• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah



 
sumber gambar disini

Apa tantangan terberat Detektif #BebasSampahId ? Jawabannya : …. dicurigai !!

Ya, seperti umumnya penduduk urban, penanggung jawab/pengelola sampah akan bertanya panjang lebar mengenai kegiatan detektif #BebasSampahId. Karena itu kita harus menjelaskan sambil mengkampanyekan gerakan #BebasSampahId.

Sederhananya, detektif #BebasSampahId bertugas untuk menyusun Peta Persampahan Kota Bandung dengan mendatangi titik-titik pengelola sampah di seluruh Kota Bandung dan mencantumkan sedetail mungkin, untuk memudahkan warga yang sudah peduli mengelola sampahnya

Apa saja titik pengelola sampah yang dikunjungi para detektif?

1.    Bank Sampah. Disini warga bisa menyetorkan sampah anorganik. Jumlah rupiah yang diterima disimpan dalam buku untuk diambil kelak. 

2.    Pengepul/ Bandar. Ada 2 jenis pengepul, pengepul kecil yang umumnya berlokasi dekat pemukiman sehingga warga mudah menjual sampah anorganiknya dan Bandar yang membeli sampah anorganik dari pengepul kecil

3.    Reparasi. Tempat usaha ini menerima perbaikan/reparasi tergantung spesialisasi misalnya tempat usaha reparasi tas, reparasi sepatu, bahkan di beberapa kota terdapat reparasi bohlam lampu sehingga memperpanjang waktu pakai.

4.    Pengomposan. Tempat pengelolaan sampah organik.  Jarang diketemukan walau sangat dianjurkan karena membantu mengolah sekitar 70 % sampah kota. Banyak kendalanya, biasanya disebabkan kekurang pahaman kelola sampah organik sehingga hasilnya bau memualkan.

5.    Unit Usaha. Tempat ini menyediakan  beragam produk hasil pengelolaan sampah dan alat pengelola sampah. Misalnya hasil kerajinan daur ulang plastik, hasil daur ulang kertas, hasil daur ulang kaca. Termasuk diantaranya unit usaha yang menyediakan komposter (contohnya keranjang takakura), alat biopori dan lain lain.

Hari Selasa, 10 Februari 2015 saya mendatangi Bandar pengepul. Masuk kategori Bandar karena memiliki kendaraan (truk) untuk mengambil hasil pengepul kecil, omzetnya pun besar bisa dilihat dari tumpukan besi bekas yang ditumpuk rapi.

Pak Asep, tidak hanya memiliki tempat di Jalan Cikutra 45 B tapi juga di beberapa lokasi lainnya, maklum bisnis ini sudah ditekuni sejak tahun 1980. Estafet kepemimpinan sedang pak Asep rhinitis untuk diberikan pada salah seorang anaknya. Sehingga jika tidak ada kebijakan baru pemerintah. tempat pak Asep masih bisa diketemukan kemudian.



Jalan menuju lokasi Pak Asep cukup mudah. Dengan menggunakan angkutan umum jurusan Kebun Kelapa - Cicaheum yang melalui Taman Makam Pahlawan, kita bisa langsung turun di depan pengumpulan barang rongsokan/barang bekas yang menyolok mata. Diapit deretan warung makanan, warung kelontong, toko bahan bangunan dan aneka usaha karena lokasinya sangat strategis.  Banyak sekolah, universitas (Itenas, Universitas Winaya Mukti dan UBR) sehingga perkantoran tumbuh subur di sekitar Taman Makam Pahlawan. Terlebih di sore hari, nyaris tertutup pedagang kaki lima (PKL)



Umumnya semua barang bekas diterima pak Asep, bahkan beliau sanggup mengambil besi bekas berukuran besar yang tak sanggup kita bawa. Khusus untuk harga, beliau agak berkeberatan karena harga yang berfluktuasi dan sangat banyak.

Berikut beberapa macam harga barang rongsok (sampah anorganik)  yang umum ditemui warga.

 1. Kardus Rp 1.500/kg
2. Kertas koran Rp 1.600/kg – Rp 800/ kg (tergantung kondisi )
3. Kertas duplek Rp 300 /kg
4. Plastik bekas kemasan (bersih) Rp 3.000/kg
5. Plastik bekas kemasan (emeran) Rp 2.000/kg
6. Besi AS Rp 2500/kg
7. Besi kabin Rp 1.700/kg
8. kaleng Rp 900/kg
9. Buku duplek Rp 500/kg
10. Buku campur Rp 900/kg
11. Alumunium Rp 18.000/kg
14. Botol bir Rp 500/buah ; pecahan kaca botol Rp 150/buah

Oh iya, lokasi pak Asep di jalan Cikutra ini hasil tukar tempat dengan detektif lainnya, Fadhil. Saya mendapat 7 lokasi yang sangat berjauhan. Hampir mengelilingi kota Bandung. Mulai Bandung Timur, Bandung Barat hingga Bandung Selatan. Beruntung komunikasi dengan detektif lain cukup intens sehingga bisa bertukar lokasi dan mengatur lokasi yang dituju.

