Laman

Kamis, 14 Mei 2015

Lambaian Tangan Pak Ridwan Kamil Untuk Pemilik Diarinta

ternyata bukan pencitraan -dok.merdeka.com



  "Pak, rumahnya pak Walikota Ridwan Kamil kan didekat sini”.
“Iya, kalo pulang, selalu melambaikan tangan ke saya”, jawab pak Ahmad
“Oh, ya?”
“Iya, dia biasanya malam hari pulang ke rumah. Naik sepeda, dibuntuti pengawal,   pengawalnya naik sepeda motor”

Oo .., penjelasan yang cukup mengagetkan saya. Saya pikir pak Ridwan Kamil atau akrab disapa pak Emil tinggal di pendopo, rumah dinas Walikota Bandung. Ternyata kadang-kadang pak Emil pulang ke ‘sarang’nya yang nyaman di jalan Cigadung.  

Saya juga kaget mengetahui  pak Emil pulang ke rumah botolnya naik sepeda. Karena wow, jalan yang harus dilalui cukup menanjak lho. Lumayan berat menurut saya sih. Apalagi di malam hari tatkala stamina sudah terkuras habis. Hebat juga ya Bapak Walikota Bandung kita?
Walaupun demikian tak urung saya penasaran: “Apakah pak Emil melihat banyaknya sampah disepanjang jalan yang dilaluinya? Sampah-sampah tersebut memenuhi saluran air dan menyebabkan banjir cileuncang. 

Semoga beliau melihat tapi belum bisa menyelesaikan masalah tersebut. Maklum, urusan sampah memang kompleks, menyangkut perilaku/lifestyle yang tidak segera diluruskan selama bertahun-tahun. Belum lagi alokasi anggaran yang tidak sederhana serta banyaknya dinas yang terkait saling berhubungan bak benang kusut sulit terurai. Sampah di gorong-gorong jelas bukan urusan PD Kebersihan demikian juga sampah yang menggunung di depan rumah tak berpenghuni.

team kebersihan kecamatan cibeunying kaler dan kelurahan sukaluyu membersihkan gorong-gorong

Karena itu patut diapresiasi adanya beberapa gerakan gotong royong bebersih Bandung. Gerakan yang membantu arah perubahan agar warga peduli sampah, misalnya kegiatan jumsih (jumat bersih), GPS (gerakan pungut sampah), pembentukan team kebersihan yang dibiayai kecamatan dan kelurahan, serta tentunya pembuatan peta persampahan kota Bandung yang bisa dilihat di web bebassampahID.
Peta persampahan Kota Bandung disusun dengan tujuan memudahkan warga berperan serta dalam pemisahan sampah. Apabila sampah dipisah sejak dari sumbernya, maka PD Kebersihan tidak akan pusing mengangkut sampah dan pemerintah Kota Bandung tidak kebingungan mencari lokasi tempat sampah pembuangan sampah akhir. (TPA). Menurut perhitungan teknis, tahun 2011 TPA Sarimukti harus ditutup karena sudah melebihi kapasitas. Jika sekarang masih berjalan maka ibarat bom waktu, setiap saat TPA sarimukti tidak bisa digunakan lagi.

 Nah siapakah pak Ahmad? Beliau pemilik unit usaha reparasi di jalan Cikondang Bandung. Salah satu titik yang bisa dilihat keberadaannya di web bebassampahID.  Berlokasi  dijalur yang dilalui pak Emil jika pulang ke rumahnya di Cigadung.

Diarinta Service, unit usaha reparasi peralatan listrik

Cukup mudah ditemui. Berpatokan Taman Makam Pahlawan kemudian menyusuri jalan Cikutra Barat, setelah supermarket Borma berbelok ke Jl Cikondang yang panjangnya sekitar 200 meter. Mudah bukan? Di area ini menurut pak Ahmad, bukan dia saja yang menerima reparasi beragam peralatan elektronik. Cukup banyak dan semuanya ramai, pertanda warga masyarakat dari berbagai kalangan, sangat membutuhkan jasa pak Ahmad dan kawan kawan. 
Pak Ahmad sendiri menekuni usaha reparasi peralatan listrik sejak tahu 2004. Diawali menjemput bola, mendatangi mereka yang membutuhkan jasanya.  Hingga kini dia kewalahan memenuhi tenggat waktu. Beberapa order reparasi nampak masih terbungkus rapat belum sempat dibuka.
Usaha yang seharusnya mendapat  dukungan penuh pemerintah, khususnya sosialisasi sampah. Karena peralatan elektronik tidak didesain untuk dibuang di sembarang tempat. Ada kemungkinan limbah B3 yang turut terbuang.
Sementara itu pak Ahmad nampaknya tidak memusingkan persoalan limbah B3. Dia sudah cukup senang pak walikota Bandung, Ridwan Kamil yang tinggal tidak jauh dari tempat kerjanya, sering menyapanya bahkan melambaikan tangan. Bahagia itu memang sederhana ^-^

Diarinta Service

Pengepul Ramah di Cigadung Bandung




 
Dua Saudara, Pengepul di jalan Cigadung Bandung (dok. Maria G. Soemitro)

Dari semua responden , mungkin baru kali ini saya bertemu wakil pemilik lapak yang  ramah dan informatif. Tidak hanya menjelaskan barang rongsokan apa saja yang diterima, tetapi juga proses produksi dan jejaringnya.

Sebetulnya saya kerap melalui daerah ini, tapi tidak mengetahui bahwa bangunan  di jalan Cigadung Raya Tengah nomor 17 Bandung ini tidak hanya merupakan toko bahan bangunan tapi juga pengepul barang bekas/sampah anorganik yang sudah cukup lama. 

Teman detektif bebassampahID , Suci yang menemukan dan memasukkan ke web. Padahal pemilik lapak ini termasuk Bandar Besar, dia memiliki 3 lapak dan kendaraan pribadi (truk) untuk mengangkut sendiri barang rongsoknya. Bahkan dia memiliki pabrik pengolah menjadi biji plastik di kawasan PINDAD, jalan Kiara Condong Bandung.

Secara sederhana sampah anorganik bisa dipilah dalam 3 kelompok besar, yaitu:


  • Kertas, beraneka ragam

  • Besi , dengan jenis termurah hingga termahal.

  • Plastik, terdiri dari kurang lebih 20 jenis plastic. Hanya para praktisi lapangan yang bisa membedakannya karena plastik ini harus dipisah. Tidak bisa disatukan tatkala diproses karena berdampak menurunnya kualitas atau bahkan tidak bisa diproses.
bijii plastik hasil daur ulang (dok. Pan Era Group)



Hasil daur ulang plastik akan menghasilkan biji plastik bermutu rendah dibandingkan produk awalnya, misalnya bekas kemasan minuman (foodgrade, dan tentu saja berbahan baku biji plastik impor), jika diolah hanya akan menjadi bahan baku karung goni/karung plastik. Sampah karung goni bisa diolah lagi menjadi plastik yang jauh lebih rendah kualitasnya atau bahkan tidak diolah sama sekali jika biayanya terlampau tinggi.

Tidak demikian hal nya dengan kertas dan besi, hasil olah kedua jenis sampah anorganik ini tidak akan menurunkan kualitasnya. Contohnya, sampah kertas (kardus) akan diproses menjadi kardus kembali dan dijual tanpa mengurangi nilai jualnya.   

Tentu saja setiap produk berbeda pabrik pengolahnya, sehingga setiap harinya truk milik pak Yadi Heryadi, aktif beroperasi mengumpulkan barang rongsokan dan mengirimnya hingga ke luar kota.

pemilahan sampah (dok. Maria G. Soemitro)


Di area jalan Cigadung ini, tampak beberapa pegawai sedang berkerja, karena tidak hanya berfungsi menerima penjualan sampah anorganik tapi juga proses pra produksi. Sampah air minum  dalam kemasan (AMDK) dipisahkan dari tutupnya yang tidak bisa didaur ulang. 

Tutup AMDK berakhir sebagai sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir, sedangkan hasil pemisahannya (dalam bentuk cup yang bersih) dikirim ke pabrik pengolahan sampah plastik menjadi biji plastik.

Beberapa kegiatan juga dilakukan, misalnya mengeluarkan tembaga dari kabel. Tembaga berharga mahal, kurang lebih Rp 60.000/kg. cukup menggiurkan, bukan?

Jenis usaha rongsokan memang menjanjikan,  padat karya dan hanya dengan modal awal relatif kecil maka setiap pelaku bisa dipastikan akan mendapat profit yang cukup menjanjikan. Mereka umumnya merekrut  tukang rongsok untuk “jemput bola”membeli sampah anorganik/barang rongsokan yang sudah dipilah/belum dipilah dari rumah ke rumah. Para tukang rongsok ini umumnya menghuni bedeng di rumah yang disewa/dibangun para pengepul besar. Sehingga terjadi hubungan kerja yang saling menguntungkan atau simbiose mutualisme.

Tukang rongsok berbeda dengan pemulung. Stratanya lebih tinggi karena dia mengantongi uang cukup besar sebagai modal membeli barang rongsokan di rumah-rumah yang didatanginya. Sedangkan pemulung mengais sampah di tempat-tempat sampah untuk mencari sampah anorganik yang bisa dijual.

Menarik bukan jika memperhatikan bagaimana manusia bisa dibagi stratanya hanya karena pekerjaan. Oleh sebab itu sungguh tepat adanya GPS (Gerakan Pungut Sampah) di Kota Bandung agar warga tidak merasa jijik dan semakin peduli pada sampah. Siapa lagi yang akan peduli dan memelihara lingkungan jika bukan kita, manusia penghuni bumi yang mendambakan lingkungan asri dan nyaman dihuni?  ^_^


mau setor, ups jatuh (dok. Maria G. Soemitro)