• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah


Sudah menjadi rahasia umum bahwa di setiap hari Besar, termasuk  Ramadhan dan Lebaran menjadi ajang kampanye terselubung  tokoh dan partai politik. Tulisan “Selamat Berpuasa” dan “Selamat Idulfitri” bertaburan dalam bentuk spanduk hingga merambah menjadi  iklan jor-joran di media cetak televisi.

Cibiran? Pastilah ada. Karena yang mencibir dan yang menghabiskan dana milyaran rupiah untuk iklan mempunyai hak sama dalam menyuarakan pendapat. Tetapi sebetulnya ada langkah bijak yang dapat mengganti cibiran menjadi pujian. Yaitu menyisipkan semangat peduli lingkungan dalam iklannya.  Iklan tokoh politik dengan adegan mengantongi kulit permen akan terlihat lebih smartdaripada adegan lebay lainnya. Adegan berkendaraan sepeda juga mempunyai nilai lebih dibanding adegan menanam pohon diiringi tepuk tangan cameo. Sambil menyelam minum air, sambil menebar citra mengedukasi masyarakat.

Mengapa adegan penuh semangat untuk menyelamatkan lingkungan? Karena di bulan Ramadhan dan hari Lebaran konsumsi masyarakat meningkat. Dan hukumpun berlaku. Semakin tinggi tingkat komsumsi masyarakat maka akan makin banyak sampah yang dihasilkan.

Khusus di bulan Ramadhan setiap rumah tangga akan menambah jenis dan porsi menu berbuka puasa. Lauk pauk menu utamapun sering berubah dan bertambah dengan alasan “takut lapar besok”. Demikian pula di hari Lebaran dan hari-hari libur pasca Lebaran. Begitu banyak makanan ekstra, begitu banyak jajanan.

Akibatnya tentu saja volume sampah kota bertambah. Di bulan Ramadhan, hari-hari Lebaran dan hari-hari libur Lebaran di tempat rekreasi. Kepala Dinas kebersihan DKI memprediksi sampah kota Jakartameningkat 5 - 10 % dari volume awal 6.500 ton. Di Lhokseumawe diprediksi volume sampah meningkat 35 %. Sedangkan walau Dirut PD Kebersihan Bandung memprediksi sampah “hanya” meningkat 55 ton menjadi 1.155 ton sampah yang diangkut ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA), Dinas Pengelolaan Persampahan, Pertamanan dan Pemakaman Sukabumi berani memastikan sampah yang diangkut ke TPA Cikundul meningkat 300 % menjadi 300 ton.

Perbedaan prediksi disebabkan setiap Kepala Dinas hanya menghitung berapa kali truk wara-wirimengangkut sampah dan laporan volume sampah yang diangkut. Sampah di kota besar tidak terangkut semua karena jumlah armada truk dan jarak tempuh dari TPS ke TPA yang cukup jauh menyebabkan warga kota besar terpaksa membuang sampah ke tepi jalan, sungai atau membakarnya. Tidak demikian halnya dengan kota kecil yang sanggup mengatasi masalah lonjakan sampah penduduknya.

Masalah sampah terjadi ketika sampah sudah menggunung. Metode yang diterapkan memang seperti itu : Kumpul, angkut dan buang. Sehingga ketika jumlah penduduk Indonesia melonjak setiap tahunnya dan harga bahan bakar minyak(BBM) makin membumbung, biaya tinggilah yang terjadi. Padahal sampah yang dibuang mengandung banyak potensi. Diproses menjadi pupuk, menjadi biji plastik, daurulang produk lain bahkan menjadi energy listrik.

Penyelesaian masalah sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah sendiri. Perlu peran serta masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh politik dan para ulama. Apabila setiap ulama bersedia menyisipkan pesan lingkungan di setiap tausiahnya maka bumi akan terhindar dari bencana lingkungan. Banyak sekali ayat AL Quran yang mengajak umat manusia memelihara bumi yang menghidupinya yang anehnya sering terabaikan.
Wrote by Maria G Soemitro


1331986867462421102
Rahyang mengambil desert ke dalam gelas air putih, penulis menggunakan cangkir (kanan) dok. Maria Hardayanto
Pernah datang ke acara peringatan pelestarian alam tapi di sekeliling area  penuh dengan sampah kemasan air minum, kardus snack serta wadah styrofoam? Sungguh kontradiktif. Antara  semangat diadakannya acara yang bertujuan penyadaran pelestarian lingkungan hidup dengan banyaknya sampah  seusai acara berlangsung.

Sampah berserakan dimana-mana. Umumnya di bawah kursi atau disekitar pohon. Bukan berarti tidak boleh nyampah. Tetapi bukankah panitia dan peserta acara bisa bekerjasama meminimalisir sampah?

Karena itu ketika Kompasianer  Achmad Siddik mengajak rekan-rekan Kompasianer kopdar sambil memperingati Hari Bumi, 22 April 2012 di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor.  Maka ingatan akan akhir berbagai peringatan lingkungan (Hari Bumi, Hari Air, Hari Ozon, Hari Lingkungan Hidup) yang kurang menyenangkan terulang kembali.

Umumnya sesuai kultur, tamu layak dihormati bak raja. Begitu dihormatinya sehingga nyampahpun dimaklumi. Padahal ada banyak cara menghormati tamu sekaligus mengajak mereka melakukan aksi. Tamu dan panitia bisa bekerja sama, saling melengkapi sehingga acara peringatan hari lingkungan lebih bermakna. Tidak sekedar hore-hore….  ^_^

Yang perlu dilakukan antara lain:

· Di dalam undangan dicantumkan dengan jelas agar para tamu membawa tempat minum (tumbler) dan serbet kain/saputangan kain. Gunanya untuk mengurangi sampah kemasan plastik bekas air mineral dan tisu kertas.

· Di lokasi acara, MC mengumumkan dan mengajak peserta untuk menjadikan area acara bebas sampah (zero waste event). Panitia hanya menyediakan air minum dalam gallon. Sebetulnya gelas-gelas plastik bisa disediakan, tapi bukan jenis gelas plastik sekali pakai. Panitia menyediakan label sticker agar peserta bisa memberi nama pada gelas minum. Ini untuk mengantisipasi peserta yang tidak membawa tumbler dan tentunya akan bolak-balik mengisi gelas plastik minumnya.
13319875321307856626
panitia dan peserta bekerjasama menyiapkan Zero Waste Event termasuk kotak kue sehingga tidak menghasilkan sampah
· Panitia menyiapkan makanan camilan minim sampah. Atau bahkan tanpa sampah. Misalnya risoles lebih dipilih daripada bugis yang dibungkus plastik. Atau bisakah memesan kue bugis dan nagasari dalam bungkusan daun pisang? Karena akhir-akhir ini nyaris tidak ada  makanan camilan yang berbungkus daun pisang. Lemperpun dibungkus plastik.  Padahal harga daun pisang masih tetap murah. Pertimbangan pedagang adalah praktis. Sudah waktunya sebagai pembeli, kita memilih makanan non/minim sampah. Hukum permintaan dan penawaran seharusnya berlaku. Sehingga pedagang  pasti akan menyanggupi. Mereka tahu keberlangsungan hidup usahanya sangat tergantung pada keinginan/trend pembeli.
1331987239729230453
berbagai camilan non sampah anorganik
· Apabila memungkinkan makan siang dengan prasmanan. Menggunakan piring dan sendok yang mudah dicuci. Tetapi apabila tidak memungkinkan dan pembagian makan siang harus menggunakan kardus ya apa boleh buat, asalkan jangan menggunakan wadah styrofoam yang nyata nyata tidak dapat terurai di alam.
13319878742124804677
· Panitia tidak bisa melarang peserta cilik yang ingin makan camilan berbungkus plastik . Daripada peserta membuang sampah  di sembarang tempat, lebih baik disediakan  tempat-tempat sampah berukuran jumbo dimana para peserta bisa membuang sampah anorganiknya. Pembelajaran membuang sampah pada tempatnya bisa tepat sasaran karena sampah betul-betul sudah terpisah.
13319880051657262973
· Seusai makan siang, para peserta diajak memasukkan sampah organiknya ke kotakTakakura. Apabila area acara merupakan hutan seperti Tahura Ir. Juanda, bisa dibuat lubang-lubang untuk membuang sampah organik. Anak-anak dapat dipandu dengan penjelasan bahwa sampah organik tersebut akan membantu menyuburkan tanah karena dikembalikan ke alamnya. Berbeda dengan membuang sampah organik ke tempat sampah umum yang sulit terurai karena bercampur plastik. Bisa juga menerangkan kepada mereka bahwa sampah organik yang terjebak dalam kantung kresek akan mengeluarkan gas metana. Terlalu sulitkah untuk anak? Tergantung anaknya mungkin ya? Anak SMP sih pasti mengerti.

Apa lagi ya? Yang penting memelihara lingkungan tetap bersih sebelum dan sesudah acara. Para tamu biasanya kebingungan meletakkan bekas makanannya. Sehingga panitia harus tanggap menyediakan tempat-tempat khusus menyimpan/ membuang bekas makanan dan MC rajin mengingatkan agar para tamu dengan sukarela berpartisipasi.

Zero Waste Event (ZWE) seperti diatas hanya dapat terlaksana apabila kita  adalah panitia yang mempunyai otoritas untuk mengajak para tamu beraksi nyata mengurangi sampah.
Bagaimana apabila kita adalah tamunya?

Bisa juga sih menyiasati. Dengan berbagai cara:
· Membawa tumbler tempat air minum sendiri dan menanyakan pada panitia apakah ada dispenser air mineral untuk mengisi ulang tumbler tersebut.

· Menghindari camilan yang menghasilkan banyak sampah. Khususnya sampah plastik. Tetapi kalau camilan tersebut menggiurkan dan hanya ada satu macam. Ya, apa boleh buat.

· Bersebelahan dengan desert es buah atau ice cream, biasanya ada tumpukan gelas plastik sekali pakai. Cara menyiasati agar tidak menggunakan gelas plastik sekali pakai adalah dengan menggunakan gelas atau cangkir yang sebelumnya digunakan air minum/air teh. Seperti yang dilakukan @Rahyang Nusantara dan penulis di acaraKompasiana Blogshop N5M di Bandung. Rahyang menggunakan gelas air putih untuk mengambil es buah (atau es jelly?) sedangkan penulis keluar lokasi prasmanan untuk mengambil cangkir kopi/teh sebagai wadah desert tersebut. Tidak ada gelas ataupun cangkir? Apa boleh buat, silakan pakai (hanya) satu gelas sekali pakai untuk minum dan mewadahi desert. Yang penting sudah meminimalisir sampah. Tidak boros menggunakan wadah gelas plastik.

Ribet?  …….mungkin pada awalnya akan ribet, rese dan riweuh. Tetapi apabila pernah melakukannya dan membiasakan diri di setiap event maka akan menjadi terbiasa. Khususnya apabila kita mengingat bahwa pihak catering  pasti akan menyampur sampah organik dengan sampah anorganik. Iyalah ….mereka super sibuk di hari H, jadi kitalah yang harus berperan.

Sampah tercampur  yang dibuang pihak catering dan menimbulkan bau busuk sisa makanan biasanya enggan diambil pemulung. Mereka membiarkan sampah berakhir di TPA. Di TPApun, pemulung hanya akan mengambil sampah anorganik yang “agak” bersih mengingat membersihkan sampah plastik menyita cukup waktu. Mereka pastinya enggan membersihkan plastik kotor berharga murah. Karena itu pengolahan sampah anorganik (khususnya plastik) di Indonesia baru mencapai angka 10 % dari keseluruhan sampah anorganik.

Ada satu pengalaman menarik ketika penulis menjadi ketua panitia pesta bantaran sungai. Berhubung keteteran dan anggota panitia lain belum memahami konsep minimalisir sampah dengan utuh maka penulis bersegera memilah sampah seusai acara. Sampah anorganik yang umumnya terdiri dari gelas air mineral dan kardus dimasukkan kedalam satu karung sedangkan sampah organik sisa makanan tamu yang tidak habis disantap dimasukkan kesatu wadah dan memasukkannya ke lubang resapan biopori (LRB).

Hasilnya? Area bersih dari sampah, LRB terisi bahan-bahan yang menyuburkan tanah. Anggota panitia/anggota masyarakat yang ingin menjual plastik/kardus merasa senang karena mendapat sampah anorganik bersih sedangkan anggota panitia lainnya lebih memahami makna minimalisir sampah. Karena berkontribusi dan beraksi langsung. Tidak sekadar kata dan retorika.
1331987061466124901
ibu-ibu berseragam rapipun memilah sampah dan memasukkan sampah organik ke LRB

Oiya ,kata memilah ditebalkan karena ada perbedaan arti dengan memisah.

Memisah sampah terjadi ketika kita langsung membuang sampah ke dalam tempat sampah sesuai peruntukannya: sampah anorganik, sampah organik dan sampah B3.

Sedangkan kata memilah digunakan apabila sampah sudah terlanjur tercampur sehingga di dalam tempat sampah ada sampah organik dan sampah anorganik. Karena itu biasanya pekerjaan memilah ini tidak efektif.  Selain jijik, selalu ada sampah yang terlewat untuk dipilah. Misalnya bungkus permen yang terlalu kecil “bersembunyi” dibalik daun pisang.

Zero Waste Event sejatinya bukan sesuatu yang sulit dilaksanakan, bukan pekerjaan para dewa. Terlebih sebagai produsen sampah, kita menyadari bahwa pembenahan harus dilakukan di hulu bukan di hilir. Karena ketika masalah sampah sudah berakhir dihilir maka nasibnya akan seperti banjir. Ditangani proyek tambal sulam yang tak berkesudahan. Persis gumpalan benang kusut yang sulit terurai, tidak diketahui mana ujungnya. Pihak pemerintah sebagai eksekutor dan masyarakat sebagai produsen sampah saling menyalahkan. Tanpa menyadari semua pihak berperan menciptakanlingkaran sampah.


**Maria G. Soemitro**
13319881731303479649
tempat sampah apapun, cara apapun …… asal diniatkan pasti rameeeee ……… (dok. Maria G. Soemitro)

Wrote by Maria G Soemitro



dok disini

RVM, solusi atau tanggungjawab?
Hari Senin, 26 Desember 2011 sekitar pukul 23.00 WIB, salah satu radio anak muda di Bandung mengangkat topik sampah. Wah bagus banget! Dengan hastag #BdgBgt dan narasumber Ridwan Kamil, mereka pastinya punya tekad ngga mau peristiwa Bandung Lautan Sampah, 21 Februari 2005 terulang. Sayang sekali kali ini penulis harus kecewa.

Bahkan gambar-gambar yang diposting pada twitter mereka sebagai berikut :

dok disini



Mengapa? Karena gambar-gambar dan solusi keren  tersebut kurang tepat sasaran. Sebanyak 60-70 % sampah di Indonesia bukanlah sampah kaleng dan plastik melainkan  sampah mudah membusuk alias sampah organik. Hal itu pulalah yang menyebabkan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Bandung mendapat penolakan. Idealnya mayoritas sampah yang masuk PLTSa adalah sampah kering/setengah kering seperti di negara maju sehingga tidak dibutuhkan energy ekstra untuk mengeringkannya.

PLTSa Bantargebang yang digadang-gadang akan mampu menghasilkan listrik dari pengolahan gas methanpun hingga kini tidak terdengar kabarnya. Bahkan tahun ini Pemerintah Kota Bekasi menuntut kompensasi pembayaran Rp 19 milyar untuk perluasan lahan pembuangan sampah. Padahal apabila proyek waste to energy di Bantargebang berjalan lancar harusnya TPA tersebut tidak memerlukan perluasan lahan bukan?

Masalah utama sampah memang bukan teknologi pemrosesan sampah yang terkumpul di TPA. Karena untuk urusan teknologi sih ilmuwan Indonesia bejibun banyaknya. Tetapi lebih ke masalah kultur. Masalah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Dan masalah tersebut tidak akan terpecahkan apabila menafikanjenis sampah yang dibuang penduduk Indonesia. Atau bahkan menyamakan jenis sampah Indonesia dengan jenis sampah Singapura dan Denmark sebagai bahan study banding.

Jadi gimana dong? Sederhana saja, sesederhana yang dilakukan orang tua jaman dulu yaitu memisahkan sampah basah dan mudah membusuk terlebih dulu. Karena sampah anorganik menggunung di depan rumah selama sebulanpun tak apa-apa.
Sampah organik yang mudah membusuk dimasukkan ke lubang resapan biopori (LRB). LRB sangat mudah dibuat. Diperkenalkan pertamakali oleh kompasianer Kamir R. Brata , ilmuwan IPB yang telah bereksperimen puluhan tahun. Kamir R. Brata juga pernah menunjukkan cara pembuatan LRB di halaman belakang

Gedung KompasGramedia, Jakarta. LRB mempunyai multi fungsi, selain menyimpan sampah organik yang menjadikan tanah tersebut subur juga sebagai penyimpan air hujan di perkotaan. Air hujan yang menimbulkan banjir, kemacetan dan rusaknya jalan-jalan umum.

Kamir R. Brata di halaman belakang gedung Kompas Gramedia
pak Kamir R Brata di halaman belakang gedung Kompas Gramedia


LRB juga cara termudah untuk anak-anak muda yang mulai peduli sampah. Mereka bisa bikin acara ngumpul bareng untuk membuat LRB di taman-taman kota yang bisa diisi daun-daun kering dan rumput. Selain itu juga membuat LRB di rumah-rumah secara bergantian.

Bagaimana dengan pekarangan rumah yang terlanjur tertutup semen tanpa meninggalkan celah untuk membuat LRB? Tetap ada solusi, yaitu membuat/membeli kotak takakura untuk membuang sampah organik kesitu. Dalam kurun waktu 2 bulan kotak takakura yang terisi penuh karena diisi sampah setiap hari dapat disaring. Hasil saringannya berupa kompos, sangat berguna untuk tanaman sedangkan sisanya masukkan saja kembali ke kotak untuk diisi sampah organik kembali. Bagaimana dengan sampah anorganik? Berikan saja pada pemulung, atau bisa juga dijual, nilainya sekitar  Rp 100.000/keluarga/bulan. Mudah bukan?

Memang mudah, masalahnya menjadi njlimet karena sikap feodal masyarakat Indonesia yang memandang rendah urusan sampah. Sehingga pemulung yang sudi mengais-ngais sampah ditahbiskan sebagai pahlawan lingkungan. Wah pemulung bukan pahlawan lingkungan. Perilaku pemulung umumnya tidak ramah lingkungan. Dia memulung karena terpaksa. Apabila ada alternatif pekerjaan yang tidak berurusan dengan sampah dan penghasilannya lebih besar, pastilah dia akan lebih memilih meninggalkan profesi pemulungnya.

sumber disini

Bagaimana dengan alternatif-alternatif pengelolaan (recycle) sampah seperti gambar diatas? Nggak terlalu jelek sih. Sekedar untuk asyik-asyikan boleh juga. Tapi tidak mengedukasi. Karena edukasi lingkungan haruslah dimulai dengan mengurangi sampah atau reduce. Baru kemudian  reuse. Recycle adalah pintu gerbang terakhir sesudah 2 tahap awal berusaha dilakukan.
Recyclepun sebetulnya bukan kewajiban kita sebagai konsumen karena menurut undang-undang nomor 18 tahun 2008 ayat 15, produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.

Jadi sudah seharusnya produsen softdrink dan semua produsen yang menggunakan kemasan kaleng menyediakan mesin diatas. Bahkan produsen juga wajib menyediakan mesin  tersebut di supermarket-supermarket seperti reportase Della Anna dari Belanda.

Juga bukanlah sesuatu yang aneh ketika pihak Danone Aqua menyediakan Reserve Vending Machine (RVM) di Monas. Dimana pengunjung yang membawa 10 botol bekas Aqua bisa menukarkannya sebagai tiket masuk. PT Tirta Investama selaku produsen Aqua seharusnya menyediakan berjuta-juta mesin serupa sebagai bentuk tanggung jawab terhadap limbah hasil produksinya. Mesin-mesin tersebut wajib disebarkan ke seluruh penjuru Indonesia untuk diproses hasil cacahan plastiknya oleh UMKM yang menjadi rekanan PT Tirta Investama.

Bahkan PT Tirta Investama seharusnya segera menyediakan mesin-mesin tersebut karena sudah terlalu lama kewajibannya diambil alih oleh para pemulung dan tukang rongsok yang bersedia keliling penjuru kota untuk mengumpulkan bekas kemasan mereka, menyetorkannya pada pengepul hingga akhirnya diolah oleh para pelaku usaha mikro menjadi biji plastik.

Dan tentu saja, produsen air mineral dalam kemasan juga tidak boleh melupakan dosalainnya yaitu  privatisasi dan monopoli terhadap sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Entah sudah berapa ratus triliun rupiah sumber daya alam berupa air yang telah dikeruk dari bumi Indonesia ini.

Hingga waktu itu tiba. Waktu dimana penduduk Indonesia harus berperang untuk memperebutkan air bersih. Waktudimana penduduk Indonesia dipenuhi ledakan sampah anorganik karena ulah produsen yang tidak bertanggungjawab dan pejabat lemah yang kekenyangan uang korupsi.

**Maria G. Soemitro**
sumber gambar :
  • Kompas.com

  • antaranews

  • disini dan disin
    i
Wrote by Maria G Soemitro

Indonesia mempunyai sejarah kelam menyangkut sampah. Yaitu ketika bukit Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat longsor pada tanggal 21 Februari 2005 silam. Bencana sampah terbesar di Indonesia dimana 143 korban jiwa meninggal dan puluhan luka-luka.
Tapi seperti banyak tragedy lainnya. Bencana ini seolah ingin ditutupi dan dilupakan. Padahal bencana serupa bukan tidak mungkin terulang lagi. Banyak penyebabnya; mulai dari kemampuan Dinas Kebersihan yang belum maksimal mengatasi masalah sampah di TPA. Serta kesadaran masyarakat yang masih rendah  dalam menerapkan pedoman 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) membuat tumpukan sampah bagaikan ladang emas bagi pemulung. Mereka mendirikan bedeng-bedeng di seputar TPA agar memudahkan operasional. Tetapi sekaligus menantang bahaya dengan menghirup gas beracun tiap harinya dan ancaman longsor dari perbukitan sampah.
Permasalahan sampah di hilir tidak mungkin terurai tanpa mengetahui penyebab di hulu. Bahkan pengibaratan homo homini lupus bagi permasalahan sampah mungkin tepat. Karena tanpa sadar “manusia menjadi serigala bagi manusia” lainnya. Dibawah ini saya mengutip “curhat” seorang anggota milis greenlifestyle sebagai berikut:
13297419001322840856
“Pagi ini saya basa-basi dgn seorang SATPAM, yang ternyata tinggal di jalur kali Angke tempat saya mengadakan acara tgl. 23 jan, saya menanyakan kalau warga di tempat bapak buang sampah kemana ?,
Dengan  enteng dia bilang: ” Ke tanah kosong dekat kali, lalu ke kali Angke, memang tdk ada tempat penampungan agar diangkut dinas kebersihan, dikampung-kampung memang sudah biasa Pa, buang sampah di kali, kalau buat penampungan sampah kan mahal dan belum biaya angkutan sampahnya”,
Saya bilang: “Apa warga tahu kalau sampah yg dibuang ke kali efeknya di hulu sungai jadi banjir?”
“Katanya tahu sih pa, abis gi mana lagi, kan warga mah dari dulu juga memang buang sampahnya ke kali”.
Pagi ini saya ketemu Mobil Dinas kebersihan sampah di jalan, saya parkir motor saya, menanyakan apakah mau mengangkut sampah dari kampung yg saya katakan, katanya bisa aja pa, sampahnya kumpulkan saja di gang nanti angkut, saya tanya biayanya berapa pa, katanya Rp. 25.000 per KK, / saya rasa mahal juga ya.
Saya coba tanya-tanya ke warga, ternyata memang warga banyak org tdk mampu untuk hal seperti itu, sementara sampah akan tetap di buang ke kali, dan terjadi antar generasi ke generasi, ingin rasanya membuat solusi, tapi masi buntu……..”

--------------------------------------------------------------------------------------------------------->>
Beberapa orang akan mengatakan: “Ah, iuran Rp 25.000/bulan sih kecil. Masa ngga bisa bayar? Tapi permasalahan bukan pada besar kecilnya iuran tetapi pada sikap mental. Pada rasa tanggungjawab sosial yang terkikis dan nyaris hilang. Pada ketidak pedulian akan akibat yang disebabkan sampah yang dibuangnya. Sekecil apapun sampah tersebut.
Tidak percaya? Yuk, kita kupas tuntas peranan tiap pihak yang menyebabkan lingkaran setan seolah tak berujung tersebut.
1.    Produsen sampah.
Terbanyak adalah rumah tangga. Di daerah pemukiman padat, jumlah yang harus dibayar Rp 3.000-Rp 5.000/Kepala Keluarga untuk honor  tukang sampah setempat. Ditambah biaya retribusi Rp 3.000/KK untuk biaya transportasi sampah dari Tempat Pengumpulan sampah Sementara (TPS) ke Tempat Pengumpulan sampah Akhir (TPA). Jumlah sekecil itupun banyak warga enggan membayar dan memilih: membakar sampah, meletakkan ditanah kosong atau membuangnya diam-diam di malam hari/dini hari ke aliran sungai.
Mengapa malam hari/dini hari? Karena ternyata mereka masih punya rasa takut dan sungkan apabila ada yang menegur tindakannya. Anehnya warga yang tidak mau membayar retribusi sampah dan mengaku tidak mampu membayar tersebut bisa berhape-ria. Bisa facebook-an. Walau berhape Cina, urusan sampah menjadi nomor sekian. Yang penting lenyap dari rumah, nggak kelihatan mata.
Sampahnya menyebabkan wilayah orang lain banjir? Nggak masalah, kan bukan wilayah rumahnya. Asosial yang menghinggapi wong cilik. Tentu saja tidak semua wong cilik. Kasus ini menimpa penduduk pemukiman padat yang terimbas perilaku hedonis disekelilingnya.
2.    Tukang sampah.
Tukang sampah yang umumnya menggunakan gerobak untuk mengangkut sampah ini berada pada hierarki terendah sistem  pengangkutan sampah ke TPA. Karena statusnya tenaga lepas maka umumnya mereka juga pelaku usaha rongsokan. Mereka tak segan membongkar sampah rumah tangga untuk mencari sampah anorganik yang bisa dijual seperti kardus, kaleng dan plastik bekas air mineral.
Jadi berbaikhatilah pada mereka dengan memisahkan sampah dapur dengan sampah yang masih laku dijual. Sayangnya mereka memegang teguh: bisnis adalah bisnis. Jangan berharap mereka sudi mengangkut sampah di jalan-jalan yang mereka lalui. Bahkan beberapa tukang sampah hanya mau mengangkut sampah dapur. Selain sampah dapur, mereka tidak mau. Seorang teman pernah marah-marah karena tukang sampah menolak membantu membuang krans ketika bunganya sudah layu. Sehingga terpaksa dia memasukkan sampah krans tersebut ke dalam mobilnya dan membuang ke kontainer di depan pasar.
Ada kisah sedih lainnya, penulis pernah memergoki tukang sampah yang membuang hasil angkutannya ke dalam aliran sungai. Ketika ditegur, si tukang sampah berkilah kontainer sampah di TPS penuh, belum dikosongkan padahal dia harus mengangkut sampah kembali. Sampah dari rumah-rumah harus segera diangkut apabila tidak mau kena marah ibu-ibu. Ketika saya mendatangi ketua RT dan RW untuk meminta penjelasan, hanya dijawab dengan mengangkat bahu tanda pasrah. Wah……
3.    Dinas Kebersihan
Karena system pengelolaan sampah di seluruh kota Indonesia masih menganut prinsip yang sama yaitu: kumpul, angkut dan buang maka peran Dinas Kebersihan menjadi amat vital.
Andaikan terjadi privatisasi Dinas Kebersihan dan para pegawainya mogok kerja maka sampah akan bertebaran dari Sabang hingga Merauke.
Bencana yang lebih besar dari padamnya listrik dari Sabang hingga Merauke. Karena bau, aliran air lindi sampah, belatung yang keluar dari sampah organik dan lalat yang bertebaran akan menghiasi setiap sudut kota. Menyebarkan ancaman yang mengcekam. Mengakibatkan ketidakstabilan politik, ekonomi dan sosial.
Berlebihan? Bayangkan saja dulu ^_^
Karena itu petugas pengangkut sampah dari TPS ke TPA sering bersikap “jual mahal”. Walaupun sudah ada garis retribusi dan pembagiannya tetapi pada daerah-daerah tertentu mereka meminta “tip/honor khusus”, contoh nyata adalah kasus di atas. Pada beberapa kasus penulis menjumpai beberapa daerah dimana ketua RW harus mengeluarkan dana ekstra agar sampah dari TPSnya diambil tuntas. Apabila tidak maka pengambilan sampah akan “dicicil” atau “ditunda” beberapa hari. Mungkin untuk memberikan “efek jera” pada Ketua RW dan masyarakat daerah tersebut.  Ironisnya daerah yang terkena efek jera itu umumnya daerah pemukiman padat.
4.    Pemerintah Daerah
Pemegang otoritas tertinggi masalah pengelolaan sampah ini umumnya mengecilkan arti sampah. Bahkan Kota Bandung mengukuhkan Dinas Kebersihannya sebagai Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan. Sehingga PD Kebersihan harus menghasilkan income agar cashflow perusahaan lancar. Karena tidak lancar maka PADpun dikucurkan. Tidak kurang dari Rp 16 milyar per bulan dikeluarkan pemerintah Kota Bandung agar PD Kebersihan bisa menjalankan fungsinya.
Tetapi permasalahan utama berawal dari tujuan perusahaan yang harus menghasilkan inkam dan bukan menyosialisasikan pengelolaan sampah terhadap masyarakat.
PD Kebersihan menjadi impoten. Sebagai perusahaan, kok rugi melulu. Mau mengedukasi dan menyosialisasikan 3R, statusnya kok perusahaan!? Sehingga status perusahaan menjadi sekedar nama tanpa menjalankan fungsi.
Mungkin awal dibentuknya PD Kebersihan cukup visioner. Merubah paradigma sampah sesuatu yang menjijikkan menjadi sampah adalah uang. Sayangnya komposting tidak berjalan, pengangkutan sampah tidak mampu dilakukan 100 % dan uang yang diharap datang tak kunjung tiba.
Cara pembuangan sampah yang sama mengakibatkan setiap kota di Indonesia mempunyai permasalahan  yang nyaris sama. Mungkin kebijakan yang diambil setiap pemerintah daerah  berbeda tetapi esensinya sama.  Yaitu membiarkan masyarakat larut dalam suatu lingkaran.  Suatu ketergantungan yang berakibat fatal apabila salah satu pihak terpaksa bertindak diluar lingkaran.
Salah satu penyebabnya adalah semakin menjauhnya TPA dari pusat kota atau bahkan tidak ada lagi lahan yang bisa digunakan sebagai pembuangan sampah akhir. Suatu keniscayaan karena peningkatan jumlah penduduk urban tidak diimbangi kebijakan pro rakyat. Sehingga setiap tahunnya kota ibarat gula yang memikat semut. Memikat penduduk desa yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya sekaligus meninggalkan kearifan lokalnya.
Tidak salah apabila pemerintah daerah mampu mengatasi  urbanisasi dan berhenti berkeluh kesah.
———————————————————————————————————————————————–
Dan sebagai produsen sampah sekaligus bagian hulu dari permasalahan sampah maukah kita bertindak? Memisah sampah dengan membuang sampah organik pada lubang resapan biopori atau mengomposnya?
Memisah sampah anorganik berdasarkan produsennya dan membuang sampah tersebut di depan kantor produsen produk tersebut.
Karena tugas merekalah untuk mengelola sampah tersebut sekaligus membantu kita keluar dari lingkaran setan sampah.
Indonesia Solid Waste Association (Inswa) pernah “menegur” produsen air mineral. Dulu sampahnya belum laris tanjung kimpul seperti sekarang. Karena proses memilah dan meleburnya hingga menjadi biji plastik belum dikenal secara luas. Inswamengumpulkan sampah bekas air mineral dan membuangnya pekarangan produsen tersebut. Sekarang, siapapun tentu mafhum bahwa sampah bekas air mineral diburu tukang rongsok dan pemulung.
Masih buntu? Yuk, kita bekerjasama dengan supermarket dan minimarket. Karena di mata  retail: “Pembeli Adalah Raja”
Kalau pembelinya bungkem maka retailpun tidak tahu apa yang dikehendaki “Raja”nya.
**Maria G. Soemitro**
sumber gambar :disini
Wrote by Maria G Soemitro

1327743769630423278
Titi DJ dan keluarga belajar mengompos di rumah pak Sobirin tahun 2008 (dok.Sobirin)
Sebetulnya peristiwa ini sudah lama berselang. Ketika itu Titi DJ dan keluarga datang kerumahSupardiyono Sobirin (67 tahun), pakar DPKLTS  untuk belajar mengompos sampah organik. Para pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) memang giat membuat komposter dirumahnya masing-masing.

Tetapi mengapa banyak yang memilih pak Sob (kami memanggilnya demikian) sebagai tempat bertanya? Mungkin karena pak Sob menjadikan rumahnya sebagai workshop dimana setiap orang dipersilakan berkunjung dan belajar.

 Pak Sob juga rajin meng-update blog Sampah Diolah Menjadi Berkah yang telah dikunjungi 643.469 pembaca. Suatu jumlah lumayan untuk ukuran blog yang mengusung topik “green“.

Apa saja isi “kuliah” pak Sob ketika itu? Kurang lebih sebagai berikut:
Komposter terdiri dari 2 jenis, tergantung bakteri pengolah kompos. Yaitu komposter aerob dan komposter anaerob.

1. Komposter Aerob
Kami menamakannya komposter ramah lingkungan. Karena menggunakan bahan ramah lingkungan seperti batubata, kayu maupun bambu. Komposter bambu digunakan oleh Solihin GP, mantan Gubernur Jawabarat ke-8 yang hingga usianya yang ke 85 kini masih lantang menyuarakan kepedulian lingkungan dan mempraktekkan konsep ramah lingkungan dirumahnya yang asri. Sedangkan pak Sob menggunakan batu bata yang tidak dipasang rapat, ukuran panjang x lebar x tinggi = 1 meter x 1 meter x 1 meter.
13277291161577051546
komposter bata terawang (gambar kiri), komposter rancangan pak Sobirin
Komposter aerob menggunakan bakteri aerob yang memerlukan O2 bebas untuk kegiatan respirasinya. Komposter aerob harus tertutup agar rumput-rumput liar yang nakal tidak keluar lagi dan beranakpinak. Tetapi tetap menyisakan ruang agar O2 bisa hilir mudik membantu bakteri aerob bekerja.
Pak Sob menyarankan membuat cairan mikroorganisme lokal (mol) agar bakteri aerob bekerja maksimal dan kompos dapat segera dipanen . Cairan mol tersebut disiram ke dalam komposter yang sudah berisi sisa makanan dan atau dedaunan dari pekarangan.
13277329281694866676
Untuk rekan yang malas membuat mol, bisa menggunakan air sisa cucian beras yang telah diendapkan 2 hari. Selain itu juga bisa menggunakan air rendaman sisa kupasan buah dan atau air yang keluar dari tape ketan yang terlalu matang.  Pengadukan calon kompos secara berkala juga dianjurkan agar bakteri aerob bisa berjalan-jalan dengan leluasa.

Cara memeriksa apakah balatentara bakteri aerob mengerjakan tugasnya dengan benar adalah dengan menyentuh komposter. Calon kompos akan hangat bahkan mengeluarkan asap. Persis seperti sampah dalam kotak takakura yang sedang diolah bakteri aerob menjadi kompos.

Setelah satu bulan, kompos bisa dipanen. Apabila menggunakan mol, waktu yang diperlukan lebih singkat. Hanya kurang lebih 3 minggu.
 Cara memanennya gampang, tinggal buka “pintu” dilantai bawah bangunan komposter. Karena tumpukan sampah terbawah sudah menjadi kompos sedangkan sampah baru ada diatasnya.
1327729667213939038
Komposter aerob ini juga bisa menjadi alternatif untuk rumah tangga yang kehabisan lahan tapi mempunyai lahan diluar rumah seluas kurang lebih 1m x 1m untuk berbagi dengan keluarga lainnya. Komposter komunal yang dimiliki 2 - 3 kepala keluarga atau bahkan lebih,  dapat mempererat tali silaturahmi.
 Karena perlu didiskusikan bersama apakah komposter komunal perlu digembok agar tidak di aduk-aduk pemulung yang berharap menemukan harta karun eh rongsokan   ^_^

Berapa biayanya? Sekitar Rp 100.000, karena tukang bangunann bisa menyelesaikannya dalam waktu beberapa jam saja. Semen pun beli eceran, kalau tidak salah 3 kg. Sedangkan untuk batu bata, kebetulan  dirumah penulis banyak sisa bahan bangunan. Jadi si emang tinggal ambil. Tapi mudah diperkirakan kok, dihitung dari satu sisi 1 x 1 meter : sisi batu bata = silakan teruskan sendiri …..      ^_^


2. Komposter anaerob.
Penulis meniru pembuatan komposter anaerob milik pak Sobirin. Yaitu lubang yang digali kedalam tanah ukuran 60 cm x 60 cm sedalam 1 meter. Lubang dibiarkan tidak diplester semen hanya bagian pinggir atas dipasang selapis batu bata agar tanah tidak longsor. Selain itu juga untuk mengganjal tutup beton dan memperindah komposter agar nampak “cantik” dan rapi.

Komposter anaerob menggunakan bakteri anaerob yang tidak memerlukan oksigen untuk tumbuh. Tetapi karena beberapa bakteri anaerob menghasilkan toksin yang berbahaya bagi manusia maka tidak dianjurkan membangunnya dilokasi dimana ketinggian air tanahnya dangkal atau  berketinggian > 5 meter.
1327731898590243165
Komposter anaerob seperti diatas sangat membantu apabila kita mempunyai sampah dapur yang bau misalnya kulit udang. Beri selapis tanah, maka bau busuk akan hilang. Hal tersebut jugalah yang menyebabkan pak Sob rajin membuang bangkai dan kotoran hewan disini. Tetapi yang lebih menyenangkan adalah hasilnya selain lebih cepat, butiran kompos lebih halus dibanding kompos aerob.

Pembuatan komposter anaerob juga dapat dilakukan secara komunal karena tidak membutuhkan banyak lahan, irit dan mudah. Serta tidak usah takut diambil pemulung.

Khusus komposter anaerob yang menggunakan wadah tertutup dari plastik , penulis mempunyai pengalaman sama dengan  Nugroho Adhi serta ibuDjamaludin (istri mantan menteri kehutanan di era pak Harto) pengelola Kebun Karinda, yaitu berbau dan banyak belatungnya. Karena hasil dekomposisi komposter aerob adalah kompos, gas CO2 dan H2O sedangkan komposter anaerob hasilnya adalah sludge, CO2 dan gas methan.

Solusinya? Mungkin membuat 2 jenis komposter seperti eksperimen penulis. Dimana kompos setengah matang dipindah ke komposter aerob. Atau komposter anaerob yang terbuat dari plastik hanya boleh diisi dedaunan dan rumput hasil menyiangi pekarangan. Waktu komposting akan lebih lama tetapi jauh lebih sukses dibanding komposting  dibawah ini.
13277312901664462694
komposting yang gagal, kurang rapat, kurang tinggi dan tidak ditutup
Kembali ke kisah Titi DJ yang berminat membuat komposter dirumahnya. Apakah akhirnya dia membuat komposter serupa?

Hal tersebut lupa ditanyakan oleh rekan-rekan Greeneration Indonesia yang ikut berkontribusi pada Konser Titi DJ, “Swara Sang Dewi”. Suatu konser yang dirancang agar para penontonnya terkena “virus ramah lingkungan”.
Berhasilkah misi konser tersebut? Entahlah. Karena semangat kepedulian lingkungan tidak semudah menularkan virus penyakit flu. Harus dilakukan terus menerus. Karena itu yuk, memulai aksi ramah lingkungan dan membuat tulisan tentang “green”.
 Walaupun pembacanya sedikit. Sehingga harus memeras otak agar pembaca mau meng-klik tulisan tersebut    ^_^
Catatan : Pencantuman usia pak Sobirin, pak Solihin GP dan ibu Djamaludin (yang ini sih kira-kira sendiri deh, kan mantan menteri jaman Orba), disengaja agar menginspirasi anak-anak muda. Masa kalah sama orang tua yang sering nyeri cangkeng (sakit pinggang-pen)     ^_^
Yuk selamatkan bumi dengan mengompos sampah organik!

**Maria G. Soemitro**
1327732011233632646
1327733592128923411
dok . gambar dan data : Supardiyono Sobirin /DPKLTS

Wrote by Maria G Soemitro


dok. Yayasan Kontak Indonesia
dok. Yayasan Kontak Indonesia

Pemulung dinobatkan sebagai pahlawan lingkungan? Sudah sangat sering didengungkan. Khususnya karena lingkup kerjanya memunguti sampah anorganik yang sulit terdegradasi dan  mengandung zat-zat membahayakan. Sehingga keberadaannya dianggap pahlawan, padahal apabila mau jujur mereka pasti enggan berjibaku dengan sampah yang kotor, bau dan menjijikkan tersebut.
Mereka memang kelompok termarginalkan yang terpaksa mencari nafkah dengan modal kemauan mengais sampah rumahtangga walau harus bersaing ketat dengan sesama pemulung dan memperoleh pendapatan kurang lebih Rp 10.000-Rp 20.000/hari. Dengan penghasilan seminim itu mereka hanya mampu sekedar hidup, sekedar makan dan minum. Sedangkan untuk tidur mereka mengandalkan emperan toko. Bagaimana pemenuhan kebutuhan pendidikan dan kesehatan keluarga mereka? Untuk sementara hanya mimpi!

Data jumlah pemulung yang memiliki tempat tinggal di kota Bandung pada tahun 2006  menunjukkan angka 800 orang yang tersebar di 24 titik. Ditambah jumlah mereka yang baru datang dan mempunyai kebiasaan nomaden karena berpindah-pindah tempat, pastinya angkanya  lebih banyak lagi. Tetapi problem mereka sama,.tidak mempunyai jaminan kesehatan karena tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) Bandung. Akses mendapatkan Jamkesmas atau  program “Bawaku Sehat”, suatu program jaminan kesehatan bagi golongan tak mampu yang dicanangkan pemerintah kota Bandung hanyalah akses tak terjangkau bagi mereka.

Berdasarkan realita itu Yayasan Kontak, suatu yayasan yang selama ini menjalin  kerjasama dengan pemulung sebagai ujung tombak pemilahan sampah, khususnya tetrapak bekerja sama dengan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) “Surya Sumirat” mengadakan pemeriksaan kesehatan rutin setiap 6 bulan sekali. Setiap pasien mendapat kartu JPKM untuk pemeriksaan ulang dan obat-obatan gratis.

Untuk kesekian kalinya pada hari Minggu, 25 September 2011, bersama JPKM Surya Sumirat,  Yayasan Kontak Indonesia menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan dengan mengundang 300 pemulung di gedung Puwnten yang terletak di depan Gedung Merdeka, jalan Asia Afrika Bandung.

13170695852012142065
Dari 300 pemulung yang berhasil diundang, ada 203 orang yang datang. “Umumnya mereka mengalami masalah gangguan pernapasan, ISPA dan gatal-gatal, ya maklumlah sehari-hari bergaul dengan sampah” ujar dokter yang memeriksa mereka.

Seusai pemeriksaan kesehatan mereka mendapat hidangan gratis yang disediakan panitia dalam gerobak-gerobak layaknya pesta resepsi pernikahan. Lengkap dengan biduan yang bernyanyi diiringi organ tunggal. Sehingga mereka terhibur dan ikut larut berjoged bersama sang biduan. Ya suasana pemeriksaan kesehatan kali ini menyerupai pesta kecil komunitas pemulung.

Bagi masyarakat umum yang ingin mengikuti kegiatan ini, bebas datang. Apabila  berkenan sukarela menyumbang, disiapkan kotak pakaian bekas layak dan  buku bacaan bekas yang diharapkan dapat menambah wawasan para pemulung.

Khusus pakaian bekas layak pakai, pantia menyortir dan menyuci kemudian  dikumpulkan dalam satu stand untuk dijual seharga Rp 1.000-Rp 2.000. Hasil penjualan disimpan sebagai kas kesehatan mereka. Mereka juga menerima sampah hasil pemilahan seperti kertas, kaleng, plastik dan kemasan aseptic (tetrapak).

1317069658554789583
Secara keseluruhan acara Bakti Sosial kali ini mampu membuat para pemulung tersenyum, baik yang mendapat doorprize maupun tidak. Karena mereka memang memerlukan hiburan gratis sesudah setiap hari bergumul dengan sampah, dari pukul 04.00 pagi hingga senja menjelang,  demi sesuap nasi.
Untuk mereka, kiasan sesuap nasi sungguhlah tepat.

13170685121394806064
1317068584174798432
131706863819460768713170687884488042051317068849610350744
1317069217777305711
Endy, Direktur Yayasan Kontak menggendong anak pemulung

Wrote by Maria G Soemitro





131325626549537027
Bersaling #3 Pusdai, Sabtu, 5 Oktober 2007













Buka puasa bersama seolah menjadi kebiasaan di bulan Ramadhan. Di sekolah, di kantor antar komunitas dan di Kompasiana. Demikian juga Buka Puasa bersama anak yatimpiatu.

Melihat kebiasaan yang mengarah menjadi tradisi ini, para pegiat lingkungan seperti Walhi, Konus, tim Greeners Magazine menggagas ide agar ajang silaturahmi bisa lebih bermanfaat yaitu menyisipinya dengan edukasi lingkungan. Karena  edukasi lingkungan selama ini hanya sebatas ruang kelas dalam bentuk pendidikan lingkungan hidup. Sebatas ruang seminar yang hanya diikuti oleh orang-orang yang kebetulan peduli. Jadi mengapa tidak disebarkan pada setiap penduduk Indonesia khususnya anak-anak. Anak-anak generasi pewaris bumi yang mempunyai kewajiban memelihara dan melestarikannya.

Maka sejak Ramadhan tahun 2005 diadakan acara ngabuburit dan buka puasa bersama anak yatim piatu. Kegiatan ini diberi nama Bersaling, singkatan Berbuka Sambil Ingat Lingkungankarena seusai  buka puasa bersama, acara dilanjutkan dengan menonton film bertema lingkungan dan membahasnya. Para sukarelawan/penggiat lingkungan mendampingi para anak yatim piatu agar kegiatan berjalan lancar dan mereka paham terhadap apa yang ditonton. Nggak lucukan, kalau para anak yatim ini malah mengantuk sewaktu menonton film karena tidak mendapat pengarahan yang tepat.

Apa saja film yang ditayangkan? Banyak! Mulai film tentang air. Bagaimana proses alam menyimpan air kemudian berapa lama proses yang dibutuhkan agar air yang tersimpan dibumi berubah menjadi air tanah. Film tentang hakekat pohon, tentang bumi, tentang produk hijau, tentang energy terbarukan dan masih banyak lagi  lainnya.

Masyarakat pun diajak turut serta dengan cara membeli tiket Bersaling. Satu tiket Bersalingseharga Rp 40.000 berarti tiket buka puasa plus mentraktir satu anak yatimpiatu. Setiap orang bisa membeli lebih dari satu tiket Bersaling,  makin banyak tiket dibeli  otomatis memberi kesempatan lebih banyak bagi anak yatim piatu. Tidak bisa datang atau ingin memberi lebih? Ada tiket donasi dengan kelipatan Rp 10 ribu. Kegiatan Bersaling bulan Ramadhan  tahun ini akan diadakan pada tanggal 21 Agustus 2011 bertempat di Kologdam , jalan Aceh no 50 Bandung. Target pegiat Bersaling  adalah menyelenggarakannya di kota-kota besar lain. Karena itu  melaksanakan  Bersaling  di Jakarta pada tahun 2012 bukanlah keinginan yang berlebihan.

Rasanya terlalu naif apabila berharap pertemuan beberapa jam dengan frekuensi sekali dalam  setahun  bisa mengedukasi anak-anak dan merubah mereka menjadi lebih peduli lingkungan. Karena itu kegiatan ini hanya entry point agar anak-anak dan pembimbing mereka tertarik dan menjadikan kegiatan lingkungan hidup sebagai kegiatan ekstrakuler.  Lebih baik lagi apabila mereka bersedia menerapkan di panti asuhan. Untuk itu disiapkan modul-modul pembelajaran oleh LSM terkait. Bukankah menjadikan kegiatan lingkungan sebagai suatu gaya hidup akan lebih bermanfaat daripada mengerjakannya sesekali di lingkungan sekolah.

Kegiatan ini juga menjembatani banyak pihak. Baik pejabat publik, komunitas lingkungan hidup, masyarakat dan anak-anak yatim piatu yang sebelumnya hanya mendapat kiriman uang sedekah atau beras tanpa diketahui sosok-sosok kecilnya. Mereka adalah pewaris bumi. Siapa yang dapat memprediksi kiprah mereka kelak. Bukan tak mungkin salah seorang diantara mereka akan menjadi menteri atau bahkan presiden Republik Indonesia.

Dan ketika waktu itu tiba, mereka sudah cukup mendapat bekal untuk melestarikan bumi Indonesia. Mampu menghukum pelaku illegal logging, memberlakukan kebijakan energy bersih, menolak eksploitasi sumber air untuk diekspor yang hanya dihargai dengan amat rendah. Mereka akan menjadi manusia mandiri yang mampu berkata tidak pada perbudakan ekonomi dengan menjual murah sumber daya alam. Semoga!
sumber gambar : disini dan disini
Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • 5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan
           5 Langkah Atasi Sampah Plastik untuk Bumi yang Berkelanjutan “Say no to Plastics” Demikian bunyi  banner yang kerap bersliweran di ha...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates