Laman

Minggu, 03 Mei 2015

Pak Jimbo dan Istrinya Yang Ramah



 
lapak Bapak Jimbo

Nyesss, dingin menyejukkan ………

Itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi lapak pak Jimbo dan istrinya. Sesudah menerima aroma curiga di pasar besi bekas jalan Cikaso dan tersandung-sandung tersasar dalam cuaca yang terik nian di jalan Awibitung dan Asep Berlian, maka sungguh asyik  bertemu pasangan setengah tua yang menekuni bisnis barang bekas ini.

Saling bahu membahu mereka bekerja. Bapak Jimbo menerima setoran sampah anorganik, menimbang dan menentukan harga. Sedangkan ibu Jimbo bertugas membayar sesuai jumlah uang yang disebutkan suaminya.

Sambil menunggu penjual dan pembeli sampah anorganik , pak Syahroni memilah-milah sampah. Tumpukan buku bekas catatan sekolah dipisahkan dari plastiknya. Lembaran kertas bertinta dipisahkan dari lembaran kertas yang masih kosong putih. Demikian pula map-map kertas yang harus dipisahkan dari besi penjepit.  Cukup apik karena sisa sampah dikumpulkan dalam satu wadah,  tidak dibuang sembarangan. Sehingga area lapak pak Jimbo ini cukup resik untuk ukuran pengepul barang bekas.

Istri pak Jimbo bercerita bahwa dia sudah menerapkan pemisahan sampah. Hanya sampah organik dan sampah anorganik yang tidak bisa didaur-ulang yang dibuangnya ke tempat sampah. 

Wah, hanya tinggal selangkah nih. Jika seluruh warga sudah memisah sampahnya maka pemerintah kota cukup menyosialisasikan composting atau biodigester atau biopori. Agar sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) bisa diminimalisir.
Penanganan sampah organik sebetulnya jauh lebih mudah dibanding sampah anorganik. Karena bisa dikatakan tidak ada biaya tambahan dalam pengolahannya. Contohnya  komposter kotak takakura, hanya diperlukan sejumlah uang untuk pembelian kotak yang berlaku seumur hidup. Tidak diperlukan biaya tambahan seperti transpor dan bahan pembantu lainnya.

Tidak demikian halnya dengan proses pengolahan sampah anorganik. Dibutuhkan biaya transportasi untuk mengangkut sampah anorganik dari satu titik ke titik yang lain, bahkan meliputi banyak titik lokasi. Belum lagi biaya produksi yang meliputi upah, bahan bakar minyak, biaya perawatan mesin dan biaya lainnya untuk mengolah sampah anorganik hingga menjadi produk baru. Rantai panjang yang menimbulkan jejak ekologis baru yang membebani baru.

Ah, kembali ke laptop. Ups ke pasangan pak Jimbo yang ramah dan menyuguhi saya segelas air putih dalam gelas keca berbentuk piala. Hmmmm, sungguh nikmat rasanya. Bukan saja karena saya haus setelah berpanas-panas ria menempuh perjalanan cukup jauh. Juga karena lega mendapat suguhan segelas air tanpa sampah. Terimakasih Ibu Jimbo.
 
ilustrasi karena saya lupa motret gelasnya
Lapak bapak dan ibu Jimbo termasuk unik karena tidak tampak di jalan utama, menjorok ke dalam Gang Cendrawasih III di area jalan Syahroni. Jalan Syahroni sendiri sebetulnya cukup mudah diketemukan, merupakan deretan jalan di sepanjang Ahmad Yani satu alur. Terletak di depan Balai Besar Keramik, area PKL melimpah disini. Katanya mereka berjualan sejak tahun 1980. Sehingga silakan bertanya lokasi jalan Syahroni maka setiap penghuni kawasan tersebut akan dengan senang hati menunjukkannya.

Aroma Curiga Di Pasar Besi Bekas Cikaso




 
pasar besi bekas Cikaso Bandung

Jika Rindu Order di Jalan Cimuncang Bandung merupakan Bandar Besar sampah kertas, maka pasar besi bekas Cikaso akan memuaskan calon pembeli dan penjual karena beragam jenis besi bekas dijual disini.

Untuk mencapai pasar ini sebaiknya masuk dari jalan Ahmad Yani. Kemarin saya salah perkiraan, masuk dari arah jalan WR Supratman yaitu jalan Cikaso Selatan, sehingga harus jalan kaki cukup jauh yang membuat gempor dan betispun membengkak  bak betis Popeye the Sailorman. ^_^

Sedihnya lagi, saya tidak diterima dengan ramah disini. Padahal urang Sunda terkenal sikap ramah tamahnya.  Entahlah apa penyebabnya, mungkin pernah terjadi hal yang tak menyenangkan. Destinasi  pertama yang saya kunjungi adalah lapak pak Tatang. 

lapak pak Tatang


Ternyata pak Tatang enggan menjawab, dia memanggil istrinya. Istrinya pun setengah hati menjawab, dia menyarankan saya untuk meminta izin ke ketua RT dan ketua RW dulu. Aduh mak, mungkin dipikirnya saya akan meminta sumbangan.  Saya juga diminta untuk mewawancara ibu Hindun sebagai sesama pemilik lapak barang bekas lainnya. Sehingga saya harus menerangkan bahwa semua lapak akan disurvey. Tidak ada pilih kasih ^_^

Sesudah bermanis ria dan menjelaskan panjang x lebar, barulah ibu Tatang mau memberikan data. Darimana dia mendapat sampah anorganik (sampah rongsokan), berapa lama barang-barang tersebut terkumpul dilapaknya hingga ada perantara yang membeli barang dagangannya untuk dijual ke bandar besar.

Destinasi kedua setelah lapak Pak Tatang adalah lapak Ibu Hindun. Lapaknya sangat khas karena  selain besi , kardus dan plastik , Ibu Hindun juga  menerima pecahan pecahan kaca sisa bengkel yang dijual lagi. 
lapak Ibu Hindun


Sama seperti ibu Tatang, entah mengapa sikap ibu Hindun kurang ramah. Padahal saya sudah menjelaskan tujuan wawancara yaitu memetakan tempat-tempat yang bisa menjadi destinasi jika warga telah sadar memisah sampahnya.

Tapi okelah mungkin ibu Tatang sedang sibuk, mungkin ibu Hindun sedang malas menjawab,  mungkin …    ^_^  …………, sejuta kemungkinan bisa saja terjadi. Yang pasti pintu lapaknya segera ditutup saya selesai mewawancarai dan beranjak pergi. Duh, sedihnya ^-^
     

lapak Ibu Hindun yang ditutup, hiks

Kembali ke topik utama yaitu pasar besi bekas Cikaso. Hati-hati menanyakan area ini karena saya salah menafsirkan sebagai lapak di area pasar tradisional Cikaso, yang berjarak cukup jauh.  Pasar tradisional Cikaso terletak di kawasan perumahan penduduk sementara area pasar besi bekas Cikaso yang berusia puluhan tahun ini terletak di jalan Cikaso ujung menuju jalan Ahmad Yani, salah satu jalan protokol Kota Bandung.

Di sepanjang jalan ini berjejer lapak-lapak penjual besi bekas. Hanya dua yang berbeda yaitu lapak Pak Tatang dan Ibu Hindun. Keduanya menjual plastik, kertas dan beragam rongsokan lain selain besi bekas yang jenisnyapun teramat banyak. Almarhum suami Ibu Hindun konon adalah salah satu sesepuh kawasan ini. Beliaulah yang sering mengumpulkan barang dari lapak ke lapak dan menjualnya ke Bandar Besar di luar Kota Bandung.

Bisnis ini memang menjanjikan keuntungan. Selama warga masyarakat masih membuang sampah anorganik maka jarum perdagangannya akan berputar sangat cepat. Mulai dari pembuang sampah – pengepul – broker – bandar besar – produsen – retail – konsumen / pembuang sampah demikian seterusnya.

Diperlukan  kepedulian pemerintah untuk membantu agar mereka menjadi salah satu solusi pengurangan sampah kota, karena selama ini mereka berjuang sendirian. Bak akar yang tumbuh dalam sepi,  semakin besar dan membesar. Terhenti pertumbuhannya ketika ada penggusuran.

Ah, apakah itu penyebab mereka memandang saya dengan curiga?

komoditi Ibu Hindun

Area Pasar Besi Bekas Cikaso