• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah






BBB besutan Melly Gowslaw tiba tiba terlintas ketika saya berjalan di sepanjang trotoar Kerapitan dan melihat papan nama toko B&B.  Bedanya BBB disini bukan singkatan Bukan Bintang Biasa yang digawangi Rafi Ahmad, Ayushita, Chelsea Olivia, Laudya Cinthya Bella dan Dimas Beck, melainkan  BBB singkatan dari Barang Bekas Berkualitas. 

Jauh banget ya? Yang satu tentang aktor dan aktris yang unjuk kabisa menyanyi sedangkan satunya lagi tentang nama toko barang bekas yang ‘maunya’ berkualitas. Benang merahnya adalah adanya yang dijual yaitu BBB nya Melly Goeslaw jualan suara sedangkan BBB nya Kerapitan 48 jualan barang bekas. Lha maksa banget ya nyama-nyamainnya??   …  ^-^

B&B memang menarik untuk diulas. Saya baru ngeh keberadaannya setelah beberapa waktu lalu mencari perlengkapan aquarium. Padahal saya sudah mewawancarai lapak sederhana di pinggir jalan Cihapit dan destinasi ekslusif jualan barang bekas bernama BABE. Bahkan Bandung info lupa memasukkan keberadaan deretan toko penjual barang bekas di jalan Kerapitan ini.

Berbeda dengan BABE, pegawai toko B&B ramah dan informatif, mereka tidak mempingpong saya untuk mendapatkan data. Berikut penjelasannya tentang syarat dan ketentuan penitipan barang bekas disini: 


  • Barang yang hendak dititipkan akan ditaksir oleh team penilai dan hanya diperbolehkan memberi harga setinggi-tingginya 50 % dari harga barang baru.
  • Khusus baju, setiap kantong hanya diizinkan berisi 20 pcs. *Mungkin untuk meminimalisir penyelundupan baju cimol disini ya?*
  • Penitip diwajibkan membayar Rp 7.000 untuk masa penitipan 5 hari, 15 hari, 30 hari dan dapat diperpanjang maksimal 2 kali. *Iyalah, tempatnya padat banget, jika tidak diatur pastinya toko hanya menampilkan barang yang itu-itu aja serta tidak bisa menerima barang baru. Sementara pengunjung pastinya berharap melihat barang bagus dan berganti – ganti tampilannya. Hingga akhirnya dia akan datang lagi dan lagi.
  • Komisi penjualan sebesar 18 % untuk setiap barang yang berhasil dijual B&B.
Ya win-win solution bagi mereka yang ingin menjual barang bekasnya tanpa riweuh. Asalkan berkualitas. Berkualitas ini digaris bawahi B&B karena menurutnya barang bermutu rendah hanya akan berakhir di tong sampah sedangkan barang berkualitas tinggi akan semakin dicari orang. 

“Mending beli barang  berkualitas seharga Rp 1 juta deh daripada 10 barang murah seharga Rp 100 ribu yang dibeli hanya untuk gonta ganti,” jelas Dewi, petugas B&B, “ karena bisa dijual lagi disinii dengan harga lumayan”.


Iya juga ya?  Bisa dijual lagi dengan harga bagus adalah satu hal tetapi yang terpenting adalah pembelian barang berkualitas mengurangi  SAMPAH, karena bisa digunakan untukk waktu lama. Juga peluang barang berkualitas menjadi sampah lebih kecil dibanding 10 barang KW. 

Bagaimana jika daya beli kita hanya mampu membeli barang KW? Jawabannya ada disini

Hunting barang bekas ternyata tidak melulu masalah harga, calon pembeli bisa mencari  barang yang dibutuhkan yang sudah tidak tersedia di toko barang baru karena limited edition.  Atau sekedar jajan mata ^-^ …   Ngga percaya? Silakan datang sendiri ke B&B  dijalan Kerapitan nomor 48 Kota Bandung. Mereka buka dari jam 09.00 hingga pukul 21.00 malam. Ada banyak barang yang dipajang dalam satu toko, dijamin seruuu …  ^^

B & B, jl Kerapitan 48 Kota Bandung


Wrote by Maria G Soemitro


 
lapak pak Aa

Tahu dong tentang Bandung Berkebun? Yaitu gerakan memanfaatkan tanah terlantar untuk urban farming atau kegiatan berkebun di perkotaan. Ide yang dilontarkan pak Ridwan Kamil ini mendapat sambutan hangat dari kawan-kawannya yang segera mewujudkan pada tahun 2010 di Kota Jakarta.

Bandung sebagai kota kedua setelah Jakarta, mewujudkan kegiatan berkebun rame-rame ini pada tahun 2011. Lokasi yang dipilih terletak di jalan Sukamulya Indah, tidak jauh dari rumah tinggal pak Aa yang akhirnya didaulat untuk menjaga lahan Bandung Berkebun tersebut. Tujuannya  agar lahan pertanian ada yang nyiram dong. Kan petani urbannya hanya datang seminggu sekali. Kebetulan pak Aa jebolan SMK Pertanian yang bekerja sebagai pegawai honorer dinas kebersihan Kota Bandung. Sehingga ketika gaung berkebun mereda, pak Aapun meneruskan tugasnya seperti sedia kala.

Selain semua kegiatan diatas, bapak Aa membuka lapak pengepul dengan menyewa tanah. Di atas tanah tersebut pak Aa membuat bangunan temporer , tempatnya menerima sampah anorganik dari tukang sampah , ibu rumah tangga yang langsung menjual sampah anorganiknya serta bekerja sama dengan bank sampah Motekar.

Persaingan bisnis sampah yang ketat membuat pak Aa harus rela melepaskan lahan  yang disewa karena ada penyewa lain yang sanggup membayar lebih mahal dibanding pak Aa. Sehingga pak Aa harus sukarela memindahkan bisnisnya ke area Bandung Berkebun. Dan jadilah lapak pak Aa dipenuhi  pot-pot tanaman hias disana-sini. Unik bukan?

Sayang, seperti kisah David dan Goliath, pak Aa bak David yang tidak memiliki ketapel untuk bersaing dengan Goliath. Usaha persampahannya tidak selancar dan sesukses Goliath yang memilki modal, berani membeli sampah anorganik warga dengan harga tinggi serta membekali bisnisnya dengan mobil pengangkut sampah anorganik yang bisa menjemput bola mengambil sampah di kawasan lain.

Ada 2 stategi agar pengepul bisa lancar jaya mengumpulkan sampah anorganik dengan waktu singkat. Karena time is money benar benar berlaku disini. Semakin cepat mengumpulkan barang rongsok/sampah anorganik maka perputaran modal akan semakin cepat sehingga profit yang diterima lebih besar. Yaitu: 


  • Memberi modal pada beberapa tukang rongsok yang akan mencari sampah anorganik dan disetorkan ke lapaknya. Tukang rongsok ini umumnya tidur di bedeng-bedeng yang disediakan pengepul, mendapat pinjaman gerobak roda untuk mengangkut sampah anorganik serta sejumlah uang untuk membeli sampah anorganik dari rumah tangga.

  • Memiliki mobil untuk mengangkut barang yang bertugas mendatangi pengepul kecil, membeli sampah anorganik dari mereka untuk kemudian dijual lagi ke Bandar besar yang membeli dan memproses sampah anorganik tertentu, misalnya Bandar sampah kertas tentunya berbeda dengan Bandar sampah plastik. 

Pak Aa merupakan kelompok pengepul kecil yang hanya berhasil mengumpulkan sampah seminggu sekali, berbeda dengan pengepul besar yang sanggup bertransaksi dengan Bandar besar setiap hari.

Lapak-lapak pengepul kecil seperti milik pak Aa akan tumbuh mengembang jika di kawasan tersebut berdiri bank sampah. Sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Adalah salah jika suatu bank sampah berkegiatan seperti pengepul , misalnya  memproses sampah bekas air mineral. Karena itu domain pengepul bukan bank sampah. Bank sampah memiliki tugas yang lebih mulia yaitu terlibat dalam rekayasa social membantu warga memisah sampahnya.  

Ingin berkunjung ke lapak pak Aa? Silakan mengunjungi bekas lahan Bandung Berkebun yang kini ditanami sayuran oleh warga. Pak Aa menghuni lahan di sebelahnya. Yaitu di jalan Sukamulya Indah 6-5 Bandung.



Wrote by Maria G Soemitro


 
lapak pak Herry

Manisnya  bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-segan menggelontorkan modal yang antara lain diperlukan untuk
1.    Membeli kendaraan pengangkut sampah anorganik  dari lapak-lapak kecil ke Bandar
2.    Membayar honor pekerja pemisah sampah anorganik
3.    Menyewa bedeng tempat tinggal dan membeli gerobak dorong untuk tukang rongsok sebagai ujung tombak pengumpul sampah anorganik dari rumah ke rumah.

Mereka umumnya berasal dari luar Kota Bandung. Aneh bukan? Ya, sumber daya manusia yang berkecimpung di persampahan umumnya bukan berasal dari Bandung. Mereka bekerja sebagai:
1.    Tukang sampah kota. Tau kan? Itu lho bapak atau ibu yang rajin menyapu jalan jalan protokol,  taman. Mereka umumnya dibayar perusahaan outsourcing atau langsung dibawah dinas kebersihan. 
2.    Tukang rongsok. Mereka datang dari luar kota Bandung dan tidur di bedeng-bedeng yang disiapkan pengepul. Mendapat pinjaman gerobak terkadang mendapat pinjaman modal untuk membeli sampah anorganik juga.
3.    Karyawan pengepul. Mayoritas mereka berasal dari luar Kota Bandung, mungkin karena upah yang ditawarkan terlalu murah sehingga warga kota Bandung enggan berkecimpung menjalani ke-3 profesi ini. Mereka biasanya mengambil tugas sebagai tukang sampah di wilayah kediamannya, atau bahkan manjadi pengepul seperti pak Herry dan pak Aa yang menjadi pengepul di wilayah Kendal Gede.

Keberadaan pak Herry yang memiiliki kendaraan pengangkut sangat membantu pengepul kecil seperti tehTita. Karena tanpa mengeluarkan biaya transportasi, sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan, dibeli oleh pak Herry (pengepul besar). Dan berlakulah hubungan  simbiose mutualisme.

Ditemui di lapaknya di jalan Sukamulya Indah , pak Herry tampak bersenda gurau dengan karyawannya yang sedang memilah sampah. Nyaris tak berjarak, mungkin karena menyadari bahwa jika mereka tak bekerja dengan rajin maka penghasilan yang diterima pak Herry tidak cukup untuk membayar upah karyawan.

Sebagai newbie, bagaimana kiat pak Herry menguasai medan persampahan yang awalnya asing? Rupanya pak Herry memiliki tangan kanan yang paham seluk beluk dunia bisnis persampahan sehingga mereka bisa bergandeng tangan menekuni bidang ini. Para pelakon persampahan dengan mudahnya menilai harga sampah anorganik hanya dengan melihat dan memegang suatu sampah misalnya plastik, suatu jenis sampah anorganik yang paling banyak ragamnya.

Seperti diketahui jenis plastik dibedakan sesuai dengan bahan pembentuknya yang membantu plastik bersifat lentur atau justru sebaliknya rigid dank eras. Jenis plastik bisa diketahui dari logo yang nampak  sebagai berikut :



Lumayan ribet bukan? Lebih jelasnya saya copas dari blog alamendah berikuT; 

PETE atau PET (polyethylene terephthalate); Kemasan plastik ini diberi label atau kode angka “1” dalam segitiga. Kode ini biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih, transparan, tembus pandang seperti botol air minuman kemasan, minyak goreng, selai peanutbutter, kecap, dan sambal.
Kemasan dengan kode ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan dipakai untuk menyimpan air hangat apalagi panas. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang.
HDPE (high density polyethylene); Plastik dengan label angka “2” dalam segitiga. Kode ini biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain.
HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.
Kemasan berlabel HDPE direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian karena proses pelepasan senyawa antimoni trioksida akan terus meningkat seiring waktu.
V atau PVC (polyvinyl chloride); Kemasan plastik berlabel angka “3” dalam segitiga. Plastik berbahan PVC (polyvinyl chloride)
merupakan plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol.
Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC (polyvinyl chloride)
berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan
LDPE (low density polyethylene); Plastik jenis ini mempunyai kode angka “4” dalam segitiga. Kemasan plalstik berbahan LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek.
Barang-barang dengan kode ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang ini bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
PP (polypropylene); Kemasan ini berlabel angka “5” dalam segitiga. Kemasan berbahan PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama sebagai tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum (termasuk botol minum untuk bayi).
Karakteristik kemasn plastik dari bahan polypropylene adalah transparan yang tidak jernih atau berawan tapi tembus cahaya, serta tahan terhadap bahan kimia, panas dan minyak.
PS (polystyrene); Kemasan ini berlabel angka 06 dalam segitiga dan biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll.
Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
Other; Kemasan ini berlabel angka 7 dalam segitiga. Kemasan plastik ini biasanya terbuat dari SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), PC (polycarbonate), dan Nylon. Dapat ditemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan.

SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. PC (Polycarbonate) dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng k kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.

 SAN dan ABS dapat digunakan untuk tempat makanan. PC Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman
Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas.



Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates