• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah



 
lapak pak Agus

Saya sangat beruntung mengikuti survey #bebassampah.id, karena lika likunya membawa kepemahaman bahwa  kriteria tidak bisa diterapkan secara zakelijk (*sok bahasa londo nih, ^^) . Selalu ada pengecualian-pengecualian. Demikian pula pelaku binis sampah, tempat usahanya tidak selalu murni mengindetifikasi sesuatu dan pelakunya juga tidak bisa dikategorikan secara utuh. Misalnya pelaku bank sampah bisa juga merupakan unit usaha kerajinan, atau tempat pengomposan bisa juga merupakan pelaku bank sampah.

Contoh nyata dilakoni pak Agus, seorang pengepul yang lapaknya terletak di Sekemirung A17. Ternyata dia tidak hanya pengepul tetapi juga tukang sampah atau orang yang mengambil sampah ke rumah-rumah. Agar lebih jelasnya para kontributor sampah rumah tangga (khususnya sampah anorganik) adalah sebagai berikut:

  • Ibu rumah tangga/asisten rumah tangga, yaitu mereka yang telah peduli memisah sampah sejak dari lingkungan rumah tangga, sejak produksi sampah terbentuk. Mereka punya otoriter untuk meminta anggota keluarganya memisah sampah organik dan sampah organik. Setelah sampah anorganik cukup banyak, mereka menyetor sampah anorganik ke bank sampah atau dijual langsung ke tukang rongsok atau bisa juga langsung ke pengepul.

  • Tukang rongsok, yaitu pengumpul sampah dari rumah, kantor, toko, sekolah atau unit lainnya. Setelah cukup banyak, sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan akan dijual ke pengepul atau ke bandar besar, tergantung seberapa jauh keterikatan tukang rongsok tersebut. Karena banyak diantara mereka bekerja untuk pengepul/bandar, tentunya tanpa perjanjian hitam diatas putih. Ya semacam outsourcing yang kini sedang dipermasalahkan kelompok buruh. Praktek outsourcing ternyata sejak dulu telah tumbuh secara alami, hanya kini dilegalisi melalui undang-undang ketenagakerjaan.  
  • Tukang sampah, yaitu pekerja yang diupah sesuai kesepakatan dan dari hasil iuran retribusi sampah setempat, biasanya penetapannya dilakukan oleh ketua rukun warga (RW), berlaku untuk setiap rukun tetangga (RT) yang akan mengkoordinir iuran sampah, hari pengambilan sampah dan jasa pembayaran pengambilan sampah. Tukang sampah biasanya adalah warga kawasan tersebut, tapi bisa juga dari daerah lain. Tukang sampah inilah yang mendapat rezeki nomplok jika ibu rumah tangga/asistennya peduli sampah sehingga sampah yang dibuang ke tempat sampah telah terpilah. Atau justru apes jika hunian yang menjadi tanggung jawabnya tidak peduli sampah sehingga dia harus menarik sampah yang memenuhi gerobak sampahnya dengan susah payah karena penuh, padat, berat dan jarak yang harus ditempuh cukup jauh. 
  • Pemulung, yaitu tenaga freelance yang incomenya sangat tergantung rajin/uletnya dia. Tidak akan ada yang memarahi jika dia enggan bekerja. Sangat berbeda dengan tukang sampah yang mendapat honor setiap bulannya bukan? Coba saja dia enggan mengambill sampah dari rumah ke rumah, wuaduh bakal marah-marah deh ibu-ibu kita yang tercinta. Karena bau sampah pasti menguar busuk.

Bisa terlihat bahwa peranan rumah tangga dalam memisah sampah amat vital dan manfaatnya sangat signifikan. Jika seluruh rumah tangga yang berada di Kota Bandung memisah sampahnya (baik karena peraturan maupun disebabkan kesadaran sendiri) , maka pemerintah kota bisa focus membuat program pengelolaan sampah organic seperti pengomposan atau penyediaan biodigester yang menghasilkan gas untuk memasak.