Terimakasih teman-teman detektif #BebasSampahId yang baik …   ^_^






Wrote by Maria G Soemitro
“Mari Jadikan Sampah Musuh Kita Bersama”

Headline Blog Detik beberapa waktu lalu membuat saya mengernyitkan dahi. Musuh? Kok sampah dijadikan musuh sih. Judulnya heroik, tapi mengajak pembaca untuk memusuhi sampah rasanya bukan solusi jitu. Karena sampah akan semakin dijauhi. Masalah sampah tak terpecahkan. Paradigma lama tetap terpateri bahkan lebih kuat bahwa sampah adalah barang busuk, bau dan sumber penyakit yang harus dijauhi.

Lha emangnya siapa penghasil sampah? Bukankah kita? Bukankah kita harus memahami sampah untuk mendapatkan solusi agar sampah tidak bertebaran diseantero kota? Untuk itulah Walikota Bandung, Ridwan Kamil mencanangkan GPS (Gerakan Pungut Sampah) agar warga masyarakat peduli sampah. Setelah warga peduli, barulah dilakukan sosialisasi atasi sampah.

Caranya banyak. Termudah adalah membayar tukang sampah untuk membuangnya. Dibuang kemana? Ya masa bodolah, kan udah bayar. Melupakan bahwa sampah yang kita hasilkan menggunung di lokasi lain. Hingga pernah menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dalam kasus longsornya TPA Leuwigajah 21 Februari 2005.

Cara lainnya adalah dengan membakar atau membuangnya ke sungai. Aktivitas yang mengakibatkan bencana sehingga pemerintah daerah memberikan sanksi membayar sekian juta rupiah (tergantung kebijakan daerah per daerah). Karena membakar sampah menimbulkan racun yang akan dihirup banyak orang sedangkan membuang sampah ke sungai mengakibatkan banjir. Kasihan kan Bandung Selatan terkena banjir setiap kali hujan turun dengan deras.

Bagaimana jika kita mulai mencoba mengelola sampah rumah tangga? Asyik lho, terlebih sambil mengajak anak-anak mengenal sampah. Karena memisah sampah dari rumah tangga sama sekali tidak menjijikkan, toh sampah belum membusuk. Misalnya sampah kulit buah semangka. Masih segar. Baru berubah bentuk 3 hari kemudian. Sehingga kita bisa mengajak anak-anak mengenal sampah dengan memotong-motong kulit semangka/melon/ buah-buahan lainnya dan memasukkannya ke komposter. Juga sisa sayuran seperti batang kangkung/bayam/wortel/caisim.

Mengapa sebaiknya kita mendahulukan mengolah sampah organik? Karena jumlah sampah organik mencapai 70 % dari total sampah yang kita hasilkan. Jika kita berhasil mengolah sampah organik dan mengembalikan kealam maka sisa sampah anorganik (30 %) akan lebih mudah mengatasinya. 

Sampah Organik
aneka pilihan kelola sampah organik (dok. Maria G Soemitro)

Ada beragam cara menangani sampah organik, sesudah dipotong-potong sampah bisa dimasukkan ke kotak takakura (foto kanan), atau lubang resapan biopori (foto kiri tengah), atau komposter komunal (foto kiri bawah) atau bekas karung beras berisi tanah, kompos, pupuk kandang (foto kiri atas)
  • Kotak Takakura, silakan lihat uraiannya disini.
  • Lubang Resapan Biopori (LRB), bisa dibuat dengan membeli alatnya di toko pertanian terdekat. Asyik dilakukan untuk mengisi liburan anak-anak. Karena anak-anak belajar membuang sampah dengan benar serta belajar menabung air.
  • Komposter komunal, bisa dibeli di toko pertanian dalam bentuk tong plastik. Saya memilih membuat sendiri dengan bahan baku batu bata sesuai petunjuk pak Supardiyono Sobirin. Sayang tukang batu rupanya tidak cermat membuat sehingga komposter ini runtuh dan harus ditutup asbes bekas agar terlihat rapi. Keunggulan komposter komunal adalah kita bisa memasukkan semua sisa aktivitas dapur tanpa harus memotongnya. Juga dedaunan di pekarangan, bisa kita masukkan kesitu.
  • Komposter bekas karung beras. Tak ada rotan, akarpun jadi. Tak ada takakura dan pekarangan terlalu sempit atau bahkan sudah tertutup sehingga membuat LRBpun tidak memungkinkan? Maka kita bisa mengompos sisa sayuran ke dalam bekas karung beras atau apapun yang serupa. Asalkan berlubang/berpori.
Aktivatornya bisa dibeli di tukang tanaman yaitu campuran tanah, sekam dan pupuk kandang. Mereka menyebutnya pupuk atau kompos. Sehingga harus ditanyakan komposisinya karena pupuk kandang memegang peranan penting untuk mempercepat penguraian sampah.

 Masukkan semua sampah organik ke dalamnya, jaga agar tidak terlalu padat karena penguraian sampah akan tersendat bahkan terhenti. Tambahkan sekam jika terlalu padat atau buat 2-3 komposter semacam ini. Semakin banyak sampah yang dibuang membutuhkan ruang yang semakin luas. Saya (4 anggota keluarga) membuat 3 komposter.

komposter bekas karung beras (dok. Maria G. Soemitro)



Yang perlu diperhatikan lainnya:
  • Jangan lupa mengaduk media aktivator sesudah memasukkan sampah organik.
  • Jangan memasukkan kuah santan. Kuah sop, air beras, air daging sangat dianjurkan, tapi jangan terlalu banyak karena kondisi media tidak boleh terlalu basah.
  • Jangan lupa menutupnya agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan.
  • Jika media diraba terasa hangat atau bahkan panas, maka proses pengomposan berhasil. Karena itu binatang kecil seperti semut, lalat dan kalajengking tidak seharusnya ada, atau pertanda pengomposan gagal. Harus dicari penyebab dan solusinya. Ada kemungkinan karena terlalu padat atau pengadukan yang tidak rata.
  • Komposter sebaiknya diisi sampah organik setiap hari, agar proses pengomposan berjalan kontinyu. Hasil pengomposan menunjukkan perilaku pemiliknya, bahkan konsumsi pemiliknya. Contohnya, hasil kompos seorang anak kost yang sehari-harinya makan di warung atau mi instan, mungkin hanya memasukkan sisa puntung rokok (tanpa filter) ke dalam komposter. Berbeda dengan hasil kompos seorang ibu rumah tangga yang rajin meemasak dan aktif memasukkan sisa dapur dan sisa makanan olahan ke dalam komposternya, komposnya akan kaya gizi.
  • Jika sampah berbau busuk, maka bisa dipastikan proses pengomposan juga tidak berjalan dengan benar. Cobalah menambah tanah dan sekam kemudian mengaduknya. Saya sering memasukkan kulit udang ke dalam komposter dan hasilnya bagus, tidak berbau.
Tujuan pemotongan sampah organic menjadi bagian-bagian yang lebih kecil adalah agar proses pengomposan berlangsung lebih cepat. Tanpa dipotong-potongpun tidak mengapa tetapi komposter menjadi 
 mudah penuh.
 
Kompos bisa dipanen sekitar 2 bulan kemudian. Sangat berguna untuk memupuk tanaman, media tanaman atau bahkan dijual. Tapi bukan itu substansinya, sampah yang sudah berubah jadi kompos pasti akan diterima siapapun dengan senang hati. Berbeda halnya jika mereka diberi sampah organik yang masih mentah: basah dan berbau. 

Sampah Anorganik
Sampah anorganik lebih mudah diurus. Sisa yang menempel pada plastik dan botol kaca dibersihkan agar tidak menimpulkan bau tak sedap, kemudian masukkan dalam wadah khusus.
tong untuk memisah sampah (dok. Maria G. Soemitro)


Saya memilih menggunakan tong plastik (bisa juga kardus bekas) yang secara periodik dikosongkan oleh pemulung.
Foto bawah adalah tong berisi sampah anorganik (botol plastik, kardus, kertas duplek) yang bisa dijual, ditampung oleh bank sampah dan pengepul. 

Sedangkan foto atas berisi sampah emergency yaitu sampah yang tidak bisa dihindarkan (dari tamu) maupun sampah anorganik yang tidak saya ketahui harus diapakan. Jumlahnya tidak banyak, tetapi yang pasti berbulan-bulanpun tukang sampah absen, tidak membuat saya kelimpungan.

**Maria G. Soemitro**

Wrote by Maria G Soemitro
Kemajuan teknologi informasi sangat dirasakan manfaatnya oleh detektif #BebasSampahID. Pada tahun 2011 ketika green map bertema persampahan Kota Bandung dipetakan, surveyor hanya bisa memotret, memperkirakan titik lokasi pada google maps, sehingga sering kurang tepat.

Sekarang dengan bantuan peta koordinat yang diinstall dari play store, surveyor alias detektif #BebasSampahId dapat melaporkan titik lokasi dengan tepat.

Hari pertama, tanggal 1 Februari 2015 lokasi yang dituju adalah tempat pengepul pak Herry di jalan Cigadung Tengah 22, Kelurahan Cigadung Kecamatan Cibeunying Kaler Kota Bandung. Ini dia penampakannya. Diapit oleh banyak tempat komersial lainnya seperti tempat pangkas rambut, warung dan tempat makan.


tampak depan lapak Pak Herry


 Di area atas adalah tempat para tukang rongsok tidur sehingga setiap waktu para surveyor bisa bertanya. Hanya penjualan yang memerlukan personil tertentu karena menyangkut pembayaran.
titik lokasi pak Herry : jalan Cigadung Raya Tengah E 107° 37' 39.612"S 6° 52' 51.8448"







Lokasi pak Herry sangat mudah diketemukan. Dengan menggunakan angkutan umum Caringin - Dago yang berwarna orange-hijau, saya berhenti di depan lokasi. Tepatnya di jalan Cigadung Tengah nomor 22, sebelum jalan Pesantren. Biasanya supir angkutan umum daerah Dago sudah paham wilayah Pesantren, jadi kita cukup bertanya pada supir angkot: "lewat Pesantren?", maka di akan menunjukkan tempat yang dituju

Teman-teman lain tidak seberuntung saya, banyak yang menemukan lapak yang sudah tutup dan atau terancam digusur karena telah dijual pada pengembang untuk kawasan komersial.

Lokasi pengepul besar umumnya memang di jalan umum yang dilalui kendaraan untuk memudahkan pengangkutan ke lokasi bandar yang lebih besar atau dikirim langsung ke tempat daur ulang barang bekas, seperti plastik dan kardus.  Jika lokasi sang pengepul illegal atau menjadi incaran pengembang, siap-siap saja untuk digusur ^_^

Sedangkan pengepul kecil yang memasok pengepul besar, juga bank sampah, dan pengelolaan sampah berbasis komunitas umumnya terletak di kawasan padat penduduk. Tidak heran beberapa teman terperosok ke dalam labirin karena sulitnya menemukan lokasi.


Jumlah sampah anorganik yang beredar dari rumah tangga -->> bank sampah -->> pengepul kecil  --->> pengepul besar --->> pabrik pengolahan , sebetulnya hanya mencapai 5 - 15 % dari total sampah karena banyak sampah yang dibuang sembarangan dan dibakar. Itupun hasilnya sudah bernilai puluhan juta rupiah per harinya per lapak pengepul besar. 

Karena itu sudah menjadi tugas kami dan warga masyarakat umumnya untuk menginformasikan tumpukan sampah lainnya atau berkontribusi memisah sampah agar sampah tidak menggunung dan tidak memiliki nilai ekonomis lagi.


Berikut ini foto-foto barang bekas/rongsokan/sampah anorganik yang dibeli pak Herry untuk dijual kembali:













Apa saja dan berapa kisaran harganya?


1. Kardus Rp 1.500/kg
2. Kertas koran Rp 1.000/kg
3. Kertas duplek Rp 300 /kg
4. Plastik bekas kemasan (bersih) Rp 2.000/kg
5. Plastik bekas kemasan (emeran) Rp 1.500/kg
6. Besi AS Rp 2700/kg
7. Besi kabin Rp 1.500/kg
8. Paku bekas Rp 1.300/kg
9. Seng Rp 1.000/kg
10. Alumunium Rp 9.000/kg
11. Kuningan Rp 22.000/kg
12. Tembaga (bagian dalam kabel) Rp 40.000/kg
13. Kertas CD Rp 500/kg
14. Botol bir Rp 700/buah ; botol arak/kecap Rp 500/buah
15. Accu mobil Rp 45.000/buah ; accu sepeda motor Rp 10.000/buah

Kemana saja barang yang dikumpulkan pak Herry? Sudah ada lingkaran produksi sesuai spesifikasi produk, seperti kardus dikirim ke daerah Jawa Tengah untuk menjadi bubur kertas dan menjadi kardus baru. Demikian juga plastik seperti plastik kotak makanan yang diolah menjadi biji plastik.
Suatu perjalanan yang menimbulkan jejak ekologis.
Harga yang harus dibayar untuk semua kemudahan.

Wrote by Maria G Soemitro
limbah biomassa (kiri; dok.Maria G) kompor biomassa (kanan; dok.BCCF)


Pak Dadang sedang asyik membakar sampah di trotoar depan rumahnya. Sampah tersebut berasal dari aktivitasnya memangkas pohon. Sekitar 2,5 liter minyak tanah digunakan untuk membakar sampah. Bapak berumur 50 tahun tersebut melupakan fakta bahwa sampah yang dibakarnya adalah bahan bakar juga. Atau dengan kata lain bahan bakar fosil dihabiskan untuk membakar bahan bakar terbarukan (biomassa).
Apa yang dilakukan pak Dadang nampaknya sepele dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Akibat Dinas Kebersihan enggan mengangkut sampah pekarangan maka pak Dadang membakar limbah tersebut. Ironis, karena walau minyak tanah dan bensin mudah dibeli tetapi cadangan energy fosil kita semakin menipis sementara sumber energy terbarukan belum digarap maksimal. 

Salah satu penyebabnya adalah kebijakan energy yang masih tersentralisasi padahal sebagai negara kepulauan, Indonesia seharusnya menerapkan kebijakan desentralisasi, sesuai sumber energy yang berbeda-beda yang merupakan kekayaan alam setiap wilayah. Akibatnya rasio elektrifikasi Indonesia baru mencapai 66 %. Padahal sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan banyak energy untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kenyamanan hidup dan kesejahteraan penduduknya.

Salah satu sumber energy yang masih terabaikan adalah limbah biomassa. Menurut data ESDM, sekitar 50 ribu megawatt dimiliki Indonesia sebagai potensi energy terbarukan yang berasal limbah biomassa. Dari jumlah itu, 18 ribu megawatt didapat dari sektor pertanian meliputi jerami, tandan kosong kelapa sawit, sekam padi dan lain-lain. Sisanya berasal dari sektor kehutanan.

Sekam padi adalah contoh limbah biomassa yang sebelumnya hanya dibuang atau dihargai sangat murah karena dianggap hanya sisa hasil panen. Karena itu sangatlah tepat ketika ITB, IPB, LIPI dan Indonesia Power melirik potensi ini. Salah satunya di Haurgeulis Indramayu, lumbung padi yang berkelimpahan sekam padi. 

LIPI melakukan penelitian dan membuat modifikasi pada generator sehingga bisa beroperasi dengan sekam padi dan solar. Sebelum masuk ke ruang bakar, sekam padi diolah melalui proses gasifikasi hingga menghasilkan syngas. Bahan bakar syngas menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah, sementara kinerja generator tidak menurun dan menghemat biaya operasional.

Setelah menggunakan sekam, generator hanya menghabiskan 0,06 liter solar untuk menghasilkan 1 kWh listrik, padahal sebelumnya 0,3 liter solar/1 kWh listrik. Sehingga terjadi penghematan minyak solar sebanyak 80 %.
Sebagai sumber energy, 6,5 kg sekam setara dengan 1 liter solar. Setiap tahun terdapat 13 juta ton sekam yang selama ini kurang dimanfaatkan atau senilai Rp 11 triliun per tahun. Jumlah yang cukup wow, bukan?

1383494051308868709
skema gasifikasi biomassa dok.
http://web.ipb.ac.id
Selain sekam, limbah biomassa yang diabaikan lainnya adalah ranting pohon. Ranting pohon sangat mudah ditemukan di wilayah perkotaan dan pedesaan. Dr Supriyantono dari Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis (SEAMEO BIOTROP) Bogor berhasil meneliti dan menguji kompor biomassa berbahan bakar ranting kayu, dedaunan kering, potongan bambu dan limbah kering lainnya. Hasilnya cukup menakjubkan, hanya berbekal 1 kg sampah kering, kompor biomassa bisa digunakan untuk memasak selama 2 jam atau setara satu liter minyak tanah pada kompor biasa.
 
Pelajar SMKN 2 Bandung juga membuat kompor berbahan bakar limbah biomassa. Perbedaan kompor biomassa dengan kompor minyak tanah adalah adanya tabung besi sebagai tempat penampung bahan bakar. Dibawah tabung terdapat baling-baling statis yang berfungsi mendorong panas dari bawah ke atas. Kompor juga memiliki 2 akselerator yang terpasang diantara tabung besi. Akselerator berfungsi mempercepat proses putaran udara di dalam ruangan sehingga pembakaranpun optimal.

Kompor biomassa menghasilkan energy panas yang tinggi karena teknik pembakaran secara pirolisis atau pembakaran minim oksigen. Dengan teknik ini biomassa yang terbakar akan menghasilkan asap. Asap tersebut diubah menjadi gas oleh panas dari tabung besi yang mencapai suhu 300-600 derajat Celcius. Selama proses pirolisis kompor memiliki 3 sumber energy panas yaitu api hasil pembakaran limbah biomassa, gas dari pembakaran asap dan arang sisa pembakaran limbah biomassa.

Untuk menyalakan kompor biomassa, potongan ranting dan sampah kering lainnya ditumpuk dan disulut dengan bantuan kertas atau sedikit minyak tanah/etanol. Setelah menyala, intensitas panas dapat disesuaikan dengan mengatur pasokan udara ke dalam tabung besi melalui baling-baling. Mematikannyapun cukup mudah, hanya dengan mengurangi bahan bakar sedikit demi sedikit dari tabung penampung.

Tidak dipungkiri bahwa penduduk Indonesia telah lama menggunakan limbah biomassa. Diperkirakan setengah penduduk Indonesia kayu bakar sebagai sumber energy dengan tingkat konsumsi 1,2 meter kubik per orang per tahun. Bahkan lebih dari 14 % penduduk dunia atau sekitar 2 milyar orang menggunakan energy biomassa sebagai energy primernya. Penyebabnya adalah kesulitan mengakses serta semakin mahalnya bahan bakar fosil.

Melalui pengujian beberapa contoh diatas, penduduk tidak harus menggunakan kayu bakar untuk memenuhi memenuhi kebutuhan. Karena limbah biomassa yang berserakan disekitar rumahpun ternyata dapat menjadi sumber energy. Dapat dipilih beragam metode pengolahan biomassa, mulai dari anaerobic digestion, pirolisis, gasifikasi dan pembakaran biasa (insinerator). Termasuk limbah cairnya yang dapat diolah dengan memanfaatkan mikroba tertentu menjadi biohidrogen. Sehingga limbah biomassa selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy alternatif, juga mengatasi permasalahan lingkungan.

Sifatnya yang terbarukan dan ketersediaan yang melimpah ruah membuat biomassa (dan limbahnya) merupakan magnet negara lain untuk menggali lebih lanjut pemanfaatannya. Salah satunya Korea Selatan yang membangun pabrik pengolahan arang kayu di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Jika Indonesia tidak hati-hati dan bergerak cepat maka bisa jadi hanya berujung gigit jari. Menjadi penonton yang menjual sumber bahan baku dengan harga murah dan mengimpor produk jadi berharga mahal dari negara lain. Seperti banyak kasus pada kekayaan alam Indonesia lainnya. Relakah kita? 

 **Maria G. Soemitro**

Sumber data:

LIPI Bandung
SEAMEO BIOTROP Bogor 
 Majalah Trubus, Juni 2010
SMKN2 Bandung - BCCF
Wrote by Maria G Soemitro
Pada Sabtu, 8 Mei 2010, KM ITB mengadakan event 2 tahunan yaitu Pameran Seni Budaya ITB 2010 dimeriahkan pagelaran seni tari, nyanyi, music mahasiswa/i ITB, pelajar sekolah , Saung Angklung Udjo, pameran Seni Budaya, pameran Kuliner dan pameran Industri Kreatif.


Nah, di Pameran Industri Kreatif lah kami mendapat kesempatan menggelar stand. Sungguh kesempatan yang langka dan berharga, diantara stand baju, tas, assesories, kain batik, kerajinan bali, kerajinan flora kami menggelar barang recycle ( daur ulang) plastic dan kain.

Langka, karena pameran ini diadakan hanya tiap dua tahun sekali. Hingga kami ingin menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Berharga, karena apabila kami hanya membuat kerajinan dan menjualnya pada pameran seni budaya ini berarti kami membuang kesempatan untuk memperkenalkan recycle bekas kemasan.

Seperti kita ketahui, sudah banyak masyarakat yang peduli kelestarian lingkungan hidup sehingga mereka bersedia memisah-misah sampahnya.

Masalahnya, sesudah dipisah apalagi yang bisa mereka perbuat mengingat tukang sampah sering menyampur kembali 2 jenis sampah tersebut (sampah organik dan sampah anorganik).

Kami mencoba memberi solusi , yaitu membuat kerajinan dari bekas kemasan mie instant dengan harapan pengunjung yang bersedia mencoba membuat kerajinan mau mempraktekan sendiri di rumah atau bahkan menularkan ilmu tersebut ke tetangga atau teman komunitasnya.

Bagi pengunjung yang enggan berjibaku membuat kerajinanpun kami memberi solusi yaitu membentuk suatu komunitas, mengumpulkan bekas kemasannya dan mengundang pelatih untuk membuat kerajinan.

Hasilnya akan kami tampung untuk digelar di setiap pameran yang kami ikuti atau yang sedang diusahakan adalah meminta pertanggung jawaban produsen produk yang bersangkutan.

Menurut UU no 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah dan UU no 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup, suatu perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan produknya harus mempertanggung jawabkan bekas kemasannya.

Pemisahan sampah merupakan tanggung jawab individu (rumahtangga), instansi, dan badan usaha sedangkan pemerintah mengelola hasil pemisahan sampah tersebut.

Sebagai warganegara Indonesia tidak hanya harus taat pajak tetapi juga taat memisah sampah. Pembayaran pajak berkontribusi pada keberlangsungan penyelenggaraan negara sedangkan pemisahan sampah apabila dikelola baik oleh pemerintah akan berdampak langsung pada lingkungan hidup warganegara.

Karena itu gerakan memisah sampah dan mengelola sampah harusnya mendapat dukungan pemerintah. Apalagi sudah ada payung hukumnya, jadi mengapa nampaknya hal tersebut disepelekan.

Mungkin slogan “buy more” lebih menarik bagi pemerintah dibanding slogan “do more” karena dengan slogan “buy more” diharapkan warga akan belanja habis-habisan, roda perekonomian akan melaju kencang dan pajak yang disetor akan melambung. Pemerintah lupa bahwa warga yang mampu persentasenya kecil,sedangkan wong cilik yang menempati persentase terbanyak akan makin terpinggirkan karena untuk mencukupi kebutuhan primerpun mereka tidak mampu.

Makna apa yang ingin kami berikan pada pameran kali ini ? Jawabannya : Keseimbangan !

Diantara produk-produk konsumsi yang kreatif, produk-produk asli daerah yang tak kalah kreatifnya, kami ingin mengingatkan bahwa disetiap barang konsumsi pasti akan menghasilkan sampah. Sampah yang merupakan tanggung jawab setiap individu dan salah satu solusinya kami tunjukkan di stand kami.

Sambutan untuk pengunjung pameran Seni   Budaya ITB 2010
Wrote by Maria G Soemitro
Detektif , makna harfiahnya adalah polisi rahasia atau reserse. Jika digabung dengan kata Bebas Sampah menjadi polisi rahasia yang menyelidiki sampah. Wuaduh serem banget, kok sampah harus diselidiki. Apalagi diinterogasi, wah nggak mungkinlah. (^_^)



Kisahnya bermula dari warisan masalah sampah untuk pak Emil, atau Ridwan Kamil yang terpilih sebagai walikota Bandung 2013-2018. Jika pak Ahok, Gubernur DKI Jakarta mengaku senang mendapat kajian bagus-bagus dari professor-profesor terkemuka, maka pak Emil juga mendapat dukungan dari teman-temannya alumni ITB yang membentuk Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS).

BJBS tidak hanya terdiri dari alumni ITB, tetapi juga para pegiat lingkungan dan pengelola sampah di lapangan. Sehingga data yang dihimpun cukup banyak, valid dan dapat menyarikan pendapat bahwa masalah utama sampah adalah kebiasaan/lifestyle.

Penduduk kota besar pastinya sering melihat sampah berserakan diluar tempat sampah. Atau akhir-akhir ini, atau atas instruksi pak Emil semua kendaraan roda 4 (termasuk angkot) akan dirazia. Mereka diwajibkan membawa tempat sampah yang jika enggan sang supir akan terkena sanksi membayar Rp 250.000. Peraturan tersebut telah ditetapkan sejak tahun 2005 lho, dan baru dilaksanakan kemudian. Tapi tetep aja, supir angkot buang sampah ke jalan raya, miris bukan?

Karena itu perlu kampanye berkesinambungan agar warga menyadari bahwa pemerintah tidak bisa terus menerus meladeni sikap manja warganya. Tidak sekedar patuh membuang sampah pada tempatnya tapi mereka juga harus mau memisah sampah. Jika tidak ya kemungkinan besar Bandung Lautan Sampah akan terulang lagi. Penyebabnya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sarimukti memiliki daya tampung terbatas. Sementara warga Bandung membuang 1.600 ton sampah setiap harinya. Serem ya? Jika ditumpuk begitu saja akan mencapai 55 x tinggi candi Borobudur pertahunnya lho.


Pindah TPA? Tidak semudah itu, karena membuang sampah sesungguhnya hanya memindah masalah. Di rumah kita sampah sudah terangkut, dipindahkan ke TPS (tempat pembuangan sampah sementara) , pindah lagi ke TPA. TPA Sarimukti penuh, mungkin pindah ke Legok Nangka, Legok Nangka penuh pindah ke ….. ?? Entahlah, karena kemampuan bumi mengurai sampah tidak secepat waktu kita membuang sampah.

dok. #BebasSampahID
 

Solusi terbaik adalah memisah sampah dari rumah. Bukankah di rumah, sampah belum berubah bentuk menjadi kotor, bau dan menjijikkan? Coba deh sampah basah (sisa sayuran, sisa hasil memasak) dimasukkan ke lubang biopori atau komposter, sisanya sampah kering bisa ditumpuk dalam tong berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum akhirnya dijual atau diberikan ke pemulung.

Untuk mendorong perubahan kebiasaan (lifestyle) ini dibutuhkan website tempat warga masyarakat bertanya, melaporkan, memberi data atau sekedar berkeluh kesah tentang sampah. Beruntung salah seorang kontributor BJBS, Anilawati Nurwakhidin dibawah bendera Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) mendapat bantuan Ford Foundation (yang mendukung situs Wikipedia) untuk mewujudkan piranti lunak berbentuk website, aplikasi mobile serta SMS gateway bertajuk tentang Peta Persampahan, yang akan mengoptimalkan kontribusi masyarakat dalam sistem persampahan kota Bandung, mendorong akuntabilitas pelayanan pemerintah, sekaligus mendorong sistem persampahan menjadi berbasis masyarakat.


Wow bahasa dewa ya? Selengkapnya silakan lihat disini, sedangkan website yang dirancang bangun adalah ini. Poin utamanya sih diharapkan warga ketika hangout tidak hanya membicarakan kuliner dan fashion tapi juga gaya hidup ramah lingkungan yang tertuju pada zero waste lifestyle.


Apatis? Ngga lah, dulu anak muda dikatakan ngga keren jika ngga merokok. Tapi sekarang, pandangan tersebut tidak berlaku. Bahkan mereka yang berhenti merokok sering dipuji hebat. Demikian pula budaya mengantri, sekarang sudah umum dilakukan. Mereka yang nyerobot bakal terkena pelototan warga lain yang sudah antri duluan.

Lifestyle bisa berubah, website sudah disiapkan. Maka ketika warga sudah tergerak untuk melaporkan, harus ada yang memverifikasi. Para detektif #BebasSampahId lah yang bertugas untuk mendatangi titik-titik yang dilaporkan warga. Baik itu Bank Sampah yang menyediakan layanan bagi mereka yang berpatisipasi menabung sampah anorganik, juga lapak/pengepul , kegiatan pengomposan serta unit usaha yang berhubungan dengan pengelolaan sampah.


Untuk itu pada tanggal 31 Januari hingga 1 Februari 2015, para detektif sampah mendapat briefing mengenai zero waste lifestyle, kondisi persampahan Kota Bandung dan latihan mengeksekusi laporan warga. Beruntung teknologi komunikasi kian canggih sehingga detektif #BebasSampahId bisa melaporkan secara presisi ditambah hasil wawancara yang dituliskan dalam blog.

Keberadaan 20 detektif #BebasSampahId akan dilaunching pada tanggal 21 Februari 2015, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional. Cieee kok dilaunching segala? Iyalah agar warga Bandung tahu bahwa mereka bisa berpatisipasi dalam mengelola sampah. Tidak sekedar mengeluh dan menyalahkan pemerintah. Karena sesungguhnya sampahpun memiliki potensi, sampah adalah materi berharga, tergantung sudut pandang/penilaian orang per orang.

Jadi? Yuk mulai mengelola sampah masing masing dan jadikan gaya hidup ramah lingkungan sebagai lifestyle yang keren. Hasilnya akan dirasakan untuk diri sendiri kok. Coba deh ^^

20 detektif #BebasSampahID



notes berisi kolom yang harus diisi




bekal  detektif #BebasSampahId : misting dan tumbler agar tidak nyampah


sumber gambar : disini
Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates