• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Entertainment
  • Travel
  • Contact Us

About Me



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




Bandung Zero Waste

Gaya Hidup Nol Sampah untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah


1305741410338301358
Asyik merenovasi sepatu (dok. Maria Hardayanto)
Tanpa disadari ada profesi turun temurun yang menandakan kegiatan 3 R (Reduce, Reuse, Recycle)sebetulnya sudah mendarah daging di Indonesia. Yaitu : Tukang Sol Sepatu!  Ya, tukang sol yang bersliweran  keluar masuk kampung dengan teriakannya : Solll ……. Sol …. Solll……Sol Sepatu!  sebetulnya berjasa besar dalam menghemat isi kantong kita dan secara tidak langsung  telah berjasa bagi lingkungan.
Apa jadinya Indonesia tanpa tukang sol sepatu ? Banjirnya sepatu bermerk dengan kwalitas KW1, KW2, hingga KW super yang indah dipandang tapi tidak awet dipakai mengakibatkan sepatu baru beli sudah copot haknya atau lepas jahitan pinggirnya. Jalan-jalan diperkotaanpun tidak ramah untuk sepatu. Lebih banyak area kerikil daripada area jalan mulus.  Tetapi yang paling mendukung percepatan kerusakan sepatu adalah cuaca Indonesia yang tidak bersahabat.  Siang hari cuaca panas menyengat tapi tidak lama kemudian hujan turun deras menyebabkan banjir  meluapkan air got. Sehingga sepatu terendam dalam air bercampur lumpur merupakan pemandangan yang biasa.
13057372482019779150
banjir jalan raya penyebab sepatu rusak, jl Setiabudi Bandung (dok. Maria Hardayanto)
Akibat cuaca demikian, kerusakan sepatu tak terhindar lagi. Apakah itu sepatu  baru pakai atau sepatu lama tapi nyaman dipakai. Solusinya jelas bukan dengan cara membuang sepatu dan membeli yang baru. Membeli  sepatu baru tidak menjamin akan memberi kenyamanan yang sama dengan sepatu lama. Selain itu, harus mengencangkan ikat pinggang nih, semua serba mahal!  Uang membeli sepatu baru lebih baik digunakan untuk membeli sembako yang kian mahal. ^_^
Keberadaan tukang sol sepatu  memberi harapan kepada pemilik sepatu untuk memperoleh kenyamanan kembali sepatu lamanya. Karena tukang sol sepatu berperan dalam 3 hal :
1. REDUCE
Pemilik sepatu tidak sekedar menghemat anggaran pembelian sepatu tetapi juga menghindari bertambahnya sampah. Tanpa tukang sol sepatu, mungkin dalam setahun pengguna sepatu harus membeli  3 pasang sepatu  tapi dengan adanya tukang sol sepatu, cukup sepasang sepatu dalam kurun waktu satu tahun.  Andaikan  jumlah penduduk suatu kota adalah  2 juta, maka 2 juta @2pasang sepatu = 4 juta pasang sepatu.
Berapa rupiah uang yang dihemat? Misalkan harga sepatu Rp 150.000/pasang maka  4 juta @ Rp 150.000 = Rp 600.000.000.000……… Wow, 600 milyar rupiah !! (Dalam kasus ini pembelian sepatu dilihat  dari sudut kegunaannya sebagai alas kaki  bukan modenya).
Jumlah yang cukup lumayan  bukan? Ini baru hitungan untuk satu kota, apabila diambil 5 kota terbesar di Indonesia, hasilnya pasti tidak sekedar lumayan.
Prediksi sampah yang berhasil dihindarkan  sekitar 5 kota @ 2 juta penduduk @ 2 pasang sepatu = 20 juta pasang sepatu.
Dalam meminimalisir  sampah sepatu, tentunya  jejak karbon yang bisa dihemat juga menjadi pertimbangan, perhitungannya tergantung  seberapa banyak energy yang digunakan untuk menghasilkan setiap sepatu.
2.   REUSE
Jasa tukang sol sepatu tidak sekedar menghemat pengeluaran tetapi sepatu lama bisa digunakan kembali (reuse). Bahkan apabila tugas Anda memaksa untuk mengukur jalan atau aktivitas luar lainnya yang memaksa sepatu harus bertemu jalan tidak ramah sepatu maka tukang sol sepatu  dengan senang hati akan memberikan jasa menjahit sol sepatu. Sehingga sepatu  rusak bisa dikenakan kembali.
Tukang sol sepatu juga menyediakan sol sepatu untuk menggantikan  alas sepatu yang bolong parah dan menyulapnya menjadi nyaman dipakai tanpa takut air hujan memasuki celah yang sebelumnya berlubang.
Anda tidak menyukai suara tok…tok…tok…hak sepatu ketika beradu lantai keras?  Nah tukang sol sepatu menyediakan jasa dan bahan tambahan agar  alas sepatu  lebih empuk dan tidak bersuara heboh lagi.
3.   RECYCLE
Recycle yang berhasil dikerjakan oleh team tukang sol sepatu adalah dengan digunakannya kembali ban bekas  kendaraan sebagai pengganti hak /sol sepatu yang rusak. Pemilik  yang mempunyai sepatu lama  dengan alas sepatu bolong tak tertolong tetapi merasa sayang untuk membuangnya karena nyaman dipakai dapat meminta bantuan jasa  tukang sol sepatu. Dan…… simsalabim  !!  Sepatu  lama dengan alas barupun siap digunakan.
Banyakkah pengguna jasa sol sepatu?  Di sepanjang jalan Cihapit Bandung  ada kurang lebih  3 tukang sol sepatu dan nampaknya tidak pernah sepi pengunjung. Belum lagi di ruas jalan lainnya .  Beberapa dari  mereka   berkeliling  ke pelosok kota menjemput pelanggan.
Darimana mereka mendapat keahlian?  Ada tukang sol sepatu mantan pekerja sepatu Cibaduyut yang terpaksa menjadi tukang sol sepatu.  Karena seiring masuknya sepatu made in China dengan harga bersaing maka  banyak pengusaha kecil sepatu Cibaduyut yang harus gulung tikar.
Ada pula yang mendapat keahlian secara otodidak atau magang dari rekannya yang senior.
Mayoritas dari mereka mempunyai sawah di kampung halaman . Sayang hasil panen hanya cukup untuk  dikonsumsi hingga musim tanam berikut. Sehingga  mereka harus berkelana mencari tambahan penghasilan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Nasib khas petani gurem Indonesia. Yang jumlahnya mendominasi petani bermodal besar. Beruntung mereka enggan menyerah pada nasib, sehingga ketika  gagal panenpun ada secercah harapan untuk mendapatkan penghasilan dari sektor lain.
Itulah pahlawan kita lainnya, pahlawan 3 R !
13057375021405331992
tukang sepatu lainnya (dok. Maria Hardayanto)
1305737637683564093
bahan baku, siap menyulap sepatu lama menjadi baru
1305738422577974559
peralatan sol sepatu (dok. Maria Hardayanto)
13057415352002289827
Tukang Sol Sepatu abad millenium : menerima order via sms

http://green.kompasiana.com/polusi/2011/05/19/pahlawan-3r-reduce-reuse-recycle-indonesia/
Wrote by Maria G Soemitro


Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah akan mencegah  lautan dan  sungai dari kehancuran seperti gambar berikut :











Sikap skeptis pada individu yang telah sadar memisah  sampah  sama buruknya dengan sikap tidak peduli. Karena jika setiap orang berpikir, “Ah, apa artinya selembar plastik yang kubuang?!”  Maka akan berkumpullah kawanan plastik yang baru akan  terdegradasi ratusan tahun kemudian  dan styrofoam yang berumur tak terhingga . Kemudian mereka akan terbawa aliran air ke sungai dan terakhir  ”reunian” di  laut. Menjadikan lautan air menjadi lautan sampah. Plastik pun dimangsa biota laut atau bahkan tanpa sengaja membelit tubuh hingga menyebabkan kematian mereka.


Untuk kasus kantung plastik, mohon jangan terlena dengan bujukan plastik ramah lingkungan karena proses degradasinya hanya membuat si kantung plastik menjadi serpihan, tetapi efeknya tetap mengkontaminasi bumi dan isinya.

Jadi, gimana dong ? Pisahkan saja si sampah organik dan masukkan ke lubang resapan biopori (LRB). Sehingga  tanah menjadi subur oleh cacing pemakan sampah organik dan air hujan yang masuk ke LRB menjadi tabungan air.

Tidak punya lahan untuk membuat LRB ? Gampang, masukkan saja sampah organik ke dalam kotak takakura. Sedangkan plastik yang tidak diikat-ikat karena berisi sampah organik umumnya dengan senang hati akan diambil pemulung.

Bagaimana cara membuat kotak Takakura, yuk sediakan :

Bahan Kotak Takakura :
  • Kotak plastik yang biasanya digunakan untuk menyimpan pakaian kotor. Atau bisa diganti kotak bekas menyimpan buah-buahan yang bisa kita beli di pasar. Atau karung plastik bekas beras. Setiap pilihan ada kelebihan dan kekurangannya, karena itu dibutuhkan kreatifitas untuk pemanfaatannya.
  • Kain nilon tipis mirip jala, ada yang menyebutnya strimin (maaf kalau salah ketik, karena setahu saya ini bahasa Londo) , bisa juga digunakan insectnet atau apabila Anda berdomisili di Jawa Barat ada kain khusus ketika masak nasi, bisa dibeli di pasar tradisional. Guna kain ini untuk menyimpan sekam kering, diletakkan di bagian atas dan bawah kotak untuk menyerap kelebihan air atau uap air yang terjadi karena proses pengomposan.
  • Kain sebitan/kain bekas potongan, kurang lebih setengah meter untuk penutup.
  • Kertas kardus bekas untuk samping kanan dan kiri kotak.
  • Alat pengaduk kompos, bisa berupa sendok semen atau bekas sendok penggorengan.
  • Media sebagai aktivator.

Adapun media terdiri dari :
  • 4 bagian sekam kering
  • 1 bagian tanah pekarangan (usahakan jangan yang lengket seperti tanah liat)
  • 1 bagian dedak padi (biasa untuk makanan ayam)
  • Air gula secukupnya.
Yang dimaksud ukuran “bagian” tergantung pembuatnya, bisa menggunakan ukuran ember semen, panci atau apapun pilihan Anda.

Semua bahan media dicampur hingga tidak menempel di tangan (basah secukupnya), kemudian tutup atau masukkan dalam karung plastik. Jangan diikat erat. Tunggu hingga tercium bau fermentasi (bau tape kali ya ?), tanda campuran sudah jadi. Sekitar 2-3 hari.

Ngga mau ribet ? Bisa ! Beli saja kompos sebagai aktivator di tukang tanaman hias. Apa bedanya ? Kedalam campuran media aktivator buatan sendiri bisa kita tambahkan tanah dan atau sekam apabila terjadi sesuatu pada proses pengomposan. Proses pengomposan  berbau ? Berarti harus ditambahkan  tanah. Menggumpal ? Tambahkan sekam. Terlalu kering? Semprot air secukupnya, jangan sampai mengalir keluar kotak.
Isi Kotak Takakura
Isi Kotak Takakura
sumber foto : disini


Ups lupa, ada TOR ^_^ yang terlewat, yaitu mendandani kotak takakura sebelum dimasukkan media aktivator ke dalamnya.
  • Pertama-tama, pasang kertas kardus di ke empat sisi kotak. Karena mikroorganisme pembantu pengomposan kotak takakura bersifat aerob maka udara harus mudah keluar masuk. Fungsi kardus lainnya adalah agar tidak ada lalat yang masuk dan bertelur dalam kotak.
  • Kedua, masukkan bantalan berisi sekam di bagian bawah kotak. Tujuannya untuk menyerap kelebihan air sampah organik atau uap air hasil pengomposan.
  • Ketiga, masukkan media aktivator kurang lebih 2/3 tinggi kotak.
  • Keempat, tutup dengan bantalan sekam lagi. Jadi ada 2 bantalan sekam untuk mengantisipasi uap hasil proses pengomposan.
  • Kelima, tutup kotak plastik takakura diberi kain sebitan yang berkaret disekelilingnya (lihat gambar), tujuannya agar lalat tidak masuk ke dalam kotak dan tutup kotak yang berlubang bisa berfungsi sebagai alat saring hasil pengomposan dengan kain tersebut sebagai penadahnya.
bagan Kotak Takakura
bagan Kotak Takakura
sumber bagan : disini 


Selesai deh. Silakan masukkan sampah organik Anda. Untuk sisa sayur mayur  (batang kangkung atau bayam) sebaiknya dipotong-potong dulu. Tapi kalau sedang sibuk, tidak punya waktu,  sisa sayuran berbentuk utuhpun silakan masukkan saja. Konsekuensinya proses pengomposan  akan lebih lama.

Jadi cangkang telur sebaiknya dihancurkan dulu. Demikian juga kulit daun pisang, disuwir-suwir agar mudah hancur. O iya bekas tissuepun bisa masuk kesitu tapi yang pasti prosesnya akan lama….lama….. dan lama sekali. Apalagi kalau kulit durian utuh yang dimasukkan kesitu.  ^_^


Bekas tulang belulang ayam juga bisa dimasukkan karena akan memperkaya hasil pengomposan. Tapi yang pasti bentuk si tulang akan tetap utuh hingga waktu yang cukup  lama.
Yang perlu dihindari ? Jangan masukkan air santan atau bekas kuah sayur terlampau banyak karena akan mengakibatkan kompos terlalu basah hingga menimbulkan bau.

Kelebihan kotak takakura ini adalah tampilannya yang rapi sehingga bisa disimpan di dapur. Memudahkan ibu-ibu rumah tangga  memisahkan sampah organiknya.

Oiya tujuan pembuatan kotak takakura ini adalah untuk memisah sampah organik bukan menghasilkan kompos. Sehingga hasil pengomposan jangan ditunggu-tunggu. Nanti kecewa. Tapi biasanya dalam waktu kurang lebih 2 bulan, kita sudah bisa mendapatkan kompos.
Sebaiknya jangan langsung digunakan untuk media tanam, karena ditakutkan ketika bertemu tanaman si media hantam kromo mengaktivasinya menjadi kompos. Jadi angin-anginkan dulu kurang lebih selama 2 hari.

Anda tidak mau ribet dengan kotak Takakura? Sebetulnya di toko alat-alat pertanian dijual komposter atau fermentor atau apapun namanya tapi tujuannya sama membuat kompos. Perbedaan terletak pada prosesnya yang tidak sealami kotak takakura, sehingga  pembeli  dianjurkan membeli cairan aktivator yang dijual di toko tersebut.

Ribetnya kalau ternyata terjadi sesuatu semisal bau atau malah ada kecoa yang bersarang di komposter, kita harus bolak balik ke toko untuk menanyakan penyebabnya.
Padahal jawabannya sederhana, komposter seperti itu biasanya terbuat dari logam,kaleng, drum plastik yang tertutup dari atas hingga bawah. Sehingga bikin bingung.Mau pakai bakteri anaerob sebagai balatentara pengompos ? Akan menimbulkan bau.
 Atau menggunakan bakteri aerob? Lubang bernafas si bakteri kok kecil banget. Sehingga timbullah bau. Karena sirkulasi udara tidak lancar. Dan kecoapun dengan nyamannya bersarang disitu   ^_^

Sedangkan dengan menggunakan kotak takakura, hal tersebut tidak mungkin terjadi asalkan ke dalam kotak takakura diisi sampah organik secara rutin. Mengakibatkan suhu kotak senantiasa hangat (bahkan terkadang panas) mengakibatkan kecoa tidak berminat mampir.

Bagaimana apabila Anda harus bepergian dalam waktu lama sehingga terpaksa tidak bisa mengisi kotak? Media hanya akan menjadi kering, tidak bau karena bagian kiri dan kanan kotak adalah bahan organis.

Sepulang bepergian, isi saja sampah organik basah lagi maka si media akan aktif kembali.
Oiya apa ciri-ciri pengomposan sudah bisa dipanen ?
  • Bewarna hitam tanah
  • Tidak bau
  • Tidak basah dan lengket sehingga mudah disaring

Oke, ada pertanyaan ?    ^_^


isi Kotak Takakura
isi Kotak Takakura
sumber foto : disini

Wrote by Maria G Soemitro


2010;Maria Hardayanto


2010;Maria Hardayanto
Apa pentingnya kita mengetahui tentang biodegradable bag dan oxobag (tulisan terdahulu) ?
Jawabnya adalah karena produk produk tersebut sekarang sudah berada disekeliling kita. Tanpa iklan, tanpa pemberitahuan.
Produsen plastiklah yang aktif mencari inovasi inovasi terbaru untuk memanjakan kebutuhan konsumen. Karena mereka sudah tahu ada artikel artikel tak terbantahkan tentang pentingnya mengurangi konsumsi kantung plastik. Mereka tahu bahwa kantung plastik dituding menjadi salah satu penyebab banjir, mengandung racun, baru akan terurai ratusan tahun kemudian bla,bla,bla……..


Pengurangan bahkan penghentian pemakaian kantung plastik akan mengancam guyuran uang hasil keuntungan yang biasa diterima produsen plastik. Karena sesuai prinsip arus materi yang mereka pahami, semakin tinggi tingkat eksploitasi sumber daya alam yang disebabkan semakin banyaknya produk menjadi usang dan dibuang konsumen akan mempercepat perputaran uang dan semakin banyak pula keuntungan yang diraup produsen.

(2010;Maria Hardayanto)
(2010;Maria Hardayanto)
Menyikapi fenomena peduli lingkungan yang dikhawatirkan membuat konsumen mengurangi pemakaian kantung plastik dan berubah ke tas reusable , produsen plastik meluncurkan oxobag dan biodegradable bag.
Salah satu merk biodegradable bag adalah Ecoplast (tercetak pada covernya  lengkap dengan semua keterangan keunggulan keunggulan yang menyertai).

Biodegradable bag terdiri dari 80 % biji plastik dan 20 % tepung tapioka. Jadi tepung tapioka/singkongnya hanya 20 % sedangkan di negara Barack Obama sana menggunakan tepung jagung. Itupun hanya 20 %.

Apa keunggulannya ? Lagi lagi hanya menitik beratkan pada proses degradasinya. Tetapi berbeda dengan oxobag yang baru akan terurai di TPA (Tempat Pembuangan sampah Akhir)dalam kurun waktu 24-36 bulan, biodegradable bag atau kantung plastik singkong ini akan terurai di TPA hanya dalam waktu 10 minggu atau 2 setengah bulan saja.
Horeeee selesai masalah sampah !!! Bayangin hanya 10 minggu ? dan bukan berabad abad seperti yang menjadi perbincangan di seminar seminar.

Wah nampaknya ini ide brillian, menjadikan singkong sebagai bahan baku kantung plastik. Bukankah masih banyak tanah kosong di Indonesia ? Masih banyak pengangguran yang bisa menjadi petani singkong sehingga mereka tidak perlu urban dan membuat kota besar menjadi padat !

Sayang permasalahan tidak semudah itu selesai, bukannya mau menambah ribet, tapi mari kita lihat dapatkah kita merealisasi ide brillian itu ?

1. Nampaknya kemungkinan membuka lapangan kerja bagi 9.25 juta pengangguran, harus kita kesampingkan sebelum kebijaksanaan pemerintah benar benar sudah pro petani. Diantara kesulitan yang mungkin timbul adalah sikap setengah hati pemerintah menjembatani kebutuhan produsen dan petani.
2. Eksploitasi lahan dikhawatirkan akan menimbulkan kisah mirip alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Karena hutan sebagai paru paru dunia tidak dapat diganti dengan perkebunan apapun, ada ekosistem yang hilang, ada output oksigen yang tak tergantikan oleh pekebunan bahkan kekayaan air tanahpun terancam tidak dapat tersimpan baik.
3. Kantung plastik yang terbuat dari singkong lebih tebal dibandingkan kantung plastik pada umumnya, harganya pun lebih mahal 5 kali lipat (tergantung ukuran dan ketebalannya). Sehingga pihak retail (umumnya supermarket) keberatan, dilain pihak produsen lebih suka menjual produk murah dalam jumlah besar karena yang diisasar adalah pasar kantung plastik secara keseluruhan termasuk pasar tradisional.
4. Jangan lupa bahwa penggunaan ekstrak singkong hanya 20 % (menambah jumlahnya hanya akan membuat kantung plastik bertambah tebal), 80 %nya adalah biji plastik yang terbuat dari minyak bumi, sumber daya alam tak terbarukan yang dianjurkan hanya digunakan untuk memproduksi produk tahan lama.
5. Jadi mau sebiodegradable apapun dan tidak mencemari bagaimanapun selama membuat orang masih boros sampah, tetap akan menimbulkan persoalan sampah. Ini penting apalagi di tengah bumi sekarang yang sudah diambang batas kehabisan sumber daya alam dan kelebihan sampah.

Berdasarkan uraian diatas, jelaslah inovasi pengganti kantung plastik yang selama ini kita kenal bukan solusi terbaik , walaupun bukan berarti juga suatu kesia siaan. Karena kantung plastik dari singkong mempunyai masa degradasi yang lebih singkat ( 10 minggu) maka kebijaksanaan menggunakannya dapat dipertimbangkan dengan win win solution, yaitu konsumen diwajibkan membeli setiap kantung plastik yang digunakannya. Tidak ada pemberian kantung plastik gratis lagi. Sehingga diharapkan konsumen mau menggunakan ulang (reuse) setiap kantung plastiknya.  Dan penjual (retail) tidak menanggung biaya pembelian kantung plastik yang terlalu tinggi sendirian.

Peraturan Daerah (Perda) pun sebaiknya mengatur :
1. Pemberian insentif bagi pengurangan kantung plastik dan disinsentif untuk penggunaan kantung plastik.
2. Penetapan kewajiban bagi yang menghasilkan dan menggunakan kantung plastik.
3. Penetapan cara dan siapa penanggung jawab pengelolaan kantung plastik yang masih dihasilkan khususnya menyangkut biaya pengelolaannya.

Lho kok jadi rumit ? Sebetulnya bukan memperumit masalah tapi memang seharusnya kita menyadari bahwa sampah yang kita hasilkan sekarang bukan hanya sampah organik, sampah yang mudah terdegradasi oleh alam tetapi juga sampah anorganik, sampah yang tidak dikehendaki bumi karena umumnya mengandung racun …………………
(2010;Maria Hardayanto)
(2010;Maria G. Soemitro)



Wrote by Maria G Soemitro


google


dok : google images
Benci tapi butuh ! Itulah mungkin kata kata yang tepat untuk kantung plastik. Benci karena katanya kantung plastik mengandung racun dan baru akan terdegradasi beratus tahun kemudian di lingkungan yang tepat.
Butuh karena betapa ribetnya kegiatan berbelanja kalau harus selalu membawa tas reusable yang dapat dipakai berulang-ulang tetapi selalu lupa dibawa. Sehingga pemberian kantung plastik gratis sangatlah menolong karena praktis.
Sebetulnya perihal racun dan lamanya plastik terurai bukan sekedar rumor.
Maria Hardayanto)
oxobag (dok : Maria Hardayanto)

Walaupun tidak berarti semua plastik mengandung racun. Hanya plastik PVC dan styrofoam serta plastik daur ulang (umumnya bewarna hitam) yang mengandung racun. Sedangkan berapa lama plastik akan terurai tergantung seberapa tebal plastik tersebut. Justru yang sering luput dari perhatian adalah betapa borosnya tinta yang digunakan untuk mewarnai kantung plastik yang berimplikasi pada besarnya kerusakan lingkungan yang diakibatkannya
Menyikapi hiruk-pikuk berita di media tentang kerusakan lingkungan yang diakibatkan plastik, produsen plastik meluncurkan oxobag dengan nama dagang : Oxium, Oxoplastic dan Oxobiodegradable. Tulisan merk dagang tersebut bisa dilihat dibagian bawah kantung plastik, ditambah embel embel : Cintailah Indonesia. Kantung Plastik Ramah Lingkungan. Bahkan lengkap dengan gambar uraian proses degradasi plastik. Mulai dari plastik berbentuk utuh hingga menjadi serpihan dalam kurun waktu 24 – 36 bulan kemudian.
Sebetulnya apa sih yang dimaksud oxobag ? Oxobag sama seperti kantung plastik (kresek) yang sudah lama kita kenal , bedanya pada saat proses polimerisasi ditambahkan zat aditif yang jumlahnya variatif tergantung produsennya.
Oxobiodegradable mengklaim menambahkan zat aditif TDPA sebanyak 2-3 % , yang akan membantu kantung plastiknya hancur menjadi serpihan di TPA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir) akibat suhu tinggi, sinar UV (komponen sinar matahari) dan stress mekanik (misalnya angin atau pemadatan) dalam waktu 24 – 36 bulan.
Adapun klaim proses biodegradasi karena adanya mikro organisme seperti bakteri, jamur dan alga yang akan mengonsumsi serpihan plastik tersebut  (sumber : epi.com).

Ah, akhirnya ada pembenaran untuk berfoya foya dengan kantung plastik ! Belanja dengan kantung plastik dan membuang sampah dalam kantung plastik. Toh dalam waktu 24 – 36 bulan plastik akan hancur bahkan katanya dikonsumsi mikroorganisme. Mungkin itulah yang terlintas dalam pikiran kita.
Maaf , helaan nafas lega itu terlalu dini.

Karena masalah utama sampah perkotaan bukan sekedar adanya racun dan lamanya kantung plastik terdegradasi tetapi :
1. System kumpul - angkut dan buang sampah yang dilaksanakan PD Kebersihan mengakibatkan biaya tinggi yang harus dibebankan kepada masyarakat. Sehingga banyak masyarakat miskin memilih membuang sampahnya ke sungai atau ke selokan daripada harus membayar retribusi sebesar Rp 2.500 perbulan. Aneh ? Tidak , karena uang sebanyak itu sangat berarti untuk menambah uang beras atau …………..sebatang rokok ! Akibatnya sudah jelas, banjir tidak bisa menunggu 24 -36 bulan untuk memuntahkan airnya dan menggenangi perumahan.
2. System kumpul – angkut dan buang terbukti tidak efektif dan efisien menuntaskan permasalahan sampah perkotaan sehingga banyak sampah menumpuk di depan rumah maupun di TPS illegal. Akibatnya kota tetap kotor oleh sampah dilain pihak PD Kebersihan tetap merugi setiap bulannya. Sungguh suatu ironi !

Dari uraian diatas jelas sudah bahwa penyelesaian masalah bukan dengan mengganti kantung plastik lama menjadi oxoplastik atau oxobag. Tetapi penuntasan masalah dihulu.
Pemisahan sampah wajib hukumnya, karena sudah ada UU pengelolaan sampah no 18 tahun 2008 yang mewajibkan setiap rumah tangga dan kantor untuk memisah sampahnya.

Maria Hardayanto)
tas nenek (dok : Maria Hardayanto)
Kantung plastikpun sebaiknya tidak diproduksi lagi kecuali untuk produk tas reusable, salah satunya adalah tas belanja jadul  (tas yang biasa dipakai nenek-nenek jaman dulu) di samping ini.

Yang dibutuhkan adalah regulasi. Regulasi yang mengatur agar pabrik plastik tidak memproduksi produk sekali pakai tetapi hanya diperbolehkan memproduksi produk produk plastik tahan lama seperti peralatan rumah tangga , peralatan kantor dan masih banyak produk plastik lainnya yang belum ditemukan produk substitusinya.

Karena tanpa regulasi, pabrik plastik akan selalunyinyir dan menggoda untuk memakai kantung plastik yang diklaim sebagai ramah lingkungan.Kenapa ? Karena omzet penjualan barang sekali pakai sangat tinggi walaupun harus mengorbankansumber daya alam tak terbarukan dengan sangat boros. Mereka tidak peduli !
Pemerintahlah akhirnya yang menjadi tumpuan harapan, apakah akan mengikuti kemauan produsen plastik meraup untung ataukah melaksanakan kebijakan yang amanah. Karena konsumen hanyalah pion yang menjalankan keinginan pembuat kebijakan.

Ketika memenangi pertandingan, pembuat kebijakanlah yang dielu-elukan sebagai pemenang. Sedangkan pion tetaplah pion, berjalan kesana kemari sesuai keinginan si pemegang pion. Ah semalang itukah kita ?
Maria Hardayanto)
oxobag (dok : Maria Hardayanto)
Maria Hardayanto
reusable bag (dok : Maria Hardayanto



Wrote by Maria G Soemitro

paket hemat Hoka Hoka Bento, mmm... maknyusss

Mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa resto cepat saji ala Jepang, Hoka Hoka Bento yang pernah dinyatakan syubhat (meragukan) oleh MUI ternyata pemiliknya adalah warganegara Indonesia yaitu Hendra Arifin.  Di tahun 1985, Hendra Arifin melakukan studi banding ke Jepang  kemudian membeli izin untuk menggunakan merek dan technical assistance Hoka Hoka Bento di Indonesia.


Sekarang hak cipta atas merek Hoka-Hoka Bento  sudah dimiliki PT Eka Bogainti dan direktur operasionalpun sudah ditangani generasi kedua yaitu, Paulus Arifin.
Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa makanan Hoka Hoka Bento sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia sehingga disukai oleh lintas usia dan disajikan pada lintas peristiwa. Kotak-kotak makanan Hoka Hoka Bento dengan mudah kita temui di acara buka puasa bersama, rapat atau di setiap acara makan bersama yang membutuhkan makanan cepat saji dengan rasa makanan disukai hampir di semua kalangan dan harganyapun terjangkau.

Kekurangannya hanya satu tapi fatal. Yaitu kemasan makanan yang terbuat dari styrofoam. Kekurangan yang terpaksa harus dimaklumi  karena sosialisasi BahayaHYPERLINK "http://archive.kaskus.us/thread/4621067" HYPERLINK "http://archive.kaskus.us/thread/4621067"KemasanHYPERLINK "http://archive.kaskus.us/thread/4621067" Styrofoam hampir tidak pernah dilakukan. Bahkan dalam beberapa kali pertemuan penulis dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup  Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat, mereka menjamu tamunya dengan Hoka-Hoka Bento berkemasan  styrofoam tersebut. Wah...wah......

kemasan makanan Hoka-Hoka Bento terbuat dari polystyrene



Seperti kita ketahui styrofoam atau polystyrene (PS) merupakan produk dari minyak bumi yang hanya diperbolehkan sekali pakai dan sebaiknya dihindari. Karena riset terkini membuktikan  wadah Styrofoam mengandung dioctyl phthalate (DOP) yang menyimpan zat benzen, suatu larutan kimia yang sulit dilumat oleh sistem percernaan. Benzen ini juga tidak bisa dikeluarkan melalui feses (kotoran) atau urine (air kencing). Akibatnya, zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut lemak. Inilah yang bisa memicu munculnya penyakit kanker.
Benzana bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah.

Pada beberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian. Saat benzana termakan, dia akan masuk ke sel-sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia.

Penggunaan wadah styrofoam di Amerika Serikat, khususnya di Oregon dan California  sudah dilarang  karena Enviromental Protection Agency (EPA) mengklasifikasi styrofoam atau polystyrene sebagai karsinogen manusia. Sedangkan Earth Resourch Foundation menyebutkan bahwa produk busa polystyrene  mengeluarkan lindi bahan kimia beracun yang  dapat mengakibatkan iritasi pada kulit, mata, saluran pernafasan bagian atas dan efek gastrointestinal. Selain itu, paparan kronis polystyrene dapat mempengaruhi system syaraf pusat yang ditunjukkan gejala seperti depresi, sakit kepala, kelelahan, kelemahan dan dapat menyebabkan efek minor pada fungsi ginjal dan darah.
Earth Resource Foundation juga menyebutkan bahwa proses produksi polystyrene menghasilkan limbah padat berbahaya kelima. Pembakaran polystyrene sebaiknya dilarang karena menimbulkan polutan udara pada ozon troposfer. Banyak orang Amerika , khususnya yang tinggal di California dimana terdapat dua cekungan udara terburuk, menderita penyakit pernapasan seperti asma  karena polusi ozon.

The Enviromental Justice Network (EJN) menyatakan pada websitesnya bahwa produsen sudah mengabaikan alternative pilihan  pengganti styrofoam. Hal tersebut dapat dimaklumi karena dalam bisnis pangan selain murah,  styrofoam juga mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Kelebihan lainnya, styrofoam  mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang.  Bentuknya yang ringan menjadikan styrofoam mudah dibawa. Makanan yang disimpan di sana  tetap segar dan utuh.

Berita terakhir yang dirilis Hoka Hoka Bento, mereka akan mengganti kemasan makanannya menjadi kemasan makanan ramah lingkungan. Sayangnya kemasan pengganti tersebut hanya mencampur polystyren dengan zat aditif yang oleh produsennya diberi merek oxium, sehingga dalam waktu 2- 3 tahun kemasan styrofoam itu akan menjadi serpihan akibat suhu, sinar UV dan faktor lain di TPA.
 

Produsen Hoka Hoka Bento rupanya hanya terfokus pada masalah sampah di TPA, tapi melupakan faktor lain yaitu :
  • Apabila polystyren masih digunakan sebagai bahan utama kemasannya, maka resiko makanan terkontaminasi tetap ada (sesuai uraian diatas). Karena  zat campuran zat aditif untuk penghancur plastik hanya berkisar 2-3 %, tergantung kesepakatan produsen dan konsumen yang berimbas pada harga kemasan. 
  • Tidak semua bekas kemasan berakhir ke TPA. Sebagai contoh, dari total volume sampah Kota Bandung sebanyak 7.500 m3 hanya terangkut ke TPA sebanyak 1.500 m3. Karena armada yang dimiliki PD Kebersihan Kota Bandung hanya semampu itu. Apakah kota-kota besar lain di Indonesia mampu mengangkut semua sampah ke TPA? Indikatornya mudah : Apakah sungai yang mengalir di kota tersebut sudah bebas dari sampah ? Apakah sudah tidak ada lagi orang yang membakar sampah di kota tersebut ? Kalau jawabannya : masih ada, berarti kita tidak usah repot bertanya pada Mr Google, karena data yang diberikan PD Kebersihan biasanya tidak akurat. Sisa sampah styrofoam lainnya akan menyumbat sungai, selokan dan mengakibatkan banjir mengingat  styrofoam tidak dapat hancur dialam. Penghancuran styrofoam hanya mengakibatkan serpihan-serpihan kecil tetapi keberadaannya tetap ada.  (Si Styrofoam yang tetap eksis  ^_^).  
  •  Hingga kini belum ada teknologi pendaur ulang Polystyrene menjadi biji Polystyrene. Keberadaannya tidak hanya sulit terdegradasi tapi hanya dapat hancur dengan cara dibakar. Sedangkan pembakaran polystrene berpotensi menyebarkan racun styrene ke mahluk hidup apapun yang menghirupnya.
Jadi gimana dong ? Pingin makan makanan Hok-Ben tanpa meracuni alam dan tubuh sendiri (khususnya tubuh anak-anak kita, hiiiiiiii.......serem !). 

Styrofoam atau polystyrene sebaiknya dihindari. Karena dari 7 klasifikasi  kemasan plastik, ada 3 item yang sebaiknya dihindari, yaitu :  nomor 3 PVC (polyvinyl chloride) , nomor 6 PS (Polystyrene) dan nomor 7 (Other ). Hal tersebut terindikasi dari logonya yang berwarna merah, artinya masih ada 4 pilihan yang bisa diambil sebagai kemasan makanan. Contohnya kemasan makanan dibawah ini :
food grade PP plastic

food grade HDPE plastic


Begitu banyak pilihan plastic selain polystyrene untuk kemasan makanan, misalnya platik nomor 5 :  PP (polypropylene)   yang merupakan pilihan plastik teraman untuk kemasan makanan  atau paling tidak nomor 2 : HDPE (high density polyethylene) ,  karena mempunyai kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan yang dikemas. Memang sih warnanya tidak secantik polystyrene yang seputih salju, tetapi apa artinya cantik kalau ternyata meracuni. Selain itu kita mau beli makanannya atau kemasannya ?

Amerika  Serikat sudah menambah zat aditif pada kemasan PPnya dengan jagung sedangkan Indonesia dengan tapioka (singkong), ini yang paling mungkin karena kemasan  makanan sebaiknya terbuat dari bahan organik. Kalaupun menggunakan bahan anorganik, makanan tersebut dapat dialas daun pisang. Selain mengurangi resiko tercemar zat kimia, penggunaan daun pisang juga akan menumbuhkan semangat pak tani untuk menanam pisang batu/pisang klutuk. Jenis daun pisang klutuk   yang lentur, tidak mudah sobek dan berbau harum memang paling tepat digunakan untuk membungkus nasi timbel atau lemper ayam yang mmmmmmm .....enak banget itu. Harganyapun murah, hanya Rp 500 untuk 2 kompet atau 2 pelepah atau 4 lembar panjang di pasar. Harga di tingkat petani tentunya jauh lebih murah.


Dengan perkiraan omzet Rp 240 juta per hari yang didapat dari 134 outlet, rasanya Hoka Hoka Bento harus mulai mempertimbangkan dampak kesehatan konsumennya. Bukankah konsumen yang sehat berdampak positif bagi kelanggengan usaha Hoka Hoka Bento ?  

Sumber data :
·        http://www.triplepundit.com/2011/03/polystyrene-containers-better-environment-corn-based-alternatives/
·        http://jabar.tribunnews.com/index.php/read/artikel/18989
·        http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=78712
·        http://rsud.patikab.go.id/?page=berita&id=37
·       http://www.surabaya-ehealth.org/dkksurabaya/berita/bahaya-kemasan-styrofoam
·       http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/03/08/brk,20050308-44,id.html
·       http://green.kompasiana.com/limbah/2010/09/06/oxobag-kantung-plastik-masa-kini/
·       http://permatadibaliklimbah.blogspot.com/2011/04/waspadai-bahaya-kemasan-plastik.html
·       http://tumbuh.wordpress.com/2007/10/30/daun-pisang-klutuk/

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/03/25/21024446/Realisasi.Waralaba.Belum.Ada

sumber foto : disini,  disini  dan disana serta disana



   



Wrote by Maria G Soemitro
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR



Haloooo, saya Maria G Soemitro, seorang ambu (ibu = Bahasa Sunda) dengan 4 orang anak.
Blog ini didedikasikan khusus untuk berbagi perihal sampah. Mengenai saya selengkapnya ada disini Saya bisa dihubungi di ambu_langit@yahoo.com




LATEST POSTS

  • Pengepul Ramah di Cigadung Bandung
      Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro) Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya ...
  • Ceu Eutik, Berkreasi Sambil Ngemong Cucu
      kerajinan limbah kopi Salah seorang nenek yang rajin menganyam limbah sachet kopi adalah ibu Atikah atau lebih sering dipan...
  • Rumah Kompos Di Antapani
    Rumah Kompos Bina Usaha Sejahtera (dok Maria G. Soemitro) Tulisan ini merupakan sequel dari dari : “Sekali Tepuk Dua Tempat” ...
  • Belajar Dari Pak Herry, Newbie di Persampahan
      lapak pak Herry Manisnya   bisnis persampahan nampaknya menarik minat pak Herry 3 tahun silam. Sebagai newbie, dia tak segan-...
  • Membedah Kasus Bank Sampah
    Wuaduh, judulnya serem ya? Ada alasan kuat mengapa saya memilih judul ini. Selama melaksanakan survey bebassampahID ada suara...
  • Yuk Bikin Bank Sampah di Lingkunganmu
    “Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau si...
  • Stop Tayangan OVJ, atau Ganti Property !
    Anak anak tertawa Ibu ibu tertawa Para bapak juga tertawa Gara gara aksi Sule, Azis, Nunung, Andre dan Parto Bercanda...
  • Lahan Terbatas? Bikin Kotak Takakura Yuk .....
    Setiap orang/keluarga yang mengompos sampah organiknya pasti melaksanakan pemisahan sampah di rumahnya. Karena kepedulian memisah sampah...
  • Peran Atep Service untuk Konvensi Basel
    “Bu, kumaha damang?”   Kaget juga saya disapa pemilik Atep Service. Setelah mengobrol ngalor ngidul, barulah teringat bahwa sek...
  • Cahyana Service, Eh .............
      Cahyana Service (dok. Maria G. Soemitro) Pertanyaan pertama yang saya ajukan ketika mewawancarai pemilik Cahyana Service adal...

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
Maria G Soemitro
Lihat profil lengkapku

Waspada, Gagal Paham Ecobrick!

   sumber: azocleantech.com   Waspada, Gagal Paham Ecobrick! Andai ada kasus: Masyarakat di suatu kawasan kelaparan. Namun alih-alih mengiri...

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • Waspada, Gagal Paham Ecobrick!
  • ►  2022 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 28 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 28 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 10 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  April (2)
      • ►  Apr 18 (1)
      • ►  Apr 09 (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 23 (1)
      • ►  Nov 17 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 19 (1)
    • ►  Mei (3)
      • ►  Mei 20 (1)
      • ►  Mei 11 (2)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Oktober (4)
      • ►  Okt 09 (4)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 25 (2)
  • ►  2015 (61)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 14 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
    • ►  Agustus (8)
      • ►  Agu 18 (1)
      • ►  Agu 11 (2)
      • ►  Agu 09 (2)
      • ►  Agu 02 (1)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (16)
      • ►  Jul 31 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
      • ►  Jul 19 (3)
      • ►  Jul 18 (2)
      • ►  Jul 15 (2)
      • ►  Jul 13 (2)
      • ►  Jul 07 (3)
      • ►  Jul 05 (1)
    • ►  Juni (16)
      • ►  Jun 30 (2)
      • ►  Jun 29 (2)
      • ►  Jun 28 (2)
      • ►  Jun 25 (2)
      • ►  Jun 24 (2)
      • ►  Jun 11 (1)
      • ►  Jun 10 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 06 (1)
      • ►  Jun 04 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
    • ►  Mei (5)
      • ►  Mei 14 (2)
      • ►  Mei 03 (2)
      • ►  Mei 01 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 21 (1)
    • ►  Februari (12)
      • ►  Feb 22 (1)
      • ►  Feb 21 (1)
      • ►  Feb 16 (2)
      • ►  Feb 11 (2)
      • ►  Feb 10 (1)
      • ►  Feb 09 (1)
      • ►  Feb 06 (1)
      • ►  Feb 04 (1)
      • ►  Feb 03 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 21 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 11 (1)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember (2)
      • ►  Des 29 (2)
    • ►  Oktober (1)
      • ►  Okt 27 (1)
    • ►  September (5)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 20 (3)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 01 (2)
    • ►  Juli (1)
      • ►  Jul 29 (1)
    • ►  Juni (1)
      • ►  Jun 25 (1)
    • ►  Mei (2)
      • ►  Mei 18 (1)
      • ►  Mei 17 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 19 (2)
      • ►  Mar 17 (1)
      • ►  Mar 01 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 29 (1)
      • ►  Feb 14 (1)
  • ►  2011 (15)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 13 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 04 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 09 (1)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 31 (1)
    • ►  April (5)
      • ►  Apr 10 (1)
      • ►  Apr 07 (2)
      • ►  Apr 05 (1)
      • ►  Apr 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 16 (2)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 21 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  November (3)
      • ►  Nov 29 (3)
    • ►  Maret (1)
      • ►  Mar 12 (1)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 05 (1)
  • ►  2009 (4)
    • ►  Desember (3)
      • ►  Des 23 (2)
      • ►  Des 04 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 16 (1)

Label

3 R adipura B3 BandungJuaraBebasSampah bank sampah barang bekas BebasSampahId biodigester biogas debat ilmuwan ecobrick energi Environmental Sustainability Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik industri kreatif Iriana Jokowi kantong plastik kantung plastik keresek KESEJAHTERAAN lifestyle MASA DEPAN CERAH pengepul pengomposan PERENCANAAN KEUANGAN pernak pernik photography pilah sampah ramah lingkungan regulasi reparasi Reverse Vending Machine Ridwan Kamil sampah anorganik sampah organik solusi limbah sosok styrofoam SUN LIFE zero waste

Translate

Laman

  • Halaman Muka
  • green planet
  • Kaisa Indonesia

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Copyright © 2016 Bandung Zero Waste. Designed by OddThemes & Blogger Templates