• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah




 
Rindu Order Jl Cimuncang Bandung

Nama adalah doa, demikian juga nama unit usaha yang sudah beroperasi puluhan tahun ini. Berkat doa yang tercermin dari namanya, Rindu Order merupakan salah satu Bandar Sampah kertas terbesar di kota Bandung. Hampir seluruh sampah kertas dikumpulkan dari rumah-rumah dan kantor-kantor yang berada di Bandung Utara, Bandung Pusat dan Bandung Timur. Berpindah dari satu tangan ketangan lainnya. Berpindah dari satu lapak ke lapak lainnya dan berakhir di Rindu Order. 

Rindu Order dengan  mudah ditemui karena terletak di lokasi yang strategis yaitu di jalan Cimuncang, arah menuju Cicaheum. Diseberangnya merupakan jalan Cimuncang Atas menuju Saung Ujo yang terkenal.

Memasuki area depan, kita mungkin tidak bisa membayangkan besarnya perputaran uang disini. Maklumlah bangunannya tidak menampakkan Bandar Besar. Padahal semua kertas duplek, kardus, kertas arsip dan berjenis-jenis kertas lainnya disetorkan kesini. Penyetoran umumnya dilakukan oleh semacam broker yang mengkhususkan diri mengambil limbah anorganik dari pengepul kecil.

System kerja mereka sebagai berikut:
  • Sampah rumah tangga dijual ke pengepul kecil/tukang rongsok.
  • Pengepul kecil/tukang rongsok menjual hasil pilahan sampah ke pengepul besar.
  • Pengepul besar menjual sampah tertentu (misalnya sampah kertas) pada seorang broker yang mengumpulkannya dengan menggunakan kendaraan dari lapak ke lapak. Untuk kemudian menjualnya ke Bandar besar seperti Rindu Order.
  • Bandar besar akan mengirimkan sampah kertas tertentu ke pabrik pengolahan karena setiap pabrik memiliki spesialisasi bahan baku dan produk yang dihasilkan. Beberapa jenis kertas diolahnya sendiri misalnya kertas bekas print yang digunting menjadi serpihan sebagai alas pengiriman barang pecah belah.

Prosedur diatas nampaknya sederhana, tapi bagi yang belum terbiasa akan rumit. Ada beragam kertas yang bagi orang awam akan sulit memilahnya seperti kertas bungkus nasi, kertas pembungkus sabun mandi, kertas tetrapak (kotak kertas berlapis alumunium dan plastik yang biasanya digunakan untukk mengemas makanan/minuman cair seperti susu, santan, minuman sari buah).

Penanggung jawab Rindu Order menjelaskan bahwa yang penting harus bebas plastik , jika sampah kertas mengandung plastik contohnya kertas pembungkus nasi, maka pasti akan ditolak dan masuk tong sampah.

Karena itu,  setiap menerima kiriman sampah kertas, ada tim khusus yang memeriksa (checker), menimbang barang sesuai klasifikasinya dan ditulis dalam surat pengantar barang untuk diuangkan ke kasir. Kasir hanya membayar sampah kertas sesuai timbangan tim kerjanya.
Tidak heran, Rindu Order sering baru menutup tempat usahanya di malam hari. Selain karena hampir semua lapak menyetorkan sampah kertasnya di sini , juga pengiriman barang ke luar kota membutuhkan waktu yang cukup lama.

Bisnis sampah anorganik tampaknya menjanjikan. Karena itu dalam peta #bebassampahID, profesi inilah yang paling banyak diketemukan. Mulai dari pengepul kecil hingga Bandar Besar. Sampah yang semula dianggap hina dina ternyata menjanjikan rupiah. Sayangnya akhir perjalanan sampah anorganik hanya memperpanjang usia benda. Itupun membutuhkan waktu, biaya tinggi berupa transport dan bahan baku tambahan serta tentunya memperpanjang jejak ekologis.

Untuk mengurangi jejak ekologis yang notabene meringankan beban bumi, maka langkah cerdas yang harus dijalankan adalah mengurangi penggunaan kertas.  

Menurut Prof. Dr. Sudjarwadi (UGM), 1 rim kertas setara dengan 1 pohon berumur 5 tahun. Untuk setiap ton pulp membutuhkan 4,6 meter kubik kayu, dan 1 ton pulp menghasilkan 1,2 ton kertas. 
1 hektar hutan tanamanan industri (HTI) dapat menghasilkan kurang lebih 160 meter kubik kayu.


  • 1,2 Ton kertas -> 4,6 meter kubik kayu
  • 1 hektar hutan industri -> 160 meter kubik kayu
  • 1,2 ton kertas -> 0,029 hektar


 Asumsi 1 lembar itu 80 gram

1,2 Ton kertas à 15000 lembar (30 rim) -> 0,029 hektar hutan (HTI)

Berdasarkan kemenperin.go.id, kebutuhan kertas Indonesia mencapai 12 juta ton kertas untuk tahun 2012.

  • 12 juta ton kertas -> 29000 hektar
  •  Luas hutan tanaman industri (HTI) tahun 2011 adalah 9 juta hektar. 
  •  1 hektar hutan dapat menyerap 6 ton CO2 dan memberikan 4 ton O2.
  • Dibutuhkan 5-10 tahun untuk menanam pohon sebelum ditebang.


Langkah cerdas menghemat kertas:

  • Gunakan kertas secara bolak balik. Kalau belakangnya masih putih, jangan dibuang dulu.
  • Jika bisa ditulis secara digital, tulislah secara digital dan tidak usah di print. Jika ingin memprint dan bukan dokumen formal, gunakan margin dan spasi yang mepet.
  • Gunakan kertas daur ulang.
pintu masuk Rindu Order


sampah kertas dipacking dalam karung




Sumber: 
Widikrisna. Wordpress.com
Wrote by Maria G Soemitro





Selama ini isu sampah anorganik selalu sekitar plastik dan lamanya plastik terurai di alam sehingga harus dijauhi/dikurangi atau bahkan ditolak penggunaannya. Padahal ada banyak jenis sampah anorganik lainnya, salah satunya sampah kain yang umumnya dibuang ke tempat sampah juga. Mungkin karena waktu terurai di tanah tergolong singkat maka jarang yang membahas sampah kain. Padahal sampah apapun akan menjadi problem rumit jika tidak bijaksana menyikapinya.

Adalah Ira Ratna, perempuan muda cantik jelita yang bulan Maret lalu melepas masa lajangnya. Dia aktif berperan mendaur ulang ulang sampah kain agar tidak langsung dibuang ke bumi. Berawal  iseng membuat bros dari kain bekas/kain sisa/limbah kain. Kain – kain tersebut digunting dan dirangkai dengan bahan lainnya hingga membentuk bros cantik. 


Rupanya teman-temannya tertarik hasil karya Ira dan akhirnya berkat pemasaran dari mulut ke mulut, Ira mulai merintis usahanya. Tidak hanya offline, hasil karya Ira bisa dilihat di akun facebook dan instagram @bengkel_aksesoris yang digembok. Maklumlah industry ini rawan peniruan sehingga karya yang dihasilkan melalui proses panjang dan susah payah, eh dicontek dalam sekejap.

Karena itu akhirnya Ira lebih memilih maklun yaitu mengerjakan pesanan dalam jumlah besar dari brand terkenal. Harganya lebih miring tapi Ira tidak harus bersusah payah memasarkan produknya. Ira cukup menerima pesanan dengan uang muka, mengerjakan pesanan dan menerima sisa pembayaran ketika barang selesai dikerjakan. Berkarung-karung limbah kain berbagai jenis dan berbentuk tak beraturan, mampu disulap Ira menjadi berbagai produk cantik, seperti bros, bando dan cepol (pengganti sanggul rambut).



Tinggal di pemukiman padat penduduk yang khas yaitu di jalan Gang Setia 41, lokasi Ira cukup mudah ditemui.  Jauh lebih mudah dibandingkan jika kita menanyakan badan usahanya yaitu: CV Sumber Rezeki . Bagi yang berminat bisa mengunjungi dari arah jalan Ahmad Yani yaitu berpatokan SMA YAS sedangkan dari arah Cikutra berpatokan SMA 10 Bandung. Termasuk kawasan yang asri walau di sepanjang jalan terdapat berbagai unit usaha seperti laundry kiloan, tempat kost dan warung makanan/warung kelontong.



 Tidak semua unit usaha seulet dan seberhasil Ira, penulis mendatangi unit usaha serupa yaitu Azzahra di Jalan Cigadung Raya Tengah yang rupanya telah tutup. 



Kegiatan recycle memang dilematis. Di satu sisi, recycle membantu meminimalisir jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Tapi proses daur ulang membutuhkan biaya dan bahan tambahan yang memperpanjang jejak ekologis. Mulai dari pengangkutan hingga pernak pernik bahan plastik. Karena itu diperlukan prinsip hanya membeli barang yang diperlukan agar tidak semakin banyak sampah yang membebani bumi.

Catatan:
Foto Ira yang cantik tidak diunggah karena belum mendapat persetujuan dari pemiliknya.






Wrote by Maria G Soemitro

saputangan (dok. Maria G.  Soemitro)


Punya saputangan? Sekedar punya atau menggunakannya dalam aktivitas sehari hari?

Tidak hanya solusi mengurangi limbah, penggunaan saputangan membantu kita untuk hidup sehat. Bukankah sapu tangan yang kotor akan masuk tas untuk dicuci? Sehingga  mikroorganisme berbahaya seperti virus flu atau bakteri TBC yang mungkin tersimpan di sapu tangan, tidak akan menyebar bebas di udara.

Berbeda dengan tisu sekali pakai. Tisu berpotensi menyebarkan mikroorganisme jahat. Hanya sekitar 70 %  limbah yang  dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Sisanya dibuang ke tanah kosong, jalan jalan dan sungai. Bukankah kita tidak bisa menjamin bahwa tukang sampah akan membuang sampah di tempat yang disiapkan pemerintah daerah?

Sayangnya tidak semua sependapat. Tulisan bagus dibawah ini karya  Alfian Salim memenangkan "Writing Contest Bisnis.com" tapi justru diserbu komen Tisu lovers yang seolah menuduh penulisnya sekedar mencari sensasi. Miris ya?

Karena itu tidak berlebihan penutup tulisan pak Alfian:
“Bumi ini sesungguhnya sangat indah. Namun sayangnya, ia mempunyai musuh yang sangat berbahaya; manusia.

Karena perbandingannya jelas sekali, sapu tangan terbuat dari katun dan polyester yang bisa dicuci/digunakan ulang sehingga tidak berpotensi merusak hutan.

Sedangkan tisu terbuat dari  pulp (bubur kertas). Pulp berasal dari batang pohon yang diproses secara kimia. Untuk membuat tisu, produsen harus menebang hutan untuk mendapatkan kayunya. Ini berarti terjadi penggundulan hutan yang menyebabkan luas hutan menyusut. Hutan yang telah ditebang memerlukan waktu puluhan tahun untuk pulih kembali ke keadaan semula seperti sebelum ditebang. Singkat kata, kecepatan penyusutan hutan akibat penebangan lebih cepat daripada kecepatan pemulihan atau suksesi hutan.

Menyusutnya luas hutan dapat mengakibatkan erosi tanah atau longsor. Selain erosi, kemampuan hutan untuk menyerap CO2 (karbon dioksida) juga menurun. Ini mengakibatkan konsentrasi CO2 di atmosfir meningkat dan menyebabkan tingginya suhu bumi (global warming) yang berdampak terhadap gangguan keseimbangan lingkungan hidup di biosfir bumi, seperti perubahan iklim, peningkatan permukaan air laut, penurunan keanekaragaman hayati dan genetika, serta perubahan musim tanam.

Untuk mendapatkan warna putih tisu, perlu proses pemutihan dengan senyawa klorin terhadap pulp yang berwarna coklat kehitaman. Bahan baku klorin adalah toksik, limbahnya juga masih mengandung racun dan berpotensi mencemari lingkungan. Belum lagi harus membangun pabrik-pabrik untuk mendukung kegiatan pembuatan tisu seperti pabrik plastik dan pabrik yang akan memproduksi aroma harum pada tisu.
Semua yang dikemukakan di atas belum diperhitungkan dalam biaya yang dibayar konsumen pada saat membeli tisu. Semua dampaknya tidak muncul dalam waktu pendek melainkan akan diterima akibatnya oleh generasi mendatang. Gaya hidup inikah yang diinginkan oleh kita selaku generasi sekarang tanpa mau tahu dan peduli sama sekali dengan apa yang akan terjadi dan dialami oleh generasi kita di masa depan?

Alangkah mahalnya harga yang harus dibayar oleh anak cucu kita akibat gaya hidup kita yang mendewakan tisu daripada saputangan.



Tulisan selengkapnya dibawah ini atau silakan  ke url berikut :

 http://writing-contest.bisnis.com/artikel/read/20150127/391/395802/membangun-gaya-hidup-sehat-lewat-saputangan


Membangun Gaya Hidup Sehat Lewat Saputangan

Oleh: Alfian Salim

Saputangan atau selampai adalah selembar kain berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 30 cm x 30 cm yang digunakan untuk kebersihan pribadi, antara lain mengelap tangan, menutup mulut ketika batuk dan bersin, membersihkan bagian luar mulut, menutup hidung supaya tidak menghirup debu atau mencegah bau yang tidak enak dan membuang ingus, serta menyeka air mata saat menangis atau keringat saat kepanasan. Saputangan sudah disebut-sebut dalam syair karya Catulus (85 – 87 SM). Saat itu alat pengusap keringat terbuat dari jalinan rerumputan. Memasuki abad pertama Sebelum Masehi, barulah saputangan dibuat dari kain linen. Meski sederhana, namun hanya golongan masyarakat kelas atas yang sanggup memilikinya.

Memasuki abad  XIV, banyak masyarakat Eropa menyadari bahwa saputangan adalah bagian tidak terpisahkan dari gaya busana. Dan di Italia, saputangan juga berfungsi sebagai sarana bertutur sapa di antara masyarakat kelas atas dengan cara melambai-lambaikan saputangan untuk memberi sambutan hangat kepada pemain opera atau lawan bicara.  Itu sebabnya pada zaman dahulu saputangan diperlakukan dengan sangat istimewa dan pemakaiannya yang eksklusif. Saputangan pun menjadi hadiah umum dari laki-laki yang menaruh hati kepada seorang perempuan, atau sebaliknya. Untuk yang terakhir ini  pernah terjadi di zaman penjajahan Belanda, namun  budaya tersebut kini semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia zaman sekarang. Pada abad XIX, saputangan telah menjadi pelengkap wajib dalam gaya busana di benua Eropa.

Sebagai seorang guru, telah seperempat abad lamanya di setiap pertemuan pertama pada minggu pertama di setiap tahun pelajaran baru saya selalu menyampaikan kepada murid-murid untuk membawa dan memakai saputangan dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan untuk hidup sehat disamping menyampaikan sistem pendidikan dan penilaian saya dalam pengajaran bidang studi biologi. Saya menyampaikan hal ini bukan dengan tanpa role model. Saya adalah role model itu sendiri terhadap murid-murid dan rekan-rekan seprofesi karena saya senantiasa membawa dan memakai saputangan sampai detik ini. Membawa dan memakai saputangan telah menjadi kebiasaan dan gaya hidup sehat saya yang dididik sejak kecil oleh Ibunda dan Ayahanda tercinta. Tanpa saputangan, saya merasa tidak lengkap dalam berbusana. Sekedar catatan tambahan, keluarga saya telah membudayakan pemakaian saputangan bagi semua anggota keluarga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam berbusana.

Dan fakta yang terjadi sampai detik ini juga, saya tidak berhasil mengubah gaya hidup seluruh murid-murid saya yang lebih menyukai memakai dan membawa tisu daripada saputangan, walaupun hanya untuk di lingkungan sekolah saja. Bahkan saya mencoba menawarkan bonus berupa nilai tambahan ujian bagi setiap murid yang membawa dan memakai saputangan ke sekolah setiap hari. Namun mereka bergeming dengan tawaran saya. Mungkin penggunaan saputangan telah dianggap ketinggalan zaman dan merepotkan. Benarkah demikian?

Kehidupan modern telah banyak mengubah berbagai kebiasaan arif manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempermudah, mempercepat, dan memperingan pekerjaan manusia. Salah satu produk kehidupan modern adalah tisu. Pemakaian tisu di kota-kota besar di Indonesia adalah hal yang lazim kita temui, terutama pada kaum muda. Saat ini sudah jarang – kalau tidak dapat dikatakan tidak ada sama sekali – kita jumpai kaum muda terlebih para remaja sekolah menggunakan saputangan, kecuali kaum orangtua yang berusaia 60 tahun ke atas. Itu pun masih bisa dihitung dengan jari tangan kita.

Namun, bagi kalangan yang peduli lingkungan hidup seperti saya, memakai saputangan dapat dianggap sebagai langkah yang menarik. Pemilihan memakai saputangan adalah bersifat personal dan orang lain tidak perlu untuk ikut menilai. Jika kepraktisan yang menjadi alasan utama seseorang memakai tisu, kepraktisan juga bisa diberikan saputangan. Bahkan saputangan sesungguhnya jauh lebih pro lingkungan dan kesehatan dibandingkan tisu.

Coba kita renungkan bersama-sama penjelasan berikut. Menurut saya, menggunakan saputangan adalah jauh lebih sehat daripada tisu. Saputangan yang telah kotor dan mungkin mengandung mikroorganisme berbahaya seperti virus flu atau bakteri TBC tidak akan menyebar bebas di udara atau terisolasi karena disimpan pemakai ke dalam saku pakaian atau tas. Selanjutnya pakaian, tas, dan saputangan yang kotor tersebut bisa dicuci bersih dan mikroorganismenya pun ikut terbasmi oleh sabun atau deterjen saat mencuci, atau panas matahari saat menjemur, atau setrika saat menyetrika dan sesudahnya dapat dipakai kembali (reuse). Benar-benar memberikan sebuah gaya hidup sehat (healthy lifestyle) bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Bertolak belakang dengan positioning tisu yang dicitrakan bersifat disposable (digunakan untuk sekali pakai). Tisu yang telah kotor dan diduga mengandung mikroorganisme berbahaya pun ikut terbuang tanpa terlokalisasi. Dengan tindakan ini, secara tidak langsung kita pun ikut berpartisipasi menyebarkan mikroorganisme tersebut ke alam bebas dan berpotensi beterbangan di udara bebas dan akhirnya bakal dihirup oleh orang lain tanpa disadarinya. Hal ini dikarenakan kita masih belum memiliki budaya dan disiplin membuang sampah pada tempatnya.

Selain itu, tisu dibuat dari pulp (bubur kertas). Pulp berasal dari batang pohon yang diproses secara kimia. Untuk membuat tisu, produsen harus menebang hutan untuk mendapatkan kayunya. Ini berarti terjadi penggundulan hutan yang menyebabkan luas hutan menyusut. Hutan yang telah ditebang memerlukan waktu puluhan tahun untuk pulih kembali ke keadaan semula seperti sebelum ditebang. Singkat kata, kecepatan penyusutan hutan akibat penebangan lebih cepat daripada kecepatan pemulihan atau suksesi hutan.
Menyusutnya luas hutan dapat mengakibatkan erosi tanah atau longsor. Selain erosi, kemampuan hutan untuk menyerap CO2 (karbon dioksida) juga menurun. Ini mengakibatkan konsentrasi CO2 di atmosfir meningkat dan menyebabkan tingginya suhu bumi (global warming) yang berdampak terhadap gangguan keseimbangan lingkungan hidup di biosfir bumi, seperti perubahan iklim, peningkatan permukaan air laut, penurunan keanekaragaman hayati dan genetika, serta perubahan musim tanam.

 Untuk mendapatkan warna putih tisu, perlu proses pemutihan dengan senyawa klorin terhadap pulp yang berwarna coklat kehitaman. Bahan baku klorin adalah toksik, limbahnya juga masih mengandung racun dan berpotensi mencemari lingkungan. Belum lagi harus membangun pabrik-pabrik untuk mendukung kegiatan pembuatan tisu seperti pabrik plastik dan pabrik yang akan memproduksi aroma harum pada tisu.
Semua yang dikemukakan di atas belum diperhitungkan dalam biaya yang dibayar konsumen pada saat membeli tisu. Semua dampaknya tidak muncul dalam waktu pendek melainkan akan diterima akibatnya oleh generasi mendatang. Gaya hidup inikah yang diinginkan oleh kita selaku generasi sekarang tanpa mau tahu dan peduli sama sekali dengan apa yang akan terjadi dan dialami oleh generasi kita di masa depan? Alangkah mahalnya harga yang harus dibayar oleh anak cucu kita akibat gaya hidup kita yang mendewakan tisu daripada saputangan.

Bersampingan dengan kepraktisan, saputangan merupakan produk yang pro lingkungan dan sehat. Untuk membuat sehelai saputangan dibutuhkan kain. Kain didapat dengan menenun benang. Benang diperoleh dengan memintal buah kapas. Untuk mendapatkan buah kapas mau tidak mau kita harus menanam pohon kapas, bukan menebang. Dengan menanam pohon kapas, berarti kita ikut melakukan reboisasi sekaligus mencegah penggundulan hutan. Gangguan keseimbangan lingkungan hidup seperti erosi, perubahan iklim, peningkatan suhu dan permukaan air laut, polusi serta penurunan keanekaragaman hayati dan genetika juga menurun. Akibatnya lingkungan hidup kita pun menjadi sehat dan asri.

Kini semuanya terpulang kepada pribadi kita masing-masing. Mau pilih mana: tisu atau saputangan? Yang pertama memberikan kepraktisan yang tidak bersahabat dengan lingkungan hidup dan kesehatan sedangkan yang terakhir memberikan sebaliknya. Yang pasti, saya tetap mempertahankan budaya perilaku saya yang telah dididik oleh orang tua saya semenjak kecil yakni membawa dan memakai saputangan sebagai bagian dari kelengkapan berbusana saya. Saya tidak peduli jika untuk ini saya harus menjadi seorang lone ranger dalam membangun gaya hidup sehat lewat saputangan di belantara para pemakai tisu.


Namun sesungguhnya Ibunda dan Ayahanda sayalah yang berhasil mengubah diri mereka menjadi pembawa dan pemakai saputangan. Mereka adalah contoh panutan yang benar-benar menjadi suri teladan yang sukses membuat saya dan adik saya meniru role model ini dan menjadi pengikut pembawa dan pemakai saputangan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, keluarga saya telah menjadi pembawa dan pemakai saputangan sampai detik ini. Namun harus saya akui dengan sportif, jujur, dan transparan bahwa role model keluarga saya ini belumlah mampu mengubah warga Kota Medan tempat tinggal saya membangun gaya hidup sehat lewat saputangan. Apalagi hendak mencoba mengubah negara dan dunia. Ah, seperti menggantang asap saja saya ini.
Jika pada penerapan Kurikulum 2013 di seluruh satuan pendidikan di wilayah Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Mohammad Nuh, di tahun terakhir masa jabatannya menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 tentang “Pendidikan Kepramukaan Sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasr dan Pendidikan Menengah” pada tanggal 02 Juli 2014, saya pun berharap Bapak Anies Bawesdan mau mengambil langkah berani menerbitkan peraturan menteri tentang kewajiban bagi seluruh peserta didik termasuk tenaga pendidik dan kependidikan untuk membawa dan memakai saputangan di lingkungan sekolah sebagai langkah kecil dan sederhana untuk menumbuhkembangkan perilaku pro lingkungan.

 Ya… mungkin saya hanya utopis. Sebagai penutup, saya menuliskan kembali pernyataan salah seorang filsuf Jerman: “Bumi ini sesungguhnya sangat indah. Namun sayangnya, ia mempunyai musuh yang sangat berbahaya; manusia.

Wrote by Maria G Soemitro


 
anggota bank sampah bersama pak RW 08

Sebutan ibu-ibu heboh sebetulnya meniru kata –kata Jenal, detektif #BebasSampahId yang bernama alias @AkarGantung. Jenal bercerita tentang ibu-ibu heboh yang ditemuinya ketika men-survey bank sampah Manglayang.

Kali ini rupanya saya berkesempatan bertemu dengan ibu-ibu yang tak kalah heboh. Seheboh ketika saya mencari alamat ibu-ibu ini. Alamat yang tertera di list hanya Cikutra 08. Titik lokasi hasil barter ber-barter antara Duin, Akar Gantung dan saya ^_^

Pertimbangannya tentu karena dekat. Jalan Cikutra kan pendek. Saya menebak-nebak, jalan Cikutra rw 08 ada di wilayah kelurahan Neglasari, dibawah kepemimpinan ibu lurah yang cantik yang kebetulan saya kenal. . Ternyata menurut LPTT (lembaga pendamping Bandung Green and Clean), yang dimaksud adalah Kelurahan Cikutra bukan jalan Cikutra. Dan itu letaknya cukup jauh, saudara-saudara. Cukup membuat gempor kaki, sehingga harus menggunakan jasa ojek untuk mencapainya. 

Tibalah hari hasil janjian saya dengan ibu Yati, ketua Bank Sampah RW 08 Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul. Turun dari angkutan umum di depan Griya Pahlawan, saya meminta bantuan tukang ojek untuk menanyakan ancer-ancer tempatnya ke ibu Yati. Karena diterangkan sedetail apapun saya ngga paham. 

Jalan Lemah Neundeut ll ? Aduh selama ini saya pikir jalan Lemah Neundeut nun di Bandung Utara atau Selatan atau Bandung coret. Ternyata dekat banget, wilayah antara jalan Pahlawan dan jalan Cicadas. Suatu area yang padat penduduk, bahkan sangat padat penduduk. Hingga tanpa bantuan tukang ojek, anda mungkin tersasar ……… #soktahudotcom.

Dan duh, kokk banyak sekali ibu yang berkumpul dan menyambut,  bahkan ibu-ibu PKK dari kelurahan. Terlihat dari bajunya dong ^_^

Sebetulnya survey paling asyik jika tidak diada-adakan atau natural aja deh. Tapi berhubung ibu Yati meminta saya untuk datang di hari Sabtu atau hari penimbangan sampah anorganik, ya oke deee ……… berkumpullah para ibu dengan aneka ragam hasil karyanya seperti kerajinan dan pot-pot untuk urban farming yang mengambil konsep hidroponik.
dengan pot ala hidroponik (dok. Maria G. Soemitro)


Buku-buku Bank Sampah menunjukkan bahwa operasional pemisahan sampah di wilayah ini tidak berjalan mulus. Kendalanya mungkin masalah senioritas/ketokohan dan belum dirasakannya manfaat pemisahan sampah oleh setiap anggota. Jika anggota bank sampah atau anggota komunitas berkebun (yang berkorelasi dengan pengomposan) telah merasakan faedahnya maka kegiatan bisa dipastikan akan berkelanjutan. Ada atau tidak ada ketua selama kegiatan rutin. Cukup ketua kordinator terkait dan wakilnya yang turun menjalankan aktivitas dan melaporkan pada ketua umum, khusus di wilayah ini, Ibu Yati.
Karena setidaknya harus ada 3 kordinator di wilayah ini selain ketua dan bendahara, yaitu kordinator bank sampah,  kordinator berkebun dan kordinator kerajinan. Wilayah padat penduduk justru menyimpan potensi. Sampah organik dan anorganik mereka banyak. Jika dikelola baik, alih-alih menjadi beban pemerintah, sampah justru bisa menjadi sumber pendapatan warga.  
kegiatan menimbang sampah anorganik (dok Maria G. Soemitro)


Sebagai ilustrasi termudah adalah pengelolaan sampah anorganik dalam Bank Sampah.
Misalnya jika di RW 08 Cikutra yang terdiri dari 10 RT, 4 RT diantaranya termasuk dalam suatu organisasi  Bank sampah (karena rata-rata RW hanya membawahi 5-6 RT).
Kemudian di setiap RT hanya ada 25 kepala keluarga (KK) yang menjadi anggota Bank Sampah, sementara jumlah KK/RT biasanya 100 – 150 KK. Artinya akan terkumpul : 4 RT x 25 KK/anggota Bank sampah = 100 anggota.

Jika diambil pukul rata setiap anggota cukup mengendapkan Rp 500 per minggu dalam buku tabungan. Karena penimbangan sampah umumnya dilakukan hanya setiap minggu. Padahal setiap di pemukiman padat, setiap KK menyetor sampah senilai Rp 2.000- Rp 15.000/penimbangan/minggu. Maka akan didapat 100 X Rp 500 X 53 minggu (jumlah minggu dalam setahun) = Rp 2.650.000/tahun.

Jumlah yang wow banget bukan? Bisa digunakan untuk koperasi simpan pinjam sehingga warga tidak harus meminjam uang pada rentenir. Dan yang terpenting, warga belajar memisah sampah dengan cara termudah yaitu tidak mencampur sampah anorganik dengan sampah organik. Sederhana ya?   Lha kalo bisa mudah dan simple untuk apa dipersulit. ^_^

Oh iya, apa yang heboh? ....... sstttt selain ibu-ibu yang heboh ramahnya,  suguhannya lebih heboh, nasi merah, ayam goreng, tempe goreng, teri goreng, mi goreng........ kue-kuenya pindang singkong, rambutan dan lain lain. Ngga difoto, entar semua kesana kan kasihan ibu Yati .....#ngeles  ^_^


 
ibu-ibu Cikutra 08 (dok. Maria G. Soemitro)
lokasi kegiatan pilah sampah RW 08 kelurahan Cikutra (dok. Maria G. Soemitro)
 
kreativitas urban farming (dok. Maria G. Soemitro)

hasil olah tangan (dok. Maria G. Soemitro)



Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates