Laman

Sabtu, 18 Juli 2015

Base, Barang Second






Berlawanan dengan Rangkas, petugas Base memimpong saya disini. Mungkin karena ngga paham atau takut atau apalah. Tapi sebelum menghilang entah kemana, karyawan Base sempat berujar bahwa Rangkas dan B&B satu kepemilikan hanya beda manajemen jadi data Base ngga  diperlukan lagi jika sudah mewawancarai Rangkas.

Oh ya? Base atau singkatan Barang Second memang memiliki persyaratan yang sama, terlihat dari rincian yang ditunjukkan petugasnya, yaitu:


  • Penitip harus menyertakan KTP sebagai bentuk pertanggungjawaban atas barang yang dititipkan. Ketentuan tersebut memudahkan jika ada gugatan dari pihak lain. Kan mungkin saja terjadi barang yang dititipkan bukan barang halal, nah lho unit usaha semacam Base bisa dikira penadah kan?

  • Penitip harus membayar biaya penitipan sesuai masa penitipan dan bisa diperpanjang hingga 2 kali. Jika diambil sebelum waktunya, penitip dikenakan biaya pembatalan sebesar 7,5 % dari harga jual.

  • Harga jual barang titipan ditentukan atas dasar kesepakatan bersama. Sehingga ngga bisa semau gue menyematkan harga. Bisa dibayangkan kan jika harga berfantasi tanpa pijakan? Bisa bisa pengunjung kapok,  enggan datang lagi.

  • Pihak Base tidak bertanggung jawab jika barang titipan tidak diambil melebihi tenggang waktu 15 hari dari tanggal jatuh tempo. Lha iya, banyak sekali barang yang dititipkan, bisa berubah jadi gudang deh jika tidak ada ketentuan ini.



Apa bedanya Base sehingga saya  tetap menyurvey tempat ini? Karena Base nampaknya mengkhususkan diri dalam peralatan musik. Di toko lain juga ada sih, bahkan di toko beda manajemen seperti Babe dan Old & New, banyak didapat alat musik. Bedanya, di Base ini semua barang yang dijual adalah alat musik.  
Hampir semua alat musik ada disini, mulai dari ukulele, biola, gitar akustik, gitar listrik, penampakannya dibawah ini.


Toko barang bekas seperti Base tidak hanya berperan mengurangi sampah tetapi juga membantu dompet mereka yang sedang belajar musik. Biola untuk anak berusia 4 tahun misalnya berukuran 1/8, sulit sekali ditemukan di toko musik sementara penggunaannya hanya sebentar, hanya beberapa tahun saja sesudah itu harus diganti ke 1/4, 1/2 ½ dan seterusnya. Bagaimana kisah biola yang sudah tidak diperlukan? Tentunya tempat barang bekas seperti Base sangat membantu untuk memarkir alat-alat musik tersebut. Bahkan penggunapun bisa membeli alat  musik yang diperlukan disini, hingga akhirnya tidak dapat digunakan dan dijual lagi, begitu seterusnya. Reuse yang tepat sasaran dan tidak merepotkan.

Base tidak hanya menjual barang bekas, banyak barang baru dijual disini. Tapi jangan takut karena penjaga toko akan menjelaskan mana barang baru, dan mana barang bekas. Jangan kaget jika harga barang bekas lebih mahal karena merupakan barang branded ternama dan berkualitas tinggi sehingga harganya jutaan rupiah sedangkan barang baru hanya ratusan ribu rupiah.

Sedang berlatih musik atau baru ingin belajar musik? Tidak usah bingung memperoleh/membeli alatnya. Silakan datang ke toko Base, jalan Kerapitan nomor 47, telepon (022) 7304337, buka jam 09.00 hingga pukul 21.00, (hari Minggupun buka) dan mencoba alat-alat musik yang ada, yang sesuai dengan isi dompet.


Senja Kala Pasar Buku Bekas Cihaurgeulis






Deretan anak  tangga kayu berderak  menyedihkan. Kayu-kayunya goyah tanda gamang ketika saya menapaki tangga demi tangga menuju pasar buku bekas Cihaurgeulis. Letaknya di lantai atas . area bawah digunakan sebagai kios penjualan sayur mayur, buah, daging sapi, daging ayam dan ikan.  Setiap kios sayuran seolah  berebut ingin berada di depan, memudahkan pembeli yang enggan berbelanja dan bergulat dalam beceknya pasar tradisional.

Bursa buku yang terletak berdampingan dengan pasar tradisional Cihaurgeulis, sejak tahun 1987 (sumber: disini) ,  memberikan tempat pada penjual buku bekas bongkaran yang dulu berjualan di depan universitas Pajajaran. Karena area tersebut “dibersihkan” untuk pembangunan monumen perjuangan.

Diresmikan Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat menggusur ribuan warga yang menempati tanah secara illegal di depan kampus universitas Pajajaran hingga area depan Gasibu. Mereka mendapat santunan dan berpencar ke beberapa daerah seperti jalan Cibeunying, jalan Kopo dan kawasan Bandung Timur. Sedangkan bursa buku bekas di lokalisir di jalan Surapati, tepatnya kawasan pasar Cihaurgeulis.

Sayang kawasan pasar tradisional yang kumuh, kotor dan becek membuat enggan pendatang mencari buku murah disini. Sehingga dari jumlah 61 kios buku di tahun 1987, kini hanya tersisa 7 kios yang kembang kempis menunggu pembeli. Beberapa pemilik kios menduga menjamurnya toko-toko buku yang memberikan diskon besar-besaran sebagai penyebab. Tapi jika ditelisik dengan jernih, mana ada sih calon pembeli buku yang senang belanja di kawasan menjijikkan? Penyebabnya di depan bursa buku sering mangkal kontainer sampah penuh belatung yang mengeluarkan bau tak sedap. Tidak hanya kios pasar tradisional yang membuang sampahnya ke kontainer tapi juga warga penghuni di sekitar pasar Cihaurgeulis.

Seingat saya, dulu mudah sekali menemukan buku-buku bekas dalam kondisi bagus, misalnya serial Petualangan Tin-tin yang terkenal. Dalam kondisi baru, buku komik  tersebut harganya mahal sekali. Sehingga keberadaan bursa buku bekas di pusat Kota Bandung ini sangat membantu. Juga banyak buku bekas lainnya dengan mudah diketemukan disini. Tapi itu dulu, sekarang pemilik kios hanya berujar bukunya habis dan menawarkan buku lainnya. 

Akhirnya calon pembeli harus mengalah dan mencari buku yang dimaksud ke bursa buku bekas di jalan Palasari, kawasan bursa buku yang cukup jauh jaraknya dari pusat kota. Atau mengalihkan tujuan ke deretan PKL buku bekas di jalan Ahmad Yani, lokasi yang justru illegal karena menempati wilayah pedestrian.

Beberapa pembenahan tampak dilakukan di halaman depan bursa buku Cihaurgeulis. Mungkin karena semangat walikota Bandung untuk meraih penghargaan Adipura yang salah satu penilaiannya menyangkut kelayakan dan kebersihan pasar tradisional. Gerakannya masih perlahan, karena bersifat swadaya masyarakat.

Tertarik mengunjungi pasar buku bekas Cihaurgeulis? Silakan mendatangi lapak Ibu Tati, Bapak Bandi, Ibu Nia, Bapak Entis, Bapak Teten, Bapak Haji Flamin, Ibu Fajar dan Bapak Didik. Setiap hari termasuk hari Minggu, mereka setia buka pukul 08.00 – pukul 17.00. atau sebelum singgah bisa hubungi dulu ibu Tati di 085222138540 agar tidak kecewa  ^-^

 Sumber disini