Laman

Kamis, 28 Juli 2011

Surat Kabar Cetak vs Surat Kabar Online






13098735551447936283
perlu ngga sih?
Pengumuman Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) memang sudah lewat beberapa hari yang lalu. Tapi hari ini saya baru tahu bahwa surat kabar harian lokal memuat daftar nama peserta yang lolos. Wow….9 halaman !! Itupun hanya pengumuman lokal panitia Bandung. Betul-betul pemborosan kertas yang sulit dimengerti. Bukankah untuk mengetahui lulusnya tidaknya seorang calon mahasiswa bisa dilihat via internet, sms, atau telfon langsung karena ada call centre 0804-1-450 450panitia lokal(panlok)pun umumnya mempunyai lebih dari 1 nomor telefon.

Hari giniii……. mana ada calon mahasiswa yang gagap teknologi (gaptek)? Warung Internet (warnet) tersebar hingga pelosok kota. Anak SD sudah mahir bersms ria. Bahkan supir angkutan umum, tukang becak hingga tukang rongsokan sudah akrab dengan teknologi baru ini.
Jadi haruskah mengorbankan begitu banyak kertas koran hanya untuk memuat kelulusan yang dibaca sekian detik kemudian dilupakan? Bukankah mayoritas pembaca tidak memerlukan daftar pengumuman itu? Berapa banyak pohon yang ditebang percuma? Karena untuk menghasilkan 2.700 eksemplar kertas koran di butuhkan satu lahan pepohonan kayu keras setinggi 4 kaki panjang 4 kaki dan lebar 8 kaki.Belum lagi kemungkinan besar kertas tersebut berasal dari illegal logging
Perbandingan seperti inilah yang ingin saya ungkapkan pada Pungky yang mempertanyakan kehadiranFreez, versi cetak Kompasiana. Mengapa Kompasiana tidak puas sekedar hadir di jagat maya? Mengapa harus membuang—buang kertas? Bukankah sebagai penulis di Kompasiana otomatis kita ikut berkontribusi pada kerusakan alam khususnya hutan ?
Jawabannya adalah ya, apabila isi Freez adalah tulisan sekali baca. Hasil kalkulasi jejak karbon Freez pasti tinggi ketika kalkulasi hanya berkisar untung dan rugi secara kasat mata.
Tapi lihatlah foto ini.
1309874440312153711
membaca di pintu kios rokok (dok Maria G. Soemitro)
Foto ini saya ambil dari balik pintu angkutan umum. Foto seorang ibu yang sedang menunggu dagangannya di pintu kios rokok.
Pemandangan seperti ini sebetulnya lumrah. Khususnya di siang hari. Seorang pemulung yang beristirahat dan membaca selembar surat kabar yang kebetulan diketemukannya. Tukang parkir menunggu di tempat parkiran sambil membaca koran bekas. Tukang becak, pedagang kaki lima (PKL), tukang rongsokan. Semua membaca surat kabar bekas di waktu rehatnya. Semuanya berpenghasilan sekitar Rp 10.000 – Rp 30.000 per hari sehingga suatu kemewahan apabila harus mengeluarkan dana untuk membaca secara online. Dan, mereka adalah mayoritas penduduk Indonesia!
Mereka tidak membutuhkan keaktualan berita. Karena hal tersebut cukup didengar dari teman-temannya, misalnya ketika Bapak SBY datang ke Sabuga, Bandung sehingga membuat macet dimana-mana dan mengakibatkan turunnya pendapatan harian mereka. Mereka juga tidak membutuhkan data aktual tentang harga gas atau harga premium yang naik karena mereka sudah terlalu enggan memikirkan dampaknya.
Mereka membutuhkan ilmu dan informasi yang membuat mereka bertambah pandai. Misalnya tentang penyakit A sampai dengan penyakit Z yang sering diulas kompasianer yang berlatar belakang kedokteran. Kisah situasi dan kondisi di luar negeri yang rajin dibagikan kompasianer yang kebetulan berada disana. Tentang TKI, gossip, olahraga hingga politik semua ada, tapi yang terpenting semua ditulis ala Kompasianer. Mudah dimengerti dan enak dibaca. Tidak lupa tulisan-tulisan fiksi bermutu yang tentunya menambah kaya Kompasiana yang dirangkum, diedit dan diterbitkan dengan nama : Freez.
Itulah manfaat yang sangat saya harapkan dari Freez. Tidak sekedar mengekor Kompas edisi cetak yang notabene adalah ayah kandungnya. Tetapi menyuguhkan tulisan-tulisan bagus yang selama ini hanya dapat dijangkau mereka yang mempunyai akses ke internet.
Harusnya Freez tidak sekedar hadir, tidak sekedar bertujuan memberi imbalan pada penulisnya tetapi menyebarkan banyak tulisan bermanfaat yang dibutuhkan masyarakat. Karena penggunaan kertas koran membutuhkan pengorbanan sumber daya alam yang luar biasa. Tapi kalau manfaatnya adalah mencerdaskan anak bangsa, bukankah itu adil?

Sabtu, 09 Juli 2011

Seorang Green Consumer kah Anda ?

Pernah makan gorengan seperti pisang goreng, tahu dan tempe goreng? Enak dan murah. Karena itu hampir di setiap pertemuan sering disajikan cemilan gorengan. Tapi tahukah bahwa pada waktu menggoreng si pedagang sering memasukkan plastik pembungkus minyak goreng ?
 berita disini

Umumnya pedagang beralasan bahwa gorengan akan lebih renyah dan tidak mudah lembek apabila minyak goreng yang digunakan  diberi campuran kantong plastik.
Jika Anda yakin bahwa si pedagang nggak “aneh-aneh”, bagaimana cara Anda membeli dan membawanya pulang? Karena mayoritas pedagang  hanya menyediakan kantung plastik hitam dan kantung kertas untuk mengemas si gorengan yang lezat tersebut.
Alasan pedagang menggunakan kantung plastik hitam ternyata demi memenuhi permintaan konsumen. Konsumen tidak ingin membawa kantung plastik yang “kelihatan isinya” ! Konsumen tidak menyadari ataupun mengetahui bahwa mayoritas bahan baku plastik hitam berasal dari Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA), sehingga sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan bercampur dengan sampah beracun (B3) dan sampah sisa makanan yang kotor, basi dan pastinya bau.
Kantung kertas juga berpotensi meracuni tubuh karena umumnya dibuat dari kertas bekas. Halaman dimana berisi tulisan berada di dalam sedangkan bagian luar putih bersih. Pembuat kantung kertas, pedagang gorengan dan konsumen tidak menyadari bahwa tinta tulisan akan mencemari makanan dengan racunnya seperti nampak gambar.
13101288662060868895
gorengan dalam kantung kertas dan kresek hitam
Menyikapi maraknya produk dan kemasan produk yang membahayakan kesehatan sebenarnya konsumen bisa menangkalnya hanya dengan mengonsumsi produk hijau. Apa yang disebut produk hijau ?
1. Memanfaatkan sumber daya lebih sedikit untuk memproduksinya.
Sebagai contoh makanan yang menggunakan produk dalam negeri seperti kue lapis dan bikaambon lebih sedikit menggunakan sumberdaya dibanding roti empuk nan lezat yang menggunakan bahan baku impor karena jejak karbon si rotipun lebih tinggi. Antar makanan dalam negeri juga bisa dipilih yang lebih sedikit menggunakan sumber daya misalnya ubi rebus dibanding pisang goreng. Contoh lainnya adalah penggunaan lampu LED. Sebuah lampu LED yang memberi penerangan 150 watt hanya mengonsumsi sumberdaya sebesar 30 watt.
2. Lebih ramah lingkungan ketika dikonsumsi atau digunakan. Contohnya cemilan gorengan diatas. Untuk menghindari bahaya mengancam kesehatan kita tersebut, apa salahnya kita membawa wadah gorengan sendiri dari rumah/kantor? Karena selain menyelamatkan tubuh dari kontaminasi bahan berbahaya, kita juga mencegah penambahan sampah. Bukankah umumnya penggunaan kantung kertas dan kantung kresek tersebut hanya sekali pakai? Maklumlah berminyak, malas mencucinya.
3. Dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Perhatikan kemasan produk dibawah. Kemasan sabun A tidak akan diterima pemulung dibandingkan kemasan sabun B. Karena kemasan sabun A menggunakan lapisan plastik tebal dengan tujuan agar si kemasan tidak mudak sobek. Tetapi di lain pihak kemasan menjadi sulit didaur ulang.
13101301041308871132
Pilihan kemasan produk
Contoh lainnya kemasan botol vs kemasan plastik berisi saus spaghetti di bawah ini. Kemasan botol bekas jelas  bisa digunakan untuk keperluan lain. Atau berikan saja ke pemulung apabila stok melimpah. Pemulung pasti akan menerima walau menggerundel harganya murah. Tetapi kemasan plastik bekas spaghetti jelas ditolak pemulung.

mana yang dipilih? dalam kemasan plastik atau gelas/kaca ?
 


4. Dapat dengan mudah dan aman dideposisi apabila telah tidak dapat digunakan. Contohnya adalah kaleng susu kental manis vs susu kental manis dalam plastik. Kaleng bekas susu kental manis akan diterima dengan manis oleh pemulung karena mudah didaurulang. Dijual sendiripun bisa apabila kuantitasnya banyak. Tetapi kemasan plastik bekas susu kental manis enggan diambil pemulung perkotaan. Kecuali nanti di TPA, diambil pemulung TPAsebagai bahan baku kantung plastik hitam.
1310132079821944086
kemasan kaleng SKM dan kemasan plastik SKM
Sering menggunakan menggunakan panci berlapisan anti lengket? Lapisan anti lengket adalah plastik yang mengendap didalam tubuh apabila mengelupas dan berpotensi mengakibatkan kanker (Dody Andi Winarto,M.Eng ; Sentra Teknologi Polimer – BPPT)
Anehnya hingga kini tidak ada satupun pihak berwenang yang memberi penjelasan untuk melindungi konsumen. Sehingga suatu produsen alat memasak berlapis anti lengket berpromosi bahwa apabila anti lengket produknya terkelupas maka akan keluar bersama tinja, sehingga aman digunakan. Denganalasan tersebut, si produsen mendongkrak harga produknya lebih tinggi dari produk anti lengket lainnya.
Di Negara dengan kondisi seolah rimba belantara ini, konsumen memang harus cerdas karena seolah hidup tanpa perlindungan. Keinginan konsumen untuk mendapatkan hasil serba cepat, praktis dan mudah dijawab oleh produsen dengan berbagai macam inovasi.
Selanjutnya? Tentu terserah Anda, apakah akan mengonsumsi semua hasil inovasi produsen dengan segala resikonya atau memproteksi diri dengan hanya mengonsumsi produk hijau dan menjadi konsumen hijau (green consumer).
Karena remote control dibawah kendali Anda. Setuju?

Maria G. Soemitro