Ah, kita kembali ke pak Agus, salah seorang pengepul yang rangkap jabatan menjadi tukang sampah.  Mengaku gaptek dan tidak memiliki ponsel seperti layaknya semua warga urban, pak Agus ternyata kaya informasi. Dengan cara sederhana dia menerangkan proses pemilahan sampah yang ternyata cukup ribet. Ribet karena produk didesain menggunakan beragam jenis bahan baku. 

Contohnya jenis plastik botol air minum dalam kemasan dibawah ini berbeda dengan jenis plastik tutup botol dan plastik tanda merk disematkan. Berbeda juga dengan beragam botol plastik berwarna.

Plastik air minum dalam kemasan putih bening ini jika dijual dengan tutupnya maka hanya akan dihargai Rp 1.500/kg, sama dengan botol plastik berwarna disebelahnya.
Sedangkan jika tutup botol dan plastik tempat merk produk dilepaskan maka harganya menjadi Rp 3000/kg. jauh banget disparitas harganya bukan?


botol putih bening akan diolah menjadi biji plastik berkualitas lebih tinggi


Ada yang lainnya, menurut pak Agus kaleng bekas minuman yang harganya tinggi adalah  yang kanan (sampah kemasan minuman berenergi) karena termasuk alumunium. Sedangkan kaleng bekas susu (kiri atas), harganya 'kebanting' jelas pak Agus.

beragam sampah yang berbeda proses daurulang dan harganya


Demikian juga kertas kardus. Yang dinamakan kertas kardus adalah contoh kiri bawah sedangkan kardus bekas makanan (kanan bawah) akan diproses menjadi kertas daur ulang kualitas rendah karena itu harganya amat murah. Terlebih sampah kemasan cairan kotak antiseptik yang terkenal dengan tetrapak dibawah ini, sama sekali tidak harganya, jadi tetap dibuang ke TPS sebagai sampah.



Nah trus gimana dong menyikapinya? Ya, cara yang termudah dengan menggunakan tumbler air minum. Karena tidak nyampah ^_^   ………, (wah, itu mah semua juga tau ^_^ ).
Sama seperti teh Tita, pak Agus juga menerangkan jenis-jenis plastik yang tidak laku dijual karena itu sebaiknya dihindari. Bukan saja menimbulkan sampah tetapi juga jenis plastik seperti ini bukan foodgrade, sementara produsen dan konsumen sama-sama tidak tahu. Bahan baku plastik tersebut bisa saja dari plastik daur ulang atau plastik yang termasuk dalam zona merah untuk digunakan sebagai wadah makanan.

Oh ya, selain berprofesi sebagai tukang sampah, pengangkut sampah RW yang dibayar oleh RW setempat, pak Agus sekarang juga merupakan anggota kebersihan kelurahan Cigadung yang mendapat honor dari kecamatan Cibeunying Kaler. Double income deh dia, ditambah menjadi pengepul triple dong ya? Tentu saja ada konsekuensinya, sekarang pak Agus hanya bisa menjual sampah anorganiknya sebulan sekali. 

Cara menemukan lokasi pak Agus dan teh Tita cukup mudah karena Sekemirung merupakan wilayah kelurahan Cigadung. Tepatnya di jalan Cigadung Timur, di sebelah masjid Al Muqorobin  terdapat gapura yang menerangkan kawasan RW 10, silakan masuk. Setelah lapak mi bakso yang lezat,  belok kanan dan silakan tanya keberadaan pak Agus tukang sampah karena kawasan padat penduduk umumnya mudah menemukan alamat seseorang.


Wrote by Maria G Soemitro


Ibu Odang dan kreasinya


Penduduk Sekemirung sungguh beruntung. Berbeda dengan kawasan lainnya, disini banyak ditemui pelaku kerajinan limbah kopi/limbah kain perca/keresek, juga pengepul dan bank sampah. Sehingga memudahkan mereka yang mulai peduli memisah sampah serta ingin  berkontribusi langsung. Sungguh kontras dengan wilayah lain yang hanya ditemukan 1 pengepul atau 1 perajin dengan jarak yang sangat berjauhan.

Salah satu pelaku kerajinan limbah kopi di Sekemirung adalah ibu Odang, yang kebetulan bukanlah penduduk asli Sekemirung, melainkan ‘imigran’  dari Taman Sari, suatu kawasan yang dibongkar dan berubah bentuk  menjadi sarana olah raga dan gedung Sabuga.
Ada benang merah dari kedua kawasan tersebut yaitu sama-sama memiliki mata air yang terancam punah seiring bertambahnya penduduk serta ketidakpahaman dalam melestarikan mata air.

Ibu Odang berkisah, kawasan Taman Sari – Siliwangi dulu masih sangat asri, dia ikut kegiatan PKK kelurahan dan melestarikan kawasan dengan bercocok tanam. Ada banyak tanaman hias yang harus ditinggalkannya tatkala ‘bedol deso’ dan pindah ke daerah Sekemirung (seke = mata air, Mirung = pohon Mirung).

mata air di Babakan Siliwangi


 
mata air Sekemirung
Tak heran, rumah mungil yang dihuninya kini di Sekemirung sungguh asri. Selain pohon mangga yang menjulang tinggi, beragam tanaman hias memenuhi teras rumah, membuat sejuk area sekelilingnya yang tandus karena kini penduduk urban rupanya allergi bercocok tanam.

Tidak hanya bercocok tanam, Ibu Odang juga rajin mengumpulkan limbah sachet dari kerabat, pemilik warung dan pegawai kantor kelurahan/kecamatan. Limbah tersebut dikreasi menjadi beragam produk, seperti bros dari limbah kain perca serta tas, dompet yang terbuat dari limbah sachet.

Ibu Odang juga tekun mengumpulkan limbah kemasan pewangi baju, sabun pencuci peralatan rumah tangga yang dijahitnya menjadi tikar plastik. “Sejak dulu saya ngga bisa diem, kalo lihat kerajinan baru, pasti saya perhatikan, saya coba buat dan biasanya lama kelamaan bisa”.

Wah rupanya pelaku kerajinan di kawasan Sekemirung adalah ibu – ibu yang cerdas dan tekun, karena tanpa pelatih mereka mampu merangkai limbah menjadi beragam produk multi fungsi.

Selain membuat kerajinan limbah kertas, ibu Odang juga menyiasati sisa-sisa kain dari home industry kaos yang banyak terdapat di kawasan Sekemirung, juga sisa-sisa berjenis-jenis kain perca lainnya untuk menjadi beragam produk seperti boneka, tas, asesories dan sajadah.

Tertarik ingin membeli atau  berlatih kerajinan pada Ibu Odang? Silakan datang ke daerah Sekemirung A25, Kelurahan Cigadung Kecamatan Cibeunying Kaler, dengan senang hati pastilah Ibu Odang dan kawan kawan akan mentransfer keahliannya. Tertarik?   

Ibu Odang dalam salah satu pameran

Ibu Odang bersama ibu Netty Heryawan, istri Gubernur Jawa Barat

Wrote by Maria G Soemitro


 
kerajinan limbah kopi

Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipanggil ceu Eutik. Ceu Eutik tinggal bersama suami, anak dan cucunya di kawasan Sekemirung, tempat dulu ada pohon Mirung besar menaungi mata air (seke). Sayangnya sekarang pohon Mirung tersebut sudah ditebang. Keberadaannya haru stersingkir karena manusia lebih memerlukan lahan.

Ceu Eutik


Ceu Eutik perempuan sederhana nan cerdas. Dia berhasil membuat kerajinan limbah kopi dengan hanya dengan memperhatikan cara membuatnya. Tidak pernah ada yang mengajari langsung, jadi benar-benar otodidak karena ingin mahir membuat kerajinan limbah kopi.

“Semua orang pasti bisa ini mah, asal tekun ajah”, jelasnya. Pendapat ceu Eutik tentu saja benar banget,  siapapun yang mau belajar dan belajar, pasti berhasil.
Kemudian sambil ngemong cucunya yang cantik, Marisa, ceu Eutik pun menerangkan cara membuat kerajinan limbah kopi.

