Laman

Minggu, 19 Juli 2015

Lapak Pak Dani di Pusdai






Entah sejak kapan, setapak jalan yang memisahkan Gedung Pusdai (Pusat Dakwah Islam) dan pemukiman penduduk menjadi lokasi favorit PKL (Pedagang Kaki Lima) di setiap hari Jumat. Sangat banyak ragam yang dijual mulai dari makanan, batu akik hingga pakaian bekas. Pakaian bekas menempati jumlah terbanyak, sayangnya pakaian yang dijual adalah pakaian Cimol. Penjelasan barang Cimol silakan baca disini.

Hingga beberapa waktu lalu saya baru menyadari bahwa ada barang bekas yang jarang ditemui yaitu kabel charger, ponsel jadul, peralatan elektronik dan masih banyak lagi yang umumnya dibuang begitu saja karena pemiliknya tidak tahu harus disalurkan kemana. 

Adalah pak Dani, pak Didi1, pak Hadi, pak Agus, pak Didi2, pak Dedi yang membuka lapak di sepanjang jalan Pusdai. Mereka membeli barang bekas dalam karung yang berisi hasil pemilahan spare part peralatan elektronik. Barang-barang bekas tersebut dikelompokkan seperti berikut:

Apa peranan lapak liar di jalan Pusdai ini? tentu saja sangat membantu pemilik peralatan elektronik yang membutuhkan spare part berharga miring atau sekedar hunting DVD dan barang lain. Sedangkan bagi proses 3 R berkontribusi mengurangi limbah B3 yang terkandung dalam beberapa peralatan seperti gadget yang seharusnya menjadi tanggung jawab produsen.

Sesuai undang – undang pengelolaan sampah nomor 18 tahun 2008, sampah yang tidak dapat didaur ulang dan sulit terurai di tanah merupakan tanggung jawab produsen. Sayang implementasinya belum berjalan, sehingga PKL sangat penting keberadaannya  dalam memperpanjang usia barang sebelum dibuang dan merusak alam. 

Dipihak lain seyogyanya Indonesia tidak gegabah dalam penanganan sampah elekronik karena sesuai rekomendasi RoHS Compliance atau Restriction of Hazardous Substances Directive 2002/95/EC ( Pedoman Pembatasan Bahan Berbahaya) terdapat 6 substansi berbahaya dalam pembuatan peralatan elektronik yaitu:

1. Lead/ Timbal  (Pb) Kegunaan : mempermudah proses pencetakkan, mempermudah fabrikasi, tahan asam dan reaksi elektrokimian.
Penggunaan umum : Pengeras karet, pigmen cat, pelumas, material solder, pelapis campuran dan pembuatan pipa yang tahan korosi.
Pengaruh terhadap kesehatan : Kerusakan sistem saraf, kelemahan di jari-jari, pergelangan tangan atau kaki, tekanan darah tinggi, kerusakkan otak dan ginjal, anemia, keguguran dan impotensi
2. Cadmium/ Kadmium (Cd) Kegunaan : bahan stabilisator untuk plastik dan karet, alat pelindung korosi untuk permukaan besi/metal. Penggunaan umum : Baterai NiCd, bahan pelapis atau plating, elektroda. Pengaruh terhadap kesehatan : gangguan pada pencernaan, gangguan pada paru-paru, muntah-muntah, diare, kerusakan ginjal, tekanan darah tinggi dan penyakit hati.
3. Mercury/ Air raksa  (Hg) Kegunaan : Tahan lama dan menghasilkan lumen per watt yang lebih banyak, tahanan yang baik dan konduktifitas termal yang efisien.
Penggunaan umum : lampu fluorescent, pigmen anti karat, perlakuan anti bakteri.
Pengaruh terhadap kesehatan : air liur yang berlebihan, kehilangan berat badan, diare, otot kaku dan kerusakkan ginjal.
4. Hexavalent Chromium/ Krom heksavalen (Cr6+) Kegunaan : Tahan terhadap panas dan karat, sangat berguna untuk pigmen, proses akhir besi/metal, pengawet kayu.
Penggunaan umum : Cat, tinta, anti karat, pengering cat.
Pengaruh terhadap kesehatan : hidung basah, bersin, gatal, kerusakkan hati dan ginjal.
5. Polybrominated Biphenyls/ Polybrominated biphenyls (PBB) (PBB) [MCV = 1000 ppm] Kegunaan : Penghambat api dan menambah daya tahan plastic.
Penggunaan umum : Casing (rumah) untuk peralatan atau produk elektrik dan elektronik
Pengaruh terhadap kesehatan : kelainan kulit, rambut rontoh, kerusakan sistem saraf, kerusakkan ginjal dan hati serta sistem kekebalan tubuh.
6. Polybrominated Diphenyl Ethers (PBDE)/ Polybrominated diphenyl eter (PBDE)—-sama dengan Polybrominated biphenyl (PBB)

Di Indonesia semua zat-zat diatas lazim disebut dengan Logam Berat. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana jika limbah logam berat tersebut dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Seharusnya memang ada sinergi antara pengguna peralatan elekronik yang ingin membuang  limbahnya, produsen dan pemerintah sebagai eksekutor regulasi. 

Jadi? Yuk berkontribusi dalam mengurangi sampah elektronik, membuang sampah elektronik dengan menggunakan jasa rongsok seperti di Pusdai ini dan sebelum membeli yang baru ada baiknya mencoba hunting spare part yang diperlukan disini. Buka setiap hari jam 08.00 hingga pukul 15.00 dan siap-siaplah bertemu dengan pemilik lapak yang baik hati dan suka rela memberi penjelasan.


Sumber :

Sekilas Info Pengomposan Di Taman Tongkeng



Taman Tongkeng


Walaupun jumlah sampah organik mencapai 60 % - 70 %  dari total sampah kota, dari tampilan  web bebassampahID, bisa terlihat bahwa pengomposan merupakan titik lokasi yang jumlahnya terkecil. Tentunya bukan disebabkan kami surveyor malas tapi lebih dikarenakan sulit sekali menemukan usaha pengomposan yang beroperasi kontinyu. 

Proses sampah anorganik lebih banyak ditemui karena lebih mudah dilaksanakan. Hasilnya langsung terasa yaitu materi berupa uang. Tidak heran titik lokasi pengepul, reparasi, barang bekas menyebar di seantero Bandung. Titik usaha lain sulit ditemui karena mengalami kendala:
  • Bank sampah membutuhkan sukarelawan yang mau bekerja dengan jangka waktu lama. Proses  pencatatan keuangan tidak mudah dan kegiatan mengubah cara pandang masyarakat agar mau bergabung menjadi anggota.
  • Kegiatan recycle terkendali kemampuan kreativitas dan pemasaran.
  • Pengomposan, terkendala :
  1. Hasil pengomposan sampah organik tidak dapat diperoleh dengan instan, membutuhkan waktu minimal sebulan lamanya. 
  2. Jika salah proses maka akan keluar bau busuk yang menusuk.  
  3. Program pengomposan umumnya  berasal dari pemerintah atau program idealis karena hasil pengomposan sampah organik umumnya sulit dijual dan tidak dapat dikalkulasi seperti sampah anorganik.
Karena itu saya sangat beruntung bertemu dengan ibu Tini Mf Martini Tapran, sosok yang konsisten memberi edukasi lingkungan hidup, serta bertanggung jawab pada proses pengelolaan sampah organik di Taman Tongkeng.

Ada 3 proses pengomposan yang dilakukan di Taman Tongkeng yaitu:
  • Biodigester yaitu mengolah sampah organik menjadi gas yang berguna untuk memasak.  Sebanyak 100 - 150 kg sampah organik (didapat dari rumah makan dan sampah tanaman di Taman Tongkeng) dimasukkan ke tangki cerna, tempat bahan organik diubah menjadi pupuk organik dan biogas. Kemudian biogas dialirkan dalam tangki yang biasanya disimpan diatas tembok sebelum digunakan.

  • Pengomposan sampah organik menjadi kompos di dalam komposter anaerob. Prosesnya hampir sama dengan biodigester, bedanya tujuan proses adalah pengomposan sehingga sebaiknya dicampur MOL (mikroorganisme lokal) untuk mempercepat proses.
  • Pengomposan sampah organik ke dalam lubang resapan biopori (LRB. Tujuannya menyehatkan tanah dengan cara menyimpan air hujan dan sampah organik yang akan mengubah menjadi kompos yang menggemburkan tanah.

Agar pengomposan berjalan lancar, sampah organik didapat dari sampah (dedaunan kering) taman Tongkeng dan sampah dapur beberapa rumah makan yang berlokasi di sekitar Taman Tongkeng. Hasilnya tidak dapat dikatakan terlalu berhasil walaupun tidak buruk juga. Mungkin karena pengelola tidak terlalu mengharapkan hasilnya.

Pengelola harian bukan ibu Tini tapi seorang pegawai PD Kebersihan bernama Tommy yang mendapat tanggung jawab mengumpulkan sampah organic dan memasukkannya ke dalam biodigester, komposter dan LRB. 

Berikut penampakannya:
Biodigester dengan kapasitas sampah organic 100 – 150 kg.

Komposter anaerob



LRB (Lubang Resapan Biopori)


Tertarik melihat proses pengomposan atau ingin berlatih? Silakan datang ke Taman Tongkeng pada jam kerja. Disana ada Tommy yang dengan senang hati akan menjawab setiap pertanyaan.





Lapak Sepatu di Jalan Kembang Sepatu






“Bu, foto bu ……….”.

Wah baru kali ini saya bertemu pemilik lapak yang meminta difoto. Umumnya salah tingkah atau enggan tampil di kamera. Kesempatan langka ini tentu saja saya gunakan sebaik-baiknya. Ini dia foto pemilik lapak yang bersama pemilik lainnya, pak Eli, pak Dadan, pak Abut, pak Abas, pak Eman menjual sepatu bekas di sepanjang jalan Kembang Sepatu.



Seberapa besar peranan lapak pak Umar cs dalam mengurangi sampah? Untuk kota sebesar Kota Bandung tentu saja kontribusinya sangat besar. Mereka yang membutuhkan rupiah bisa meloak sepatunya disini, dilain pihak yang pas-pasan uangnya bisa membeli sepatu yang diperlukan dengan harga miring. Ujung dari proses tersebut merupakan manfaat reuse (menggunakan ulang, bagian dari 3 R), yang tidak disadari pelakunya.

Beberapa peranan reuse sering diplesetkan, misalnya praktek barang Cimol yang marak terjadi di kota Bandung. Cimol singkatan dari Cibadak Mall, merupakan barang bekas yang diimpor dari luar Indonesia dan dulu dijual disepanjang jalan Cibadak Kota Bandung. Begitu terkenalnya, hingga dinamakan Cimol, akronim yang mengandung sarkasme karena bukan hanya kaum proletar yang gemar belanja di Cimol tapi juga pemilik kendaraan roda empat yang termehek-mehek barang buatan Korea walaupun bekas pakai.

Tidak heran barang Cimol pernah merajai tidak hanya area jalan Cibadak, tapi juga masuk ke pertokoan bergengsi di jalan Asia Afrika Kota Bandung. Hingga akhirnya pemerintah kota memindahkan dan melokalisir ke pasar Gedebage Bandung. Secara temporer, penjual barang Cimol memenuhi Gasibu di hari Minggu dan Pusdai di hari Jumat.

Keberadaan barang Cimol tentu saja mencederai usaha meminimalisir sampah. Lha kita sedang mengurangi sampah dengan beragam cara, kok ini malah mengimpor sampah.  
Apapun alasannya, sampah dari luar wilayah Indonesia sebisa mungkin ya jangan masuk. 

Jika diperinci beberapa alasan menolak barang Cimol yaitu:

  • Kemungkinan besar banyak kuman penyakit asing yang menempel pada barang bekas dari luar wilayah Indonesia, baik penyakit kulit atau penyakit lainnya. Mirisnya tidak ada instansi yang menjamin karena masuknya barang merupakan perbuatan illegal.

  • Membunuh daya saing sektor industry tekstil karena harganya yang murah. Sektor industry tekstil dalam negeri yang mengandung biaya tinggi tentu saja tidak dapat bersaing dengan harga barang bekas yang mencoba naik daun dengan perubahan lifestyle ini.

  • Membunuh daya saing penjualan barang bekas dalam neger yang nyata-nyata berkontribusi dalam mengurangi produksi sampah dalam negeri.

  • Yang terpenting tentu saja, Indonesia kok menambah sampah dari luar negeri? Dengan daya dukung terbatas sungguh tidak bijaksana menambah sampah yang belum ditemukan solusi cerdasnya hingga kini.


Waduh ulasan kita kok merembet ke barang Cimol ya? Masalahnya keberadaan barang Cimol mengganggu kegiatan reuse yang berlangsung di lapak seperti milik pak Umar. Pembeli barang bekas lebih memilih membeli barang bekas di Gedebage karena banyak ragamnya dibanding ke jalan Kembang Sepatu. Sehingga apa boleh buat, pemilik lapak menjual barang baru, persis seperti yang terjadi di unit usaha Rangkas, B&B dan Babe, dan proses reuse-pun terancam.

Bagaimanapun kita tetap bisa berkontribusi dalam kegiatan meminimalisir sampah ini. Baik dengan menjual barang bekas pakai maupun membeli barang bekas yang diperlukan khususnya sepatu di lapak sepatu bekas jalan Kembang Sepatu. Buka sejak pukul 06.00 hingga jam 22.00, jajaran lapak ini telah eksis puluhan tahunm silam. Penasaran? Silakan datang dan berbincang dengan pemilik lapak yang ramah-ramah ini  ^_^