di sungai........
beakhir di sungai……..
Jadi apa solusinya ? Membawa tempat minum apabila bepergian sehingga tidak terpaksa membeli air kemasan. Pembeli adalah Raja. Dia adalah Penentu Pasar ! Apabila semakin banyak pemesan catering meminta air dalam gelas beling maka pengusaha catering pun akan bersaing untuk memberikan harga yang masuk akal. Karena sesuai kalkulasi diatas, bukankah harga air tanpa kemasan harusnya lebih murah ?
13011925741975424783
gelas beling berjejer di Novotel Bandung
13011928071449863670
air minum di pengajian (dok. Maria G. Soemitro)
sumber foto : disini
Wrote by Maria G Soemitro

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di setiap hari Besar, termasuk  Ramadhan dan Lebaran menjadi ajang kampanye terselubung  tokoh dan partai politik. Tulisan “Selamat Berpuasa” dan “Selamat Idulfitri” bertaburan dalam bentuk spanduk hingga merambah menjadi  iklan jor-joran di media cetak televisi.

Cibiran? Pastilah ada. Karena yang mencibir dan yang menghabiskan dana milyaran rupiah untuk iklan mempunyai hak sama dalam menyuarakan pendapat. Tetapi sebetulnya ada langkah bijak yang dapat mengganti cibiran menjadi pujian. Yaitu menyisipkan semangat peduli lingkungan dalam iklannya.  Iklan tokoh politik dengan adegan mengantongi kulit permen akan terlihat lebih smartdaripada adegan lebay lainnya. Adegan berkendaraan sepeda juga mempunyai nilai lebih dibanding adegan menanam pohon diiringi tepuk tangan cameo. Sambil menyelam minum air, sambil menebar citra mengedukasi masyarakat.

Mengapa adegan penuh semangat untuk menyelamatkan lingkungan? Karena di bulan Ramadhan dan hari Lebaran konsumsi masyarakat meningkat. Dan hukumpun berlaku. Semakin tinggi tingkat komsumsi masyarakat maka akan makin banyak sampah yang dihasilkan.

Khusus di bulan Ramadhan setiap rumah tangga akan menambah jenis dan porsi menu berbuka puasa. Lauk pauk menu utamapun sering berubah dan bertambah dengan alasan “takut lapar besok”. Demikian pula di hari Lebaran dan hari-hari libur pasca Lebaran. Begitu banyak makanan ekstra, begitu banyak jajanan.

Akibatnya tentu saja volume sampah kota bertambah. Di bulan Ramadhan, hari-hari Lebaran dan hari-hari libur Lebaran di tempat rekreasi. Kepala Dinas kebersihan DKI memprediksi sampah kota Jakartameningkat 5 - 10 % dari volume awal 6.500 ton. Di Lhokseumawe diprediksi volume sampah meningkat 35 %. Sedangkan walau Dirut PD Kebersihan Bandung memprediksi sampah “hanya” meningkat 55 ton menjadi 1.155 ton sampah yang diangkut ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA), Dinas Pengelolaan Persampahan, Pertamanan dan Pemakaman Sukabumi berani memastikan sampah yang diangkut ke TPA Cikundul meningkat 300 % menjadi 300 ton.

Perbedaan prediksi disebabkan setiap Kepala Dinas hanya menghitung berapa kali truk wara-wirimengangkut sampah dan laporan volume sampah yang diangkut. Sampah di kota besar tidak terangkut semua karena jumlah armada truk dan jarak tempuh dari TPS ke TPA yang cukup jauh menyebabkan warga kota besar terpaksa membuang sampah ke tepi jalan, sungai atau membakarnya. Tidak demikian halnya dengan kota kecil yang sanggup mengatasi masalah lonjakan sampah penduduknya.

Masalah sampah terjadi ketika sampah sudah menggunung. Metode yang diterapkan memang seperti itu : Kumpul, angkut dan buang. Sehingga ketika jumlah penduduk Indonesia melonjak setiap tahunnya dan harga bahan bakar minyak(BBM) makin membumbung, biaya tinggilah yang terjadi. Padahal sampah yang dibuang mengandung banyak potensi. Diproses menjadi pupuk, menjadi biji plastik, daurulang produk lain bahkan menjadi energy listrik.

Penyelesaian masalah sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah sendiri. Perlu peran serta masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh politik dan para ulama. Apabila setiap ulama bersedia menyisipkan pesan lingkungan di setiap tausiahnya maka bumi akan terhindar dari bencana lingkungan. Banyak sekali ayat AL Quran yang mengajak umat manusia memelihara bumi yang menghidupinya yang anehnya sering terabaikan.
Wrote by Maria G Soemitro


1331986867462421102
Rahyang mengambil desert ke dalam gelas air putih, penulis menggunakan cangkir (kanan) dok. Maria Hardayanto
Pernah datang ke acara peringatan pelestarian alam tapi di sekeliling area  penuh dengan sampah kemasan air minum, kardus snack serta wadah styrofoam? Sungguh kontradiktif. Antara  semangat diadakannya acara yang bertujuan penyadaran pelestarian lingkungan hidup dengan banyaknya sampah  seusai acara berlangsung.

Sampah berserakan dimana-mana. Umumnya di bawah kursi atau disekitar pohon. Bukan berarti tidak boleh nyampah. Tetapi bukankah panitia dan peserta acara bisa bekerjasama meminimalisir sampah?

Karena itu ketika Kompasianer  Achmad Siddik mengajak rekan-rekan Kompasianer kopdar sambil memperingati Hari Bumi, 22 April 2012 di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor.  Maka ingatan akan akhir berbagai peringatan lingkungan (Hari Bumi, Hari Air, Hari Ozon, Hari Lingkungan Hidup) yang kurang menyenangkan terulang kembali.

Umumnya sesuai kultur, tamu layak dihormati bak raja. Begitu dihormatinya sehingga nyampahpun dimaklumi. Padahal ada banyak cara menghormati tamu sekaligus mengajak mereka melakukan aksi. Tamu dan panitia bisa bekerja sama, saling melengkapi sehingga acara peringatan hari lingkungan lebih bermakna. Tidak sekedar hore-hore….  ^_^

Yang perlu dilakukan antara lain:

· Di dalam undangan dicantumkan dengan jelas agar para tamu membawa tempat minum (tumbler) dan serbet kain/saputangan kain. Gunanya untuk mengurangi sampah kemasan plastik bekas air mineral dan tisu kertas.

· Di lokasi acara, MC mengumumkan dan mengajak peserta untuk menjadikan area acara bebas sampah (zero waste event). Panitia hanya menyediakan air minum dalam gallon. Sebetulnya gelas-gelas plastik bisa disediakan, tapi bukan jenis gelas plastik sekali pakai. Panitia menyediakan label sticker agar peserta bisa memberi nama pada gelas minum. Ini untuk mengantisipasi peserta yang tidak membawa tumbler dan tentunya akan bolak-balik mengisi gelas plastik minumnya.
13319875321307856626
panitia dan peserta bekerjasama menyiapkan Zero Waste Event termasuk kotak kue sehingga tidak menghasilkan sampah
· Panitia menyiapkan makanan camilan minim sampah. Atau bahkan tanpa sampah. Misalnya risoles lebih dipilih daripada bugis yang dibungkus plastik. Atau bisakah memesan kue bugis dan nagasari dalam bungkusan daun pisang? Karena akhir-akhir ini nyaris tidak ada  makanan camilan yang berbungkus daun pisang. Lemperpun dibungkus plastik.  Padahal harga daun pisang masih tetap murah. Pertimbangan pedagang adalah praktis. Sudah waktunya sebagai pembeli, kita memilih makanan non/minim sampah. Hukum permintaan dan penawaran seharusnya berlaku. Sehingga pedagang  pasti akan menyanggupi. Mereka tahu keberlangsungan hidup usahanya sangat tergantung pada keinginan/trend pembeli.
1331987239729230453
berbagai camilan non sampah anorganik
· Apabila memungkinkan makan siang dengan prasmanan. Menggunakan piring dan sendok yang mudah dicuci. Tetapi apabila tidak memungkinkan dan pembagian makan siang harus menggunakan kardus ya apa boleh buat, asalkan jangan menggunakan wadah styrofoam yang nyata nyata tidak dapat terurai di alam.
13319878742124804677
· Panitia tidak bisa melarang peserta cilik yang ingin makan camilan berbungkus plastik . Daripada peserta membuang sampah  di sembarang tempat, lebih baik disediakan  tempat-tempat sampah berukuran jumbo dimana para peserta bisa membuang sampah anorganiknya. Pembelajaran membuang sampah pada tempatnya bisa tepat sasaran karena sampah betul-betul sudah terpisah.
13319880051657262973
· Seusai makan siang, para peserta diajak memasukkan sampah organiknya ke kotakTakakura. Apabila area acara merupakan hutan seperti Tahura Ir. Juanda, bisa dibuat lubang-lubang untuk membuang sampah organik. Anak-anak dapat dipandu dengan penjelasan bahwa sampah organik tersebut akan membantu menyuburkan tanah karena dikembalikan ke alamnya. Berbeda dengan membuang sampah organik ke tempat sampah umum yang sulit terurai karena bercampur plastik. Bisa juga menerangkan kepada mereka bahwa sampah organik yang terjebak dalam kantung kresek akan mengeluarkan gas metana. Terlalu sulitkah untuk anak? Tergantung anaknya mungkin ya? Anak SMP sih pasti mengerti.

Apa lagi ya? Yang penting memelihara lingkungan tetap bersih sebelum dan sesudah acara. Para tamu biasanya kebingungan meletakkan bekas makanannya. Sehingga panitia harus tanggap menyediakan tempat-tempat khusus menyimpan/ membuang bekas makanan dan MC rajin mengingatkan agar para tamu dengan sukarela berpartisipasi.

Zero Waste Event (ZWE) seperti diatas hanya dapat terlaksana apabila kita  adalah panitia yang mempunyai otoritas untuk mengajak para tamu beraksi nyata mengurangi sampah.
Bagaimana apabila kita adalah tamunya?

Bisa juga sih menyiasati. Dengan berbagai cara:
· Membawa tumbler tempat air minum sendiri dan menanyakan pada panitia apakah ada dispenser air mineral untuk mengisi ulang tumbler tersebut.

· Menghindari camilan yang menghasilkan banyak sampah. Khususnya sampah plastik. Tetapi kalau camilan tersebut menggiurkan dan hanya ada satu macam. Ya, apa boleh buat.

· Bersebelahan dengan desert es buah atau ice cream, biasanya ada tumpukan gelas plastik sekali pakai. Cara menyiasati agar tidak menggunakan gelas plastik sekali pakai adalah dengan menggunakan gelas atau cangkir yang sebelumnya digunakan air minum/air teh. Seperti yang dilakukan @Rahyang Nusantara dan penulis di acaraKompasiana Blogshop N5M di Bandung. Rahyang menggunakan gelas air putih untuk mengambil es buah (atau es jelly?) sedangkan penulis keluar lokasi prasmanan untuk mengambil cangkir kopi/teh sebagai wadah desert tersebut. Tidak ada gelas ataupun cangkir? Apa boleh buat, silakan pakai (hanya) satu gelas sekali pakai untuk minum dan mewadahi desert. Yang penting sudah meminimalisir sampah. Tidak boros menggunakan wadah gelas plastik.

Ribet?  …….mungkin pada awalnya akan ribet, rese dan riweuh. Tetapi apabila pernah melakukannya dan membiasakan diri di setiap event maka akan menjadi terbiasa. Khususnya apabila kita mengingat bahwa pihak catering  pasti akan menyampur sampah organik dengan sampah anorganik. Iyalah ….mereka super sibuk di hari H, jadi kitalah yang harus berperan.

Sampah tercampur  yang dibuang pihak catering dan menimbulkan bau busuk sisa makanan biasanya enggan diambil pemulung. Mereka membiarkan sampah berakhir di TPA. Di TPApun, pemulung hanya akan mengambil sampah anorganik yang “agak” bersih mengingat membersihkan sampah plastik menyita cukup waktu. Mereka pastinya enggan membersihkan plastik kotor berharga murah. Karena itu pengolahan sampah anorganik (khususnya plastik) di Indonesia baru mencapai angka 10 % dari keseluruhan sampah anorganik.

Ada satu pengalaman menarik ketika penulis menjadi ketua panitia pesta bantaran sungai. Berhubung keteteran dan anggota panitia lain belum memahami konsep minimalisir sampah dengan utuh maka penulis bersegera memilah sampah seusai acara. Sampah anorganik yang umumnya terdiri dari gelas air mineral dan kardus dimasukkan kedalam satu karung sedangkan sampah organik sisa makanan tamu yang tidak habis disantap dimasukkan kesatu wadah dan memasukkannya ke lubang resapan biopori (LRB).

Hasilnya? Area bersih dari sampah, LRB terisi bahan-bahan yang menyuburkan tanah. Anggota panitia/anggota masyarakat yang ingin menjual plastik/kardus merasa senang karena mendapat sampah anorganik bersih sedangkan anggota panitia lainnya lebih memahami makna minimalisir sampah. Karena berkontribusi dan beraksi langsung. Tidak sekadar kata dan retorika.
1331987061466124901
ibu-ibu berseragam rapipun memilah sampah dan memasukkan sampah organik ke LRB

Oiya ,kata memilah ditebalkan karena ada perbedaan arti dengan memisah.

Memisah sampah terjadi ketika kita langsung membuang sampah ke dalam tempat sampah sesuai peruntukannya: sampah anorganik, sampah organik dan sampah B3.

Sedangkan kata memilah digunakan apabila sampah sudah terlanjur tercampur sehingga di dalam tempat sampah ada sampah organik dan sampah anorganik. Karena itu biasanya pekerjaan memilah ini tidak efektif.  Selain jijik, selalu ada sampah yang terlewat untuk dipilah. Misalnya bungkus permen yang terlalu kecil “bersembunyi” dibalik daun pisang.

Zero Waste Event sejatinya bukan sesuatu yang sulit dilaksanakan, bukan pekerjaan para dewa. Terlebih sebagai produsen sampah, kita menyadari bahwa pembenahan harus dilakukan di hulu bukan di hilir. Karena ketika masalah sampah sudah berakhir dihilir maka nasibnya akan seperti banjir. Ditangani proyek tambal sulam yang tak berkesudahan. Persis gumpalan benang kusut yang sulit terurai, tidak diketahui mana ujungnya. Pihak pemerintah sebagai eksekutor dan masyarakat sebagai produsen sampah saling menyalahkan. Tanpa menyadari semua pihak berperan menciptakanlingkaran sampah.


**Maria G. Soemitro**
13319881731303479649
tempat sampah apapun, cara apapun …… asal diniatkan pasti rameeeee ……… (dok. Maria G. Soemitro)

Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates