Laman

Rabu, 24 Juni 2015

Yang Curah, Yang Murah, Dan Ngga Nyampah




 
Ibu Rika dan produk curahnya

Sebetulnya curah atau produk curah dicetuskan penjual, khususnya marketing pasar swalayan untuk membedakan produk dalam kemasan dengan produk yang belum dikemas. Disediakan dalam wadah besar, pembeli dipersilakan mengambil sesuai kebutuhan dan memasukkannya kedalam kantung plastik yang telah disediakan pasar swalayan dalam bentuk gulungan besar. Contohnya telur, sayuran, buah-buahan dan makanan siap saji.

Harganya tentu saja lebih murah. Karena produk curah tidak melalui proses khusus untuk dikemas yang tentu saja memerlukan biaya tambahan. Produk curah umumnya juga tidak dipromosikan  secara intens seperti halnya produk yang brand—nya wara wiri di layar kaca menyeritakan keunggulan produk yang sanggup ‘mencuci sendiri’ atau ‘harum hingga berminggu-minggu’ sehingga calon pembeli terpikat dan mempercayai produk sakti tersebut.

Soal manfaat produk adalah satu hal, tapi SAMPAH kemasannya adalah hal lain. Sampah produk seperti itu umumnya memiliki ciri : berwarna terang menyolok mata, tebal sehingga sulit hancur.

Isu lingkungan khususnya tentang sampah, rupanya digunakan usaha kecil menengah. Mereka memproduksi  beraneka ragam produk pembersih rumah tangga (detejen pencuci baju, pengharum pakaian, pembersih lantai) dan produk perawatan tubuh (sabun cair, shampoo).  Produknya diperkenalkan  sebagai produk ramah lingkungan karena menggunakan ulang kemasan produk lain.

Sebetulnya produk curah bukanlah sesuatu yang baru. Dulu, sebelum harga plastik sedemikian murah, ibu dan nenek kita terbiasa menggunakan produk dalam kemasan botol kaca. Contohnya kecap. Jika membeli kecap dalam botol umumnya kita membawa botol kecap kosong untuk ditukarkan dengan yang baru. Harga kecap menjadi lebih murah dibanding tanpa penggantian botol bekas. Botol kecap yang isinya habis/botol kecap lama akan dikirim kembali ke pabrik untuk dibersihkan dan diisi ulang. Prosesnya mirip dengan air minum dalam kemasan gallon.


Hmmm… sesungguhnya ada perbedaan yang mendasar ya? Mari kita bandingkan dengan produk beragam produk pembersih rumah tangga dibawah ini.
Usaha isi ulang dari brand yang sama,
  • Wadah/ kemasan bisa dipertanggung jawabkan karena dilakukan oleh perusahaan yang sama. Contoh kasus kecap atau air mineral diatas.
  • Harga lebih murah.
  • Meminimalisir sampah.

Usaha isi ulang dari brand berbeda.
  • Wadah kemasan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Umumnya mereka menggunakan sampah air mineral yang diproduksi untuk sekali pakai, bukan untuk digunakan lagi dengan alasan apapun.
  • Harga lebih murah.
  • Meminimalisir sampah.
Survey bebassampahid 2015 menemukan kasus penggunaan ulang wadah air mineral  yang digunakan ulang untuk produk curah yaitu produk pembersih pakaian (deterjen cair, pewangi, pemutih, pelicin pakaian dan lain lain), produk pembersih peralatan rumah tangga (sabun cuci piring, sabun cuci tangan, pembersih kaca, pembersih lantai, pembersih keramik), produk pembersih tubuh (sabun cair, shampoo), dan produk pembersih mobil (semir ban, shampoo, oles body, pembersih jamur kaca).
Banyak ragamnya bukan? Setiap produk sudah memiliki izin kemenkes. Ibu Rika pemilik usaha ini bercerita bahwa dulu sebelum banyak orang mengenal produknya, dia harus berkeliling kota mencari sampah anorganik sebagai wadah produk curahnya. Tapi kini pembeli membawa botol-botol bekas air mineral dan jerigen yang telah kosong yang akan diganti Rp 100 – Rp 200/botol kemasan sedangkan jerigen dihargai @ Rp 1.500.
Bekas botol air mineral dan jerigen akan dicuci bersih oleh Ibu Rika, dikeringkan, jika perlu Ibu Rika mencari/membeli  tutup kemasan yang hilang. Kemudian diisi produk curah agar pembeli dapat segera menerima produk yanhg dibeli, tidak usah menunggu Ibu Rika mengisi.
Tertarik? Silakan datang ke jalan Surapati nomor 50, tepatnya di depan pasar Cihaurgeulis. Dari luar tampak menyolok dengan jejeran tabung gas melonnya, hanya mereka yang paham atau jeli memperhatikan bahwa toko Madani menjual produk curah. Mungkin itulah salah satu tugas penjual produk curah :  Bekerja keras mempromosikan dagangannya termasuk meyakinkan pembeli bahwa jualannya mempunyai kelebihan .. bla … bla … bla. 
Baik untuk mempromosikan produknya yang berharga murah, sudah terdaftar maupun kelebihan lainnya yaitu ramah lingkungan mengingat banyaknya  sampah, khususnya sampah air kemasan  akan berakhir di tempat pembuangan sampah akhir dan membebani bumi. 

ragam produk curah




Ibu Nana, Mantan Murid Sekolah Ibu Yang Sagala Bisa




 
Ibu Nana dengan hasil karyanya

“Sesudah dapat penghargaan, Sekolah Ibu bubar bu”.

Penjelasan seorang perempuan muda di Gang Reuma Tengah I nomor 30 Kota Bandung membuat saya terhenyak.  Kisah tragis selalu terulang. Komunitas/kelompok didirikan dengan penuh harapan untuk kemudian hancur berantakan karena kenyataan tak sesuai impian. Banyak penyebabnya. Ada kasus penggelapan dana, ada kasus harapan terlalu tinggi, sedangkan kasus Sekolah Ibu ternyata bubar karena ketuanya pindah rumah. Harusnya sih ngga bubar ya jika organisasi dan system berjalan dengan baik.

Untunglah seorang guru yang sedang mengajar pesantren kilat berkata bahwa ada mantan murid yang meneruskan kegiatan Sekolah Ibu, namanya Ibu Nana. Dulu, bersama ketua Ibu Nana pernah mengajukan proposal order pembuatan asesoris kain perca pada suatu pabrik kerudung yang memiliki brand ternama. Usulan itu disetujui dan hingga kini beberapa mantan murid Sekolah Ibu masih meneruskan kegiatan tersebut.

Diantar guru muda yang cantik dari pesantren kilat tersebut, saya melalui jalan-jalan sempit menuju rumah Ibu Nana. Takjub, ternyata diantara gang sempit pemukiman padat, masih terdapat tanah-tanah kosong yang ditanami singkong dan pohon pisang. Rumah Ibu Nana sendiri cukup terpencil, sempit tanpa ruang tamu sehingga harus menggelar alas untuk menemui tamu.

Tapi keterbatasan fasilitas tak membuat IBu Nana mati gaya. Beberapa bungkusan kain perca dan limbah kemasan plastik tampak tersimpan rapi di belakang meja dan di belakang pintu. Demikian juga hasil akhirnya yaitu asesoris yang dibuat sesuai pesanan.

Menurut Ibu Nana, merekalah yang mengajukan proposal berisi ide memasang asesoris pada kerudung yang semula polos. Dengan adanya hiasan tangkai bunga di kiri dan samping kanan atas kerudung maka kerudung tampak cantik. Sungguh tepat penjelasan Ivan Gunawan, Desainer kondang yang kerap memberi petunjuk para hijabers : “ Kerudung merupakan pengganti rambut bagi para hijabers karena itu perlu diperhatikan warna, tambahan hiasan dan kerapihannya.”  ……, Tidak aneh jika pengguna kerudung berasesoris bunga tersebut menjadi bertambah cantik.

asesoris kerudung dari limbah perca


Selain limbah perca, Ibu Nana juga membuat kerajinan limbah kemasan kopi. Hasil karyanya sungguh berbeda dibanding hasil kerajinan ibu-ibu lainnya karena memiliki motif cantik, rapi, dan  tidak asal jadi.  Sayang hasil pemasaran kerajinan limbah kemasan tidak seindah bayangan sehingga kini Ibu Nana lebih menekuni kerajinan asesoris. Setiap bros kain perca yang dihasilkan, Ibu Nana mendapat upah Rp 700, untuk itu Ibu Nana menargetkan 10 bros per hari agar setiap bulannya mendapat upah yang lumayan yaitu: 30 X 10 x Rp 700 = Rp 210.000

Tidak hanya menggeluti kerajinan, Ibu Nana juga membantu kegiatan Bank Sampah di RW 19 Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong. Ada sekitar 25 anggota di bank sampah tersebut, sayangnya hasil bank sampah hanya dikumpulkan, disimpan kemudian dibagikan diakhir tahun. Padahal jika digunakan sebagai modal usaha atau modal koperasi simpan pinjam, pastilah akan lebih bermanfaat.

Ibu Nana juga bercerita bahwa yang membuatnya cape yaitu harus membersihkan sampah anorganik yang dikumpulkan anggota Bank Sampah. Suatu kegiatan salah kaprah yang hanya membuang waktu. Karena sampah anorganik yang kotorpun diterima pengepul, terlebih tugas mereka sebagai pengurus Bank Sampah hanyalah menjadi bagian rekayasa sosial, bukan sebagai pengepul yang terlalu mempedulikan jumlah uang terkumpul.

Tapi menjalankan kegiatan rekayasa sosialpun tak mudah, karena sosialisasi tugas mereka sebagai   agen gerakan perubahan sering tak tersampaikan dengan benar.

Tertarik berlatih membuat berbagai kerajinan limbah plastik dan perca kain? Silaakan datang ke Gg Reuma Tengah RT 05 rw 19 Kelurahan Sadang Serang Kecamatan Coblong Kota Bandung. Gg Reuma Tengah berada di jalan Gagak, jalan penghubung jalan Surapati dan jalan Sadang serang. Lebih mudah dijangkau dari arah jalan Sadang Serang, daripada dari jalan Surapati.