Laman

Sabtu, 01 Agustus 2015

Jendela Peradaban di Bursa Buku Bekas A.Yani






"Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca." TS Eliot (1888-1965)
Bangsa yang maju adalah bangsa yang membaca buku. Sebaliknya, kian rendah daya baca masyarakat, kian sulit bangsa itu maju.
Sayangnya bahan baku membangun peradaban, yaitu:  buku, harganya mahal nian. Terlebih seiring terpuruknya rupiah, harga bukupun membumbung tinggi. Kelompok masyarakat berpenghasilan pas-pasan pasti lebih memilih membeli pangan dibanding buku surat kabar dan majalah.

Dalam situasi seperti ini, bursa buku bekas menjadi penyelamat. Setidaknya itulah yang saya lihat selama beberapa waktu mewawancarai pedagang buku bekas di sepanjang Ahmad Yani , di seberang balai besar keramik, menuju arah jalan Cicadas Kota Bandung. Banyak sekali orang tua (pria dan perempuan) wara wiri mencari buku yang diperlukan anaknya sambil membawa kertas catatan atau foto dari kamera ponsel. Sebagian dari mereka langsung mendapat buku yang dibutuhkan, sebagian lagi harus berjalan jauh untuk mendapatkan stok buku di lapak lain.

Harga buku bekas disini memang lumayan miring. Buku pelajaran baru Rp 60 ribuan, bisa dibeli disini dengan harga Rp 20 ribu saja. Buku komik dan majalah bisa dibawa pulang dengan membayar kurang lebih Rp 2.000. Demikian pula  buku fiksi dan nonfiksi yang bisa dibeli seharga Rp 20.000 saja. Buku-buku tersebut ditumpuk bersama puluhan ribu buku lainnya  di setiap lapak. Harga buku yang murah nian sangat membantu mereka yang ingin membuka jendela peradaban dengan membaca buku.

Pemilik lapak umumnya mendapat buku bekas dari pengepul atau pemilik buku (pelajaran, novel fiksi dan nonfiksi, majalah) yang datang dan ingin menjual koleksinya. Buku-buku tersebut dihargai cukup tinggi yaitu sekitar Rp 4.000/kg. Bandingkan jika kita menjualnya di tukang rongsokan, yang hanya dihargai Rp 800/kg. Tukang rongsokan menghargai koleksi buku yang kita miliki dengan harga sangat murah karena tidak mempedulikan konten buku. Mereka menghargai buku sebagai bahan baku proses daur ulang kertas. Jadi bisa dibayangkan bahwa buku yang bernilai tinggi hanya dianggap sebagai onggokan kertas jika kita menjual buku bekas pada mereka.

Berbeda halnya dengan penjual buku bekas di jalan A Yani ini. Buku bekas dalam karung yang mereka beli kiloan, akan mereka pilah sesuai peruntukannya. Misalnya buku pelajaran KTSP 2006, kurikulum 2013, tentunya berbeda dengan buku pelajaran untuk kurikulum yang sudah tidak berlaku di Indonesia. Juga berbeda dengan novel, buku nonfiksi, majalah dan komik.

 Jika dirangkum, ada beberapa keunggulan menjual buku di bursa buku bekas ini:
1. Buku bekas dihargai cukup tinggi disini yaitu Rp 4.000/kg karena akan dipilah dan dijual lagi per buku.
2.    Buku bekas akan dibeli dan digunakan kembali oleh orang yang membutuhkan. Mereka tidak harus membeli buku baru yang berdampak pada penghematan pengeluaran. Sehingga selisih yang didapat bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain.
3.    Berkurangnya mencetak buku baru berarti mengurangi penebangan pohon untuk bahan baku kertas. Seiring kenaikan suhu bumi akibat penebangan pohon dan pemborosan penggunaan energy fosil, sungguh bijak jika kita membantu melestarikan alam dengan mengubah gaya hidup.



Dampak gaya hidup hedonis mengakibatkan 3 R (Reduce, Reuse, recycle) mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Barang bekas sering langsung dibuang karena lebih mudah melakukannya dibanding harus memilah-milah dengan pertimbangan bisa digunakan ulang. Dibutuhkan effort lebih banyak untuk menerapkan 3 R. tapi jika kita mengetahui manfaat reduce dan reuse yang berhasil kita lakukan, aduhai bahagia nian.
Bursa buku bekas Ahmad Yani sangat mudah ditemukan, karena terletak berseberangan dengan Balai Besar Keramik jalan Ahmad Yani nomor 392 atau lebih tepatnya di depan jalan Ahmad Yani nomor 469. Berjualan sejak tahun 1982, pak Edi, pak Diman, pak Masyadi, pak Gugun dan teman-temannya akan menyapa ramah siapapun yang mencari buku bekas. Buka setiap hari termasuk hari Minggu , pukul 08.00 pagi hingga pukul 20.00 malam, penggemar buku akan dimanjakan dengan beragam buku tanpa takut kantongnya bolong. Tertarik?




Senandung Kompak Dari Jalan Bogor







Mungkin karena risih, ngga paham atau apalah saya digiring dengan halus oleh sesepuh besi bekas Cikaso ke jalan Bogor.
“Ibu ke jalan Bogor aja, disana pusatnya. Bukan disini. Ibu kesana aja”. Semacam itulah bentuk pengusiran halus yang saya terima. Hampir sama dengan penolakan reparasi tas di jalan Sunda yang berkata: “Kita mah ngga tau internet-internetan. Kita mah jualan-jualan aja. Ibu ke yang lain aja. Kita lain kali aja”.

Wah jika sudah begitu, mending mengalah deh dan mencari data ditempat lain. Karena bak dua sisi yang berlawanan, satu sisi keukeuh mau mencari data, sisi lainnya keukeuh ngga mau memberi data. Nah kalo sudah begitu bukankah akan terjadi tawuran atau perang saudara? #waduhlebay  ^_^

Dan jadilah saya disini, di jalan Bogor. Mengikuti jejak sukses para perintis/sesepuhnya di jalan Cikaso, para pedagang disini lebih cair, demokratis dan mengutamakan kebersamaan untuk kesejahteraan bersama. Untuk itu mereka membentuk asosiasi pedagang besi bekas jalan Bogor yang diketuai pak Dede dengan bendahara ibu Haji Mae.

Ibu bendahara yang baik hati ini menerangkan ada kurang lebih 100 orang yang tergabung dalam asosiasi, bisa terlihat dari kios-kios yang tertib sebangun, serupa, sewarna dan bertuliskan nomor kios dari nomor satu hingga seratusan. Selain onggokan besi bekas, peralatan bekaspun dijual disini misalnya mesin pompa air listrik. Mesin rusak tersebut diperbaiki direparasi kemudian dijual kembali, sehingga unit usaha jalan Bogor bisa dikategorikan pengepul sekaligus reparasi. 
Berapa harga mesin pompa bekas yang sudah diperbaiki? Bervariasi antara Rp 250.000 sejuta rupiah. Jadi onggokan besi bekas yang awalnya pompa air listrik, dibeli sebagai besi rongsok dan dijual kembali dalam bentuk barang siap pakai. Menarik bukan?

membuat produk baru dari besi bekas



Bagaimana mereka mendapat besi bekas? Biasanya ada pengepul yang menjual besi bekas kesini. Mereka memilah sampah anorganik, mengumpulkan besi bekas, baik berupa gundukan kacau yang memerlukan proses peleburan  atau besi batangan yang bisa langsung dibentuk menjadi teralis, besi beton dan lain-lain sesuai  kebutuhan konsumen. 

Pemiliki kios jalan Bogor sangat menyenangkan, selain tidak pelit memberi data operasional sehari-hari, mereka juga tidak pelit memberi data nama , nomor kontak dan harga. Jadi, apakah anda memerlukan teralis dari besi bekas sehingga harganya miring, atau peralatan besi lainnya? Silakan datang ke jalan Bogor depan jalan Bogor nomor 10. Mereka buka dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00, jangan terlalu sore, karena sayapun kesorean sehingga kios-kiosnya hampir seluruhnya tutup deh.  ^-^