1.    Limbah kopi direndam dengan air sabun, kemudian dicuci bersih.
2.    Direndam dengan pewangi
3.    Dijemur dengan cara membalikkan agar limbah sachet mudah kering.
4.    Setelah kering, limbah sachet bisa segera dianyam


bahan baku kerajinan
 


bahan baku kerajinan


Penjelasan cara membuat kerajinan limbah kopi dapat dilihat disini.



Kisah penjualan kerajinan limbah kopi sendiri tidak seindah yang ditayangkan dan diberitakan. Alasannya bisa diklik ditulisan saya sebelumnya : Ibu Yati danKerajinan Limbah Kopi.

Berbeda dengan ibu Yati, walaupun sederhana, ceu Eutik memiliki ruangan yang agak luas untuk menyimpan bahan baku dan hasil kerajinannya. Walau penjualan hasil kerajinan limbah kopi tidak jauh berbeda dengan ibu Yati.  Rata rata hanya dibeli karena ingin tahu, belum pada tahap bangga ketika menggunakannya.

Jika ingin bertemu Ceu Eutik silakan mengunjungi yang bersangkutan di Sekemirung 45 C, Kelurahan Cigadung Kecamatan Cibeunying Kaler Kota Bandung, telepon:  089626452054, karena ………, ya ampun saya dan ceu Eutik asyik ngobrol soal kemasan , eh rupanya cucu Ceu Eutik,  Marisa asyik cuci piring. Anak manisssss…..   ^_^

Marisa asyik cuci piring


Marisa protes




Wrote by Maria G Soemitro


 
kerajinan limbah kopi

Pemirsa televisi yang setia pasti sudah akrab dengan kerajinan kemasan plastik atau limbah sachet bekas kopi atau lebih sering disebut kerajinan limbah kopi. Di Kota Bandung, perintis kerajinan limbah kopi adalah almarhum Ibu Iyom, seorang perempuan paruh baya yang bersama 2 orang temannya mendapat kesempatan belajar membuat kerajinan tersebut dari Pusdakota Surabaya, yaitu Ibu Jajang dan Ibu Eti. Mereka tinggal di  kawasan Taman Sari dan bongkarannya.

Ada yang rancu dengan pemahaman kerajinan limbah kopi. Banyak yang menganggap bahwa hasil kerajinan limbah kopi sangat menguntungkan secara financial. Karena itu banyak yang mendramatisir  kisah ini, baik media cetak maupun media elektronik. Beberapa tahun silam hasil kerajinan ini dengan mudah kita temui di gerai-gerai supermarket ternama, merupakan hasil kerjasama beberapa  LSM , produsen penghasil limbah sachet dan supermarket tersebut. Hasilnya? Sayang sekali sangat  menyedihkan, karena:

  • Stigma bahwa kerajinan ini berbahan baku sampah, benda yang harus dijauhi, dibuang atau minimal disingkirkan jauh-jauh. Lha ini kok digunakan sebagai bahan baku tas, males dong.  Limbah kopi memang sampah tapi sejak awal sachet kemasan (mayoritas kopi) diperlakukan berbeda dengan sampah umumnya yaitu langsung dipisah dari kopi dan dimasukkan kardus/kantong plastik/keresek.
  • Hasil kerajinan sampah haruslah murah. Sementara pengerjaan kerajinan limbah sachet memakan waktu.  Perajin harus membersihkan (mencuci dan mengeringkannya) dari  sisa kopi/ minuman lainnya. Juga harus membeli bahan baku tambahan seperti bahan pelapis dan retsleting. Bahkan pada beberapa kasus, perajin harus membeli/memberi sejumlah uang pada mereka yang mau berbaik hati menyetorkan limbah kopi pada perajin.
  • Rangkaian panjang proses produksi limbah kopi membuat harganya menjadi mahal, kalah bersaing dengan produk  non limbah yang lebih murah yang lebih  fashionable dan tidak membuat pemakainya ‘jatuh merk”.

  • Pada beberapa kasus kerajinan limbah mudah robek, karena bahan baku limbah kopi didesain/diproduksi  untuk mewadahi kopi bukan untuk bahan baku tas/dompet/tempat tisu dan beragam kerajinan limbah kopi lainnya.

Menyikapi lika liku perjuangan Ibu Iyom dan Ibu Jajang yang kesulitan memasarkan produknya,  sekitar tahun 2011, saya pernah berguru pada ibu dosen seni rupa ITB yang cantik, Nedina Sari. Hasil diskusi dengan mahasiswa/i  ibu Nedina, disimpulkan bahwa hasil karya haruslah dalam bentuk multi fungsi sehingga bisa memicu lebih banyak kreativitas. Selain itu  pelaku kerajinan harus berproduksi karena cinta pada kegiatan tersebut, bukan sekedar mengejar keuntungan semata. Mirip seniman patung yang berkreasi dengan sepenuh hati. Dia fokus menghasilkan karya terbaik, tidak peduli hasil karyanya tidak dibeli. Sesuai pepatah : “duit mah nuturkeun”, atau kurang lebih rezeki akan datang jika kita tekun, focus dan ikhlas berkerja.

Terbiasa bekerja dengan kreativitas akan membuat perajin menghasilkan karya tidak ‘asal jadi”, juga tidak terpaku pada bahan baku yang biasa digunakan. Seniman patung kayu akan fleksibel berkarya dengan bahan lain seperti batu , tanah.  Demikian juga perajin limbah kopi, dia bisa berkarya dengan menggunakan bahan baku selain limbah kopi, karena suatu saat bahan limbah yang tidak terbarukan ini pasti habis dari muka bumi.

Untuk menuju kompetensi itu, para perajin limbah kopi haruslah mendapat latihan yang diinisiasi badan pengelola lingkungan hidup (BPLH) dan produsen penghasil limbah kopi. Karena produsen limbah sachet kemasan  harus bertanggung jawab terhadap sampah  produksinya. Sesuai ayat 15 UU 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, produsen bertanggung jawab terhadap sampah produksenya yang tidak bisa diurai di alam. Alam tidak bisa mengurai limbah sachet yang berlapis alumunium , solusinya hanya dibakar yang tentu saja menimbulkan bencana lingkungan lain. Kerajinan limbah kopipun hanya memperpanjang usia limbah, tidak melenyapkannya.

 Salah satu pelaku kerajinan limbah kopi yang melabuhkan asa terlalu tinggi adalah ibu Yati, seorang istri buruh bangunan. Menyadari suaminya kerap menganggur sementara asap dapur harus mengebul, maka Ibu Yati mempelajari kerajinan limbah kopi secara otodidak. Setelah mahir merangkai limbah kopi menjadi beragam kerajinan, ibu Yati mempelajari seni merajut kantong plastik (keresek) menjadi beragam karya: dompet, tas, gantungan kunci, tempat tisu dan lain lain. Sayang, nasibnya sama dengan ribuan pelaku kerajinan limbah kopi lainnya. Hasil karyanya mangkrak, sepi pembeli, akhirnya iapun hanya memfokuskan diri sebagai pelatih.
sebagian hasil karya anak didik Ibu Yati
 
limbah kopi sebagai bahan baku


Pertimbangan focus sebagai pelatih juga disebabkan rumahnya yang sempit, hanya seluas 3 x 4 meter, harus dihuni keluarga dengan 5 anak. Sehingga bahan produksi limbah kopi harus mengalah, demikian juga bahan bakunya. Bahkan akhir-akhir ini Ibu Yati memilih menjadi pelatih dan hanya membuat kerajinan limbah kopi berdasarkan pesanan. 

Ditemui beberapa waktu lalu di rumahnya di kawasan Sekemirung 42 C, RT 03 RW 10, ibu Yati menemui saya dengan secangkir teh hangat karena selain ngirit, penyajian minuman dalam cangkir tidak menghasilkan sampah dan mmm…….. lebih sopan ya? Betul ngga?

Ibu Yati didepan rumahnya





Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates