Laman

Selasa, 03 Februari 2015

Stand Kami di Pameran Industri Kreatif ITB 2010



Nah, di Pameran Industri Kreatif lah kami mendapat kesempatan menggelar stand. Sungguh kesempatan yang langka dan berharga, diantara stand baju, tas, assesories, kain batik, kerajinan bali, kerajinan flora kami menggelar barang recycle ( daur ulang) plastic dan kain.

Langka, karena pameran ini diadakan hanya tiap dua tahun sekali. Hingga kami ingin menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Berharga, karena apabila kami hanya membuat kerajinan dan menjualnya pada pameran seni budaya ini berarti kami membuang kesempatan untuk memperkenalkan recycle bekas kemasan.

Seperti kita ketahui, sudah banyak masyarakat yang peduli kelestarian lingkungan hidup sehingga mereka bersedia memisah-misah sampahnya.

Masalahnya, sesudah dipisah apalagi yang bisa mereka perbuat mengingat tukang sampah sering menyampur kembali 2 jenis sampah tersebut (sampah organik dan sampah anorganik).

Kami mencoba memberi solusi , yaitu membuat kerajinan dari bekas kemasan mie instant dengan harapan pengunjung yang bersedia mencoba membuat kerajinan mau mempraktekan sendiri di rumah atau bahkan menularkan ilmu tersebut ke tetangga atau teman komunitasnya.

Bagi pengunjung yang enggan berjibaku membuat kerajinanpun kami memberi solusi yaitu membentuk suatu komunitas, mengumpulkan bekas kemasannya dan mengundang pelatih untuk membuat kerajinan.

Hasilnya akan kami tampung untuk digelar di setiap pameran yang kami ikuti atau yang sedang diusahakan adalah meminta pertanggung jawaban produsen produk yang bersangkutan.

Menurut UU no 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah dan UU no 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup, suatu perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan produknya harus mempertanggung jawabkan bekas kemasannya.

Pemisahan sampah merupakan tanggung jawab individu (rumahtangga), instansi, dan badan usaha sedangkan pemerintah mengelola hasil pemisahan sampah tersebut.

Sebagai warganegara Indonesia tidak hanya harus taat pajak tetapi juga taat memisah sampah. Pembayaran pajak berkontribusi pada keberlangsungan penyelenggaraan negara sedangkan pemisahan sampah apabila dikelola baik oleh pemerintah akan berdampak langsung pada lingkungan hidup warganegara.

Karena itu gerakan memisah sampah dan mengelola sampah harusnya mendapat dukungan pemerintah. Apalagi sudah ada payung hukumnya, jadi mengapa nampaknya hal tersebut disepelekan.

Mungkin slogan “buy more” lebih menarik bagi pemerintah dibanding slogan “do more” karena dengan slogan “buy more” diharapkan warga akan belanja habis-habisan, roda perekonomian akan melaju kencang dan pajak yang disetor akan melambung. Pemerintah lupa bahwa warga yang mampu persentasenya kecil,sedangkan wong cilik yang menempati persentase terbanyak akan makin terpinggirkan karena untuk mencukupi kebutuhan primerpun mereka tidak mampu.

Makna apa yang ingin kami berikan pada pameran kali ini ? Jawabannya : Keseimbangan !

Diantara produk-produk konsumsi yang kreatif, produk-produk asli daerah yang tak kalah kreatifnya, kami ingin mengingatkan bahwa disetiap barang konsumsi pasti akan menghasilkan sampah. Sampah yang merupakan tanggung jawab setiap individu dan salah satu solusinya kami tunjukkan di stand kami.

Sambutan untuk pengunjung pameran Seni   Budaya ITB 2010

Detektif #BebasSampahId Siap Beraksi

Detektif , makna harfiahnya adalah polisi rahasia atau reserse. Jika digabung dengan kata Bebas Sampah menjadi polisi rahasia yang menyelidiki sampah. Wuaduh serem banget, kok sampah harus diselidiki. Apalagi diinterogasi, wah nggak mungkinlah. (^_^)



Kisahnya bermula dari warisan masalah sampah untuk pak Emil, atau Ridwan Kamil yang terpilih sebagai walikota Bandung 2013-2018. Jika pak Ahok, Gubernur DKI Jakarta mengaku senang mendapat kajian bagus-bagus dari professor-profesor terkemuka, maka pak Emil juga mendapat dukungan dari teman-temannya alumni ITB yang membentuk Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS).

BJBS tidak hanya terdiri dari alumni ITB, tetapi juga para pegiat lingkungan dan pengelola sampah di lapangan. Sehingga data yang dihimpun cukup banyak, valid dan dapat menyarikan pendapat bahwa masalah utama sampah adalah kebiasaan/lifestyle.

Penduduk kota besar pastinya sering melihat sampah berserakan diluar tempat sampah. Atau akhir-akhir ini, atau atas instruksi pak Emil semua kendaraan roda 4 (termasuk angkot) akan dirazia. Mereka diwajibkan membawa tempat sampah yang jika enggan sang supir akan terkena sanksi membayar Rp 250.000. Peraturan tersebut telah ditetapkan sejak tahun 2005 lho, dan baru dilaksanakan kemudian. Tapi tetep aja, supir angkot buang sampah ke jalan raya, miris bukan?

Karena itu perlu kampanye berkesinambungan agar warga menyadari bahwa pemerintah tidak bisa terus menerus meladeni sikap manja warganya. Tidak sekedar patuh membuang sampah pada tempatnya tapi mereka juga harus mau memisah sampah. Jika tidak ya kemungkinan besar Bandung Lautan Sampah akan terulang lagi. Penyebabnya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sarimukti memiliki daya tampung terbatas. Sementara warga Bandung membuang 1.600 ton sampah setiap harinya. Serem ya? Jika ditumpuk begitu saja akan mencapai 55 x tinggi candi Borobudur pertahunnya lho.


Pindah TPA? Tidak semudah itu, karena membuang sampah sesungguhnya hanya memindah masalah. Di rumah kita sampah sudah terangkut, dipindahkan ke TPS (tempat pembuangan sampah sementara) , pindah lagi ke TPA. TPA Sarimukti penuh, mungkin pindah ke Legok Nangka, Legok Nangka penuh pindah ke ….. ?? Entahlah, karena kemampuan bumi mengurai sampah tidak secepat waktu kita membuang sampah.

dok. #BebasSampahID
 

Solusi terbaik adalah memisah sampah dari rumah. Bukankah di rumah, sampah belum berubah bentuk menjadi kotor, bau dan menjijikkan? Coba deh sampah basah (sisa sayuran, sisa hasil memasak) dimasukkan ke lubang biopori atau komposter, sisanya sampah kering bisa ditumpuk dalam tong berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum akhirnya dijual atau diberikan ke pemulung.

Untuk mendorong perubahan kebiasaan (lifestyle) ini dibutuhkan website tempat warga masyarakat bertanya, melaporkan, memberi data atau sekedar berkeluh kesah tentang sampah. Beruntung salah seorang kontributor BJBS, Anilawati Nurwakhidin dibawah bendera Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) mendapat bantuan Ford Foundation (yang mendukung situs Wikipedia) untuk mewujudkan piranti lunak berbentuk website, aplikasi mobile serta SMS gateway bertajuk tentang Peta Persampahan, yang akan mengoptimalkan kontribusi masyarakat dalam sistem persampahan kota Bandung, mendorong akuntabilitas pelayanan pemerintah, sekaligus mendorong sistem persampahan menjadi berbasis masyarakat.


Wow bahasa dewa ya? Selengkapnya silakan lihat disini, sedangkan website yang dirancang bangun adalah ini. Poin utamanya sih diharapkan warga ketika hangout tidak hanya membicarakan kuliner dan fashion tapi juga gaya hidup ramah lingkungan yang tertuju pada zero waste lifestyle.


Apatis? Ngga lah, dulu anak muda dikatakan ngga keren jika ngga merokok. Tapi sekarang, pandangan tersebut tidak berlaku. Bahkan mereka yang berhenti merokok sering dipuji hebat. Demikian pula budaya mengantri, sekarang sudah umum dilakukan. Mereka yang nyerobot bakal terkena pelototan warga lain yang sudah antri duluan.

Lifestyle bisa berubah, website sudah disiapkan. Maka ketika warga sudah tergerak untuk melaporkan, harus ada yang memverifikasi. Para detektif #BebasSampahId lah yang bertugas untuk mendatangi titik-titik yang dilaporkan warga. Baik itu Bank Sampah yang menyediakan layanan bagi mereka yang berpatisipasi menabung sampah anorganik, juga lapak/pengepul , kegiatan pengomposan serta unit usaha yang berhubungan dengan pengelolaan sampah.


Untuk itu pada tanggal 31 Januari hingga 1 Februari 2015, para detektif sampah mendapat briefing mengenai zero waste lifestyle, kondisi persampahan Kota Bandung dan latihan mengeksekusi laporan warga. Beruntung teknologi komunikasi kian canggih sehingga detektif #BebasSampahId bisa melaporkan secara presisi ditambah hasil wawancara yang dituliskan dalam blog.

Keberadaan 20 detektif #BebasSampahId akan dilaunching pada tanggal 21 Februari 2015, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional. Cieee kok dilaunching segala? Iyalah agar warga Bandung tahu bahwa mereka bisa berpatisipasi dalam mengelola sampah. Tidak sekedar mengeluh dan menyalahkan pemerintah. Karena sesungguhnya sampahpun memiliki potensi, sampah adalah materi berharga, tergantung sudut pandang/penilaian orang per orang.

Jadi? Yuk mulai mengelola sampah masing masing dan jadikan gaya hidup ramah lingkungan sebagai lifestyle yang keren. Hasilnya akan dirasakan untuk diri sendiri kok. Coba deh ^^

20 detektif #BebasSampahID



notes berisi kolom yang harus diisi




bekal  detektif #BebasSampahId : misting dan tumbler agar tidak nyampah


sumber gambar : disini