• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah






"Setiap hari masing-masing orang menghasilkan 2,5 liter sampah," kata Menteri Lingkungan Hidup 2011-2014, Balthasar Kambuaya. Dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia, bisa ditebak bahwa total sampah per hari pastinya banyaaaaakkkkkkkk ..... sekali. Kemana berakhirnya sampah yang banyak tersebut? Jawabannya pasti beragam, bisa ke tempat sampah atau ke sungai.

Padahal siapapun tahu bahwa ada nilai rupiah dibalik sampah. Seperti yang dilakukan perempuan tua yang asyik bergumul dengan sampah ini. Mungkin terlontar pertanyaan, kok mau? Kok ngga jijik? Apa sih yang dicari? Tetapi siapapun akan kaget mengetahui bahwa dia tidak hanya memungut sampah plastik, kertas yang bisa dijual, tapi juga sisa-sisa makanan. Sisa makanan dibersihkan dari kotoran untuk kemudian disantap seketika itu juga atau disimpan. Kosa kata bau, kotor, jijik sudah menjadi bias makna. 

Perut butuh diisi, dan perolehan makanan yang menurutnya “ah, belum 5 menit” berarti menghemat beberapa rupiah dari jumlah penghasilan hari itu. Kejadian serupa tidak hanya dapat kita temukan di tempat penampungan sampah sementara (TPS) Jalan Puter Kota Bandung, tetapi juga TPS seluruh kota besar. TPS merupakan terminal sementara sampah kota yang menjadi incaran siapapun yang membutuhkan rupiah secara halal. Padahal jika sampah dipisah sejak hulu bukan saja menguntungkan ibu berbaju biru tapi juga tukang angkut sampah. Tukang angkut sampah di wilayah rukun tetangga (RT) biasanya memilah sampah semampu mungkin. Hasilnya lebih dari lumayan, bisa mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per rit.

Sayang mereka terkendala. Mereka harus mengejar waktu yang ditentukan agar hasil kerjanya mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah bisa segera dipindahkan di TPS. Ada ketentuan khusus yang harus ditaati. Seorang penarik sampah RT tidak bisa sembarangan menyimpan sampah di TPS, ada waktu khusus dan “petugas” khusus yang meminta bayaran. Merekalah yang akan memindahkan sampah dari gerobak ke kontainer sampah sebelum akhirnya dibawa ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). 

Jika demikian ritmenya, mengapa tetap ada sampah di TPS? Terbukti ibu berbaju biru bisa bergerilya mencari sampah. Oh, itu sampah diluar ketetapan. Ibu tersebut memungut sampah yang berasal dari warga yang enggan membayar iuran sampah RT. Mereka ‘berinisiatif’ membuang sampahnya sendiri ke TPS. Tidak malu, karena banyak warga lain yang melakukannya. Walau umumnya TPS Kota Bandung sudah tertutup agar nampak rapi dari luar, toh mereka tetap bisa masuk, membukanya dan membuang sampah. “Petugas” khusus tak mampu menjangkau pembuang sampah illegal. Untuk setiap kawasan ditetapkan satu TPS tertentu, untuk pembuangan penarik sampah RT tertentu, dan dengan “petugas” kontainer tertentu juga. 

Apabila aturan tidak berjalan atau semua sampah masuk ke TPS, bukan ke kontainer, maka sang ibu berbaju biru bakal tertutup gunungan sampah. Jangankan mengorek-orek sampah dengan leluasa, bernapaspun mungkin sulit karena padat dan banyaknya sampah yang masuk. 
Ibu tersebut memungut sampah yang berasal dari warga yang enggan membayar iuran sampah RT. Mereka ‘berinisiatif’ membuang sampahnya sendiri ke TPS. Tidak malu, karena banyak warga lain yang melakukannya. Walau umumnya TPS Kota Bandung sudah tertutup agar nampak rapi dari luar, toh mereka tetap bisa masuk, membukanya dan membuang sampah. “Petugas” khusus tak mampu menjangkau pembuang sampah illegal. 
Hingga disini nampak bahwa proses pembuangan sampah tidak sesederhana yang diucapkan pakar persampahan, yaitu “kumpul, angkut, buang”. Mungkin penetapan pemerintah kota demikian. Tapi kenyataan di lapangan banyak kreativitas yang tak terelakkan. Penyebabnya karena kita masih terkungkung dalam paradigma lama agar membuang sampah pada tempatnya. Padahal seharusnya paradigma jadul tersebut berhenti pada era pak Sariban, icon persampahan nasional yang hanya berharap kawasannya bersih. 


Sesungguhnya bersih hanya bonus, yang terpenting adalah pemisahan sejak hulu. Sejak sampah tercipta. Sampah harusnya dipisahkan berdasarkan kategorinya. Pemisahan lho, bukan pemilahan. Beda kata, beda arti. Pemisahan terjadi ketika sampah terjadi sedangkan pemilahan dilakukan ketika sampah sudah menumpuk. Persis seperti yang dilakukan ibu berbaju biru. Dia tengah memilah sampah organik dan anorganik, dengan tujuan mendapatkan uang. Sedangkan pemisahan dilakukan di rumah tangga karena paham bahwa sampah organik yang tercampur sampah anorganik dapat menimbulkan masalah. Sampah organik menjadi susah terurai di alam. Jika setiap rumah tangga mau memisah sampah, maka bonusnya adalah lingkungan bersih. Tidak ada sampah bertebaran di jalan-jalan utama kota dan di gang senggol yang berpotensi memberi pendidikan salah pada anak yaitu buang sampah sembarangan adalah sah-sah saja.

Sayangnya proses pemisahan sampah rupanya masih enggan diterapkan pemerintah kota. Tidak hanya Kota Bandung tapi juga seluruh kota di Indonesia. Kota Bandung nampak sibuk membeli kendaraan penyapu sampah dan truk kontainer pengangkut sampah dari TPS ke TPA. Mungkin kebijakan jangka pendek dulu agar masalah didepan mata terselesaikan. Jumlah truk sampah Kota Bandung tidak sesuai dengan volume sampah yang semakin hari semakin bertambah. Juga sampah yang bertebaran dii seantero kota, membutuhkan waktu lama sebelum kesadaran tidak nyampah meresap disanubari tiap warga kota. 
Karena itu walikota Bandung, Ridwan Kamil mengalokasikan anggaran untuk pembersih sampah jalanan. Ridwan Kamil pernah berharap para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) seperti gelandangan, pengemis dan pengamen mau bekerja sebagai penyapu jalanan, mereka mendapat upah Rp 1.400.000 per bulan. Sayangnya para PMKS menolak, mereka hanya mau menjadi penyapu jalanan jika diberi honorarium Rp 5.000.000/bulan. Tentu saja pemerintah Kota Bandung tidak sanggup, pendapatan asli daerah (PAD) mereka tidak cukup leluasa untuk membayar PMKS yang ingin mendapat upah sebesar gaji manajer


Akhirnya lowongan kerjapun disebarkan secara luas. Siapapun boleh menjadi penyapu jalanan. Bertugas sejak jam hingga jam , setiap hari dan mendapat binaan. Mungkin sang ibu berbaju biru tidak membaca pengumuman lowongan kerja tersebut. Sehingga dia harus bergumul dengan sampah. Meniadakan bau, rasa jijik dan keengganan lainnya. Serta bersaing dengan pemulung yang mengedari Kota Bandung dengan langkah-langkah cepatnya. Sejak matahari terbit di ufuk timur dan menenggelamkan diri di arah barat


Berperang dengan terik panasnya matahari tatkala nusim kemarau dan kejamnya banjir cileuncang ketika musim hujan. Berhenti melangkah merupakan kemewahan karena ratusan pemulung lain akan mengambil jatah sampah yang bersembunyi dalam tumpukan sampah dalam tong-tong sampah perumahan. Ah, andaikan setiap penghuni rumah mau memisah sampah, tentunya akan memudahkan si ibu berbaju biru dan pemulung mengais rejeki.



Wrote by Maria G Soemitro





Aduh apa yang dimaksud dengan green shopping? Itu lho belanja ramah lingkungan. Banyak istilah dalam gerakan lingkungan hidup yang terdengar agak janggal jika diterjemahkan, misalnya zero waste = nol sampah, green life style = perilaku ramah lingkungan.

Nah, green shopping atau belanja ramah lingkungan ternyata bisa mewujudkan cita-cita hidup nyaman di hari tua.  Awalnya sih merujuk nasehat perencana keuangan Safir Senduk yang menjadi pembicara dalam acara “Yuk, Kelola Keuangan Dengan Bijak” yang diadakan Sun Life Financial.  Safir Senduk  memaparkan konsep ploting pengeluaran yaitu 50 % biaya hidup, 30 % cicilan utang, 10 % tabungan dan investasi serta 10 % premi asuransi.

Masalahnya kita suka terlena mengeluarkan banyak uang  di awal bulan dan mulai  “seret” di minggu  ketiga. Penggunaan anggaran  melebihi 50 % dari total penghasilan yang ditetapkan,  sehingga terpaksa mengorbankan pos anggaran lain. Padahal semua sama pentingnya lho.

Ada 2 cara menyiasati agar tidak terjadi kebocoran, yaitu (1) menambah uang masuk atau (2) mengirit. Siapa sih yang ngga mau penghasilan tambahan? Tapi jika tidak berhasil gimana? Ya kita harus mengirit dengan cara green shopping atau belanja ramah lingkungan.

Patokan belanja ramah lingkungan adalah  3 R atau Reduce, Reuse, Recycle. Bisa  diterjemahkan sebagai Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan ulang) dan Recycle (mendaur ulang ). Sebetulnya ada R yang lain, tapiiii ….., lebih baik kita fokus pada 3 R ini saja ya?  agar tidak  riweuh*. :)

Apa saja kiat-kiat  belanja 3 R tersebut? Ini dia ……

Catatan. Sebelum mulai berbelanja kita harus  mencatat dengan teliti apa yang kita butuhkan dan mengkalkulasi total pengeluaran. Tujuannya agar kita membawa uang secukupnya dan ngga beli yang aneh-aneh. Lihat barang sale, beli. Lihat shampoo beli 2 gratis 1, beli juga. Padahal kita tahu bahwa sampo tersebut bikin gatal kulit kepala atau apalah, yang jelas ngga cocok. Akhirnya? Diserah -terimakanlah sampo tersebut pada asisten rumah tangga. Ya kalo dia cocok? Kalo ngga? Nyampah deh kita. Buang uang yang lumayan banyak. Sayang, kan?


Tas pakai ulang. Jangan lupa bawa tas pakai  ulang untuk  menyimpan barang belanjaan. Karena umumnya kantong plastik (keresek) belanja hanya akan berakhir di tong sampah. Nampaknya remeh ya kantong plastik? Ah, cuma 1- 2 lembar, apa salahnya? Bayangin  jika 250 juta rakyat Indonesia berpikiran sama, maka akan ada 250-500  juta lembar kantong plastik setiap harinya.  Dan  jangan terkecoh tas ramah lingkungan yang konon dalam beberapa bulan akan hencur karena sebetulnya hanya menjadi serpihan-serpihan plastik yang melayang-layang di udara. Kecil banget bentuknya, tapi tetap ada.  


Kardus. Jika tidak membawa tas pakai ulang, kita bisa memilih kardus untuk membawa hasil belanja. Kardus tidak hanya bisa digunakan ulang,  dijualpun bisa lho. 
Kemasan. Pilih kemasan yang bisa digunakan ulang  dan atau bisa direcycle. Misalnya kemasan body cream ini, sesudah isinya habis bisa digunakan untuk peniti, jarum pentul atau perhiasan. 

Untuk makanan pilih botol kaca yang bisa digunakan ulang atau dihias menjadi pajangan seindah ini.



Kemasan tetrapak  tidak bisa didaurulang. Sebaiknya pilih kemasan kaleng yang bisa didermakan pada pemulung atau kita setorkan pada bank sampah.


Sering membeli sayuran atau buah-buahan dalam styrofoam? Bagaimana jika kita pindahkan ke kantong plastik yang biasanya disediakan dalam bentuk gulungan? Styrofoam kita tinggalkan sebagai bentuk  penolakan akan bertambahnya sampah yang tidak bisa hancur. Lihat deh tumpukan sampah di sungai dan selokan. Banyak sekali sampah styrofoam bukan? Selain tidak bisa hancur di alam, styrofoam juga tidak bisa didaur-ulang.  Satu-satunya cara melenyapkan styrofoam ya hanya dengan dibakar.

Untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik , kita harus bijak dalam mengelola keuangan. Hanya mengeluarkan uang sesuai kebutuhan,  bukan  atas dasar keinginan.  Finish - pun  berhasil dicapai dengan selamat,  tidak  ngos-ngosan akibat kehabisan uang di tengah bulan. 


Tetapi apakah  hidup berkecukupan materi akan nyaman jika lingkungan hidup kumuh,  sampah teronggok dimana-mana? Jawabnya pasti tidak.
 Terlebih jika kita bisa  berkontribusi dengan  green shopping atau belanja ramah lingkungan yang ternyata berkorelasi mampu mengurangi sampah.
Dannnnn……, ada yang menarik, yaitu:

  • Belanja ramah lingkungan  =  menambah penghasilan. Ngga percaya? Coba deh kumpulkan kardus sisa tempat belanja, botol kaca bekas,  kaleng bekas minuman, semuanya bernilai rupiah kan?  Lumayan lho jika dijual ke  tukang rongsokan atau sebagai setoran ke bank sampah. Asyik kan?

  • Semakin boros berbelanja, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Membeli barang kan berarti  bersiap menghasilkan sampah. Jika sampah  berasal dari barang yang kita butuhkan sih ya sudah seharusnya. Tapi bagaimana dengan sampah gara-gara salah beli? Atau beli barang karena lapar mata?   Kesel ngga sih? Uang habis, eh belanjaan berakhir di tong sampah. :) 

Akhir kata, belanja ramah lingkungan merupakan  salah satu cara untuk mencapai  masa depan yang lebih baik. Tidak hanya masa depan kita sendiri tapi juga alam semesta. Bumi hanya satu, tidak dapat berkembang, apalagi beranak ^_^ ....
sehingga daya dukungnya terbatas, ada titik kulminasi bumi tidak mampu menampung sampah yang kita hasilkan.
Jadi, yuk kita jaga dengan minimalisir sampah. Demi terwujudnya kehidupan bumi yang berkelanjutan dan masa depan cerah yang kita harapkan.

Catatan:
Riweuh* = kesulitan


Sumber gambar :
Greenway.org
Greenbags.com
arfny.com 
Meerakatja Glass Art Painting






Wrote by Maria G Soemitro


“Yang ini menunjukkan bahwa gas dari BSO terisi sedangkan yang itu menunjukkan gas yang berasal dari wc atau kotoran manusia”, kata pak Andre sambil menunjukkan dua lajur pipa putih yang menempel di tembok di atas kompor dan menampakkan isinya yang berwarna biru sedang bergerak-gerak naik turun. Pipa berisi gas tersebut mengingatkan saya pada tensimeter ketika sedang menuju keseimbangan.
“Apa artinya BSO sih pak?”
“Biodigester Sampah OrganiK”

“Ooooo”, bak koor serempak kami menjawab. Hari itu saya dan 4 ibu-ibu anggota komunitas Kendal Gede Kreatif mengunjungi bengkel pak Andre, seorang praktisi biodigester. Mungkin istilah bengkel terlalu kecil karena di tanah 4 Ha di jalan Sukawangi Kampung Nyingkir, pak Andre membangun 3 area usaha yang nampak berbeda tapi saling terkait. Di bagian kanan tampak deretan kamar mandi dan kakus (WC) tempat kotoran manusia ditampung dan dialirkan gasnya ke dapur yang saya lihat tadi. Hanya di area tengahlah bengkel sesungguhnya juga kantor dan ruang-ruang pertemuan yang asri. Sedangkan di area kanan terdapat deretan bangunan beratap ijuk yang menurut pak Andre direncanakan untuk pabrik tahu. Tentunya gas limbah tahu dapat digunakan sebagai bahan baku memasak. Menakjubkan, percobaan berbagai energi terbarukan yang keren di kawasan Bandung Utara.

Sebelumnya, saya hanya mendengar bahwa kotoran manusia bisa menjadi gas untuk memasak, juga sampah organik seperti kotoran ternak, sayuran bekas memasak atau sisa makanan dan beragam sampah organik lainnya: daun, rumput dan lain-lain. Tetapi baru kali itulah saya berkesempatan melihat sendiri prosesnya dan hasil akhirnya yaitu api biru tak ubahnya gas elpiji yang kita gunakan sehari –hari.
Prosesnya gampang-gampang susah. Gampang karena sebetulnya itu proses alami. Susah karena kita terbiasa gaya hidup instan, terbiasa menikmati hasil pembelian barang tanpa peduli prosesnya. Asalkan punya uang ya tinggal beli dan langsung nikmati hasilnya.
Proses penggunaan biodigester tidak sesederhana itu. sampah organik yang dimasukkan ke dalam instalasi harus diendapkan kurang lebih sebulan-2 bulan lamanya. Waduh, serentak kami ber-5 protes. Walau jika dipikir iya juga sih, proses mengompos sampah organik kan membutuhkan waktu selama itu juga? Masa sekarang ingin memasukkan sampah dan besok sudah menjadi gas siap pakai? Emangnya sulap?

Namun demikian jika tangki biodigester ini telah siap, maka setiap hari akan menghasilkan gas methan, bahan baku memasak. Asalkan rajin mengisi nya dengan sampah organik. Justru di awal masa penggunaan, kita belajar memisah sampah agar tidak ada plastik masuk tabung biodigester. Karena setelah terbiasa memisah sampah, rasanya kok gimana gitu jika harus menyampur sampah lagi. Akhirnya yang terpenting kebiasaan harus berubah ya?
Berapa jumlah sampah yang diperlukan perharinya? Tidak ada patokan, natural aja seperti kebiasaan sehari-hari, jangan maksa-maksain, tapi juga jangan malas. Lebih baik sedikit tapi sering (setiap hari) daripada langsung banyak misalnya seminggu sekali karena tidak hanya hasilnya tidak sempurna tapi juga menimbulkan bau yang membuat orang malas mengoperasikan bioigester lagi.


Pak Andre menerangkan bahwa sebetulnya kandungan air dalam sampah organik kita sangat tinggi, mencapai 90 %, ditambah air yang diguyurkan kedalam tangki sesudah memasukkan sampah dapur maka proses yang terjadi  dalam biodigester menjadi lancar hingga hasil akhir wes ewes bablas sesuai peruntukannya.
Saya membayangkan didalam biodigester itu ada mikroba yang membutuhkan makanan dan mengeluarkan gas serta cairan setelahnya, gas itulah yang ditangkap kemudian masuk pipa khusus untuk dialirkan ke dapur sedangkan cairan yang dinamakan slurry akan keluar ke dalam wadah khusus. Slurry ini menjadi pupuk organik yang kaya gizi bagi tanaman. Tak heran sayuran di sekitar lokasi nampak subur, ada terong, seledri, bawang putih, bit dan masih banyak lagi.



 Di dekat ruang pertemuan tampak vertiminaponik yaitu pembudidayaan ikan sekaligus tanaman sayuran. Terlihat instalasi dimana satu wadah berisi lele, sisa pangan lele dan kotoran lainnya dialirkan menuju talang-talang hidroponik untuk memberi nutrisi sayuran. Sehingga sayuran tidak membutuhkan pupuk AB mix seperti umumnya hidroponik. Menyenangkan bukan rangkaian eksperimen yang dilakukan pak Andre ini.

Pada tahun 2015, Kota Bandung mendapat hibah 100 biodigester dari pengusaha Arifin Panigoro, tahun berikutnya sekitar 1000 biodigester konon akan dibagikan ke masyarakat. Andaikan berhasil , 50 % sampah Kota Bandung bakal teratasi karena sekitar itulah jumlah sampah organik. Tentunya dengan syarat penggunanya paham bahwa pengoperasian biodigester tidak sama dengan elpiji. Manfaat utamanya bukan gas tapi rumah yang bersih dari sampah dan eratnya silaturahmi karena anggota masyarakat bertemu dan saling berbagi. Adanya gas sebagai bahan baku memasak hanyalah bonus terlebih gas yang dihasilkan hanya cukup untuk memasak selama 1-2 jam. Tergantung kapasitas biodigester. *Maria G Soemitro*



Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates